
...Happy Reading ...
...🦅...
Agra keluar dari kamarnya dengan keadaan yang lebih segar, setelah selesai membersihkan diri.
Di sana, sudah ada Andrew dan Ruhan yang menunggu kedatangannya.
“Bagaimana rencana kamu selanjutnya?” tanya Andrew, begitu Agra sudah duduk di depannya.
Agra menghembuskan napas kasar, lalu menegakkan badannya, melihat bergantian dua orang lelaki paruh baya di depannya.
“Aku akan memberikan mereka pelajaran di markas besar, karena di sini kita tidak mempunyai fasilitas lengkap seperti di sana,” jawab Agra.
“Apa tidak terlalu berisiko, membawa mereka dengan sebuah penerbangan?” tanya Ruhan.
“Aku rasa, cukup aman. Aku akan memberikan mereka bius dosis tinggi, sebelum membawanya. Lagi pula, bukannya sekarang mereka dalam keadaan tak sadarkan diri, karena racun mereka sendiri?”
Agra baru saja mendapat kabar dari Edo, yang berada di tempat perawatan, untuk mendampingi para anggota yang terluka, sekaligus menjaga dua orang musuh yang sedang mendapatkan penanganan.
Bukan sebuah rumah skait, tempat meeka berada sekarang, melainkan sebuah bangunan yang terpisah dari bangunan utama tempat Agra berada saat ini, walau masih dalam area yang sama.
Di sana banyak tenaga medis yang bergabung dengan organisasi Black Eagle. Mereka baru saja datang kemarin siang dari berbagai rumah sakit, tempat mereka bertugas.
Andrew mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Agra, saat ini kedua orang itu, memang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.
“Dad, sepertinya aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi, mungkin besok pagi, aku akan kembali.”
Andrew melihat anak angkatnya itu, dia mengerti perasaan bersalah Agra pada sang istri, apa lagi dia tahu kalau Agra belum menghubungi istrinya sejak kemarin.
“Hem ... aku tahu kamu sudah tak sabar bukan, ingin menemui istrimu?” goda Agra.
Agra mengangguk membenarkan, itu memang salah satu alasannya. Walau selain itu ia juga ingin langsung menyelesaikan semua maslah ini.
“Setidaknya, kamu obati dulu luka-lukamu itu, jangan ampai istrimu bertambah curiga, jika melihat tubuhmu, nanti.”
Agra langsung tersadar, kalau dia memang belum mendapat penanganan, walau tadi dia sudah meminum obat penawar racun yang sempat diberikan Edo, setelah kembali dari tempat pertarungan.
Walau hanya sedikit, dia sempat tergores peluru yang mengandung racun, di lengan atasnya. Tak dipungkiri, kalau selama pertarungan, ia bahkan harus menahan rasa pening di kepala.
Pandangan Agra beralih pada kedua orang di depannya, dia baru menyadari kau Andrew dan Ruhan, sudah mendapatkan pengobatan. Itu semua terlihat jelas dari perban yang menutup luka mereka.
Mendengus kesal saat baru saja sadar, kalau hanya dirinya yang belum mendapat perawatan.
Beranjak dari tempat duduknya, Agra berjalan menuju tempat medis.
Sedangkan Andrew dan Ruhan kembali berbincang untuk membahas berbagai masalah dan penyelesaiannya. Ruhan juga, melaporkan situasi di markas utama yang belum sempat mereka bicarakan sebelumnya.
__ADS_1
“Bagaimana keadaan mereka saat ini?” tanya Agra pada Edo, begitu dia sampai di area khusus kesehatan itu.
“Mereka sudah lebih baik, walau masih lemas, karena racunnya memang tak kami keluarkan semua, seperti yang Anda mau, Tuan,” jawab Edo.
Agra mengangguk puas. “Biarkan mereka merasakan tersiksa oleh racun yang mereka buat sendiri. Itu akan menjadi hukuman tiada batas hingga maut menjemput,” ujar Agra.
“Persiapkan penerbangan untuk besok pagi, mereka akan kita tahan di markas utama, aku juga mau tau, sebenarnya apa maksud dari perbuatan mereka selama ini!” titah Agra, pada Edo.
Selesai dengan segala macam pemeriksaan dan pengobatan yang ia jalani, Agra langsung kembali ke rumah utama.
Dia masih mempunyai pekerjaan untuk memantau pekerjaan di kantor cabang di sini, bersama dengan Andrew, sebelum ia tinggalkan. Juga meminta maaf pada seluruh warga yang rumahnya harus menjadi korban, atas kekacauan tadi malam.
Menghela napas kasar, begitu dia membayangkan harus kembali lagi ke tempat itu.
“Ck, kenapa juga aku harus terus ke sana?” Agra berdecak kesal.
Dirinya bahkan belum tidur sama sekali, sejak tadi malam, dan kini matahari bahkan mulai terasa terik kembali.
“Hari terakhir, sepertinya akan sangat sibuk?” desah Agra setelah sampai di dalam rumah.
Andrew langsung mengajaknya ke ruang rapat, bersama dengan Ruhan. Mereka bekerja secara bersama, agar semua masalah dan kekacauan yang disebabkan oleh Suseno dan Roman segera teratasi.
.
Di sisi lain, Pak Rahmat batu saja menerima sebuah paket dari seorang kurir. Awalnya dia sempat menolak, karena tidak merasa memesan sesuatu, akan tetapi, karena alamat dia nama orangnya begitu sama dengan dirinya saat ini, akhirnya dia menerima paket itu.
Membukanya dengan kening bertaut dalam, menerka apa yang ada di dalam sana. Betapa terkejutnya dia saat mendapati sebuah laporan pemeriksaan kehamilan di sebuah klinik dengan nama sanga anak. Dia juga menemukan beberapa lembar foto, yang menunjukkan gambar anaknya di berbagai tempat sedang bermesraan dengan laki-laki yang berbeda.
“Lita! Keluar sekarang, aku mau bicara!” teriak Pak Rahmat di depan kamar sang anak.
Di dalam kamar, orang yang dipanggil sudah menggigil ketakutan, oleh kemarahan sang ayah.
Dia tahu kalau ancaman yang dikatakan oleh Agra tadi malam, pasti sudah terjadi, sehingga ayahnya bisa berteriak seperti itu.
“Lita! Keluar sekarang!” teriak Pak Rahmat lagi, dia akhirnya duduk di sofa yang ada di ruang tengah.
“Ada apa sih, Pak?” istri dari Pak Radmat, menghampiri karena mendengar teriakan suaminya.
“Lihat ini, perbuatan anakmu dilarang sana!” Pak Rahmat melempar paket di tangannya ke atas meja.
Wanita paruh baya itu menautkan alisnya, melihat sikap kasar suaminya yang tak biasa. Tangannya perlahan terulur meraih paket itu.
“A–apa ini, Pak?” tanya Istri Pak Rahmat, menatap setiap benda yang ada di dalam paket tersebut.
“I–ini pasti salah, Pak. Anak kita gak mungkin begini!” geleng istri Pak Rahmat, dia menatap suaminya dengan air mata yang mulai menetes.
“Bapak dapat dari mana semua ini? Ini pasti ulah orang yang tidak suka dengan Lita!” ucap wanita paruh baya, menggebu.
Pak Rahmat menundukkan kepala, dengan tangan memijit dahinya yang mulai terasa berdenyut.
__ADS_1
Semua ini terlalu mengejutkan, selama ini, Lita tidak pernah menunjukkan ciri-ciri anak yang nakal, apa lagi sampai hamil di luar nikah.
“Ada kurir yang mengantarkannya barusan,” lirih Pak Rahmat.
“Panggilkan Lita, Bu. Biar kita bisa bertanya padanya,” sambung Pak Rahmat lagi.
Bu Rahmat yang masih mencerna apa yang sedang terjadi, kembali beranjak menuju pintu kamar anaknya.
“Lita, keluar dulu, Nak. Kami mau bicara sesuatu padamu,” panggil Bu Rahmat, sambil mengetuk pintu Lita.
Di dalam kamar, Lita sudah menangis tersedu mendengar suara ayah dan ibunya. Perlahan dia bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan menuju ke arah pintu.
Cklek
Pintu terbuka sedikit, menampilkan wajah sembab perempuan berumur dua puluh tahun itu.
Dia bisa melihat wajah sang ibu yang berusaha menampilkan senyum, walau terlihat sekali ada air mata yang tertahan, akibat kekecewaan besar di dalam hatinya.
“Bu,” lirinya, Lita bahkan tak sanggup menatap lama wajah sang ibu saat ini. Dia menunduk dalam, menyembunyikan rasa gugup juga takut di dalam dirinya.
“Ayo, keluar dulu. Ayah sama Ibu mau bicara sama kamu,” ajak Bu Rahmat, menarik pelan lengan Lita.
Perlahan perempuan muda itu keluar dari kamarnya, ia bisa melihat ayahnya yang sedang duduk dengan punggung sedikit membungkuk, juga kepala yang tertunduk, tak seperti biasanya, yang selalu tegak dan penuh dengan senyum kehangatan di wajahnya.
“Pak,” panggilan dari istrinya, membuat Pak Rahmat mengangkat kepala, menatap kedua wanita yang sangat disayanginya.
“Duduklah,” ucapnya datar.
Lita sudah mulai merasakan suasana yang berbeda di sekitarnya, dia duduk di sofa panjang dengan sang ibu di sampingnya.
“Coba lihat itu baik-baik,” ucap Pak Rahmat lagi menunjuk sebuah paket yang sudah terbuka di atas meja.
Lita menatap ayahnya sekilas, lalu mengambil benda itu dengan tangan bergetar. Keringat dingin bahkan sudah mulai terlihat di keningnya, juga detak jantung tak beraturan yang semakin menyesakkan dada.
Bruk
Paket itu langsung jatuh begitu saja ke atas lantai, begitu ia melihat apa yang ada di sana. Tangannya sudah lemas, tak bisa menahan beban berat yang kini dia rasakan.
“Yah, i–ini?” Lita terbata, mencoba mencari alasan.
“Jelaskan kepada kami, apa yang selama ini kamu lakukan di belakang kami!” tekan Pak Rahmat pada anaknya.
Tubuh lita bergetar, mendengar nada tegas sang ayah, membuatnya semakin sulit untuk berpikir.
“Lita!”
...🦅...
...🦅...
__ADS_1
...TBC...