Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.70 Menyamar


__ADS_3

 


...Happy Reading...


...🦅...


Hari pertama di luar kota, Agra menyibukkan dirinya untuk melihat sendiri kondisi di kantor, pabrik dan juga isu di kalangan warga sekitar.


Dia dan Edo menyamar menjadi pendatang baru yang sedang berlibur, untuk mendekati warga di sekitar kantor dan pabrik. Sedangkan Andrew, melakukan interogasi pada beberapa orang karyawan yang merupakan warga asli sana.


Di tempat lain, Max bertugas untuk berjaga di wilayah yang berpotensi menjadi jalan untuk penyerangan berikutnya.


Agra dibuat terkejut, saat ada salah satu warga yang mengatakan, kalau pabriknya membuang limbah ke sungai, hingga membuat air tercemar.


Padahal selama ini, dia sudah menerapkan pengolahan limbah secara modern agar tidak langsung terbuang. Mereka akan mengolahnya kembali oleh mesin canggih agar menekan jumlah pembuangan limbah.


Lagi pula, lokasi pabrik mereka dan pemukiman warga itu cukup jauh. Bahkan selama ini tak pernah ada keluhan dari warga tentang keberadaan pabrik mereka.


Ini jelas isu yang dibuat-buat untuk memperpanjang konflik yang terjadi akhir-akhir ini.


Menjelang malam, Agra baru saja kembali ke rumah peristirahatan, di sana sudah datang Ruhan dan beberapa anggota Black Eagle, dari pusat yang sedang menunggu tugas darinya.


“Selamat Malam, ketua!” sapa mereka serempak. Saat melihat kedatangan Agra.


Agra mengangguk sekilas, pandangannya mengedar melihat para anggota Black Eagle yang berjumlah sekitar sepuluh orang.


“Om Ruhan, ikut aku sekarang!” perintah Agra, sebelum melangkah masuk ke dalam ruang rapat mereka.


Walaupun sekarang posisinya lebih tinggi dari Ruhan, tetap saja dia akan menghormati mantan pelatihnya itu.


Ruhan mengangguk samar, lalu berjalan di belakang Agra bersama dengan Edo. Andrew yang sejak tadi berada di sana juga, ikut masuk ke dalam.


“Aku sudah menemukan beberapa fakta tentang isu yang beredar di kalangan masyarakat, kita juga menangkap beberapa orang yang terindikasi telah menyebarkan berita itu.” Agra berucap, untuk memulai rapat mereka kali ini.


“Daddy juga sudah menginterogasi beberapa orang karyawan yang merupakan orang asli daerah ini. Mereka bisa membantu kita mengatasi masalah warga, untuk mengembalikan nama baik pabrik kita,” ujar Andrew.


“Jadikan mereka jembatan, untuk kita bisa menemui orang yang sangat berpengaruh, di daerah ini. Agar kita bisa berbicara dengannya!” Agra memberikan sedikit masukan.


“Ya, aku sudah memerintahkan itu, mereka akan langsung mengusahakannya malam ini juga, semoga saja besok pagi kita bisa mendapatkan kabar baik dari mereka.”


Agra menganggukkan kepalanya, samar.


“Awasi mereka terus, jangan sampai ada yang berbelok melawan kita nantinya.” Agra kembali mengingatkan.


“Aku sudah menugaskan beberapa anggota untuk mengawasi pergerakan mereka, info terakhir, sekarang mereka sedang berada di rumah orang itu,” jelas Andrew.


Ruhan dan Edo memperhatikan percakapan ayah dan anak itu, untuk menganalisis kejadian yang sedang terjadi saat ini.


Keempat orang itu kini sedang berembuk untuk melakukan pengawasan dan pengintaian serta persiapan penyerangan kepada orang yang sudah membuat semua ini.


Max datang menyusul kemudian, ia baru saja tiba setelah mendapat perintah untuk bergabung dengan Agra dan yang lainnya.

__ADS_1


Setelahnya, ia langsung melaporkan tentang apa yang sudah ia temukan selama hampir seminggu ini berada di sini, bersama Andrew.


“Apa dia berada di sini sekarang?” tanya Agra, kemudian.


“Dia baru saja kembali dua hari yang lalu. Berdasarkan dari pergerakan mereka selama ini, kemungkinan dia akan kembali lagi besok atau lusa, untuk memberikan serangan kepada kita,” jelas Max.


“Hem, baiklah. Berarti kita masih mempunyai waktu, untuk mengamankan para warga dan karyawan, sebelum penyerangan berikutnya. Menurutku itu waktu yang cukup, asal kita semua bekerja sama dengan baik,” jelas Agra.


“Ed, amankan pihak hukum setempat, aku tidak mau digerecoki oleh mereka!” perintah Agra, mengalihkan pandangannya pada asisten pribadinya.


“Baik, Tuan!” jawab Edo lantang.


“Max, kamu kembali ke markas, aku membutuhkanmu untuk mengawasi situasi di sana. Sedangkan di sini, kau akan digantikan oleh Om Ruhan.” Agra beralih pada Max dan Ruhan.


“Baik, Tuan!” jawab keduanya.


“Dad, kamu harus kembali ke kantor, dan tekan mereka sebisa mungkin, untuk memancing kemarahan dua orang tidak tahu diri itu!” ujar Agra.


Andrew mengangguk.


"Baiklah besok pagi kita akan segera bertindak. Usahakan siang atau malam hari kabar tentang perlawanan dari kita sudah sampai di telinga kedua orang tua itu,” ucap Andrew, yang langsung diangguki oleh semua orang di sana.


Mereka semua baru keluar dari ruangan itu setelah malam semakin larut, keempat petinggi Black Eagle itu langsung berpencar dan memberikan instruksi kepada para anggota, yang sudah mereka bagi sebelumnya.


.


Alisya melihat ponselnya berkali-kali, berharap ada kabar dari suaminya. Tetapi, sepertinya, kali ini dia harus kecewa lagi, saat tak ada pesan apa pun dari nomor yang sejak tadi ia tunggu.


“Maaf, Nona.” Livia hanya menundukkan kepalanya, dia tidak bisa memberikan jawaban apa pun untuk istri dari tuannya itu.


Wanita muda itu mengembuskan napas kasar, dia bahkan tak bisa menekan asisten sekaligus bodyguardnya, untuk mengetahui situasi suaminya saat ini.


Melirik sekilas wajah datar Livia, kemudian menyandarkan punggungnya di kursi.


Saat ini, keduanya sedang berada di tepi kolam renang, Alisya baru saja selesai melakukan olah raga air tersebut, bersama para teman-temannya.


“Aku akan membersihkan diri dulu, tolong kamu bawakan baju ganti untukku,” ujar Alisya, beranjak menuju tempat pemandian di sisi kolam.


“Baik, Nona.”


Bukan Livia namanya jika dia harus patuh dan pergi dari sisi Alisya, hanya untuk mengambil baju majikannya ke kamar. Gadis itu malah memanggil Bi Ani dan meminta tolong padany, setelah melihat Alisya masuk ke dalam kamar mandi.


“Bi, tolong ambilkan pakaian ganti untuk Nona Alisya,” ujarnya, saat Bi Ani mendekat padanya.


Wanita paruh baya itu mengangguk, lalu segera pergi ke kamar Alisya, untuk mengambil baju ganti.


“Terima kasih, Bi.” Livia menerima baju dari tangan Bi Ani, lalu berjalan menuju kamar mandi.


“Nona, ini baju ganti Anda!” ujar Livia, setelah mengetuk pintu kamar mandi.


“Masuklah!”

__ADS_1


Livia langsung membuka pintu perlahan, setelah mendengar jawaban dari dalam.


“Terima ini!” teriak Alisya, diiringi tawa dibelakangnya.


Alisya langsung menyemprot Livia dengan shower, tepat di wajahnya.


“Astaga, Nona. Apa yang Anda lakukan?!” Livia sedikit meninggikan suaranya, agar tak kalau dengan tawa Alisya.


“Kamu itu menyebalkan sekali, jadi ini hukuman untukmu, hahaha!” teriak Alisya.


“Baiklah, tapi baju ganti Anda jadi basah, karena tersiram air!” Livia maju ke depan dengan tangan di depan wajah, untuk menghalangi air yang masuk ke dalam mata.


Grep


Dengan sekali gerakan, Livia menagkap tangan Alisya yang memegang shower lalu mengambil benda itu dan mematikan aliran airnya.


Keadaan tubuhnya saat ini, sudah basah kuyup karena ulah majikannya itu.


“Livia, kamu benar-benar menyebalkan!” teriak Alisya, kali ini bukan tawa yang mengiringi, tetapi isak tangislah yang terdengar.


Ini sudah hari kedua dirinya di sini, tetapi, tak ada kabar sama sekali dari Agra. Entah apa yang terjadi di sana saat ini. Dirinya hanya merasa sangat khawatir pada suaminya itu.


Namun, tak ada orang yang bisa ia tanyai tentang keadaan suaminya saat ini, Livia yang ia harapkan bisa memberinya informasi, terus bungkam dan meminta maaf.


Kini dirinya merasa menjadi seorang istri yang tidak berguna, dia sama sekali tidak bisa membantu suaminya di saat dia sedang kesulitan.


“Nona,” panggil Livia, ia mengangkat tubuh istri tuannya itu, lalu memberikan pelukan hangat.


“Livia, aku hanya ingin tahu kabar suamiku, apa itu salah?” tanya Alisya di sela isak tangisnya.


Livia menelan salivanya dengan susah payah, memikirkan jawaban apa yang dapat membuat nonanya itu tak bersedih lagi.


“Baiklah, aku akan menghubungi Edo, untuk bertanya keadaan Tuan saat ini,” putus Livia, dengan wajah gusar.


“Benarkah, kamu janji?” tanya Alisya, mengurai pelukannya dengan wajah sumringah.


Livia mengangguk. “Tapi, aku tidak janji akan langsung mendapat jawaban,” ujar Livia.


“Tak apa, aku akan menunggu, sambil mencoba menghubungi Agra lagi nanti,” ucap Alisya.


“Anda madi lebih dulu, biar aku ambilkan baju ganti lagi,” ujar Livia, keduanya sudah berdiri kembali.


“Hem, baiklah. Tapi, kamu sendiri?” tanya Alisya, melihat asistennya juga basah kuyup.


“Tak apa, saya akan mengganti baju nanti.” Livia menampilkan senyum tipis di bibirnya.


Di luar kamar mandi, Livia langsung mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan, pada salah satu anggota Black Eagle, agar menyampaikan pesannya pada Edo.


Menghela napas berat, dengan tatapan mata yang rumit, entah apa yang dipikirkan gadis itu saat ini, tetapi terlihat sekali dia sedang dalam banyak masalah.


Kali ini promo dari teman literasi aku ya, yang pasti keren dan bikin nagih buat baca, jangan lupa mampir dan beri dukungan ya😊

__ADS_1



__ADS_2