
"Nih, makan dulu. Nenek gue lagi gak ada, jadi malam ini kita makan mi instan aja ya." Fahri menaruh mangkuk berisi mi instan dengan toping satu telur dan sayur sawi hijau di atasnya, di depan Cakra yang tengah rebahan beralasakan karpet untuk meredam dinginnya ubin kramik di ruang tengah, rumah sederhana itu.
Cakra menoleh pada Fahri, lalu mulai berangsur duduk bersila di lantai dengan punggung bersandar pada sofa. Tangannya mengusap pelan wajah, sambil mengumpulkan nyawa yang masih tercecer. Suara hujan di atap genteng mengalihkan perhatiannya. Sejenak dia menoleh ke arah jendela kaca di salah satu sisi rumah yang gordennya masih terbuka.
"Ujannya makin gede ya?" tanya Cakra, sepertinya untuk beberapa saat dia sempat tertidur.
"Iya. Lo nginep aja di sini, lagian Nenek gue juga gak bakal pulang kalau cuacanya kayak gini," balas Cakra sambil ikut duduk lesehan di depan Cakra.
Cakra malihat jam digital di pergelangan tangannya. Lalu bergumam pelan. "Udah jam sepuluh."
"Iya. Makanya gue suruh lo nginep di sini," ujar Fahri. Cowok itu mulai mengambil mangkok mi instan miliknya, lalu menghirup asap yang masing mengepul di atasnya.
Sementara itu, Cakra tampak beranjak.
"Mau ke mana lo?" Fahri yang sudah hendak memasukkan mi instan ke dalam mulutnya, menghentikannya di udara karena perhatiannya teralih pada Cakra.
"Toilet," jawab Cakra sambil mulai melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang berada di bagian belakang rumah.
"Ouh...." Fahri mengangguk-anggukkan kepalanya sambil melanjutkan aktifitasnya. Sejenak, dia tatap punggung sang sahabat sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi. Hembusan napas berat terdengar sebelum akhirnya memilih menggeleng lamah, menghilangkan segala prasangka yang hinggap dalam kepalanya.
Ingatan percakapannya dengan Cakra, sesaat setelah mereka sampai di rumahnya, pun kembali bergulir di kepala.
Flashback....
"Semua ini bukan cuma karena kekalahan Dikta, kan?" tanya Fahri setelah sekitar lima belas menit, keduanya hanya duduk berdiam diri di depan rumah nenek Fahri, tanpa ada yang membuka suara sama sekali.
Cakra hanya mendengus, tanpa menjawab pertanyaan Fahri.
"Lo berantem lagi sama bokap?" Fahri menatap penuh selidik pada sahabatnya itu.
Cakra masih diam.
__ADS_1
Fahri mengangguk samar. Bila Cakra tidak membantah, berarti itu adalah kebenaran, bahkan jika dia hanya terdiam seperti sekarang. Cowok itu menghembuskan pelan napasanya. Dia tak memiliki hak untuk memberi nasihat pada temannya, apa lagi menyuruhnya untuk bersabar. Itu terlalu klise untuk diucapkan pada Cakra.
"Ya udah, lo tenangin diri dulu aja di sini. Gue harap setelah itu lo bisa berpikir lebih jernih lagi," ujar Dikta sambil beranjak. Dia memilih meninggalkan Cakra sendiri, untuk merenungi semua yang dia lakukan hari ini.
flashback off
...🦅...
Rumi ke luar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapih. Dia sedikit menggerutu karena hampir saja bangun kesiangan.
"Ish, dasar nyebelin. Kenapa dia harus negelakuin itu sama gue sih?" Rumi menyebikkan bibir sambil menghentakkan kakinya menahan kesal.
Bagaimana tidak, karena sejak dia turun dari motor Arsya malam tadi, wangi aroma tubuh cowok itu masih saja semerbak, memenuhi indra penciumannya. Bahkan, genggaman tangan Arsya saat menarik tangannya masih dapat dia rasakan sampai sekarang.
Rumi meraba pergelangan tangannya. Detak jantungnya bahkan masih berpacu cepat ketika bayangan kejadian semalam kembali berputar di kepalanya.
"Ish!" Rumi menggelengkan kepalanya cepat, mencoba menghilangkan perasaan mengganggu dalam hatinya. Dia mengedarkan pandangan, melihat seisi rumah yang selalu terasa sepi. Kecuali suatu tempat yang menjadi tujuannya saat ini. Dapur. Entah mengapa ada suara gaduh di sana? Hingga membuat cewek itu mengerutkan keningnya, penasaran. Apa yang terjadi di sana?
"Selamat pagi, sayang." Rumi bahkan harus mengerjapkan matanya beberapa kali untuk meyakinkan dirinya sendiri, jika yang terjadi sekarang memang nyata.
"Duduk sini, sebentar lagi sarapannya selesai," sambung wanita dengan apron berwana hitam menggantung di tubuhnya. Senyum ceria dan hangat pun menabah cantik wajah dewasanya.
Rumi berjalan menghampiri lalu duduk di kursi bar, tepat di depan ibunya yang tengah menyiapkan sarapan. Tatapan penuh tanya terus tertuju pada sang ibu. Entah kapan terakhir kali dia mendapatkan senyum itu dari ibunya? Dia sendiri sudah lupa, mungkin karena saking lamanya.
"Ibu kenapa?" Pertanyaan yang terdengar bodoh itu meluncur begitu saja dari mulut Rumi. Dia lipat kedua tangannya di atas meja, bagaikan seorang murid SD yang tengah bersiap menyambut kedatangan gurunya.
"Apa?" Ibu mengalihkan perhatiannya pada Rumi sekilas sambil tersenyum, sebelum beranjak mengambil piring dan menata nasi goreng dan telur ceplok di atasnya.
"Ibu sakit? Atau kepalanya sempat terbentur kemarin malam?" Rumi berucap polos, tanpa mengalihkan sedikit pun perhatian dari ibunya. Matanya berkedip pelan, dengan sorot mata yang masih saja membingungkan.
"Sembarangan kamu ngomong!" Ibu Rumi memukul pelan tangan anak semata wayangnya, sentara satu tangannya lagi menaruh piring berisi nasi goreng itu di depan Rumi.
__ADS_1
"Atau ibu tadi malam jalan sendiri ya? Ngelewatin pohon besar di belakang komplek? Jangan-jangan Ibu kesambet hatu di sana," terka Rumi lagi. Ada sebuah pohon besar di belakang komplek yang terkenal angker karena sudah banyak yang sering melihat penampakan di sana.
"Ish, apa sih anak ini, ngomongnya kok makin ngelantur gitu. Jangan-jangan kamu yang masih ngelindur," tuduh Ibu Rumi sambil memicingkan matanya.
"Enak aja. Rumi udah bangun ya, Bu," elak Rumi tidak terima, dia pun memilih untuk segera menyantap sarapannya.
"Lagian aneh aja, biasanya juga Ibu gak pernah nyiapin sarapan kayak gini buat Rumi. Emang Ibu gak pergi ke kantor?" tanya Rumi lagi, bahkan ketika makanan di mulutnya masih ada.
"Ibu ada tugas ke luar kota nanti siang, jadi ke kantor cuma buat ngambil berkas aja," jawab Ibu Rumi.
"Tugas ke luar kota lagi? Berapa lama?" tanya Rumi. Tiba-tiba dia menghentikan aktivitas sarapannya demi melihat jelas wajah sang ibu.
"Paling tiga hari, tapi kalau ada kendala mungkin sampai satu minggu," jawab sang ibu Rumi.
"Oh...." Rumi melanjutkan sarapannya dengan wajah tak acuh, walau pada nyatanya, ada rasa kosong di dalam hatinya ketika mengetahui jika ibunya akan pergi ke luar kota. Rasa semangat menyantap nasi goreng buatan ibunya, kini tiba-tiba terasa mulai menghilang.
Cukup sering memang ibunya mendapatkan tugas ke luar kota, tetapi tetap saja terasa berat, ketika harus berjauhan dengan ibunya dalam waktu cukup lama.
"Aku sekolah dulu, Bu." Rumi mencium punggung tangan ibunya.
"Eum, semangat belajarnya ya," angguk ibu Rumi.
Rumi mengangguk lalu berjalan menuju ke luar rumah. Menyusuri jalan komplek demi sampai di halte terdekat dari komplek perumahannya. Namun, di tengah jalan Rumi tiba-tiba teringat sesuatu. Dia mencoba mencarinya di tas, tetapi tidak dapat menemukannya.
"Hp gue ketinggalan," gumam Rumi sambil memutar kembali langkahnya menuju ke rumah. Setengah berlari dia menyusuri kembali jalanan komplek agar tidak terlambat ke sekolah.
Namun, begitu dia sampai di depan rumahnya, tubuh Rumi langsung menegang saat melihat apa yang terjadi di sana. Tepat di depan pintu masuk rumahnya, dia melihat ibunya tengah menyambut kedatangan seorang lelaki tegak dan terlihat gagah. Mereka berpelukan dan melakukan cipika cipiki sebelum akhirnya lelaki itu masuk ke dalam rumahnya bersama sang ibu.
Belum seminggu setelah kejadian yang menimpanya karena mantan kekasih sang ibu, kini dia sudah melihat ibunya berganti laki-laki lagi. Tubuh Rumi kaku, hanya kepalan tangannya yang semakin mengerat hingga telapak tangannya tampak mulai memearah.
Matanya tampak sudah dipenuhi oleh air, yang bersiap untuk tumpah kapan pun dia mengizinkannya. Namun, tidak lagi. Rumi memilih untuk mendongakkan kepalanya sambil menghirup napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Tidak akan lagi dia biarkan air matanya tumpah oleh ulah sang ibu yang suka bergonta ganti laki-laki.
__ADS_1
"Ini semua sudah biasa, Rum. Gak usah lebay, lo itu cewek yang kuat," gumam Rumi, mencoba memberi kekutan untuknya sendiri. Dia memilih memutar tubuhnya dan segera meninggalkan rumahnya secepat yang dia bisa. Biarkan saja ponselnya tertinggal. Rumi sudah tidak mau lagi bertemu dengan ibunya dan laki-laki yang ke sekian wanita itu bawa ke rumahnya.