Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.37 Lamunan


__ADS_3

...Happy Reading...


...🦅...


Tiga puluh menit kemudian Alisya menghampiri Agra yang masih duduk di balkon bersama laptop yang masih menyala.


Tampaknya lelaki itu sedang melakukan rapat melalui panggilan video.


Saat ujung matanya melihat kedatangan Alisya, Agra mengangkat tangannya tanda menyuruh gadis itu menunggu sebentar.


Alisya mengangguk, lalu duduk di depan lelaki itu. Dia sudah tidak melihat keberadaan Andrew di sana. Entah kemana laki-laki paruh baya itu.


Kurang lebih lima belas menit Alisya menunggu, sampai akhirnya Agra mengakhiri rapatnya.


Melepaskan jas yang ia pakai, sambil beranjak berdiri.


"Ayo!"


Alisya berjalan di belakang Agra, berusaha menyamai langkah lebar lelaki tinggi itu.


"Tunggu, Tuan!" teriak Alisya berlari kecil menyusul Agra yang sudah sampai di lift.


"Lambat," gerutu Agra, saat Alisya sudah sampai di sampingnya.


"Kamu yang terlalu cepat, bukan aku yang lambat!" debat Alisya tidak terima.


"Jangan suka menyalahkan orang karena kekurangan yang kamu miliki!" gumam Agra.


"Enak aja, siapa juga yang nyalahin orang lain!"


Gadis itu mengerucutkan bibirnya tanda protes pada lelaki di sampingnya.


Agra mendengus menahan gemas melihat sikap merajuk Alisya.


"Makannya jadi orang tinggian dikit!" ejak Agra, mengacak pelan puncak kepala Alisya.


"Hei! Aku tidak pendek ya, tinggiku 165 cetimeter, itu cukup tinggi bagi perempuan Indonesia pada umumnya."


"Kamu saja yang terlalu tinggi! Aku sampe bingung membedakan kamu dan tiang listrik di sana," debat Alisya menunjuk tiang listrik yang terlihat dari kaca lift yang mereka tumpangi.


"Apa?! Kau samakan aku dengan tiang listrik?!" Agra menunjuk dirinya sendiri sambil mengerutkan keningnya dalam.


"Iya, memang kamu tidak jauh seperti tiang listrik!"


"Sudah berani kamu ya!" Agra mendekat pada Alisya, dengan pandangan terkunci pada manik indah milik gadis itu.


Alisya terlihat gugup dengan apa yang di lakukan oleh lelaki di hadapannya itu, kakinya melangkah mundur, untuk menghindari desakan yang di lakukan oleh Agra.


Duk ....


Akh ....


Alisya tampak terkejut saat punggungnya membentur dinding lift. Tangannya ia letakan di dada Agra, untuk menahannya agar tidak lebih dekat lagi.


Agra mengerinyai dalam, melihat wajah panik gadis kecil di hadapannya.


"Tu-tuan, apa yang kamu lakukan?" gagap Alisya, menundukan pandangannya, ia tidak berani menatap wajah tampan lelaki yang kini telah mengungkungnya posesif.


"Kenapa, heh? Bukannya tadi kamu berani menyebutku tiang listrik? Sekarang tatap aku!" desis Agra, sedikit menudukan kepalanya, agar bisa menikmati wajah lucu Alisya, yang tampak memerah.


Salah satu tangannya terulur menggapai dagu gadis kecilnya, membawanya untuk melihat ke arah wajahnya.

__ADS_1


Deg


Jantung keduanya berdetak lebih cepat, saat mata mereka bertemu. Mematung dengan pikiran yang memenuhi benak masing-masing.


Ting


Lift terbuka tepat di parkiran khusus apartemen, yang hanya di gunakan oleh para petinggi gedung tersebut.


Ekhm ....


Agra langsung melepaskan kungkungannya dan berdiri dengan tegap kembali, berjalan ke luar dari lift dengan wajah datar tanpa ekspresi seperti biasa, seakan tidak terjadi apa-apa di dalam lift tadi.


Alisya tampak membetulakan baju yang sedikit kusust, berjalan dengan menundukan kepalanya dalam, di belakang Agra.


Sungguh, saat ini dirinya sangat malu dan juga kesal secara bersamaan.


Malu karena para anak buah Agra yang bertugas di parkiran melihat dirinya dan Agra dalam posisi seperti hendak berciuman.


Kesal karena, Agra meninggalkannya dalam rasa malu. Padahal semua itu terjadi karena ulah lelaki itu.


Dukh ....


Awssh ....


Alisya berdesis menahan sakit di keningnya, saat ia merasakan telah menabrak sesuatu.


"Mau apa kamu ke sini? Tempatmu di sana!" tunjuk Agra pada pintu penumpang yang terdapat di samping sopir.


Gadis itu memejamkan matanya sambil kembali menundukan kepala, saat sadar kalau yang ia tabrak ternyata punggung Agra


Berlari cepat, mengelilingi mobil untuk segera masuk ke dalam mobil.


Menghembuskan napas kasar saat dia sudah duduk di kursi penumpang.


Alisya menggeleng pelan, "Tidak apa-apa," ucapnya.


"Kalau begitu pasang sabuk pengamanmu!"perintah Agra.


Gadis itu, menepuk keningnya, lalu segera melakukan apa yang di katakan oleh lelaki di sampingnya.


Beberapa saat kemudian, mobil mewah yang di kendarai oleh Agra sudah keluar dari area apartemen. Bergabung dengan suasana jalanan pagi yang terasa padat.


Para pengendara seakan saling bersaing untuk segera sampai di tempat tujuan masing-masing.


Suara klakson dan umpatan para pengendara yang terjebak macet di tambah para pengamen atau pengemis yang sedang mencari penghasilan untuk sesuap nasi, tampak menjadi pemandangan yang tidak bisa di singkirkan dari kota itu.


Agra, me²²²²²nyalakan radio yang berada di dalam mobilnya, untuk menyamarkan suara bising di liar sana.


terdengar lagu make you mine yang di nyanyian oleh Public.


...Put your hand in mine...


...gengam tanganku...


...You know that i want to be with you all the time...


...Ketahuilah aku ingin selalu bersamamu...


...You now that I won't stop until make you mine...


...You now that I won't stop until make you mine...

__ADS_1


...Ketahuilah aku tak kan berhenti sampai kau menjadi miliku...


...Until i make you mine...


...Sampai kau jadi miliku...


Entah kebetulan atau tidak, Agra merasakan kalau lagu itu mewakili perasaannya saat ini.


Kedua orang itu tampak terdiam, menikmati lagu.


Bersandar pada kaca mobil di sampingnya, memandang ke arah luar dengan ingatan kembali pada sepuluh tahun lalu, ketika berita tentang kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya sampai kepadanya.


Flash back


"Bi Ani, Mamah sama Papah belum pulang ya?" tanya seorang gadis berumur tiga belas tahun.


Duduk di meja makan untuk memulai sarapan, dengan pakaian sekolah melekat pada tubuhnya.


"Belum, Non. Mungkin sebentar lagi," jawab Bi Ani, sambil menyiapkan sarapan untuk anak asuhnya.


Beberapa hari yang lalu, kedua orang tua Alisya pergi ke luar kota untuk melihat proses pengerjaan cabang baru, perusahaan mereka.


Ting nong ... ting nong ....


Suara bel mengalihkan perhatian mereka berdua.


"Biar Bibi saja yang buka ya, Non!" Bi Ani langsung berjalan menuju pintu utama setelah mendapat anggukan dari anak majikannya.


"Bibi, siapa yang datang? Kok lama banget!"


Gadis remaja itu, terdiam menatap penuh tanya dua orang polisi yang datang ke rumahnya.


"Ada apa ini, Bi?" tanya Alisya lagi, setelah berdiri di samping pengasuhnya itu.


"Non, Papah sama mamanya Non, kecelakaan," dengan isak tangis tertahan dan tatapan nanar, Bi Ani menjawab pertanyaan gadis remaja itu.


"Gak, gak mungkin. Bibi pasti bohong 'kan?" geleng Alisya tidak percaya.


"Non yang sabar ya," Bi Ani memeluk tubuh bergetar Alisya, mencoba memberi ketenangan pada anak asuhnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang, Bi!" ucap Alisya, menghapus air mata yang sudah menganak sungai.


Hari itu, menjadi hari yang tidak pernah ia bayangkan, hari di mana ia melihat kedua orang tuanya sudah tertidur lelap tanpa bisa terbangun kembali.


Tanpa sepatah kata pun, mereka pergi meninggalkan dirinya seorang diri, menghadapi kerasnya kehidupan yang sekarang tengah ia rasakan.


Ya, hari itu juga, menjadi awal penderitaannya, karena keserakahan adik dari sang ayah.


"Yuk, kita udah sampai," ucap Agra yang menyadarkan lamunan Alisya.


Gadis itu mengusap air mata yang sudah terlanjur jatuh, sebelum memalingkan wajahnya pada Agra.


"Hei, kamu nangis? Kenapa? Apa aku mengendarai terlalu cepat, sampai membuatmu takut?"


Lelaki itu, terlihat panik saat melihat wajah sembab Alisya.


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," ucap Alisya, membuka sabuk pengaman dan segera keluar dari mobil Agra.


Lelaki itu memandang penuh tanya, gadis yang kini sedang berjalan masuk ke dalam makam.


...🦅...

__ADS_1


...🦅...


...TBC...


__ADS_2