
...Happy Reading...
...🦅...
Setelah makan malam selesai, Alisya kembali membereskan meja makan. Sedangkan Agra dan Edo memilih berbincang di ruang keluarga.
Beberapa menit kemudian, Alisya sudah duduk di depan kedua laki-laki itu, dia ikut bergabung saat Agra memanggilnya.
"Karena di sini hanya ada dua kamar, dan aku tidak mungkin mengeluarkan Edo dari sini, terpaksa untuk sementara, kamu menempati kamar untuk pelayan, yang ada di dekat dapur."
Agra berucap lugas, tanpa ada keraguan sedikit pun. Menatap lawan bicaranya dengan begitu tajam, menusuk.
Sama halnya ketika laki-laki dengan julukan es batu itu, berbicara dengan para kolega ataupun kepada para anak buahnya.
Alisya menunduk, dia tidak berani membalas tatapan tajam lelaki di hadapnnya, mengangguk patuh, tanpa mau menanggapi perkataan Agra.
Dia sudah sangat bersyukur, bisa kabur dari pernikahan konyol yang di rencanakan sang paman.
Juga di perbolehkan untuk tinggal di apartemen mewah ini, setidaknya sampai situasi di luar aman terkendali.
"Ceritakan, kenapa kamu lari dari pernikahanmu? Aku tidak mau di tuduh, menculik calon istri orang lain, nanti!" ucap dingin Agra.
Akhirnya Alisya menceritakan semua masalahnya pada Agra, yang sebenarnya sudah mengetahui semua itu, dari penyelidikan yang dilakukan oleh anak buahnya.
Waktu sudah hampir tengah malam, saat semua penghuni apartemen masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
Edo pun sudah menjelaskan semua tugas yang harus Alisya lakukan, selama tinggal di apartemen milik Agra. Juga, semua peraturan yang wajib dia patuhi.
Alisya, Menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yang lumayan besar, dan terasa sangat nyaman.
Pandangannya mengedar, menelisik setiap sudut ruangan yang di sebut kamar pelayan itu.
Namun, luasnya jauh lebih besar dari kamar yang dia tempati di rumah kedua orang tuanya.
Kamar bernuansa putih dan abu-abu muda itu, terasa begitu nyaman, bahkan lebih nyaman di bandingkan dengan kamarnya dulu.
Ingantannya pun kembali pada beberapa pekerjaan dan peraturan yang tadi diterangkan oleh Edo.
Mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, dan memasak untuk sarapan juga makan malam, itu beberapa pekerjaan yang harus dia kerjakan.
Tidak ada yang terasa berat oleh dirinya, karena semua itu sudah biasa dia lakukan setelah kedua orang tuanya meninggal, dan semua hartanya di ambil alih oleh Bimo.
Tidak boleh keluar dari apartemen tanpa ijin dari Ansel ataupun Edo. Tidak boleh menghubungi siapapun, termasuk keluarga maupun semua teman kerjanya.
Peraturan itu, cukup berat untuk dirinya. Akan tetapi, terpaksa dia harus menjalankan semua itu.
__ADS_1
"Semua ini demi kebaikan kamu, aku yakin di luar sana mereka masih mencari keberadaanmu sampai saat ini," perkataan yang di ucapkan oleh lelaki es itu, terngiang di pikirannya.
Mencoba untuk percaya pada kedua laki-laki yang belum lama ini dia kenal, walaupun itu terasa cukup aneh untuknya.
.
.
Pagi menyapa, dengan matahari yang bersinar begitu indah.
Di sebuah apartemen mewah, seorang gadis cantik, terlihat sudah sangat sibuk sejak pagi buta, membersihkan setiap sudut ruangan hingga menyiapkan sarapan, untuk sang tuan rumah.
"Selamat pagi, Nona Alisya," sapa Edo yang baru saja keluar dari kamarnya.
Alsiya yang sedang menata piring di atas meja makan, menghentikan gerakannya sebentar, lalu menoleh ke arah pintu masuk ruang makan, di mana Edo berdiri dengan pakaian yang sudah rapih.
"Selamat pagi, Tuan," jawab Alisya.
"Panggil saja, Edo," ujar asisten pribadi itu, sambil berjalan menuju lemari es, untuk mengambil air minum.
Alisya berbalik, menatap laki-laki kepercayaan sang tuan itu, dengan kening bertaut.
"Aku sama seperti kamu, hanya salah satu anak buah Tuan Agra, jadi panggil saja namaku, itu terdengar lebih baik," sambung Edo lagi.
"Baik," jawab Alisya tersenyum hangat pada laki-laki di hadapannya.
Alisya hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu kembali meneruskan pekerjaannya, menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga.
Sepuluh menit berselang lelaki dengan julukan es batu itu akhirnya turun, di tangannya terlihat membawa segala keperluan pekerjaannya.
Di salah satu tangannya menentang tas yang berisi tablet canggih dan beberapa berkas miliknya.
Sedangkan tangan yang lainnya, sibuk membetulkan dasi yang terlihat masih berantakan.
Sial memang, karena tadi malam dia mendapat tugas dari sang ayah sampai dini hari. Dirinya harus bangun kesiangan, dan semua jadwalnya yang selalu teratur akhirnya berantakan.
"Ed, kamu sudah siapakan semua jadawal aku hari ini?" tanya Agra sambil berjalan menuruni tangga.
Edo yang merasa terpanggil, mengalihkan pandangannya pada sang tuan. Sedikit kaget, melihat penampilan lelaki es itu, yang masih berantakan, dengan mata yang terlihat sayu, akibat kurang tidur.
"Sudah siap, Tuan," jawab Edo.
Alisya yang baru saja selesai menata semua hidangan untuk sarapan pagi itu, menghampiri kedua lelaki itu.
Tatapannya terpaku pada Agra yang kembali menarik perhatiannya. Jas yang masih terlihat asal pakai, baju kemeja dengan dua kancing atas yang masih terbuka, dasi yang hanya tergantung saja, di leher jenjangnya dan rambut yang masih terlihat basah.
__ADS_1
Membuat lelaki berumur dua puluh tujuh tahun itu, terlihat seperti seorang mahasiswa yang terlambat untuk magang di suatu perusahaan.
Belum lagi, aroma maskulin yang selalu menguar dari tubuh atletis milik laki-laki bernama Agra itu.
Wajar saja, bila para wanita akan selalu tergila-gila dan memuja pada wakil presiden direktur itu.
Tidak hanya harta berlimpah, dan kepintaran yang sangat luar biasa. Akan tetapi, ketampanan dan rupa yang sangat menggoda bagi setiap wanita yang melihatnya menjadi pelengkap kesempurnaan, seorang Agra Leonardo Grissham yang sangat nyata.
Untuk ke sekian kalinya, gadis berumur dua puluh tahun itu, terpesona kepada sang tuan.
"Sedang apa kamu berdiri di situ?"
Pertanyaan dari Agra, membuat Alisya kembali dari lamuanannya.
"Eh, i–itu. Sa-sarapan sudah siap, Tuan," ujar Alisya terbata.
"Ed, tolong bawakan aku berkas untuk rapat dengan dewan direksi," perintah Agra, tangannya terulur, memberikan tas kerjanya pada Alisya.
"Ini, Tuan,"
"Bisa tolong saya, membenarkan dasi?" tanya Agra sambil mengambil berkas dari sang asisten.
Alisya mengangguk, melangkah maju agar lebih dekat dengan Agra, tangannya sedikit bergetar, meraih kancing yang belum terpasang.
Agra tidak terlalu perduli, dia hanya fokus membaca berkas di tangannya.
Edo menggeleng miris, melihat sikap dingin sang atasan.
Astaga, kenapa aku seperti sedang melayani seorang suami? batin Alisya.
"Jangan berfikir yang tidak-tidak." Suara khas dari laki-laki di hadapannya itu, kembali membuat Alisya terkejut.
Apa dia seorang cenayang, kenapa dia seakan tau jalan pikiranku? tanya Alisya dalam hati.
Melirik sekilas, wajah tanpa ekspresi yang sayangnya sangat tampan itu.
"Sudah, Tuan," ucap Alisya, sambil menghembuskan napas lega.
Berada di dalam jarak yang terlalu dekat dengan lelaki es itu, ternyata tidak begitu bagus untuk kesehatannya.
Itu semua terbukti, saat dia merasakan, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat di bandingkan biasanya.
Sepertinya, aku sudah harus berpikir untuk menjauhkan diri dari laki-laki bertampang sempurna inj, atau aku tidak akan berumur panjang, nanti. pikir Alisya yang ternyata teramat polos dalam hal perasan kepada lawan jenis.
...TBC...
__ADS_1
...🦅...
Terima kasih semuanya🙏🥰