
Rumi menghembuskan napas lelah ketika melihat lampu rumahnya masih gelap. Itu berarti ibunya belum pulang. Dia alihkan pandangan pada jam di pergelangan tanganya. Sudah menunjukkan hampir jam dua belas malam, tetapi ibunya masih belum ada tanda-tada terlihat di sekitar rumahnya.
"Ke mana dia?" gumamnya sambil mulai melangkahkan kakinya menuju pintu utama.
"Dasar anak gak tau diri! Ngapain aja lo, heh? Jam segini baru pulang?"
Rumi menghentikan langkahnya ketika suara yang sangat dia kenal terdengar dari belakang. Helaan napas prustasi terdengar. Bahunya pun jatuh lunglai, dengan sorot mata sendu. Di ujung pagar rumah, seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahunan tampak menatapnya dengan sorot mata murka.
"Ibu mabuk lagi?" Rumi berjalan cepat menghampiri sang ibu, lalu dia papah wanita yang telah melahirkannya itu dengan susah payah.
Semenjak ayahnya meninggal beberapa tahun lalu, sosok ibu yang pada awalnya terasa begitu sempurna, kini berubah drastis. Dia menjadi sering mabuk, bahkan membawa kekasihnya pulang ke rumah dan bermalam di sana. Entah apa yang terjadi pada ibunya, hingga dia bisa berubah begitu cepat hanya dalam satu malam?
Itu masih menjadi misteri untuknya. Pada saat itu, masih terlalu kecil untuknya mengetahui urusan orang dewasa. Namun, yang dia dengar dari para tetangga, jika ayahnya kecelakaan bersama seorang perempuan. Entahlah, Rumi tidak mau berprasangka buruk pada ayahnya sendiri yang bahkan sudah meninggal.
"Dari mana aja kamu, sampe pulang malem-malem begini, heh?" tanya sang ibu di tengah langkah mereka menuju ke rumah.
"Cari angin, Bu" jawab Rumi singkat. Untung saja tadi Isha meminjamkannya jaket hingga ibunya tidak melihat bajunya yang sedikit terkoyak di bagian depan.
"Anak gadis jangan ke luar malem-malem. Bahaya." Masih dengan bergumam lemas, ibu Rumi berucap.
"Heum," angguk Rumi sambil melepaskan tubuh ibunya di atas ranjang.
"Oh ya...." Ibu Rumi tampak menghentikan tangan Rumi yang hendak menuntunnya untuk tidur.
"Sesuai keinginan kamu. Aku sudah memutuskan cowok itu. Sekarang kamu puas kan?" sambungnya dengan wajah kesal. Jari telunjuknya munjuk tajam ke wajah Rumi.
__ADS_1
Rumi mengangguk. "Dia itu cuma manfaatin Ibu untuk mendapatkan uang saja. Jadi, gak usah ketemu sama dia lagi."
"Ck! Kamu gak tau apa-apa. Jadi gak usah komentar sama hidup aku." Ibu Rumi tampak tidur dan menarik selimutnya kasar.
Rumi menghembuskan napas pelan. Walau kadang kemarahan membuatnya berpikir untuk meninggalkan ibunya. Namun, dia tidak akan mampu. Ibunya bukanlah orangtua yang sempurna, tetapi dia tetaplah 'ibunya' orang yang telah mengandung dan melahirkannya, bahkan membesarkannya seorang diri. Mana mungkin dia tega meninggalkan wanita itu sendiri.
Setelah memastikan jika ibunya tertidur, Rumi baru ke luar dari kamar. Kamar mandi, itu yang sekarang menjadi tujuan utamanya. Membersikan diri dari bekas sentuhan biadab mantan pacar ibunya sendiri. Menghilangkan jejak menjijikan yang kini masih menempel di tubuhnya.
Rumi terduduk di bawah guyuran air shower yang terasa dingin. Dia gosok setiap bekas sentuhan dari lelaki biadab itu. Tetes air mata dan isak tangis lirih mengiringi ritual mandi malam ini. Dia biarkan setiap bukis air mata menyatu dengan deranya air shower. Begitu juga dengan isak tangis yang sama sekali tidak bisa membuat sesak di dadanya menghilang.
Rumi tergugu seorang diri. Tak ada yang tahu kondisi mentalnya yang telah hancur. Tak ada yang mengerti rasanya hati yang penuh luka. Sakit ... sungguh menyakitkan, tetapi dia dipaksa untuk bertahan.
...๐ฆ ...
"Gue mau gabung jadi anggota Atropos!" Seorang gadis tampak berdiri di depan kelima cowok yang menatapnya dengan wajah tak percaya.
Namun, kini mereka malah dikejutkan oleh permintaan Shania yang tidak masuk akal. Mana mungkin seorang cewek ingin masuk sebuah geng motor, terlebih itu adalah Atropos?
"Lo gil*?" Kata itu lolos begitu saja dari mulut Vareen. Bahkan wajahnya masih terkejut dengan mata yang tak berkedip menatap Shania.
"Gue udah lihat kalian waktu balapan liar sama si Dero. Lo hebat banget, Ar, bisa ngalahin si brengsek itu," puji Shania sambil menepuk pundak Arsya tanpa ada rasa canggung sama sekali. Dia mengacuhkan pertanyaan omong kosong dari Vareen.
Sikap santai dan berani Shania tentu saja semakin membuat melongo para inti Atropos, tidak terkecuali Arsya yang kini tengah menatap Shania dengan kening berkerut.
"Jadi gue gak salah liat? Lo beneran ada di sana malam itu?" Dikta berujar yang kembali membuat bingung semua orang di sana. Dia memang sempat melihat Shania di tempat balaon, tetapi Dikta tidak yakin dan memilih mengacuhkannya.
__ADS_1
"Akh. Lo liat gue kan? Gue itu udah lama mau gabung di geng motor, tapi ternyata susah," keluh Shania. "Lagian, syarat mereka juga suka gak masuk akal. Masa buat masuk geng motor aja, harus bisa bacok orang acak dan penentuannya berdasarkan berapa banyak lo berhasil ngelukain orang? Ck! Gak penting banget kan?"
Igatkan Shania yang ceriwis. Nah itulah yang sekarang membuat kelima cowok itu serempak menghembuskan napas kasar. Geng motor itu gak cocok buat seorang cewek. Mana mungkin, mereka mau menerima Shania? Itu tidak mungkin terjadi.
"Kalau masuk Atropos gak usah pake kayak gitu kan? Gue dengar kalian gak pernah memiliki syarat tertentu. Nah, kalau gitu ... gue juga boleh dong masuk jadi anggota Atropos?"
"Lo sadarkan kalau kita itu beda?" Fahmi meringis, menatap Shania dari atas sampai ke bawah.
"Beda apanya nih? Gue bisa ngendarain motor, gue juga bisa dikit bela diri," jawab Shania sambil bersidekap dada. Alisnya bertaut dalam, seolah mengajukan protes.
"Lo itu cewek, Shan." Cakra ikut membuka suara, mencoba menyadarkan perbedaan antara mereka.
Sementara itu, Arsya terlihat sedang memijit keningnya yang terasa berdenyut karena permintaan aneh Shania.
"Gue tau. Trus, emang kenapa kalau gue cewek?" tanya Shania. "Oh, kalian ngeremehin gue gara-gara gua cewek?" kesal Shania.
Semua inti Atropos hanya terdiam, mereka memang ragu untuk menerima seorang perempuan bergabung dalam Atropos. Namun, itu bukan karena meremehkan, tetapi karena mereka menganggap jika dunia geng motor terlalu berbahaya untuk seorang cewek.
"Gini aja deh. Gimana kalau kita balapan? Kalau gue menang, kalian harus nerima gue jadi anggota Atropos ... kalau gue kalah, gue bakal terima keputusan kalian," tantang Shania.
Kelima cowok itu saling pandang. Mereka seolah sedang berkomunikasi dengan menggunakan batin masing-masing. Beberapa saat, semuanya sempat terdiam hingga akhirnya Arsya memutuskan untuk menerima tantangn Shania.
"Tapi, ini hanya di antara kita. Tidak ada pihak lain yang terlibat," ujar Arsya memberi syarat.
"Oke!" angguk Shania yakin.
__ADS_1
"Nanti, Dikta yang kabari lo tempat sama waktunya," ujar Arsya lagi. Mereka pun ke luar dari ruang UKS, setelah drama kecil tentang keinginan unik cewek tomboi itu.
๐ฆ Kalo ada yang komen, aku up lagi ๐