Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.48 Sepiring berdua


__ADS_3

...Happy Reading ...


...🦅...


Pagi hari ini, Agra, Edo, Roman dan Luis sedang menikmati sarapan bersama.


Kondisi kedua sahabat Agra itu, kini sudah sangat membaik, obat-obatan yang diberikan oleh Nick memang bisa diandalkan.


“Gra, makasih ya, loe udah mau ngerasain kita di sini,” ucap Roman, di sela menyantap makanan.


“Iya, Gra, berkat loe, gue bisa sembuh secepat ini,” sambung Luis.


Agra menghentikan aktivitas sarapannya, menaruh terlebih dulu sendok dan garpu di atas piring.


“Itu kan memang udah kewajiban gue sebagai sahabat kalian. Lagi pula kalian begini juga gara-gara bertarung sama lawan gue,” ucap Agra, setelah meminum air putih terlebih dahulu.


“Sekarang kita mau pamit, udah cukup lama kita pergi dari rumah, ortu kita pasti udah pada bingung. Lagian kan ponsel kita juga ilang pas kejadian kemarin,” jelas Luis.


Agra menganggukkan kepalanya.


“Gimana kalau bareng aja sama gue? Kebetulan gue juga mau ke kantor,” tawar Agra.


“Gak usah, Gra. Kita kan juga bawa motor,” tolak halus Roman yang langsung di angguki oleh Luis.


“Oh, kalau gitu biar kalian di kawal sama anak buah gue aja ya, gue takut sebagian dari mereka masih ada yang ngenalin loe pada?” ucap gusar Agra.


“Engga usah, Gra. Kami berdua gak mau ngerepotin.” Roman dan Luis tetap menolak.


“Ya, baiklah, terserah kalian saja,” pasrah Agra.


Edo yang berada di sana juga, ingin sekali bertepuk tangan, atas kehebatan permainan peran yang di lakukan oleh Agra.


Tuannya itu memang tidak bisa di ragukan lagi, kalau masalah mengolah emosi.


Benar-benar sama dengan Andrew, keduanya sangat pintar mengelabuhi lawan, dengan permainan kata dan emosi yang sangat apik.


Setelah sarapan, mereka semua akhirnya turun menuju parkiran bawah, dan baru berpisah di sana.


Agra pergi ke kantor bersama dengan Edo sebagai supir, sedangkan kedua sahabatnya pulang ke rumah masing-masing.


“Jaga diri kalian baik-baik. Sampai jumpa lagi,” ucap Agra saat melajukan pelukan kilas dengan kedua sahabatnya, sebelum mereka naik kendaraan masing-masing.


“Loe juga, jaga diri baik-baik. Sekali lagi makasih ya,” ucap kedua sahabatnya.


Setelah Roman dan Luis pergi, Edo langsung memberikan kode kepada beberapa anak buahnya melewati aerphone yang terpasang di telinga.


Agra melirik sekilas asisten pribadinya.


“Mereka sudah ada pada posisi, Tuan,” ucap Edo, bahkan tanpa Agra bertanya, ia sudah tahu apa yang di maksud oleh tuannya.

__ADS_1


“Hem, bagus. Aku mau laporannya siang ini sudah ada di tanganku!” tegas Agra.


“Baik, Tuan!” jawab Edo.


Keduanya langsung masuk ke dalam mobil, melaju membelah jalan pagi yang selalu saja terasa pengap oleh kemacetan.


Waktu bergulir begitu cepat, sing ini Agra dan Edo baru saja kembali dari rapat di luar kantor.


Sampai di lantai paling atas, Edo langsung memisahkan diri untuk pergi ke ruangannya sendiri.


“Tuan, ada seseorang yang menunggu Anda di dalam,” ucap salah satu sekretarisnya.


Agra menghentikan langkahnya, dengan kening bertaut dalam, siapa yang berani mengizinkan tamu langsung menunggu di ruangannya.


“Siapa yang sudah memperbolehkan tamu jatuh menunggu di ruanganku?!” tanya Agra, dengan nada suara rendah namun menekan, tatapannya tajam meneliti satu per satu sekretaris yang berada di sana.


“Ma- Maaf, Tuan. Tapi, bukan kami yang mengizinkannya untuk masuk ke ruangan, Tuan. Melainkan Tuan Andrew,” jelas salah satu perempuan di sana, dengan terbata, menahan gugup juga takut kepada atasannya itu.


Agra memang jarang sekali bicara dengan para karyawan, tetapi, sekalian dia berbicara maka akan langsung membuat lawannya menggigil ketakutan.


“Baiklah, kalau begitu. Kali ini kalian aku ampuni, tapi jika lain kali, aku tidak tahu!” ucapnya sebelum kembali melangkah menuju ruangannya.


Para sekretaris yang hanya bisa menunduk takut, langsung menghembuskan napas lega, saat bos mereka itu sudah benar masuk ke dalam ruangannya.


“Tampan gak ada obat, tapi kenapa seram juga!” gumam salah satu sekretaris yang terlihat masih muda.


“Iya, tatapannya itu loh, bikin panas dingin!” sambung salah satunya lagi.


“Wah, bisa begitu, Mah?” tanya penasaran perempuan muda.


“Iya, dia tidak suka jadi bahan pembicaraan, jadi kalau kalian ketahuan sedang gosip dia, siap-siap aja langsung di pecat saat itu juga,” jelas, perempuan yang terlihat lebih dewasa.


“Sudah, lebih baik kita balik kerja lagi,” sambungnya lagi.


Sedangkan di sisi Agra, ia melebarkan senyumnya, saat baru saja masuk ke dalam ruangannya.


“Alisya, kenapa ke sini gak bilang-bilang? Kalau tau pasti tadi aku jemput!” cerocos Agra.


Berjalan cepat menghampiri gadis yang kini tengah berdiri, menatapnya dengan senyum cantiknya.


“Aku tadi bareng sama Daddy, cuman mau nganterin makan siang buat, Kakak,” jawab Alisya.


Agra meraih tubuh mungil gadisnya, membawanya ke dalam kehangatan pelukannya.


Alisya, tersenyum dengan mata tertutup, menikmati aroma maskulin yang langsung memenuhi rongga penciumannya. Terasa sangat nyaman dan menenangkan.


“Aku siapin makanan buat Kakak dulu ya,” ucap Alisya, menekan dada bidang Agra, agar lelaki itu mengurai pelukannya.


“Hem, baiklah, kebetulan aku juga belum sempat makan siang,” ucap Agra,  memilih melepas jas yang ia kenakan. Melonggarkan dasi, dan menggulung lengan kemenangan sampai ke siku.

__ADS_1


Alisya tersenyum, mengambil kotak bekal yang berada di atas meja, lalu membawanya pada pantri kecil yang berada di sudut ruangan.


“Oh iya, aku juga membawakan makanan untuk Edo, biar aku antarkan dulu ke ruangannya ya?” tanya Alisya, setelah menaruh piring di depan Agra.


“Tidak usah, kamu di sini saja teman aku makan, biar nanti aku suruh Edo untuk mengambilnya sendiri.” Agra menepuk sofa di sebelahnya.


“Kamu sudah makan?” tanya Agra, sebelum ia menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Alisya tampak kikuk, karena memang dia belum sempat makan siang.


“Ini, kita makan bareng saja.” Agra menyodorkan satu suapan ke depan mulut Alisya.


“E-enggak usah, aku belum lapar kok. Sekarang Kakak aja yang makan!” ucap Alisya, menggeleng kepala.


“Jangan membantah, kataku makan bersama, ya kamu harus makan,” ucap Agra, dengan intonasi suara yang sangat lembut.


Alisya tampak menatap wajah lelaki di depannya itu, senyum kecil terbit dari bibirnya, saat Agra mengangguk menyuruh Alisya menerima suapan dari tangannya.


Dengan pipi yang memerah, gadis itu menerima suapan pertama dari tangan lelaki, selain dari mendiang ayahnya.


Agra tersenyum puas, melihat Alisya mau makan satu piring bersamanya, kembali mengambil nasi untuknya sendiri.


Akhirnya keduanya makan bergantian, dari sendok dan piring yang sama.


“Tuan, in—,”


Perkataan Edo yang baru saja masuk ke ruangan Agra, langsung terhenti saat melihat tatapan tajam dari sang empunya ruangan.


“Silakan di lanjutkan, biar nanti aku kembali lagi!” ucapnya, lalu dengan cepat kembali ke luar dari ruangan tuannya itu.


‘Astaga, hampir aja aku di terkena masalah karena kecerobohanku sendiri!’ gumam Edo dalam hati, menatap laporan yang akan ia berikan pada Agra.


“Lagian, tumben Alisya ke kantor, pake main suap-suapan segala lagi, udah kayak ABG kasmaran aja!” gerutu Edo, saat bayangan kemesraan bosnya tercinta di kepala.


Beralih menatap para sekretaris yang tengah mencuri pandang padanya.


“Kenapa kalian gak bilang kalau Tuan Agra sedang ada tamu?!” tegasnya pada sekretaris Agra.


“Ma-maaf, Tuan,” ucap gugup kepala sekretaris.


“Ya sudahlah!” ketus Edo, sebelum pergi kembali menuju ruangannya.


“Sial sekali kita hari ini, bisa kena tegur dua kali,” ucap lemas salah satu staf sekretaris.


“He em, sepertinya para bos kita, sedang gak enak hati deh,” sambung temannya, yang langsung di angguki oleh semua yang ada di tempat itu.


...🦅...


...🦅...

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2