
...Happy Reading...
...🦅...
“Wah, loe hebat banget, Gra!” seru Luis yang langsung mendekatinya begitu dia berhenti.
“Iya, kita berdua indah deg-degan banget tau dari tadi nungguin loe.” Roman pun ikut menimpali perkataan Luis.
“Thank's ....” ucap Agra, tanpa nyuporia berlebih sama sekali.
“Loe pasti curang kan?! Kemana semua anak buah gue, bukannya tadi mereka semua ada sama loe, heh?!”
Lelaki bertato itu tidak terima kekalahannya, ia berbalik menuduh Agra yang bermain curang.
“Enak aja loe bilang, sahabat gue gak pernah main curang! Justru di sini loe yang terkenal sering main curang!” teriak Roman.
“Bacot loe! Gue gak ngomong sama loe!” tunjuk lelaki bertato itu kepada Roman.
Turun dari motor dan langsung berjalan untuk menyerang Agra.
Bukh ....
Dengan sigap Agra melemparkan helm di tangannya yang langsung tepat mengenai perut lelaki bertato itu.
“Akh, sialan! Serang dia!” titahnya pada semua anak buahnya yang ada di sana.
Agra, langsung turun dari motor dan memasang kuda-kuda, begitu pun dengan Roman dan Luis.
Pertarungan tidak seimbang itu pun berlangsung sengit, lawan yang cukup banyak tak membuat Agra merasa kewalahan.
Suara jerit dari wanita yang ada di area itu pun jadi latar belakang pertarungan malam itu.
Dengan brutal Agra mengalahkan semua yang ada di dekatnya dengan hanya bermodal tangan kosong.
Krakh
Brugh
Brakh
Suara patahan tulang yang di iringi jeritan kesakitan dari lawan terdengar ngilu.
Di tambah dengan orang-orang yang berjatuhan ke mana-mana karena lemparan dan tendangan Agra.
Satu per satu dari mereka pun akhirnya tumbang, tanpa bisa terkendali.
Agra yang sudah cukup bersabar, kini seperti sedang meluapkan kemarahannya.
Menghindar sambil memasukkan serangan secara bersamaan, tanpa terlihat kesulitan sedikit pun.
Melompat, berputar sambil memasukan serangan beruntun, hingga menjatuhkan beberapa lawan sekaligus.
Beberapa kali serangan dari lawan berhasil melukainya, apa lagi sepertinya mereka memang sudah menyiapkan semua ini.
Hingga banyak dari mereka yang membawa senjata tajam.
__ADS_1
Namun, semua itu tak membuat Agra menyerah, luka di tubuhnya malah seperti penyemangat untuknya, agar dapat mengalahkan pertarungan malam ini.
Edo yang memang masih berada di sekitar area pun ikut membantu.
Tak butuh waktu lama, semua lawannya sudah tumbang, tak ada yang bisa bangkit kembali.
Bau amis dari darah yang keluar akibat pertarungan itu, menguar tajam.
Roman dan Luis yang bisa melihat semua kejadian itu, bergidik ngeri, tak pernah menyangka kalau sahabatnya bisa sangat brutal seperti itu.
“Ed, bereskan semua ini jangan sampai ada jejak sedikit pun ... dan bawa dia ke markas!” ucap Agra, pada lelaki bertato tadi yang terlihat sudah tak berdaya.
“Baik, Tuan!” angguk Edo, patuh.
“Sebaiknya, Anda obati dulu luka, Anda,” imbuhnya lagi, melihat Agra juga memiliki beberapa luka memar di wajah dan goresan senjata tajam di lengannya.
“Aku tau, jangan khawatirkan aku,” acuh Agra.
“Gra, loe gak papa?!” Roman dan Luis yang juga terluka cukup parah, datang kepadanya.
Agra menggeleng, matanya menelusuri setiap luka yang di miliki dua sahabatnya.
“Sepertinya lebih pantes gue yang nanya kayak gitu sama kalian?” ucap Agra.
Suasana di area itu kini sudah hening, hanya ada suara para anak buah Agra yang sedang membereskan bekas kekacauan, dengan senyap namun cepat dan teratur.
Para penonton sudah pergi sejak Agra bertarung dengan lelaki bertato tadi.
“Lebih baik kalian berdua ikut ke apartemen gue!” ucap Agra, sebelum masuk kembali ke dalam mobilnya.
Tak menunggu waktu lama, mobil yang di kendarai Agra sudah terparkir kembali di basemen apartemen.
Di sana ternyata sudah ada Nick yang menunggu kedatangan ketuanya.
Ya, siapa lagi yang memerintahkannya kalau bukan asisten teladannya itu.
Edo, memang selalu bisa di andalkan di dalam situasi seperti apa pun.
“Selamat pagi, Tuan!” Nick membungkukkan tubuhnya, saat melihat Agra keluar dari mobil.
Agra mengerutkan keningnya, ia tidak tahu sekarang jam berapa.
Melihat jam tangan mewah yang bertengger cantik di pergerakan tangannya, ternyata waktu memang sudah menunjukan pukul empat pagi.
“Pagi,” jawab Agra.
Berjalan menuju lift khusus yang akan membawanya pada unit apartemen miliknya. Di belakang Roman dan Luis di papah oleh para anak buah yang berjaga.
Welcome My Lion
Suara sistem pintu menyambut kedatangan Agra, saat sidik jari lelaki itu terdeteksi.
“Obati mereka dulu saja, aku akan bersih-bersih dulu!” perintah Agra pada Nick.
“Baik, Tuan.”
__ADS_1
Agra langsung berjalan menaiki tangga, agar dapat segera sampai ke kamarnya.
Bau amis, begitu pekat menyelimuti tubuhnya, akibat dari cipratan darah korbannya yang menempel di bajunya.
Sedangkan Nick di bantu dua penjaga tadi, langsung mengobati Roman dan Luis.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Agra sudah turun kembali dengan wajah yang sudah terlihat lebih segar.
Kimono tidur berwarna hitam terlihat membalut tubuh atletisnya.
“Istirahatlah di kamar Edo, biar nanti aku yang bicara padanya,” ucapnya ketika Nick sudah mengobati kedua sahabatnya.
Roman dan Luis mengangguk, lalu beranjak pergi menuju kamar asisten dari Agra.
Nick mengerinyitkan keningnya saat melihat luka yang cukup dalam di tangan sebelah kiri Agra.
“Tuan, lukanya cukup dalam, dan sepertinya terdapat racun di dalamnya,” lapor Nick dengan tangan sibuk menyiapkan peralatan untuk mengobati bosnya itu.
“Obati aku di kamar saja, aku mau tidur dulu sebentar!” ucap Agra, beranjak berdiri.
Nick hanya bisa menghela napas kasar, karena semua persiapannya, harus di masukan lagi, dan di pindahkan ke kamar sang Tuan.
Benar saja, sampai di kamar, Agra tampak langsung merebahkan tubuhnya.
“Kau obati saja aku, aku hanya ingin istirahat sebentar.” Agra berucap sebelum menutup rapat matanya.
Entah karena kelelahan karena pertarungan tadi, atau efek dari racun di tangannya, saat ini Agra merasa tubuhnya sedikit lelah.
Nick mengangguk, sambil mulai membuka kembali lengan baju Agra.
Setelah selesai dengan prosedur pengobatan luka luar, kini Nick juga menyiapkan infus, karena Agra cukup banyak kehilangan darah.
Menyanyikan penawaran racun dan vitamin agar stamina Agra tetap terjaga.
Sekitar jam tujuh pagi, Nick baru saja meninggalkan apartemen Agra, setelah sejak tadi dia terus memantau perkembangan racun yang sudah terlanjur masuk ke dalam tubuh tuannya.
Dokter pribadi Agra itu baru saja berani meninggalkan tuannya, saat dirinya sudah memastikan kalau semua racun sudah ternetralisir oleh obat yang ia berikan sebelumnya.
Di tambah sudah datangnya Edo, membuatnya tenang meninggalkan Agra bersama dengan asisten pribadinya itu.
“Usahakan lukanya jangan sampai terkena air, obat dan selep untuk luka sudah aku siapkan di atas nakas, infusnya hanya tinggal menunggu habis saja.”
Itulah beberapa pesan yang Nick ucapkan pada Edo, sebelum pergi meninggalkan apartemen.
Pagi itu, Edo di sibuk dengan pengalihan semua jadwal rapat, sambil berkoordinasi dengan Andrew.
Agra memang sengaja di berikan obat tidur oleh Nick, supaya bisa istirahat lebih lama.
Itu semua, membuat Edo cukup kewalahan, mengatur ulang jadwal tuannya yang lumayan padat.
...🦅...
...🦅...
...TBC...
__ADS_1