Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
MS2-Bab.14 Luka


__ADS_3

"Arsya?" Seorang gadis tampak turun dari mobil, lalu menghampiri Arsya dan Rumi yang masih terduduk di pinggir jalan.


"Ya ampun, lo berdarah?! Ini sebenernya ada apa sih?" Cewek dengan rambut dikucir kuda itu tampak terkejut ketika melihat darah di perut Arsya, juga lelaki yang tergeletak tidak sadarkan diri, tak jauh dari sana.


"Cuma kecelakaan kecil," jawab Arsya sambil sedikit membuang muka. Dia cukup mengenal wajah cewek di depannya, walau mereka juga tidak terlalu dekat.


Shania, salah satu teman sekelas Arsya. Perangainya ceriwis dan sedikit tomboi. Walau begitu, Shania juga tergabung di anggota kesehatan sekolah. Mudah mengingat tipe cewek langka seperti Shania.


"Coba gue liat lukanya," ujar Shania sambil mendekat pada Arsya.


Rumi otomatis mundur, memberi jarak pada Arsya agar Shania bisa memeriksa lukanya.


"Udah gue bilang, gua gak papa." Arsya menolak.


...🦅...


Tak menunggu beberapa lama, Cakra dan anggota inti Atropos datang ke lokasi. Mereka tampak terkejut dengan apa yang terjadi pada Arsya. Terlebih ada lelaki yang tak sadarkan diri dengan kondisi babak belur.


"Bawa dia ke kantor polisi." ujar Arsya pada Cakra. Dia sudah lebih baik setelah lukanya diobati oleh Shania. Akhirnya setelah melalui beberapa perdebatan panjang antara keduanya dan dibantu oleh Rumi, Arsya mau diobati okeh Shania.


"Tapi, luka lo gimana?" Dikta yang melihat ada bercak darah di baju Arsya menatap khawatir temannya itu.


"Gue gak papa. Udah diobatin juga sama dia," jawab Arsya sambil menunjuk Shania menggunakan dagunya.


Dikta melirik Shania, lalu mengangguk-anggukan kepalnya samar.


"Lo, bisa tolong anterin Rumi ke kantor polisi?" tanya Arsya pada Shania.


"Bisa. Kebetulan gue juga lagi senggang," angguk Shania.


"Lo mau ke mana?" tanya Cakra ketika melihat Arsya bangkit dan kembali mengenakan jaket yang sudah terkena banyak darah.


"Gue ada urusan sebentar. Nanti gue nyusul ke sana. Tolong dampingin dia dulu di kantor polisi."


"Mau gue anterin? Kayaknya gak baik juga kalau lo nyetir dalam keadaan luka kayak begini." Vareen menawarkan diri.


"Gak usah. Kalian bawa aja si brengsek itu ke kantor polisi. Gue masih bisa sendiri," tolak Arsya.


Setelah perundingan yang cukup panjang, akhirnya mereka berpisah. Arsya lebih dulu menghubungi Isha dan memberitahu keadaan Rumi setelah melihat semua temannya pergi.


"Young master, Anda harus segera diperiksa. Mari kami bantu ke rumah sakit." Seketika itu pula, para pengawal bayangan yang sejak tadi ditahan untuk ke luar dari persembunyiannya oleh Arsya datang menghampiri.

__ADS_1


Inilah salah satu urusan yang harus segera dia selesaikan. Para pengawal bayangannya akan melaporkan yang terjadi sekarang pada sang ayah, jika dia tidak menemui mereka dan memastikan semuanya baik-baik saja.


"Aku baik-baik saja. Kalian lihat sendiri kan, tadi? Aku sudah diobati," tolak Arsya.


"Tapi, Young Master-"


"Sudahlah, jangan membesar-besarkan masalah. Aku hanya tergores sedikit. Jangan sampai kejadian ini di dengar Daddy juga. Atau mungkin kalian mau dihukum seperti tadi pagi lagi?" ancam Arsya. Dia naik ke motor lalu memakai helmnya.


"Young master, lebih baik Anda ikut bersama kami saja."


Arsya mendesah malas. lagi-lagi, para pengawal bayangannya memperbesar masalah dan khawatir berlebihan.


"Aku hanya akan ke markas Atropos untuk membersihkan diri dan mengganti baju," desah Arsya malas. Dia menutup kaca helm-nya lalu mulai menyalkan motornya.


Para pengawal bayangan pun melangkah mundur dan memberi jalan pada Arsya. Mereka serempak menghembuskan napas kasar, seraya melihat Arsya yang semakin jauh dari pandangan. Sulit rasanya berada di posisi mereka yang hanya seorang anak buah, dari ketua yang tegas dan anak ketua yang suka membangkang seperti Agra dan Arsya. Serba salah, itulah yang selalu mereka rasakan.


Setelah membersihkan diri, Arsya menyusul Rumi, Shania, Isha, dan para inti Atropos ke kentor polisi. Walau dia adalah anak dari seorang ketua organisasi mafia, tetapi Agra dan Arsya masih memilih untuk melaporkan para penjahat kecil pada kepolisian.


Pada dasarnya, mereka tidak suka bermain hakim sendiri, jika itu tidak menyangkut keselamatan bagi keluarga, atau perusahaan. Namun, jika sudah keterlaluan, maka jangan salahkan, jika mungkin bukan lagi borgol yang berbicara, melainkan deretan senjata. Dari yang tumpul, tajam, atau bahkan berbagai jenis senjata api buatan organisasi Black Eagle sendiri, yang akan berbicara dan menghukum para pembuat onar itu.


"Young master?" Seseorang langsung menyapa Arsya dengan suara lirih, begitu cowok itu menginjakkan kakinya di lantai kantor polisi terdekat.


"Sst...." Arsya mengedipkan matanya, memberi isyarat pada pria yang merupakan pengawal bayangan yang mengikuti Isha menyapanya.


"Gimana?" tanya Arsya ketika melihat keempat temannya tampak duduk di kursi tunggu.


"Rumi lagi diperiksa di dalem. Tadi juga ada temannya yang datang dan ikut masuk," jawab Fahri.


Arsya mengangguk, dia tatap pintu berwarna hitam yang tampak tertutup rapat. Lalu, berujar pelan sambil mengalihkan pandangannya pada Fahri dan ketiga temannya yang lain. "Gue masuk dulu. Kalian pulang aja, gue bisa urus ini sendiri."


Beberapa jam berada di ruangan sempit dan menjawab serentetan pertanyaan, menjelang malam akhirnya Arsya dan Rumi pun ke luar secara bersamaan. Sementara Isha dan teman-teman lainnya sudah Arsya suruh pulang duluan. Isha bahkan tak tahu tentang luka di perutnya, karena terlalu fokus pada keadaan Rumi.


"Gue anter lo pulang," ujar Arsya setelah sampai di parkiran dan dia naik ke atas motornya. Dia ambil helm yang tadi dia pinjam dari Vareen lalu ulurkan pada Rumi.


"Tapi, luka lo?" Rumi tampak ragu. Wajahnya masih terlihat mendung.


"Udah baikan," jawab Arsya singkat. Dia angsurkan lagi helm di tangannya, hingga akhirnya Rumi menerima.


"Maaf, karena nolongin gue lo jadi luka. Lo juga harus ikut kejebak di kantor polisi sampe selarut ini," ujar Rumi dengan suara bergetar. Kepalanya menunduk dalam, menatap butir pasir di parkiran kantor polisi itu.


Arsya mengangguk, lalu mulai menyalakan motornya. "Naik."

__ADS_1


Rumi mengenakan helm dari Arsya lalu naik ke motor cowok yang telah menolongnya itu.


"Rumah lo di mana?" tanya Arsya sebelum mulai melajukan motornya.


Rumi sedikit membungkukkan tubuhnya lalu menyebutkan alamat rumahnya.


"Gue baru di sini, boleh lo tunjukin arahnya?"


Rumi mengangguk, walau Arsya tidak mungkin dapat melihatnya. Lalu, berujar. "Dari sini ambil ke kanan aja."


Arsa menganggukkan kepala samar, lalu mulai melajukan motornya ke luar dari area kantor polisi itu. Dingin angin malam langsung menerpa tubuh keduanya. Arsya berkendara santai, memecah keheningan malam. Dia cukup prihatin pada Rumi, ketika melihat tidak ada yang menjemput atau bahkan ke kantor polisi di saat cewek itu hampir saja mengalami kejadian nahas.


Tak ada yang berinisiatif membuka suara lebih dulu, keduanya menikmati perjalanan dengan keheningan. Hanya ada deru mesin yang menemani keduanya dalam bayangan kejadian tadi siang.


Atensi Arsya teralihkan ketika suara gemuruh tiba-tiba memecah keheningan mereka. Dia dongakkan kepala, melihat betapa kelabunya langit malam itu, bahkan dia tidak bisa melihat satu pun bintang di sana. Semuanya terhalang awan yang menggeyut, bersiap mencurahkan airnya membasahi bumi.


"Kayakanya mau ujan. Pegangan," ujar Arsya sambil bersiap untuk memacu motornya lebih cepat lagi.


"Apa?" Rumi yang tidak mendengar terlalu jelas suara Arsya, kembali membungkukkan tubuhnya dan bertanya tepat di sisi wajah Arsya.


"Pegangan, gue mau ngebut," jawab Arsya singkat.


Rumi terlihat kikuk, dia meremas tangannya sebelum akhirnya memberanikan diri untuk berpegangan pada hoodie berwarna hitam yang dipakai oleh Arsya.


Namun, pada saat bersamaan, Arsya mengerem mendadak motornya, hingga tubuh Rumi terdorong ke depan dan berakhir dengan menempel pada punggung Arsya. Tangannya melingkar di pinggang hingga bertaut erat di perut cowok itu.


Di balik helm-nya, satu sudut bibir Arsya tertarik ke atas hingga membentuk lengkung tipis.


"Sorry, ada kucing melintas tadi," ujarnya sambil mulai kembali memacu laju motornya dengan kecepatan cukup tinggi.


Rumi tak menjawab. Cewek itu kini tengah sibuk dengan debar jantungnya yang terasa memburu. Jangan salahkan dia yang gugup setengah mati, ketika aroma pantai yang bercampur dengan sedikit wangi kayu menyapa indra penciumannya. Salahkan saja, cowok di depannya yang dengan seenak hati melakukan pengereman mendadak hingga kini tubuh dan kepalanya menempel erat di punggung cowok vitamin hariannya.


Rumi menutup matanya, dia hirup dalam aroma yang sudah membuat jantungnya berdetak tak karuan dan menimbulkan rasa aman. Dia sedang mengganti kenangan buruk sore tadi dengan kenangan indah yang terjadi malam ini.


Bukankah tidak akan ada yang bisa menyembuhkan luka dari sebuah kenangan pahit selain dirinya sendiri? Ya, maka itulah yang sekarang sedang Rumi lakukan. Menyembuhkan truma akibat hampir menjadi korban pelecehan dengan vitamin yang mungkin kini sedang merangkap menjadi obat untuknya.


Boleh gak sih, kalau gue mulai berharap lo bisa jadi vitamin dan obat buat gue, selamanya? bisik Rumi dalam hati.


Perlahan, suara kendaraan di sekitarnya bahkan deru mesin motor Arsya menghilang. Rumi tenggelam dalam aroma tubuh yang mampu membuatnya tenang. Cewek itu bahkan tak menyadari jika Arsya sudah menghentikan motornya dan kini tengah memanggil namanya.


"Rumi? Lo tidur?" tanya Arsya sambil mencoba menepuk pelan tautan tantangan Rumi di perutnya.

__ADS_1


^^^Boleh minta komennya gak😁^^^


__ADS_2