
...Happy Reading...
...🦅...
Di tempat persembunyian Suseno, dia dikejutkan dengan paket tanpa nama yang ditujukan untuknya.
“Ini paket untuk, Tuan,” ucap salah satu anak buah yang membawa paket itu ke dalam.
Saat ini Suseno sedang berada di ruang tengah, sebuah mansion.
Lelaki paruh baya itu melihat dan meneliti paket itu dengan cermat, memastikan tidak ada bahaya di sana, seperti bom yang akan meledak ketika di buka atau sesuatu yang lainnya.
Paket berupa dus berwarna coklat, dengan diameter empat puluh centimeter itu, tampak mulus tanpa ada nama pengirim ataupun petunjuk lainnya, hanya tertera tulisan bahwa paket ini di tujukan untuk dirinya.
“Siapa yang mengirimkan paket ini?” tanyanya pada anak buah yang masih berdiri di sana.
“Seorang kurir biasa, Tuan. Kami sudah memeriksanya, dia tidak tahu apa-apa tentang benda di dalam sana,” jawabnya.
“Hem.” Suseno hanya bergumam sambil mengibaskan salah satu tangannya, menandakan agar anak buahnya pergi dari hadapannya.
Tak ... tak ... tak ....
Suara langkah kaki menuruni tangga, tak mengalihkan perhatian Suseno, matanya tetap menyorot paket di depannya, walau telinga bisa mendengar langkah itu semakin dekat menghampirinya.
“Ada apa, Pah?” tanya seorang lelaki muda yang tampak tampan dan berkarisma.
Suseno melirik sekilas wajah anak lelakinya, lalu kembali beralih kembali pada paket misterius di depannya.
“Ada paket untukku, tapi, ini terlalu misterius,” jawabnya.
Lelaki muda itu tampak mengerutkan kening, menatap paket yang tergeletak begitu saja di atas meja.
“Kenapa tidak di buka saja, Pah? Biar kita tahu apa isi di dalamnya,” ucap santai lelaki muda itu, dirinya duduk di sisi lain sofa.
Salah satu tangannya terangkat memanggil anak buahnya untuk masuk.
“Buka paket itu!” titahnya kemudian.
Anak buah yang bertugas sebagai pengawalnya itu mengangguk lalu mulai membuka paket di depan kedua bosnya.
Wajahnya berubah pias seperti tak berdarah setelah melihat isi di dalamnya, membuat dua orang di depannya mengerutkan kening.
Bau amis darah langsung menguar begitu paket itu di buka. Membuat keduanya semakin penasaran.
“Apa isinya?” tanya Suseno.
“I–i–ini?” dia bahkan terlalu gugup sampai tak sanggup melanjutkan perkataannya.
Suseno dan anak lelakinya saling memandang bingung, perlahan keduanya maju untuk melihat isi di dalam paket itu.
__ADS_1
Mata keduanya langsung membola dengan jantung yang berpacu cepat, itu adalah sebuah kepala manusia dari orang yang mereka kirim, untuk membuntuti Agra, kembali saling melirik dengan wajah terkejut.
Keduanya memastikan kalau itu memang benar kepala asli, bukan hanya rekayasa atau bahkan patung.
Setelah yakin kalau semua itu memang asli, lelaki itu langsung mencari sesuatu di dalam sana, mungkin saja ada sebuah petunjuk, walau dalam hati mereka berdua, sudah bisa menebak siapa pelakunya. Hingga dia melihat sebuah lipatan kertas di samping kepala itu, yang sedikit tertutup oleh rambut.
“Apa itu?” tanya Suseno, beralih ke samping anaknya untuk melihat.
Tanpa menjawab pertanyaan ayahnya, lelaki itu membuka lipatan kertas dengan sedikit terburu-buru.
Tulisan yang menggunakan huruf besar dengan tinta darah langsung menyapa penglihatannya.
APA KALIAN SUKA DENGAN HADIAH PERTAMA DARIKU? INI ADALAH SATU PERINGATAN, JIKA KALAIAN KEMBALI MENGUSIK KEHIDUPANKU, AKU AKAN MEMBUAT KALIAN MENYESAL.
Sebuah kata pertanyaan yang terlihat jenaka, sekaligus dengan ancaman. Kedua wajah ayah dan anak itu langsung merah padam, menahan gejolak amarah.
“Heh, baru bisa membunuh beberapa orang saja sudah merasa bangga!” sombong Suseno.
Berbeda dengan sang ayah, anak lelaki Suseno malah termenung sebentar, orang yang dia kirim itu bukanlah orang sembarangan, mereka adalah salah satu orang yang berperan penting di dalam organisasi yang dimilikinya.
Ini juga bukan pertama kalinya, orang yang dia kirim untuk mengusik Agra akan berakhir menghilang tanpa kabar.
Ingat dengan para geng motor yang diperintahkan untuk menghabisi Agra di trek balapan, mereka bahkan tak ada kabarnya dan menghilang begitu saja.
Dari semua orang yang dirinya kirimkan, tidak ada satu pun yang kembali, semuanya menghilang bak ditelan bumi.
“Kau kenapa, apa kau takut dengan ancaman murahan seperti itu, hah?!” tanya Suseno. Nada suaranya terdengar semakin naik.
.................
Di tempat lain, Agra baru saja sampai di kantornya, ia langsung bisa melihat keberadaan Andrew di ruangannya. Lelaki itu terlihat tengah duduk santai di kursi kebesarannya, tubuhnya bersandar di belakang kursi dengan salah satu lengan ia kepalkan di sisi meja.
“Dad?” panggilnya dengan kening berkerut dalam.
Sepertinya ada sesuatu yang mendesak, atau mungkin mengancam. Selama ini Agra sangat jarang mendapati ekspresi seperti itu dari Andrew. Walaupun posisinya terlihat santai, tetapi, kepalan di tangan itu terlihat sekali begitu erat.
Lelaki paruh baya itu mengalihkan pandangannya pada Agra, sepertinya tadi dia sedang melamun sehingga tak mendengar kedatangan anak angkatnya itu.
Agra berjalan menghampiri Andrew, lalu duduk di depan ayah angkatnya itu.
“Ada apa, Dad?” tanya Agra, lagi. Sepertinya ia telah melewatkan sesuatu yang penting.
“Salah satu anak cabang perusahaan kita yang berada di luar kota, sedang diserang oleh para anak buah Suseno, sepertinya mereka mau menyerang kita dari belakang, dari bagian yang paling kecil dan lemah.”
Agra menegakkan tubuhnya, ia belum menerima laporan dari anak buahnya mengenai masalah ini, dirinya benar-benar tidak menyangka, kalau mereka malah menyerang perusahaan kecil itu.
“Sudah berapa lama, Dad? Kenapa tidak ada yang melaporkannya padaku?” tanyanya menuntut penjelasan.
__ADS_1
“Kejadiannya sudah cukup lama, kita kecolongan. Mereka sudah menempatkan orangnya di dalam perusahaan kita, menggunakannya untuk menghancurkan dari dalam, tanpa kita sadari,” jelas Andrew.
Agra mengepalkan kedua tangannya erat, rahangnya mengeras menahan emosi yang sudah mulai berkumpul kembali.
Dia juga baru ingat kalau selama di sini, dia belum menyempatkan diri memeriksa atau datang langsung ke perusahaan cabang yang itu.
“Brengsek!” umpat Agra, pelan. Walau masih bisa didengar jelas oleh Andrew.
“Aku akan terbang ke sana sekarang juga, bersama Max dan anggota lainnya, untuk menangani masalah ini dan mengambil alih perusahaan itu kembali. Kamu diam di sini dan tolong analisa semua perusahaan anak cabang kita, jangan sampai ada yang kecolongan lagi!” perintah Andrew tegas.
Bukan karena apa mereka begitu, anak cabang yang mereka bicarakan itu cukup banyak memberikan keuntungan, apa lagi mereka ada di tempat yang strategis dan sedang meningkat.
Sungguh sangat disayangkan jika perusahaan itu bisa sampai jatuh ke tangan orang lain, mengingat potensi ke depannya akan sangat menguntungkan bagi mereka.
Jangan berpikir kalau perusahaan yang di sebut anak cabang itu adalah perusahaan kecil, tidak sama sekali. Perusahaan itu memiliki ribuan karyawan yang bernaung di dalamnya. Dengan omset milyaran rupiah per bulannya.
Setelah berbincang beberapa saat, Andrew pun akhirnya pergi karena waktu penerbangannya sudah dekat.
“Hati-hati, Dad. Hubungi aku jika. Daddy, membutuhkan bantuan,” pesan Agra sebelum mereka ke luar dari ruangan.
“Hem, kau tak perlu mencemaskanku, harusnya malah akan yang mencemaskanmu di sini!” balas Andrew, sedikit bercanda.
Agra mendengus samar, menanggapi sebuah candaan dari Ayah angkatnya itu.
“Ya, terserah!” desah Agra, dengan wajah dibuat merajuk.
Andrew menepuk pundak Agra beberapa kali sebelum benar-benar pergi.
Punteun semuanya, masih promo ya, karya keren milik teman literasi aku, jangan lupa mampir dan kasih dukungan ya😊
Judul: Heavanna
Author: SRN 27
Blurb:
Karena penghianatan pacar dan sahabatnya, Zia memutuskan untuk pindah sekolah. Namun siapa sangka kepindahannya ke SMA Galaxy malah mempertemukan dirinya dengan cowok bernama Heaven. Hingga suatu ketika, keadaan tiba-tiba tidak berpihak padanya. Cowok dingin itu menyatakan perasaan padanya dengan cara yang sangat memaksa.
"Apa nggak ada pilihan lain, selain jadi pacar lo?" tanya Zia mencoba bernegosiasi.
"Ada, gue kasih tiga pilihan. Dan lo harus pilih salah satunya!"
"Apa aja?" tanya Zia.
"Pertama, lo harus jadi pacar gue. Kedua, lo harus jadi istri gue. Dan ketiga, lo harus pilih keduanya!" ucap Heaven dengan penuh penekanan.
...🦅...
...🦅...
...TBC...
__ADS_1