
...Happy Reading...
...🦅...
Sejak Andrew pergi ke perusahaan cabang, pekerjaan Agra makin bertumpu, dia dan Edo bahkan hampir tiap hari lembur dan pulang malam, atau bahkan jika dia pulang awal, maka malamnya dia akan menyambung lagi pekerjaannya.
Alisya bahkan kehilangan banyak perhatian dari suaminya itu, untung saja ada Livia dan Bi Ani yang menemaninya. Jadi dia tidak terlalu kesepian, ditambah lagi dengan kegiatannya belajar mengelola perusahaan bersama dengan Livia. Semua itu lumayan menyita waktu dan juga perhatiannya dari rasa rindu kepada suaminya.
Seperti saat ini, dirinya sedang menghabiskan waktu untuk melihat dan menganalisis beberapa laporan perusahaannya yang Agra berikan untuk diperiksa.
Keduanya tampak fokus pada setiap berkas yang mereka pegang, sesekali terlihat perbincangan kecil untuk mendiskusikan tentang apa yang dilihatnya.
Hingga menjelang makan siang, Bi Ani datang dan menegur keduanya untuk mengingatkan waktu makan.
“Non Alisya, Livia, sudah waktunya makan siang,” ucap Bi Ani.
Alisya dan Livia yang masih fokus pada berkas di tangan masing-masing, langsung mengalihkan perhatiannya pada wanita paruh baya itu.
“Ah, iya, Bi. Sebentar lagi kita makan,” jawab Alisya, dia langsung menaruh berkas di tangan dan membereskan meja bersama Livia.
“Livia, kamu duluan aja, aku mau telepon Kak Agra dulu,” ucap Alisya, mengambil ponselnya lalu berjalan menuju balkon.
Bukannya menurut, gadis itu malah mengikuti Alisya dan berhenti dengan jarak yang aman, hingga istri tuannya itu tak merasa canggung bila ingin berbicara dengan suaminya. Dia juga melengkapi dengan aerphone yang sengaja di pasang, untuk meyakinkan majikannya, kalau dirinya tak akan menguping pembicaraan mereka.
Livia berjaga dengan waspada di ujung balkon, pandangannya mengedar, melihat setiap celah yang bisa saja membahayakan bagi majikannya.
Sungguh, tanggung jawab yang kini diberikan Agra padanya, terasa jauh lebih berat, dibandingkan dengan mengirimkan senjata secara langsung ke luar negeri.
Menjaga Alisya dari para musuh tak bisa dibandingkan dengan menjaga barang mati seperti senjata, apa lagi statusnya yang merupakan istri dari Agra sendiri, wanita kesayangan tuannya yang tidak akan dibiarkan mengalami luka sedikit pun.
.............
Di tempat lain, lebih tepatnya di tempat Agra, ia masih di dalam perjalanan menuju sebuah kafe, untuk bertemu dengan sahabatnya yang sempat meminta bantuan kepadanya, beberapa hari yang lalu.
“Kita sudah sampai, Tuan,” ucap Edo, setelah mobilnya terparkir tepat di depan sebuah kafe.
Agra baru saja hendak keluar saat getar ponselnya terasa.
Dia tersenyum samar saat melihat nama istrinya di layar, tak menunggu lama, Agra langsung mengangkat telepon itu.
__ADS_1
“Halo, sayang,” sapanya, dengan senyum tipis menghias wajahnya.
Edo tampak berjaga di luar mobil, tepat di samping pintu Agra.
“Halo, Kakak, di mana?” tanya Alisya, wanita itu juga tersenyum semangat ketika mendengar suara yang sangat ia rindukan itu.
“Aku sedang berada di Kafe, sayang. Mau bertemu teman lama, kebetulan ada sesuatu yang harus kami bicarakan,” jelas Agra, begitu lembut. Sangat berbeda dengan perangainya bila sedang di hadapan para karyawan maupun anggota mafia lainnya.
“Yah, gak bisa makan siang bareng dong?” tanya Alisya, lesu. Ia bahkan memajukan bibirnya, merajuk.
“Maaf, sayang. Tapi, ini sangat penting ... bagaimana kalau nanti malam kita makan di luar, aku punya sesuatu untukmu?” tawar Agra.
“Hem, benarkah? Kakak gak bohong kan?” tanya Alisya, ia bahkan memicingkan matanya, seperti sedang memberi intimidasi, walau tak terlihat Agra.
“Ya, aku berjanji. Sekarang sudah dulu ya, aku sudah sampai ... tidak enak, sudah ditunggu. I love you,” ucapnya.
Alisya tersenyum dengan pipi yang merona, ia tak kuasa menahan rona di pipinya setiap kali Agra mengatakan rasa cintanya.
“Hem, love you to,” balas Alisya, sebelum menutup teleponnya.
Wanita itu langsung berjalan ke dalam, menuju meja makan yang sudah siap dengan beberapa macam hidangan.
Livia membuka earphone di telinganya, mengikuti langkah Alisya menuju dalam, sambil menggeleng geli.
Sebenarnya tak ada suara apa pun di earphonenya, dia bahkan bisa mendengar semua perkataan Alisya barusan. Tidak mungkin kan, dia harus memutar lagu, sedangkan dirinya dituntut untuk waspada setiap waktu.
Fftth
Livia bahkan tak sanggup menahan tawanya, saat mengingat kata itu. Kata yang baru saja ia tahu setelah berada di negara ini. Benar-benar menggelikan sebutan untuk para pecinta itu.
Bucin atau budak cinta. Astaga, siapa yang menciptakan kata itu sebenarnya, bagaimana mereka bisa begitu memuji yang namanya cinta, hingga takluk dan tunduk pada kata itu.
“Hei, kenapa kamu tersenyum begitu?”
Livia terlonjak kaget, mendengar pertanyaan dari Alisya, dia benar-benar terkejut.
“Ah, tidak, Nona. Hanya sedang teringat kata yang sedikit aneh dan menggelikan, aku baru tahu setelah tinggal di sini,” jawab Livia sekaligus mengalihkan perhatian Alisya, dia tahu kalau majikannya itu mencurigainya mendengar percakapannya dengan Agra di telepon barusan.
“Hah, kata apa memangnya?”
Livia tersenyum samar, saat pengalihannya berhasil.
“Itu, Nona. Eum ... bucin, atau budak cinta. Bukankah itu sangat menggelikan?” ucapnya, dengan kerutan halus di kening, seperti sedang berpikir.
“Hah, bucin? Dari mana kamu tahu kata itu, Livia?” tanya Alisya, dengan kekehan kecil di belakangnya.
__ADS_1
Kali ini mereka sudah duduk di meja makan dan bersiap untuk makan bersama.
“Emh, kemarin ada seseorang yang mengatakannya dan aku mendengarnya, Nona,” jawab Livia.
“Ya, kamu benar. Itu memang sangat menggelikan. Budak cinta? Oh, astaga ... mana ada orang yang mau menjadikan dirinya budak hanya untuk cinta?” ucap Alisya di sela menyantap makan siangnya.
Livia hanya mengedikkan bahunya, sebagai tanggapan.
‘Ada, Nona. Buktinya Tuan Agra mau melakukan apa pun untuk kebahagiaan, Anda,’ gumamnya di dalam hati.
Di tempat lain Agra baru saja sampai di dalam kafe. Dia bisa langsung melihat keberadaan teman bersama dua orang lelaki lainnya.
"Hai, Zra. Apa kabar?" sapa Agra, langsung setelah berdiri tepat di depan teman lamanya itu.
"Baik, Kamu apa kabar, Gra?" jawab lelaki yang bernama Ezra.
Keduanya bersalaman dengan sunggingan senyum hangat, sebagai teman yang sudah lama tidak bertemu.
"Kenalkan, ini adikku, Keenan dan ini sahabatku, Ansel." Ezra tampak mengenalkan dua orang yang berada di sampingnya.
"Agra," ucapnya, menyambut uluran tangan dari dua lelaki itu di ikuti oleh Edo.
"Apa kamu sudah bisa menemukan orang yang aku cari?" tanya Ezra, tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
"Kamu tau siapa aku kan? Aku tidak akan menyetujui pertemuan ini, kalau belum mendapatkan apa yang kamu mau," jawab Agra, dengan seingai khas dirinya.
"Iya, aku tau kamu orang sibuk," malas Ezra.
Agra hanya tersenyum kecil, menanggapi teman lamanya itu.
"Ini adalah berkas tentang orang yang kalian cari." Agra menggeser map berwarna hijau tua.
"Ini hasil penyelidikan yang aku dapatkan dari lelaki itu," Agra kembali menggeser amplop besar berwarna coklat.
"Terima kasih, semua ini sangat berarti bagi kami. Tolong kamu tahan dulu lelaki itu, jangan sampai dia melarikan diri." ucap Ezra.
"Kamu bisa mengandalkan aku," jawab Agra dengan seringai yang menghiasi wajahnya.
"Terima kasih banyak," Ezra kembali menjabat tangan lelaki itu saat dia berdiri.
“Berhati-hatilah karena musuh wanita yang kamu jaga itu bukanlah orang biasa,” bisik Agra sebelum pamit dan melangkah pergi dari tempat itu
'Aku yakin, kamu akan membutuhkan bantuanku lagi, di kemudian hari, Zra' gumamnya dalam hati, di sela langkahnya menuju parkiran.
...🦅...
__ADS_1
...🦅...
...TBC...