
...Happy Reading ...
...🦅...
Pagi ini, suasana di apartemen milik Agra tampak berbeda dari biasanya.
Kini tak ada lagi gadis yang selama dua minggu ini telah merubah suasana.
Agra kembali sarapan dengan makanan yang di pesan dari resto oleh Edo.
Kehidupan kedua lelaki dewasa itu, telah kembali kepada saat sebelum bertemu dengan Alisya.
Monoton, hanya itu yang tergambar dari suasana di ruangan itu.
Bahkan kini Agra tampak terlihat semakin dingin dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya.
Edo yang melihat perubahan dari tuannya hanya bisa menghembuskan napas kasar.
‘Cinta memang bisa merubah seseorang. Kalau aku tak melihatnya sendiri, pasti aku gak akan pernah percaya!’ gumam lelaki itu, dalam hati.
Menggeleng miris dengan keadaan Agra saat ini.
Baru saja semalam Agra berpisah dengan Alisya, sudah seperti lelaki patah hati. Apa lagi kalau tadi malam gadis itu marah kepada tuannya itu.
Edo bahkan tak bisa membayangkan semua itu.
Ya, tadi malam setelah semua keluarga tahu kalau selama ini Alisya tinggal bersama Agra, mereka sepakat bahwa untuk saat ini gadis itu akan tinggal di rumah keluarga Ainsley.
Awalnya Agra tidak setuju, lelaki itu bersikeras untuk menahan Alisya bersama dengannya.
Namun, akhirnya Andrew turun tangan, ayah angkat Agra itu berjanji akan mengirimkan penjaga di rumah itu dan dan pengawal untuk mengikuti gadis itu saat bepergian.
Andrew tau kalau alasan Agra tidak memperbolehkan Alisya untuk di jaga oleh orang lain, anak angkatnya itu, tidak bisa mempercayai kemampuan orang lain dapat menangani bila Arnol, atau Bima menemukan keberadaan gadis itu.
Akhirnya, dengan berat hati, Agra mengijinkan Alisya tinggal bersama kedua orang tuanya, walau dengan banyak syarat dan ketentuan yang harus mereka semua turuti.
“Bagaimana perkembangan mereka?” tanya Agra setelah ia menyelesaikan sarapan paginya.
“Belum ada pergerakan, Tuan. Tampaknya mereka masih melihat situasi, atau mungkin masih takut dengan gertakan kita kemarin. Tapi-” Edo terlihat ragu-ragu melanjutkan perkataannya.
“Bicara yang jelas!” tekan Agra.
“Anak pertama Tuan Suseno sudah mulai mengambil tindakan, dia terlihat melatih anak buahnya lebih keras lagi dan mencari dukungan dari orang-orang yang lebih kuat.” Jelas sang asisten.
Agra menganggukkan kepalanya, menanggapi perkataan sang asisten.
“Hm, awasi terus pergerakan mereka, jangan sampai kita kehilangan informasi sedikit pun!” perintah Agra.
“Baik Tuan!” angguk Edo.
Berdiri dan melangkah keluar dari apartemen bersama Edo mengikutinya dia belakang.
“Lalu bagaimana dengan Bima?” kembali Agra bertanya, setelah mereka ada di dalam lift.
“Kami belum melihat pergerakan dari lelaki itu. Tapi, salah satu anak buah kita ada yang melihatnya bertemu dengan pengacara keluarga Pranata beberapa waktu lalu. Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu.”
__ADS_1
Agra menyunggingkan senyum tipis.
“Cari tahu apa yang mereka bicarakan, dan apa saja syarat agar Alisya bisa mendapatkan kembali hak miliknya!” Agra kembali memberikan instruksi.
Edo mengangguk, kini mereka sudah ada di dalam mobil dan bersiap untuk berangkat menuju kantornya.
Hari terasa berjalan lambat untuk lelaki itu, pikirannya tak fokus walau hanya untuk mengerjakan pekerjaannya di kantor.
Entah mengapa bayangan wajah gadis yang selama ini selalu ia lihat di saat pagi dan malam itu, selalu mengganggu pikirannya.
Andai saja di sana tidak ada Andrew, sudah pasti lelaki itu sudah pulang sejak tadi.
Namun, karena ada satu orang yang hanya bisa membuat dirinya takluk itu, Agra harus menahan diri selama satu hari penuh.
Seperti saat ini, mereka sedang menghadiri rapat bersama para klien VIP yang tak lain adalah para teman Andrew di negara ini.
Agra sudah terlihat tidak nyaman sejak tadi, suasana rapat yang lebih seperti acara reuni para orang tua, membuat wajah lelaki itu tampak suram.
Edo yang melihat semua itu, ingin sekali tertawa. Itu seperti sebuah hiburan yang sangat langka baginya.
Sangat jarang dia bisa melihat wajah muram dari tuannya itu.
Biasanya di mana pun dia berada, Agra hanya akan sibuk dengan dunianya sendiri, dan tak akan peduli dengan sekitarnya.
Namun, kini itu semua terasa berbeda, lelaki yang terkenal kejam itu, baru kali ini terlihat mementingkan perasaannya di bandingkan dengan pekerjaan.
“Dad, bolehkah aku pergi sekarang, semua pekerjaan sudah selesai. Aku ada pekerjaan lain.” Agra berbicara sambil menyerahkan tab berisi semua laporan yang sudah ia kerjakan.
Edo, membolakan matanya, melihat Agra sudah menyelesaikan pekerjaannya. Padahal sedari tadi, dia seperti tidak melakukan apa pun.
“Baiklah, di sini biar Daddy saja yang mengurus.”
Agra langsung bergegas meninggalkan ruangan yang terasa membosankan dengan beberapa pria paruh baya di sana.
Mengerinyai penuh kemenangan pada sang asisten, sebelum dia benar-benar keluar.
Edo mendengus kesal, bosnya itu memang tidak bisa ia remehkan sama sekali, dia terlalu pintar dan cerdik dalam segala situasi.
Mengendarai mobil sport miliknya, menyatu dengan jalanan kota yang mulai tampak padat.
Tersenyum dengan ingatan kembali pada saat ia berbincang dengan Ayah angkatnya.
Flash back
“Kenapa Daddy harus memberi tahu dia sebelum aku?” tanya Agra.
Dia tahu, pasti ada sesuatu yang membuat lelaki tua itu melakukan semuanya.
Andrew tampak menyandarkan tubuhnya, dengan hembusan napas berat.
“Berapa tahun kau hidup bersamaku? Sekarang kamu masih bertanya?”
“Ck, justru karena aku sudah lama hidup denganmu pak tua, makannya aku bertanya!” desis Agra menjawab pertanyaan Andrew.
Selalu saja seperti itu, ketika dua orang itu bertemu. Entah sejak kalau perselisihan itu di mulai.
__ADS_1
Berawal dari Andrew yang selalu saja meledek dan mengeluarkan kata pedas untuk penyemangat sangat setiap kali anak angkatnya itu latihan.
Hingga akhirnya Agra mulai membalas setiap perkataan dari Andrew, dan beginilah jadinya mereka sekarang.
Seperti orang yang tidak pernah akur, padahal di dalam hati masing-masing mereka saling menyayangi.
“Aku melakukannya, karena kamu sudah memberi tahu keluargamu,” jawab Andrew.
“Kamu tau bagaimana reaksinya, kalau dia bertemu dengan ibumu terlebih dulu di bandingkan dengan mengetahui tentang kalian? Sedangkan kamu masih bingung cara mengatakan semuanya pada gadis itu,” jelas Andrew panjang lebar.
“Dasar anak ingusan!” desis lelaki paruh baya itu lagi.
“Iya-iya ... kali ini aku mengalah, Daddy memang paling tahu apa yang aku mau!” ucap Agra datar.
Dia sama sekali tak menunjukan raut wajah bahagia, padahal dalam hatinya, lelaki itu sangat berterima kasih pada ayah sambungnya itu.
Flash back off
Menggelangkan kepala dengan senyum geli menghiasi wajah tampan lelaki itu.
Langit sudah mulai senja, saat dia memasuki gerbang sebuah rumah.
Kediaman keluarga Ainsley.
Ya, kemana lagi kalau bukan ke tempat itu. Tempat keluarga dan gadis kecilnya berada.
Di depan gerbang utama, ia bisa melihat ada anak buahnya yang berjaga di sana.
Mengedarkan pandangannya, melihat ke sekitar rumah yang ternyata hampir setiap titik tersebar begitu banyak yang berjaga.
Tersenyum bangga dengan cara kerja ayah angkatnya itu, ia tidak pernah meragukan janji dari Andrew dan itu terbukti sekarang.
“Selamat datang, ketua!” sapaan dari penjaga yang menyambut kedatangannya, terdengar.
Agra membuka kaca mobilnya.
“Apa mereka semua ada di rumah?”
“Nyonya besar, Nona Alisya dan Nona Andini ada di rumah bersama Tuan kecil, sedangkan Tuan Gerald dan Tuan Fandy belum pulang dari kantor.”
“Hm, terima kasih!”
Agra langsung melajukan mobilnya memasuki pelataran rumah besar tersebut.
...🦅...
...🦅...
...TBC...
Maafkan karena saya tidak bisa up tiap hari untuk saat ini, karena sedang ada kendala di kehidupan nyata.
Terima kasih kepada yang masih mau bersabar menunggu cerita receh saya.
Saya usahakan untuk bisa up walau mungkin untuk sekarang tidak bisa seperti dulu.
__ADS_1