
...Happy Reading...
...🦅...
Pagi hari ini, suasana apartemen mewah Agra tampak tegang, karena kedatangan seseorang.
Di ruang keluarga tampak seorang lelaki paruh baya dengan gadis yang menunduk dalam di hadapnnya.
Sedangkan Edo tampak berdiri di belakang lelaki paruh baya itu.
"Jadi ini, gadis yang di kurung anak nakal itu di sini?" tanya lelaki paruh baya yang tak lain adalah Andrew.
Alisya tampak memilin ujung bajunya, menahan rasa gugup yang membuatnya tak menentu.
sejak tiga puluh menit yang lalu, dia sudah duduk di sana, dengan pemandangan, wajah datar lelaki paruh baya yang baru saja dia lihat.
Tadi pagi, tiba-tiba saja lelaki paruh baya itu masuk dan melihat Alisya yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.
Tanpa berkata apapun, Andrew langsung menyuruh gadis itu untuk memanggil Edo lalu duduk di hadapannya.
Dalam hati Alisya bertanya-tanya, 'siapa sebenarnya lelaki paruh baya ini? Kenapa dia bisa keluar masuk ke dalam apartemen milik Agra? Sepertinya Edo juga sangat takut dan patuh dengan dia.'
"Dad?"
Semua orang yang ada di ruang keluarga itu langsung menolehkan pandangannya pada Agra, yang sedang berjalan menuruni tangga, dengan pakaian santainya.
"Nah, ini dia anak nakal itu!" seru Andrew berdiri dan menyambut kedatangan Agra.
Ekspresinya seperti orang yang sangat marah dan siap untuk menyembur Agra.
"Sudahlah, Dad ... lihat itu, kau membuat anak gadis orang ketakutan," ucap Agra santai.
"Kamu! Siapakah aku sarapan," tunjuk Agra pada Alisya, sebelum berlalu menuju meja makan.
Sikapnya benar-benar terlihat biasa saja, tak ada raut kebahagiaan ataupun terkejut, atas kedatangan ayah angkatnya itu.
Alisya menatap bengong, lelaki yang baru saja datang itu.
'Dad? Berarti dia ayahnya Agra?' gumam Alisya dalam hati.
"Alisya!" tekan Agra.
"I-iya Tuan!" angguk Alisya yang baru saja tersadar dari lamunannya, beranjak berdiri dan mengikuti langkah Agra ke arah meja makan.
"Hei, berani sekali kau! Dasar anak nakal!" teriak Andrew sambil berdiri dan bergegas mengejar langkah sang anak.
Plak
Satu pukulan berhasil mendarat di kepala Agra.
"Dad?!" sentak Agra, mengusap kepalanya yang sedikit berdenyut.
__ADS_1
"Kenapa, sakit? Itu adalah hukuman untuk anak nakal sepertimu, Ayahmu baru saja datang, tapi kamu malah mengacuhkanku!" gerutu Andrew, sambil duduk di meja makan.
Agra mendengus kesal, dengan kening berkerut.
"Oh, jadi Daddy mau aku menyambutmu dengan meriah atau teriakan terus memeluk dan menciummu ... begitu?"
"Sini, biar ku berikan apa yang Daddy mau!" Agra merentangkan kedua tangannya seperti hendak memeluk Andrew.
Alisya bergerak cekatan, menyiapkan apa yang biasa Agra makan saat sarapan. Sesekali, dia tampak mencuri pandang kedua lelaki berbeda usia yang tampak terus beradu mulut.
Sedangkan Edo menyiapkan makanan untuk Andrew, dengan sumpah serapah dalam hati, melihat dua orang atasannya yang selalu saja saling ejek dan beradu mulut bila bertemu.
"Stop, kau ini! Menjijikan sekali," Andrew bergidik ngeri, melihat kelakuan Agra.
Tawa Agra pecah saat melihat Andrew kalah dalam permainan mereka.
Alisya sempat menghentikan tangannya yang sedang menuangkan air putih ke dalam gelas, saat melihat Agra tertawa lepas.
Selama mereka bersama, gadis itu jarang sekali melihat wajah bahagia Agra. Ia lebih sering melihat wajah datar dan serius lelaki itu.
"Silahkan, Tuan, sarapan sudah siap," ucap Alisya, sebelum berbalik hendak pergi meninggalkan meja makan.
"Mau ke mana, Kamu?" tanya Agra, menghentikan tangannya yang mau mengambil sendok.
"A-aku mau ke belakang, Tuan," ucap Alisya.
"Untuk apa? Cepat duduk, kita sarapan seperti biasa!" perintah Agra, tanpa mau di bantah.
Alisya melihat ke arah Andrew yang sudah memulai sarapannya.
Dengan sedikit ragu, Alisya duduk di samping Agra dan mulai mengambil sarapan untuknya sendiri.
"Bersikaplah biasa saja, dia tidak akan memakanmu," ucap Agra, pada Alisya.
Gadis itu mengangkat kepalanya, memandang Agra yang terlihat masih santai, seakan tidak pernah terjadi apa-apa.
"Yak! Dasar anak kurang ajar!" teriak Andrew lagi, mengangkat sendok di tangannya, seakan ingin memukul Agra lagi. Dia tidak terima dengan perkataan anak angkatnya itu.
"Astaga! Kenapa kau marah? Bukankah benar yang aku katakan? Daddy gak akan memakan dia 'kan?" tanya Agra membela diri.
"Sudahlah Dad, jangan mengajak ribut terus. Ingat umur!" ejek Agra dengan senyum tipis di bibirnya.
"Ish, siapa yang mengajakmu ribut, hah? Kau saja yang selalu mencari masalah denganku!" desisi Andrew.
"Ya ... ya ... ya. Terserah saja lah!" ucap Agra, menyudahi dramanya pagi ini.
Akhirnya, mereka semua sarapan dengan tenang, dan kembali pada ktifitasnya masing-masing.
Edo langsung pamit untuk pergi ke kantor, sedangkan Agra tetap di apartemen untuk menemani Andrew.
Lelaki paruh baya itu, baru saja sampai tadi pagi, dan langsung memilih mengunjungi Agra dulu di apartemen daripada langsung ke mansion untuk beristirahat.
__ADS_1
Dia sangat penasaran dengan sadis sudah membuat seorang Agra mengijinkannya untuk tinggal di apartemen pribadi milik anak angkatnya itu.
Padahal, selama yang ia tau, Agra tidak pernah mau berurusan dengan makhluk yang namanya wanita.
Jelas sekali, kalau gadis itu begitu berarti bagi lelaki itu.
Hingga saat ia pertama kali melihatnya, ia merasakan sesuatu yang berbeda dari mata indah yang Alisya miliki.
Ada sebuah kesedihan mendalam di sana, yang tersimpan begitu jauh, tersembunyi di balik wajah ceria yang di miliknya.
Fakta itu membuat lelaki paruh baya itu cukup tertarik kepada gadis pilihan anaknya itu.
Hingga, ide jail untuk mengerjai Alisya pun terbit begitu saja. Benar saja, sekarang dirinya begitu puas karena sudah membuat gadis itu gugup sebab kedatangannya.
"Maafkan aku, aku hanya ingin bermain saja denganmu?" kekekah kecil terdengar mengiringi kata yang terucap dari bibir Andrew.
"Bermain, dasar tidak sadar umur!" gumam Agra, kesal.
Alisya mengangguk.
Kini ketiganya sedang duduk di kursi balkon.
"Tuan, apa sekarang aku sudah boleh pergi?" tanya Alisya.
"Tunggu sebentar, biar nanti aku mengantarmu!" tahan Agra.
"Ti-tidak usah, Tuan. Biar saya pergi sendiri saja!" tolak Alisya.
"Bersamaku atau tidak pergi sama sekali?!" tekan Agra, tidak mau di bantah.
"I-iya, Tuan." ucap alisya, akhirnya dengan terpaksa dia menyetujui keinginan dari bosnya itu.
"Hem, bagus! Kau boleh bersiap-siap, tiga puluh menit lagi kita berangkat!" ucap Agra.
Alisya berbalik, kemudian berlalu dengan menahan kesal di dalam hati.
Awalnya gadis itu berencana untuk menemui sahabatnya, setelah berziarah. Namun, sepertinya itu tidak akan bisa terjadi, kalau dia pergi bersama Agra.
"Dasar tukang perintah!" gumam Alisya pelan.
Andrew menyunggingkan senyum, dengan menatap Agra remeh.
"Kamu tidak bisa mendapatkannya dengan cara seperti itu. Bersikaplah lebih lembut pada perempuan, Hem?" ucap Andrew,.mencoba menasehati anaknya.
"Iya, aku tau. suatu saat nanti, pasti aku akan melakukan apa yang Daddy ajarkan."jawab Agra mantap.
Keduanya kembali berbincang biasa, dengan masalah pekerjaan yang selalu menumpuk
...🦅...
...TBC...
__ADS_1
...Sambil nunggu aku up lagi, boleh baca karya temen aku ya...