
...Happy Reading...
...🦅...
“Lita!” geram Pak Rahmat lagi, semakin membuat Lita tak bisa menahan rasa bersalahnya.
“M–maaf, Yah, Bu,” lirih Lita.
Jawaban dari bibir bergetar itu, begitu menghancurkan hati kedua orang paruh baya itu. Bu Rahmat bahkan sampai langsung meneteskan air mata kembali, setelah mendengar jawaban yang berarti membenarkan semua yang terdapat di dalam paket tersebut.
Pak Rahmat menghembuskan napas berat, menatap sang anak dengan tatapan begitu kecewa.
“Siapa yang melakukannya?!” tanya Pak Rahmat, menatap wajah menunduk sang anak.
Lita terdiam, bibirnya kelu, terasa berat untuk menyebutkan nama itu.
“Siapa dia, Lita?!” Bentakan yang keluar dari mulut Pak Rahmat, membuat kedua perempuan di depannya terjingkat kaget.
Bu Rahmat langsung berdiri dan menghampiri suaminya, memegang tangan yang mengepal kuat itu, menahan desakan amarah.
“Sabar, Pak. Kita bisa bicarakan ini baik-baik,” lembut Bu Rahmat, walau dia sendiri harus menahan dirinya sendiri saat ini.
Pak Rahmat menutup matanya, menarik napas dalam lalu menghembuskannya sekaligus, berusaha mengurangi sesak di dalam dadanya.
“Di–dia Amru, salah satu kepercayaan Tuan Roman, Pak,” jawab Lita, gugup.
“Apa?! Kamu, benar-benar bodoh! Mau saja di manfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab seperti mereka.”
Berdiri dari tempat duduknya dengan wajah merah dan suara meninggi, Pak Rahmat menunjuk Lita dengan emosi tinggi.
Perempuan muda itu bersimpuh di lantai, dengan tangis yang sudah pecah.
“Maafkan Lita, Yah ... maaf,” ucapnya di sela tangis.
“Ibu!” Terikan dari Lita membuat Pak Rahmat memalingkan kepalanya ke arah sang istri yang ternyata sudah terkapar tak sadarkan diri di kursi.
Melihat yang terjadi pada istrinya mengubah rasa marah di dalam hari Pak Rahmat, kini berubah menjadi panik. Dia langsung membawa tubuh lemah itu ke dalam gendongannya, lalu membawanya ke luar, untuk mencari kendaraan.
Para warga yang saat itu sedang membersihkan rumah mereka, ikut panik melihat Pak Rahmat, semuanya ikut bergegas mencari kendaraan untuk membawa Buk Rahmat menuju rumah sakit.
__ADS_1
Lita berlari sambil menangis, tak peduli dengan penampilannya yang sudah sangat berantakan. Dia terus menyusul langkah lebar sang ayah.
Di saat bersamaan, mobil Agra yang dikendarai oleh Edo baru saja datang ke lapangan.
“Tuan, tolong antarkan Bu Rahmat ke rumah sakit, dia tidak sadarkan diri!” ucap salah satu warga yang langsung mengetuk pintu mobil Agra, bahkan saat mobil masih berjalan lambat.
Edo menoleh ke belakang lalu membuka pintu saat mendapat anggukkan dari tuannya.
Agra turun dan memperbolehkan Pak Rahmat masuk, sedangkan dirinya sendiri berpindah ke kursi depan.
“Yah, aku mau ikut!” teriakan dari Lita menginterupsi semua orang yang ada di sana.
“Kamu tunggu saja di sini, doakan tidak terjadi apa-apa pada ibumu,” ucap Pak Rahmat begitu datar, sebelum masuk ke dalam mobil Agra.
Edo langsung menjalankan mobilnya begitu pintu tertutup, sepertinya kali ini Agra harus menunda acara meminta maaf kepada warga, karena kejadian tak terduga ini.
Jarak dari perumahan itu ke rumah sakit cukup jauh, hingga tiga puluh menit kemudian mobil Agra barulah sampai di depan unit gawat darurat.
“terima kasih Tuan Agra, saya tidak tahu harus berbuat apa untuk membalas semua yang telah Anda lakukan kepada kami semua,” ujar Pak Rahmat, begitu istrinya sedang ditangani oleh dokter.
“Tidak usah terlalu berlebihan, sayang hanya melakukan apa yang seharusnya seorang manusia lakukan, “ ujar Agra.
Pak Rahmat menatap Agra dengan binar mata kagum, dia tidak pernah menyangka kalau orang kaya seperti Agra, bisa berbuat baik kepada orang biasa sepertinya.
“Tuan, saya tidak bisa menerima semua ini ... ini terlalu banyak” tolak Pak Rahmat.
“Ini adalah salah satu akibat dari perselisihan perusahaan, jadi semua ini juga tanggung jawab kami,” jawab Agra lagi.
Sebenarnya ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya mengingat ini adalah akibat dari paket yang ia kirimkan beberapa saat yang lalu, untuk memberikan pelajaran pada Lita.
Lebih dari itu, Agra juga mau mencegah gadis itu yang sudah berniat untuk menggugurkan kandungannya, tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.
Sebenarnya Lita bukanlah wanita yang nakal dan berani menggoda lelaki sebelum bertemu dengan Amru, dia hanyalah gadis sederhana yang mudah bergaul dan ceria.
Namun, setelah dia menjalin hubungan diam-diam dengan Amru, lelaki itu membawa dampak buruk hingga mengubah perilakunya bila sedang berasa di luar rumah.
Semua itu lolos dari pengawasan Pak Rahmat, karena Lita bisa menutupinya dengan baik. Hingga akhirnya dia terjerumus pada dunia malam, bersama dengan kekasihnya sendiri.
Setelah memastikan keadaan Bu Rahmat sudah baik-baik saja, Agra dan Edo pamit dari sana. Masih banyak pekerjaan yang harus mereka urus dalam satu malam ini.
__ADS_1
Besok pagi, dia sudah harus pergi dari sini membawa serta Roman dan Suseno, menuju ke markas utama.
Sepulang dari rumah sakit, sesuai rencana awal, dia kembali ke perkampungan untuk meminta maaf dan memberikan secara langsung, bantuan untuk warga yang terkena dampak.
Para warga pun sangat berterima kasih, mereka merasa sangat terbantu, karena bantuan yang diberikan oleh Agra, lebih dari cukup untuk merenovasi rumah yang rusak.
.
Pagi ini Agra sudah berada di dalam jet pribadi miliknya, dia memanfaatkan penerbangan ini untuk beristirahat, karena sejak kemarin malam ia baru tidur beberapa jam saja, karena keterbatasan waktu.
Begitu pun Edo, lelaki yang tak pernah jauh dari Tuannya sejak beberapa tahun yang lalu itu, tampak duduk di depan pintu kamar pribadi Agra.
Hingga beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di markas utama, disambut oleh Max dan Fandy yang tahu kalau adiknya akan pulang hari ini.
Sedangkan Edo bersama beberapa anggota Black Eagle langsung menuju ruang bawah tanah, untuk menaruh tubuh kedua musuh Agra, di sana.
"Bagaimana kabarmu, Gra?" Fandy langsung bertanya saat Agra memberikan rangkulan sekilas pada adiknya itu.
Dia memperhatikan seluruh tubuh adiknya dari ujung rambut sampai ujung kaki, memang ada beberapa luka lebam di wajah, walau sudah terlihat samar.
Dia dan Gerald sudah tahu tentang maksud Agra ke luar kota kali ini. Hingga dia tidak lagi terkejut saat ia melihat, anak buah Agra membawa Suseno dan Roman, dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Aku, Baik," jawab Agra, singkat.
Kedua kakak beradik itu masuk ke dalam markas, sambil berbincang masalah bisnis dan keadaan keluarganya saat Agra tinggalkan beberapa hari ini.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kami semua baik-baik saja, para anak buahmu juga bekerja dengan baik," jawab Fandy saat Agra menanyakan tentang keadaan mereka.
"Baguslah, setidaknya semuanya berjalan sesuai rencana. Semoga setelah ini, tidak akan ada lagi orang yang berani mengusik keluargaku." Agra menyandarkan tubuhnya di sofa, pikirannya melayang pada Alisya.
Dia sudah sangat merindukan istrinya itu, rasanya sudah tidak sabar untuk menemui wanita pujaan hatinya, dan kembali menjalankan kehidupan yang penuh warna.
Â
...🦅...
Â
Â
__ADS_1
... 🦅...
...TBC...