Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.67 Sahabat Alisya


__ADS_3

 


...Happy Reading...


...🦅...


“Tuan, sudah waktunya untuk bertemu dengan Nona Alisya.”


Agra langsung melihat jam di tangannya, saat suara Edo menyapa pendengarannya.


“Ah, terima kasih, Ed.”


Agra langsung membereskan meja kerjanya dibantu oleh Edo. Sejak pulang dari Kafe, Agra meminta Edo untuk bekerja di ruangannya.


Setelah keduanya selesai, Agra langsung memakai kembali jas yang ia sampirkan di belakang kursi, lalu berjalan ke luar.


“Kamu sudah siapkan apa yang aku minta?” tanya Agra, saat mereka baru masuk ke dalam lift.


“Sudah, Tuan. Mereka juga sudah setuju, bahkan berterima kasih kepada, Tuan,” jawab Edo.


“Hem. Bagaimana dengan Livia” tanya Agra lagi.


“Dia juga sudah menyiapkan Nona Alisya seperti yang Anda mau. Sekarang dia sedang dalam perjalanan menuju lokasi,” jawab Edo lugas.


Agra menarik lurus bibirnya. “Bagus, kerjamu selalu membuat aku puas. Berarti sekarang giliranku?” ucapnya.


“Terima kasih, Tuan.” Edo, menganggukkan kepalanya.


Hari sudah mulai gelap, saat mereka keluar dari gedung perusahaan Leopard Corp.


Edo mengendarai mobil, membawanya menyatu dengan jalanan yang sedikit padat.


 


...........


 


Di apartemen, Alisya masih berkutat dengan pekerjaannya bersama Livia, di ruang keluarga. Keduanya memang lebih suka berada di sana dibandingkan di ruang kerja. Bunyi bel mengalihkan perhatian keduanya.


“Biar saya saja, Non,” ucap Bi Ani.


Alisya mengangguk, lalu kembali fokus pada berkas dan laptop di depannya, begitu juga dengan Livia.


Gadis yang berstatus sebagai asisten dan bodyguard itu, tidak perlu lagi menyeleksi orang yang bertamu. Agra sudah menempatkan orang terlatih di luar, maka yang bisa bertamu ke unit apartemen ini pun sudah di seleksi terlebih dulu.


“Alisya!” teriakan dari dua orang perempuan yang baru saja masuk ke ruang keluarga mengagetkan Alisya dan Livia.


Keduanya langsung mengalihkan perhatiannya pada tamu tak diundang tersebut. Mata Alisya langsung berbinar, mendapati dua orang sahabatnya.


“Delina, Rima!” Alisya langsung berdiri dan memeluk kedua sahabatnya bergantian.


“Kok kalian bisa ke sini, ada angin apa nih?” tanya Alisya, setelah mereka melepas pelukannya.


Livia langsung membereskan sisa pekerjaan dirinya dan Alisya, agar mereka bisa berbincang dengan nyaman di sana.

__ADS_1


“Kamu gak biarin kita duduk dulu apa? Capek juga ya, cuman mau sampe sini doang, pemeriksaannya panjang banget,” ujar Delina. Salah satu tangannya ia usapkan ke dahi, seperti orang yang sedang mengelap keringat, ditambah dengan helaan napas lelah.


“Iya nih, mau ketemu sama kamu aja harus melewati berbagai pemeriksaan, udah kayak mau ketemu presiden,” cebik Rima menambahkan.


Alisya hanya terkekeh geli, mendengar keluhan para sahabatnya.


“Ya, gitu deh. Agra emang posesif banget sama aku. Tapi, aku kok malah suka ya?” ucapnya, sambil membawa kedua sahabatnya ke arah sofa.


Delina dan Rima hanya mencebik kesal, mendengar perkataan Alisya.


“Duduk dulu deh, mau pada minum apa nih?” tanya Alisya.


“Apa aja deh, kalau perlu semuanya aja kamu keluarin ke sini.”


Alisya menggeleng geli melihat Delina dan Rima malah bersandar nyaman di sofa, sepertinya mereka berdua memang lelah.


Alisya berjalan ke arah dapur untuk meminta Bi Ani menyiapkan minum dan kudapan untuk mereka.


“Livia, kamu masih ngerjain kerjaan?” tanya Alisya, saat melihat Livia malah membawa semua berkas ke meja makan.


“Ah, iya, Nona Alisya. Ini sedikit lagi juga selesai,” jawab Livia.


Dari meja makan dan tempat duduk Livia sekarang, dia bisa melihat ke dalam ruang keluarga dan mendengar semua pembicaraan di antara Alisya dan teman-temannya. Makanya dia mengerjakan di sana.


Seperti biasa, Livia ingin, Alisya tak selalu merasa diawasi olehnya. Hingga dia selalu berusaha untuk menyamarkan pengawasannya pada Alisya.


“Hem, baiklah, terserah kamu aja. Nanti kalau sudah selesai kamu gabung aja ya sama aku,” ucap Alisya yang langsung diangguki oleh Livia.


“Baik, Nona.”


Terlihat di sana Bi Ani sedang menyiapkan minuman dan kudapan. Alisya tersenyum mendapati semua itu.


“Bi, tolong bawain minuman sama kudapan ke ruang keluarga ya, sekalian buat Livia juga,” ucap Alisya.


Bi Ani menoleh dengan senyum lembut pada Alisya, tangannya sedang asyik mengaduk minuman berwarna oranye di beberapa gelas yang ada di depannya.


“Baik, Non, sebentar lagi bibi bawa ke sana,” jawab Bi Ani.


Alisya tersenyum lalu mengangguk, kemudian pergi ke ruang keluarga lagi.


“Ada apa nih, kalian pada ke sini tanpa kasih kabar dulu?” tanyanya sambil duduk di sofa singgel.


Kedua sahabatnya langsung menegakkan duduknya, lalu melihat Alisya.


Bi Ani datang dengan nampan di tangan, menghidangkan minuman dan beberapa kue kecil di piring.


“Terima kasih, Bi.”


Bi Ani mengangguk sambil tersenyum, kemudian pamit permisi untuk kembali ke belakang.


Alisya kembali fokus pada dua sahabatnya itu. “Jadi?” tanyanya lagi. Kedua alisnya terangkat dengan pandangan penasaran.


“Sebenarnya kita mau ngajak kamu untuk pergi bersama akhir minggu ini, kebetulan Delina dapet tiket gratis dari sodaranya yang baru pulang dari luar negeri,” jelas Rima.


Alisya mengerutkan keningnya, bagaimana dia bisa pergi, sedangkan biasanya akhir pekan dia habiskan bersama Agra dan keluarganya. Walaupun sebenarnya dirinya juga rindu untuk keluar bersama mereka.

__ADS_1


“Gimana ya, aku sih mau banget pergi bareng kalian. Tapi, aku ragu Agra bakal ngijinin pergi,” jawabnya.


Mereka bertiga tampak menghembuskan napas berat, dengan bibir dimajukan, merasa kecewa.


“Coba dulu aja, Sya. Kita kan udah lama gak jalan bareng.” Rima mulai merayu Alisya.


“Aduh, aku takut dia marah, gimana dong?” Alisya meringis merasa Agra tidak akan memberikan ijin kepadanya.


Dari meja makan Livia mengulum senyumnya mendengar percakapan ketiga sahabat itu.


‘Pintar juga mereka bermain peran,’ gumamnya dalam hati, melihat kedua sahabat Alisya.


Dia sudah diberi kabar terlebih dulu oleh Edo tentang rencana Agra, untuk membuat Alisya pergi di akhir pekan agar tuannya itu bisa menyusul Andrew ke luar kota.


Setelah berbagai rayuan dari para sahabatnya, akhirnya Alisya memutuskan untuk mencoba berbicara dengan Agra, ketika mereka makan malam d luar.


“oke-oke, aku akan coba bilang ke Agra, semoga saja dia dikasih keajaiban, biar bisa ngijinin aku pergi sama kalian,” ucap Alisa akhirnya.


Delina dan Rima langsung mengembangkan senyumnya, dengan napas lega, juga menyandarkan tubuhnya di sofa.


Keduanya benar-benar merasa bisa bernapas lega sekarang, karena tugasnya dari Edo sudah selesai dijalankan.


Kenapa juga harus penuh drama begini hanya untuk memberikan istrinya ijin jalan-jalan dengan mereka coba. Astaga, detak jantung keduanya bahkan tak bisa dikontrol dengan benar, sebelum mendengar keputusan Alisya tadi.


Bagaimana mungkin, Edo sampai mengancam akan memindahkan mereka ke cabang, jika gagal.


Hufth ... ternyata berteman dengan istri bos besar itu tak semudah yang dipikirkan. Ya, mungkin itulah yang ada dalam benak mereka sekarang.


Keduanya baru pamit pulang, setelah hari beranjak senja.


“Aku tunggu kabar baik dari kamu ya, kalau suamimu itu mengizinkan, kita berangkat besok sore, oke!” ucap Delina sebelum keluar dari apartemen.


Alisya hanya mengangguk pasrah. Dalam hati dia berdoa semoga saja suaminya bisa memberikannya izin.


Setelah kepergian kedua sahabatnya, Alisya langsung menyiapkan diri untuk makan mam bersama sang sami, dengan dibantu oleh Livia tentunya.


Mulai dari mandi, berendam dengan wewangian, hingga berhias dan memakai baju yang baru saja di kirimkan dari butik langganan keluarga Agra, beberapa saat yang lalu.


Promo lagi ya, kali ini dari teman literasi aku, yang pasti karyanya keren dan bagus banget, yuk pada mampir dan jangan lupa dukungannya ya😊


Judul: ROMANSA BIAS DAN ZEE


Author: BUBU.id


Blurb:


Zee masuk dalam sekolah unggulan di mana Bias menjadi idola di sana. Zee berbeda, ia memilih berpenampilan jelek di sekolah untuk mengetahui ketulusan orang-orang di sekitarnya. Ya, di masa peralihan itu Zee tidak ingin dikenal menjadi gadis berpenampilan cantik, tetapi Zee ingin dikenal sebagai gadis berotak cerdas.


Suatu hari Zee mendapat surat tertanda Bias sang idola. Hati Zee tak menentu.


"Mungkinkah kak Bias menyukaiku yang jelek?"


...🦅...


...🦅...

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2