Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.33 Keluarga


__ADS_3

...Happy Reading...


...πŸ¦…...


Dor ... Dor ... Dor ....


Rentetan suara tembakan terdengar memekakkan telinga, semua orang mencari perlindungan di berbagai tempat, sambil sesekali menembak lawan.


Pertarungan kini berlanjut menggunakan senjata. Untung saja Alisya dan Viana sudah di bawa keluar dengan aman oleh Gerald, di bawah pengawasan Max yang baru saja datang.


Agra bersembunyi di balik salah satu pilar, bersama Edo yang selalu berada di dekatnya.


Suasana kian mencekam, dengan banyaknya korban yang sudah berjatuhan.


Ketua dari mafia Black Eagle itu, hanya menyuruh para anak buahnya untuk bertahan. Tetapi, tidak untuk menyerang.


Rencananya, kali ini hanya untuk membongkar kejahatan Suseno dan mencemari nama baiknya di hadapan masyarakat, bukan untuk saling mengalahkan apalagi membunuh.


Namun, semua itu tetap saja menimbulkan korban dari pihak lawan. Karena, itu memang suatu konsekuensi dari apa yang kini mereka lakukan.


Menyerang dengan senjata, maka malah mempermudah para anak buah Agra, karena mereka semua sudah sangat terlatih di bidang itu.


Bagaimana mungkin organisasi pembuat dan perakit senjata api, tidak bisa memainkan barang yang mereka produksi sendiri.


Walaupun tidak sampai membunuh, namun sasaran tembakan mereka sekarang adalah tangan dan juga kaki dari lawan, agar mereka tidak bisa berkutik lagi.


"Cukup untuk sekarang, biarkan mereka menikmati, hadiah yang sudah kita berikan malam ini," gumam Edo memberi perintah pada semua anak buahnya, setelah mendapatkan isyarat dari Agra.


Agra melemparkan masker miliknya pada Fandy, dan memberi isyarat untuk segera memakainya.


Sedangkan dirinya sendiri memilih untuk tidak memakai masker.


Semua anak buah Agra, langsung menghentikan tembakan mereka, lalu mengambil masker yang sudah di sediakan oleh Edo dan Max sebelum menuju ke tempat acara.


Edo tampak ingin memberikan maskernya untuk di pakai oleh Agra. Tetapi, lelaki itu langsung menolaknya, dia lebih memilih menutupi hidungnya dengan jas yang ia pakai.


Dirinya sudah terbiasa dengan benda yang di ciptakan oleh Andrew atau dirinya sendiri.


Setelah diyakinkan oleh Agra. Edo melemparkan sebuah benda mirip seperti bola ke beberapa sudut, hingga tak menunggu lama seluruh ruangan kini sudah terselimuti oleh kabut asap tebal.


Semua pihak lawan langsung jatuh tidak sadarkan diri, sedangkan Agra, Edo, Fandy, dan seluruh pengikutnya segera pergi dari tempat acara.


.


Di luar gedung, Gerald, Viana, dan Alisya menunggu dengan cemas. Di belakang mereka tampak Max menjaga dengan kewaspadaan tinggi.

__ADS_1


"Anakku," gumam Viana, menatap sendu kedua anaknya yang kini berjalan berdampingan dengan gagah.


"Agra." Alisya menatap Agra dengan mata berkaca-kaca.


Hembusan napas lega terdengar dari keempat orang yang berada di sana, saat melihat Agra dan semua nak buahnya, tampak berjalan ke luar dari gedung, dengan keadaan baik-baik saja.


Hanya ada beberapa luka kecil karena pertarungan tadi. Tetapi semua itu sungguh tidak berarti, di bandingkan dengan kebahagiaan mereka kali ini.


"Nak, kalian tidak apa-apa?" tanya Viana, merangsek maju menghampiri kedua anak lelakinya.


"Kami tidak apa-apa, Mam," jawab Fandy.


Sudut mata Agra menangkap keberadaan Alisya, yang hanya berdiri mematung, menatapnya dengan tatapan sendu dan kaca yang hampir pecah di matanya.


Agra melangkah mendekati gadis yang selama lebih dari seminggu ini, tinggal bersama dengannya.


"Kenapa, kau menangis? Kau tidak suka aku mengalahkan calon suamimu itu?" tanya Agra.


Perkataannya sungguh terdengar sangat menyebalkan di telinga Alisya. Bukan itu maksud dari air matanya saat ini, bukan kesedihan ... melainkan suatu kebahagiaan, karena bisa melihat Agra keluar dari ruangan yang sudah seperti neraka itu, dengan selamat.


"Kamu jahat, kamu membuatku takut." suaranya tercekat di tenggorokan, menghambur masuk ke dalam pelukan lelaki yang selama ini menjadi pelidung untuk dirinya.


"A - aku pikir ka- kamu akan mati di sana, dan a-aku gak akan bisa liat kamu lagi."


Suara gadis itu terdengar lucu di telinga Agra, dengan di selingi isak tangis yang membuat senyum tipis terukir di wajah tampannya.


Viana menatap teduh interaksi lembut yang di tunjukan oleh sepasang manusia yang sedang berpelukan di depannya.


"Tuan, mobil sudah siap!" Edo yang batu saja datang, langsung memberikan instruksi pada sang ketua, dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang sedang tuannya itu lakukan.


Agra mengangguk, lalu mengurai pelukannya.


"Kami masuk dulu dengan Edo, aku ingin berbicara sesuatu dengan mereka," ucap Agra.


Alisya menatap dalam manik lelaki di depannya itu, kemudian mengangguk patuh, langsung berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di dekatnya.


Agra berjalan menghampiri, kedua orang tuanya dan satu saudaranya.


"Anakku, maafkan kami, Nak. Kami sudah banyak bersalah kepadamu." Viana memeluk erat anak bungsunya itu, menyalurkan kerinduan juga mengeluarkan rasa bersalah yang selama ini selalu menghantuinya.


Ucapan maaf itu, terus wanita patuh baya itu gumamkan, dia terlalu senang karena dapat bertemu kembali dengan anak yang telah lama ia rindukan.


Namun, rasa bersalah juga teramat besar di dalam dirinya, merasa gagal menjadi seorang ibu, yang menjaga anaknya sendiri.


Semua rasa itu bercampur menjadi satu, menjadikan bulir air mata terus saja mengalir dari manik teduh seorang ibu.

__ADS_1


"Mam, aku tidak pernah menyalahkan kalian. Maafkan aku, maafkan aku yang selalu kekanakan dan tidak pernah berpikir dewasa. Maafkan aku yang tidak pernah bisa mengerti kasih sayang kalian."


Kali ini, lelaki itu tidak sedang berperan menjadi Agra ataupun Mr.Leonard, melainkan dia sekarang tengah berperan menjadi Sagara.


Seorang anak dari keluarga Ainsley. Seorang anak yang baru saja kembali, setelah lama meninggalkan keluarganya sendiri.


"Tidak-tidak, bukan kamu yang salah, Saga. Aku yang tidak pernah bisa melihat kelebihanmu, aku yang selalu di butakan oleh ambisiku. Maafkan aku, Nak."


Saga mengurai pelukannya, ia mengalihkan pandangannya pada Gerald.


Melihat mata yang sudah memerah, dengan wajah, penuh rasa bersalah.


"Tidak, Pah. Jangan bicara seperti itu, dulu aku memang pernah menyalahkanmu. Tapi, sekarang aku sudah dewasa, Pah. Aku tidak mungkin membenci keluargaku sendiri."


Perkataan yang keluar dari mulut Agra membuat Gerald,Viana dan Fandy mengerutkan keningnya.


"Tapi, waktu kita bertemu ... kenapa kamu seperti tidak mengenali kami?" tanya Fandy.


"Soal itu, nanti aku jelaskan. Sekarang lebih baik kita segera pergi dari sini, obat bius yang kita sebar terbatas waktu, jangan sampai mereka bangun sebelum kita pergi jauh dari tempat ini."


"Kalian pulanglah ke rumah, nanti aku menyusul." ucap Agra


"Ta-tapi ...."


"Aku harus melihat semua anak buahku lebih dulu, dan mengantar gadis itu pulang. Dia terlihat sangat terkejut dengan semua kejadian ini."


Agra memotong ucapan Viana, memberi penjelasan agara keluarganya itu mengerti.


"Nanti, setelah urusanku selesai, aku pasti datang ke rumah." Agra kembali berucap, sambil memberi kode kepada Max untuk mengawal keluarganya sampai di rumah.


Lelaki itu baru masuk ke dalam mobil miliknya, setelah memastikan kalau keluarganya telah meninggalkan tepat ini.


Di dalam, ternyata Alisya sudah jatuh tertidur, karena kelelahan. Bibirnya Agra tertarik lurus hingga membentuk senyum tipis, melihat semua wajah cantik dengan mata yang sudah terpejam rapat.


'Kau miliku ... dan selamanya akan selalu jadi miliku, gadis bodoh,' gumam Agra dalam hati.


Dia bukanlah lelaki bodoh, yang akan memasukkan seorang gadis ke dalam apartemen miliknya, tanpa maksud tertentu.


...πŸ¦…...


...πŸ¦…...


...TBC...


Terima kasih untuk berbagai jenis dukungan yang telah kalian berikan, like, komen, vote, hadiah dan bintang lima. Semua sangat berarti bagi saya sebagai penulis receh, yang masih harus banyak belajar.

__ADS_1


Maaf karena belum bisa up tiap hariπŸ™ hanya bisa bilang terima kasih yang masih setia menunggu kelanjutan cerita receh ini.


...πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°...


__ADS_2