Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.47 Pengkhianatan


__ADS_3

...Happy Reading ...


...🦅...


Sampai di ruang atas, ternyata Andrew sudah menunggu ke duanya.


Lelaki paruh baya itu ikut menonton pertunjukan yang di siapkan secara live di kalangan semua anak buahnya itu.


“Sudah puas kamu bermain-main?” tanya Andrew, begitu melihat anak angkatnya baru saja sampai di depannya.


“Lumayan juga, hahaha!” jawab Agra, di iringi dengan tawa di belakangnya.


Memilih duduk di depan ayah angkatnya itu, dengan badan ia sandarkan, santai.


“Lalu, apa yang berhasil kalian dapatkan darinya, hem?” Andrew tampak mencondongkan tubuhnya.


“Ya, tidak jauh dari perkiraan kita sebelumnya, dia hanya wayang yang di gerakan oleh seseorang,” jawab Agra.


“Lalu untuk apa kamu memberikan pelajaran pada manusia bodoh sepertinya?” cibir Andrew.


“Daddy sudah tau pasti, apa maksudku. Aku hanya sedang ingin bermain-main!” jawab acuh lelaki tampan itu.


Andrew mengangguk-anggukkan kepalanya, dia sebenarnya tahu maksud dari semua penyiksaan ini.


Anak angkatnya itu, masih belum terlalu mempercayai informasi yang di dapatkan baru-baru ini, kalau ternyata salah satu sahabatnya ada yang berkhianat.


Dua tahu bagaimana rasanya di khianati oleh orang yang sudah terlanjur kita percaya, maka dari itu, ia membiarkan apa yang di lakukan oleh Agra.


“Jadi sekarang kamu sudah puas mencari bukti, hem?” tanya Andrew lagi.


“Berhenti terus bermain-main, dia bahkan sudah berani menyeretmu ke dalam perangkap, ap lagi nanti yang bisa orang itu lakukan bila terus saja kamu biarkan?!” sambungnya lagi.


“Ya, aku hanya ingin tau saja, sampa mana dia berani bertindak,” desis Agra, dengan tatapan yang berubah tajam, juga tangan mengepal kuat.


“Baiklah, terserah padamu saja. Hati-hati, karena dia bisa saja selangkah lebih maju di bandingkan dengan kita, apa lagi sekarang kamu mempunyai kelemahan!”

__ADS_1


Agra menatap mata Andrew, mencari kekuatan yang saat ini sangat ia perlukan, dan itu hanya Andrew lah yang tau.


Setelah cukup lama beradu pandang, Agra mengangguk samar, walau dalam hati ia masih tidak bisa menerima pengkhianatan yang terjadi padanya saat ini.


“Aku tau kau membawa mereka ke apartemenmu, hanya untuk mengawasinya bukan? Tapi, ingat, jangan sampai Alisya datang juga ke sana, itu akan sangat berbahaya bagi calon istrimu itu!” peringat Andrew.


“Ya, aku tau. Untuk sementara ini Alisya aku haramkan untuk datang ke apartemenku, sampai mereka berdua keluar dari sana!” tegas Agra.


Andrew mengangguk dengan senyum bangga, walaupun ia tahu kalau anak angkatnya itu masih butuh pendampingan darinya.


Namun, perkembangan dan insting bertarungnya sudah berkembang cukup pesat.


Hanya dalam waktu sepuluh tahun, anak lelaki yang dulu begitu polos tanpa tahu kekejaman dunia hitam, kini sudah berubah menjadi pria dewasa yang sangat di kenal kekejamannya, entah dalam dunia bisnis maupun dunia bawah.


Hanya saja mungkin anak itu masih memiliki hati untuk para orang di masa lalunya, maka dari itu, ia cukup sulit menerima kenyataan.


Langit sudah berubah gelap, saat Agra keluar dari markas.


Setelah lebih dulu ia mengadakan rapat bersama Andrew, Edo dan para anak buah yang lain, untuk mengantisipasi penyerangan berikutnya, yang bisa terjadi kapan saja, dan melalui siapa saja.


Agra belum sempat untuk membicarakan lebih jauh mengenai hubungannya dengan Alisya, ia sendiri masih bimbang untuk mengungkapkan jati dirinya kepada seluruh keluarganya, terutama Alisya.


Entah sampai kapan ia bisa menyembunyikan statusnya sebagai ketua dari organisasi mafia terbesar dan terkuat hampir di seluruh negara itu.


Yang pasti, lambat atau laun, ia harus tetap memberi tahu keluarganya sebelum mereka tahu semua itu dari orang lain.


Menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan, lelaki itu menatap keramaian para pengunjung pasar malam yang tampak berlalu lalang.


Sebuah taman hiburan yang menjadi tempat bermain anak-anak keluarga menengah ke bawah.


Namun, tanpa mereka tahu, seorang anak dari pengusaha besar sepertinya pernah bermimpi untuk pergi ke tempat seperti ini bersama kedua orang tuanya, dan itu tidak bisa terjadi sampai saat ini.


Ingatannya kembali pada saat dirinya berada di bangku sekolah dasar, mungkin sekitar kelas satu atau dua.


Saat itu dirinya terlambat di jemput di tempat les, sampai jam tujuh malam.

__ADS_1


Di perjalanan ia melihat sebuah pasar malam yang mulai ramai di datangi oleh anak-anak, bersama dengan kedua orang tuanya.


Sampai ke rumah dengan polosnya ia langsung bercerita kepada Viana.


“Mama, tadi aku ngeliat ada pasar malam di jalan, di sana bagus, Mah, banyak mainannya ... nanti kalau Mama sama Papa gak sibuk kita ke sana yuk, Mah!” riangnya berharap permintaan kecil itu bisa orang tuanya kabulkan.


Namun, senyumnya harus kembali pudar saat tiba-tiba saja suara sang ayah menginterupsinya.


“Buat apa main ke tempat orang rendahan begitu, hah?! Kita tidak level berada di tempat seperti itu, tau!” sentak Gerald, langsung mematahkan harapan anak kecil itu.


“Viana, ajarkan anak bodoh itu, untuk pintar memilih teman, jangan sampai dia bergaul dengan orang-orang kelas rendahan!” peringatnya, beralih pada sang istri.


“Bang, kalau tidak mau masuk jangan parkir di sini! Bikin macet aja!” seruan dari seorang lelaki yang sedang menjaga parkir mengembalikan Agra pada kesadarannya.


Membuka kaca mobil lalu menyodorkan uang seratus ribuan pada lelaki itu.


“Sorry, Bang!” ucapnya, sebelum kembali menutup kaca mobilnya dan melesat meninggalkan empat itu.


Tukang parkir yang sepertinya tidak jauh umurnya dari Agra melongo saat melihat selembar uang seratus ribu di tangannya.


“Wah, rejeki nomplok ini,” ucapnya menciumi uang tersebut.


“Makasih, Bang! Kapan-kapan mampir lagi!” teriaknya, mengangkat tangan yang memegang uang dari Agra, melambaikannya pada mobil Agra yang sudah melesat pergi.


“Busset dah, mimpi apa gue semalem, negor orang kaya, malah di kasih duit seratus rebu!” sambungnya lagi, degan perasaan berbunga.


Mungkin begitulah adanya, kebahagiaan yang terkadang di anggap kecil dan remeh oleh kita, justru akan sangat berharga dan di nantikan bagi orang lain.


Karena, memang sumber kebahagiaan bagi setiap orang berbeda-beda, dan hanya individunya sendiri yang tahu kebahagiaan untuk dirinya.


Ingatkan, jika kebahagiaan itu bukan untuk di cari, melainkan untuk di ciptakan.


...🦅...


...🦅...

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2