
...Happy Reading ...
...🦅...
Alisya termenung di kamarnya, sudah beberapa hari Agra tak menghubunginya, setelah terakhir kali di hari itu, di saat dia merejuk pada Livia.
Hatinya gelisah, memikirkan kondisi suaminya di luar sana, dia sama sekali tak bisa terhubung, ponsel suaminya selalu tidak aktif, entah bagaimana keadaan Agra saat ini, ia hanya bisa berharap semuanya akan baik-baik saja.
Malam sudah semakin larut, Alisya beranjak dari tempat tidur yang sudah tidak bisa lagi memberikannya kenyamanan, berjalan menuju balkon demi mendapatkan angin segar.
Udara dingin dengan cahaya temaram, langsung menyapa saat ia membuka pintu yang terbuat dari kaca itu. Pemandangan langit bertabur bintang, di tengah gelapnya malam menjadi salah satu keindahan di tempat itu.
Hufth
Menghembuskan napas berat, sambil terus berjalan menuju sisi balkon, bersandar di pagar besi yang terasa sangat dingin.
Pikirannya melayang mengenang masa-masa di mana dirinya dan Agra bersama. Bukan hanya rasa rindu yang beratnya begitu resah, melainkan rasa khawatir yang kini lebih banyak mendominasi hatinya.
Kalau saja suaminya itu ingat akan memberi kabar padanya satu kali saja dalam sehari, agar dia tahu kalau lelaki itu baik-baik saja, mungkin dia tidak akan seresah ini.
Memejamkan mata dengan tangan memeluk tubuhnya sendiri, saat angin malam itu menerpa tubuhnya. Membayangkan kehangatan yang selalu dibawa suaminya itu.
Hingga tiba-tiba ia merasakan ia merasakan ada sebuah tangan yang merangkulnya dari belakang, Alisya menghirup wangi maskulin yang begitu ia kenal dan rindukan.
Ini semua terasa begitu nyata, hingga rasanya Alisya tak mau membuka matanya, ia takut bayangan ini dan rasa ini menghilang.
Biarkan dia tenggelam dalam imajinasinya, hanya untuk malam ini. Mengobati rasa yang selalu membuatnya tak bisa tidur nyenyak setiap malam.
Alisya sadar, dia sudah terperangkap dalam cinta seorang Agra, dia sudah terlalu bergantung dengan keberadaan lelaki itu, hingga alam bawah sadarnya merasakan kekosongan di saat sosok itu tak berada di sampingnya.
‘Kenapa ini semua terasa begitu nyata?’ gumamnya dalam hati, perlahan dia menyandarkan kepalanya pada dada lelaki di belakangnya. Alisya tersenyum menikmati suasana yang begitu terasa nyata, walau ia sadar itu hanyalah bayangan semata.
“Aku merindukanmu.”
Bisikan tepat di telinga dengan hembusan napas hangat, terasa begitu nyata. Alisya mengerutkan kening, saat mulai merasakan suatu kejanggalan. Namun, kembali dia hapus pikiran itu dan menikmati lagi suasana yang ada.
“Aku juga merindukanmu, Kak.” Alisya menjawab dengan mata tetap terpejam, begitu rapat.
__ADS_1
Kekehan kecil terdengar membuat Alisya langsung menegakkan tubuhnya, kemudian membuka mata sambil berbalik.
Matanya langsung melebar saat melihat sosok tinggi gagah yang begitu ia rindukan, berdiri tegak dia depannya.
Lelaki itu tampak tersenyum geli saat melihat wajah terkejut wanita di depannya.
“Kak–kak Agra, i–ini benar Kak Agra?” Alisya menutup mulutnya, merasa terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini.
‘Apa mungkin hayalanku jadi kenyataan?’ gumamnya dalam hati.
Agra tersenyum, lalu mengangguk, sebagai jawaban pertanyaan istrinya.
“I–ini gak mungkin, ini pasti hanya bayangan saja,” geleng Alisya, tangannya terulur memegang wajah sosok di depannya, hatinya sudah berdetak tak menentu, bahkan Agra bisa melihat tangan itu sedikit bergetar.
“Sayang, ini nyata ... aku berada di sini,” ujar Agra memegang tangan yang kini menangkup wajahnya.
Mata Alisya memerah, bahkan air mulai keluar dari sana, menandakan betapa bahagianya dia saat ini.
Grep
Dengan gerakan kilat, wanita itu menghambur menabrakkan diri pada tubuh kekar itu, isakan lirih mulai terdengar membuat Agra langsung membalas pelukan itu.
“Kakak, jahat! Kenapa gak ngabarin aku?” ucap Alisya disela isak tangisnya.
“Maaf, aku benar-benar sibuk, karena mau cepat menyelesaikan urusan di sana dan kembali bertemu denganmu, sayang,” sesal Agra.
Pukulan kecil terasa di balik punggung, Agra membiarkan Alisya melepaskan apa yang ia rasakan selama ini, dia hanya diam menikmati tubuh sang istri yang begitu dirindukannya.
Cukup lama mereka berada di dalam posisi yang sama, hingga akhirnya Agra merasakan tubuh Alisya mulai melemah, dia mengetatkan pelukannya dan memangku, membawanya masuk ke dalam kamar, lalu membaringkannya di tempat tidur.
Ya, wanita itu tertidur, dia terlalu lelah menata hati hingga begitu merasakan ketenangan tubuhnya pun terlelap, beristirahat untuk memulihkan tenaganya.
Agra ikut berbaring di samping istrinya, dia pun merasakan sangat lelah yang sangat, setelah beberapa hari ini tak bisa beristirahat dengan tenang.
Menutup mata dengan mendekap sayang wanitanya, merasakan tenang hingga kini keduanya terlelap dengan posisi saling berpelukan.
.
__ADS_1
Matahari sudah meninggi saat mata indah milik Alisya mulai mengerjap, cahaya yang sedikit menyilaukan mata, mengganggu tidur lelapnya, dia melihat tirai di pintu balkon yang masih sedikit terbuka.
Melihat itu, dia jadi mengingat kedatangan Agra tadi malam. “Apa, itu hanya mimpi?” belum menyadari keberadaan Agra di sampingnya.
Dia menoleh ke samping, matanya terpesona oleh sosok yang kini masih menutup mata begitu rapat.
Wajah tampan milik sang suami, menyapanya, membuat matanya terpaut pada setiap lakukan wajah Agra. Ini bahkan masih seperti sebuah mimpi untuknya.
“Apa ini benar-benar suamiku?” gumamnya lagi, ujung telunjuknya terangkat menyentuh alis tebal milik sang suami, lalu turun ke hidung mancung, berbelok sedikit menyusuri tulang pipi dan turun melalui rahang tegasnya, hingga sampai ke dagu. Pandangannya kini beralih pada bibir yang terlihat merah gelap, jarinya perlahan menyentuh sisi bibir Agra, menyusurinya dengan gerakan sangat halus.
Agra yang sebenarnya sudah terbangun sejak tadi, tak bisa lagi menahan kedutan di ujung bibirnya, hingga terpaksa ia lepaskan senyum tipis itu.
Alisya langsung melepaskan jarinya saat melihat senyum Agra, dia langsung mengalihkan pandangannya pada mata lelaki itu yang kini sudah terbuka. Menatapnya dengan penuh kasih sayang juga kelembutan yang begitu jarang terlihat orang di luar sana.
“Selamat pagi, sayang,” ucapnya sambil mengecup kening istrinya.
“P–pagi, Kak,” ucap Alisya.
Mereka bahkan belum sadar kalau ini bukan lagi pagi, tetapi, sudah menjelang siang. Semua pekerja bahkan sudah menyelesaikan semua pekerjaannya saat ini.
“Aku kangen banget sama kamu, sayang,” bisik Agra, tangannya mulai bergerak liar di bawah selimut.
Alisya berusaha menggeliatkan tubuhnya, menolak serangan dari suaminya.
“Kak, aku belum mandi,” ujarnya, memberi alasan.
“Aku gak peduli, sayang. Lagi pula menurutku kamu masih wangi walaupun belum mandi,” ujar Agara sambil mulai memberikan ciuman di wajah sang istri.
“T–tapi, aku bahkan belum menggosok gigi.” Alisya langsung menutup mulutnya menggunakan tangan, saat Agra hendak melahap bibirnya.
“Jangan menolakku, sayang. Apa kamu tidak kasihan, hem? Aku sudah sangat lama menahannya,” melas Agra, dia sudah gelisah sejak tadi malam, walau rasa lelah merenggut semuanya, tetapi semua itu kembali bereaksi saat dia mulai tersadar kembali.
Alisya perlahan membuka bekapan tangan di mulutnya, hingga Agra tersenyum kemudian langsung melahap bibir yang begitu menggodanya itu. Bermain di sana cukup lama, Agra baru melepaskannya, saat ia merasakan Alisya hampir kehabisan napas.
“Aku mencintaimu, Alisya Prananta, kau adalah milikku, hanya milikku!” ucapnya sebelum permainan itu berlanjut ke tahap selanjutnya.
...🦅...
__ADS_1
...🦅...
...TBC...