
Ayo!" ajak Cakra pada Vareen. Setelah melihat Arsya sudah berada di garis start.
"Eum!" angguk Vareen sambil mulai memisahkan diri dari yang lainnya dan pergi entah ke mana.
...🦅...
"Arsya melirik Dero yang berada tepat di sebelahnya, ketika wanita seksi itu mulai berjalan ke depan mereka.
Dero terlihat mengeluarkan ibu jarinya dan mengacungkannya di depan Arsya, walau sedetik kemudian dia balikan hingga menghadap ke bawah dengan ekspresi merendahkan.
Arsya tersenyum miring, dia tahu jika kini Dero tengah mempropokasinya agar tidak konsentrasi dalam lintasan. Tidak dipungkiri, memang ada ego yang terasa terhina. Namun, Secepatnya rasa itu Arsya tekan dalam-dalam, demi memenangkan balapan kali ini.
"Cih!" Arsya membuang salivanya hingga hampir saja mengenai sepatu milik Dero. Jika Dero saja bisa memancing emosinya, kenapa dia tidak?
"****!" kesal Dero. Namun, perhatiannya terpaksa beralih ketika suara sang perempuan seksi itu mengambil alih. "Bersiap!"
Keduanya kembali menatap lurus ke depan dan mencoba untuk fokus bersiap pada balapan. Hingga akhirnya baik motor Arsya maupun Dero, melesat menyatu dengan jalanan dan mulai memacu kendaraan balap masing-masing untuk meraih satu tujuan. Yaitu, kemenangan.
Bagi keduanya, taruhan malam ini bukan hanya tentang uang, tetapi ada hal yang lebih berharga yang harus mereka pertahankan. Yaitu, harga diri. Siapa pun yang kalah, maka sudah dipastikan, mereka akan mendapat cap jelek di kalangan warga dunia malam, termasuk para anggota geng motor lainnya.
Ini bukanlah balap motor resmi yang memilik jalur dan sirkuit sendiri. Ini adalah acara yang dilakukan secara ilegal, dan berada di jalanan umum, di mana para pengandara lain masih berlalu lalang dengan bebas.
Walau sedikit sepi bila dibandingkan dengan siang hari, atau bahkan beberpa jam yang lalu, ketika para pekerja baru saja pulang, tetapi itu tidak mengurangi tantangan dan ketegangan pada malam ini.
Arsya terus melajukan motornya sambil terus menarik pedal gas agar terus melesat. Dia meliuk di antara kendaraan warga yang masih cukup banyak. Bersaing dengan pembalap lain, terlebih Dero yang ternyata sudah melesat lebih dulu.
"Ck!" Arsya berdecak, ketika melihat Dero berada sekitar lima meter di depannya. Matanya terus mencari celah di antara motor dan mobil. Lalu mendahului setiap ada kesempatan sekecil apa pun. Gerakan yang dilakukan oleh Arsya tampak lugas dan mantap. Semuanya terukur dengan begitu baik dan rapih.
Berbeda dengan Dero yang terlihat sradak sruduk hingga beberapa kali hampir membuat kecelakaan. Umpatan dari para pengendara lain, juga jerit suara kelkson pun terdengar, mewarnai balapan liar. Arsya yakin, kini sudah banyak sumpah serapah dari para pengendara lain yang mengutuknya. Namun, tak dapat Arsya pungkiri, jika ada sensasi menyenangkan dan bebas dalam dirinya ketika melakukan aktivitas terlarang ini. Darah mudanya yang masih panas terasa semakin bergejolak, bercampur dengan ketegangan yang tercipta dalam suasana menantang ini.
Sekitar setengah perjalanan, Arsya berhasil menyalip Dero. Walu beberap detik kemudian lawannya itu berhasil kembali menyalipnya. Aksi kejar-kejaran dan senggol-senggolan di tengah jalan, pun terus berlangsung hingga sekitar tiga per empat perjalanan. Motor yang di kendarai Arsya dan Dero pun telihat sering oleng karena senggolan yang diciptakan oleh keduanya.
Beberapa menit kemudian, mereka mulai memasuki jalan yang cukup lengang, hingga mereka dengan luluasa memacu motor. Tak ada lagi lalu kepadatan kendaraan. Hanya ada satu atau dua kendaraan yang sesekali melaju di antara mereka berdua.
__ADS_1
Keduanya tengah bersaing sengit mempertahankan posisi, ketika tiba-tiba, Arsya dikagetkan dengan sebuah motor yang tiba-tiba melaju di sampingnya, mengapit dirinya, seolah menahannya untuk melaju. Sementara itu, Dero memanfaatkan kesempatan itu untuk segera melesat meninggalkan Arsya.
Tak berselang lama, setelah melihat Dero sudah berjarak cukup jauh di depan, salah satu di antara mereka mencoba menendang motor Arsya hingga Arsya merasa kesulitan dalam mempeetahakan kesetabilan motornya.
Namun, di saat bersamaan, tiba-tiba terdengar suara asing yang membuat Arsya langsung menoleh ke arah para penganggu itu secara bergantian.
Dukh!
Argh!
Brak!
Dua buah motor itu tampak terjatuh dan hingga meluncur beberapa meter dari tempat kejadian. Percik api dan derit suara yang dihasilkan dari gesekan antar besi motor dan permukaan aspal terlihat mengerikan. Satu orang tampak terkapar di tengah jalan sementara sato orang lagi masih mampu bangun walau dalam keadaan tertatih, setelah terseret sekitar dua meter bersama dengan motor.
Jaket yang dipakai mereka terlihat robek di beberapa bagian. Darah pun tampak mengucur di bagian lengan dan kaki.
"Aman!" Cakra dan Vareen tampak bereseru sambil bertos ria di tengah motor yang masih melaju.
Sementara itu, Arsya terlihat mengacungkan ibu jarinya, di sela mempercepat laju motornya.
...🦅...
Arsya dan Dero kini berada kurang dari sepuluh meter lagi dari garis finish. Sorak sorai para penonton dan pendukung terdengar semakin riuh. Mereka seolah ikut bersing menerikan jagoannya masing-masing.
Sementara itu, semangat Arsya dan Dero untuk menjadi pemenang semakin berkobar, mereka terus berusaha sekuat tenaga untuk menjadi yang pertama dan mengalahkan lawan utamanya. Hingga di saat jarak hanya tinggal satu meter lagi, Dero menyerempat motor Arsya hingga oleng, dan hampir kehilangan keseimbangan.
Keheningan tiba-tiba terjadi, ketika motor keduanya terlihat melintasi garis finish secara bersamaan. Entah siapa yang akan dinobatkan sebagai pemenang malam ini?
Arsya menghentikan motornya dengan napas terengah. Pengalaman balap liar yang pertama kali ini, sepertinya akan cukup bekesan.
"Huh!" Arsya membuang napas kasar setelah membuka helmnya. Senyum tipis dengan raut semangat terlihat di wajah tampannya.
Bulir keringat menghiasi wajah hingga membasahi anak rambut di kening dan sisi wajahnya. Namun, semua itu sama sekali tak mengurangi ketampanan seorang Arsya. Matanya tampak melirik seseorang yang sejak tadi memang memperhatikannya. Dia mengangguk samar, seolang mengatakan jika dirinya dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
"Wah, leader kita ternyata hebat juga, padahal ini baru pertama kalinya dia balapan!" teriak Fahri sambil merangkul pundak Arsya yang masih duduk di atas motornya.
"Lo emang hebat. Gue udah tau itu." Dikta memilih ber tos dengan Arsya sebagai tanda bangganya.
"Kita belum tau siapa pemenangnya, gak usah pada berlebihan dulu," ujar Arsya, masih dengan senyum tipisnya.
"Lo berdua tadi rekam, sesuai apa yang kita terncanakan?" tanya Arsya lagi.
"Iya. Kita juga udah serahin rekaman itu sama panitia. Dan, copy dulu sebelumnya, buat jaga-jaga," jawab Dikta.
"Sip! Lo berdua emang bisa gue andelin," angguk Arsya. Dia kemudian menepuk pundak kedua temannya bergantian sambil berucap. "Makasih."
"Santai aja, Bro. Kita kan sekarang keluarga," jawab Fahmi santai.
Arsya tersenyum, dia balas merangkul pundak Fahri, begitu juga dengan Dikta.
"Ya, kita adalah keluarga. Atropos adalah keluarga kita," ujar Arsya.
"Apaan nih? Kalian berpelukan dah kayak teletubis, tapi gak aja-ajak kita." Vareen yang baru saja datang langsung bergabung dalam pelukan walau dia juga tak tahu itu untuk apa.
Sementara Fahri menarik Cakra untuk bergabung. Lalu mengulang ucapan Arsya. "Kita semua adalah keluarga. Atropos geng adalah keluarga kita!"
Walau resah dalam hati masih menggelayut, tetapi untuk beberapa saat kelima remaja itu sempat melupakannya, karena kebersamaan dan rasa keluarga yang baru memenuhi relung hati mereka.
"Terus, sekarang siapa yang menang?" tanya Cakra, membuyarkan kebahgiaan mereka.
Pelukan pun terlepas, mereka kembali berdiri melingkar di bagian depan motor Arsya, dengan arsya yang bahkan belum sempat turun dari sana.
"Belum diputusin. Jarak Arsya dan si kampret itu berbeda hanya sepersekian detik doang, jadi mereka harus berembuk dulu," jawab Fahmi lemas.
Helaan napas Cakra dan Vareen terdengar. Sementara yang lainnya tampak terdiam, hingga untuk sesaat keheningan sempat memeluk kelimanya, di tengah riuh para penonton yang juga sedang menunggu keputusan kemenangan malam ini.
"Eh, salah satu orang tadi kayaknya lukanya parah deh. Emang gak bakalan jadi masalah ke depannya? Gimana kalau mereka balas dendam sama kita?" Vareen terlihat gelisah. Dia cukup tahu bagaimana brutalnya geng venus. Mereka tidak akan pernah melepaskan siapa pun yang berani mengusiknya.
__ADS_1
"Ada yang terluka? Sebenernya kalian habis ngapain sih?" Fahri tampak mengerutkan kening ketika mendengar ucapan Vareen.
"Tenang aja. Kita kan gak salah. Mereka yang mau curang duluan, ngapain mereka mau balas dendam sama kita?" jawab santai Arsya.