
...Happy Reading...
...🦅...
Agra memegang perutnya yang terasa semakin bergejolak melihat aktifitas di dalam ruangan itu.
Di sana banyak orang-orang dalam keadaan mengenaskan, ada yang di rantai dengan berbagai luka di tubuhnya sampai ada yang sudah tak memiliki lengan atau kaki.
Mereka semua dibiarkan saja tanpa mendapat pengobatan, hingga bau amis bercampur busuk itu terasa memenuhi ruangan.
Agra meringis ngeri ketika melihat orang-orang yang sedang di siksa secara tidak manusiawi, di dalam hati dia bertanya kenapa orang-orang itu sampai diberikan hukuman seberat ini.
Apa mungkin Tuan Andrew ini adalah seorang pimpinan mafia, atau bahkan psikopat? batin Agra bertanya, sambil melihat Andrew yang berjalan di depan.
Jika saja ia tidak ingat peringatan Andrew sebelum masuk, sudah pasti sekarang Agra sudah banyak bicara dan bertanya.
Sampai di ujung ruangan dia melihat seorang lelaki, yang sedang tergantung dengan rantai di kedua tangan dan kakinya.
“Dia adalah seorang penghianat, yang memberikan informasi tentang perusahaanku kepada lawan bisnisku. Hingga perusahaan milikku rugi besar," jelas Andrew, menunjuk orang itu dengan dagunya.
Agra melihat lelaki di depannya dengan hati meringis ngeri. Entah apa yang akan orang itu dapatkan setelah ini, dia sendiri tidak tahu. Di dalam kepalanya penuh dengan perkiraan terendah bahkan terburuk.
Kenapa dia malah dibawa ke tempat ini, bukan dilaporkan ke pihak berwajib? mungkin itu salah satu pertanyaan yang mengganggu pikiran Agra saat ini.
“Menurut kamu hukuman apa yang pantas dia terima?” tanya Andrew, melihat Agra sekilas, lalu kembali pada salah satu tawanannya itu.
Agra tampak terkejut mendapati pertanyaan dadakan dari lelaki yang sudah menolongnya itu.
Apa maksudnya, mengapa Tuan bertanya padaku? batin Agra terus bertanya.
Agra termenung, memikirkan kira-kira hukuman apa yang dapat memuaskan seorang Andrew. Melihat dari berbagai macam kondisi orang yang tadi dia lewati. Mencoba menerka dan berfikir bila dia berada di posisi seorang psikopat atau ketua mafia.
“Langsung bunuh saja setelah kita mendapatkan informasi tentang musuh yang lain darinya," jawab Agra setelah cukup lama berpikir.
Saat ini dia belum sanggup untuk menyiksa ataupun menghukum seseorang, hingga hanya itu yang berada di dalam pikirannya.
“Hm... Boleh juga. Tapi, aku rasa itu kurang seru." Andrew meletakkan telujuk dan jempol tangannya di dagu dengan kening berkerut.
“Bagaimana kalau dia kita beri sedikit lukisan di tubuhnya, sebelum memberikan hukuman yang lebih besar?” tanya Tuan Andrew menyeringai penuh maksud.
Agra terlihat sedikit melebarkan matanya, terkejut dengan pertanyaan Tuan Andrew. Akan tetapi, akhirnya dia menganggukkan kepalanya.
Akh si*l! Gimana ini? umpat Agra dalam hati.
“Baiklah, kalau begitu aku akan memberikan kamu contoh, bagaimana cara melakukannya. Setelah itu, aku mau melihat cara kamu melakukannya sendiri," tantang Andrew pada Agra, kemudian ia menggerakkan tangannya kepada penjaga yang ada di sana.
Agra hanya mengangguk samar, dia menelan ludah dengan susah payah, sibuk mempersiapkan keberaniannya untuk melakukan permintaan tuannya itu.
Beberapa saat kemudian pengawal tadi sudah kembali dengan membawa peralatan untuk eksekusi lengkap.
Dari pisau kecil yang terlihat tajam sampai katana panjang dan juga senjata api.
Agra terlihat sedikit pucat melihat berbagai senjata tajam yang sudah tertata rapi di atas sebuah meja di depan nya. Walau itu tidak bisa merubah apa pun, bila Andrew sudah memberi perintah.
__ADS_1
Kenapa sekarang gue berasa kayak lagi di film mafia ya? linglung Agra terus berbisik dalam hati.
Andrew langsung berjalan dan memilih senjata mana yang akan pertama kali dia gunakan.
“Tu..tuan, jangan ... ampunilah saya, saya hanya di suruh orang lain," ucap orang yang di rantai itu terbata.
Dia terus berusaha memohon untuk mendapatkan ampunan, di tengah rasa takut yang semakin membuatnya putus asa.
Andrew tampak menikmati raungan permohonan dari orang yang sudah berani berkhianat padanya, dia sama sekali tidak terlihat goyah, walau bagaimana pun cara orang itu meminta ampun.
“Turunkan dia!" titah Andrew.
Dua orang penjaga pun langsung bergerak, menurunkan lelaki itu tanpa melepas rantai di kedua tangan dan kakinya.
Andrew melangkah maju dan mengambil sebuah pisau kecil berujung runcing yang terlihat mengkilap dan sangat tajam.
Perlahan dia mulai berjalan mendekat pada orang yang akan menjadi percobaan pertama untuk Agra.
Agra memperhatikan dengan seksama, setiap gerakan yang Andrew lakukan. Bahkan segala bentuk perubahan raut wajah tuannya itu dia bisa lihat dan pelajari dengan jelas.
"Ampuni aku, Tuan ... jangan lakukan itu padaku, aku mohon." Orang itu masih berusaha memohon ampunan.
Agra mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kencang agar getaran di tangannya tak terlihat oleh orang yang ada di sana.
Dia masih belum cukup kuat untuk melihat bagaimana Andrew menyiksa orang di depan matanya langsung.
Tuan Andrew melihat Agra sekilas sebelum memulai aksinya.
“Perhatikan, apa yang akan aku lakukan dan ikuti," perintahnya pada Agra.
Andrew mulai menempelkan pisau kecil yang ada di tangannya pada pipi orang itu. Hingga sedikit tekanan saja sudah membuat darah mengalir.
"Akkh!"
Suara teriakan kesakitan dari orang itu seakan semakin menambah semangat Andrew dalam melakukan penyiksaan.
Agra meringis melihat kekejaman sang tuan, perutnya seakan diaduk melihat darah yang kian bertambah banyak. Hingga mengotori lantai putih di bawahnya.
Bisakah aku melakukan semua ini? gumam Agra dalam hati.
Dia semakin ragu, untuk melakukan apa yang Andrew contohkan padanya.
Setelah Andrew merasa selesai memberikan contoh untuk Agra, dia kembali menegakkan tubuhnya, dengan tangan sudah berlumur darah segar.
Bau amis kian menusuk hidung, membuat Agra ingin sekali mengeluarkan isi perutnya.
“Sekarang giliran kamu Tunjukan padaku, kalau kau pantas berada di sisiku!" ucapnya lebih seperti perintah, sambil berjalan menuju wastafel di sudut ruangan untuk mencuci tangannya yang berlumur darah.
Arga menutup matanya sebentar mencari kekuatan untuk melakukan hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Perlahan dia meraih sebuah pisau yang lainnya dan mulai berjalan ke arah orang yang ada di depannya.
“Ja–jangan.” Tubuh bergetar itu masih saja meracau meminta ampunan.
__ADS_1
“Apakah kita sudah mendapatkan informasi darinya?" tanya Agra dengan mata menatap lurus calon korban pertamanya itu.
“Belum, dan sekarang aku serahkan tugas itu padamu," jawab Andrew, duduk santai sambil melihat pertunjukan yang akan di lakukan oleh anak asuh barunya itu.
Agra hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu memulai aksinya untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya, dari orang yang telah berkhianat pada tuannya.
Agra memainkan pisau yang ada di tangannya seakan pisau itu adalah pisau mainan.
“Kamu meminta ampunan, bukan? Kalau begitu, beritahu aku tentang bosmu," tekan Agra sambil berjalan mengelilingi orang itu.
“A–aku tidak tau apa-apa, Tuan. Aku hanya berhubungan lewat telpon saja selama ini." orang itu menggeleng kuat.
“Benarkah? Ternyata kamu lebih suka aku berbuat kasar daripada berterus terang," ucap jenaka Agra, yang membuat orang itu semakin meremang.
“Baiklah, kalau begitu bagaimana aku ganti dengan ini? Agar kamu langsung menemui ajalmu saja." Agra menukar pisau di tangannya dengan sebuah katana.
Tuan Andrew menarik sebelah bibirnya melihat sikap Agra.
SRIING.....
Agra menarik benda tajam itu dari tempatnya.
“A–aku benar-benar tidak tau apa-apa. Aku mohon ampuni aku." Orang itu menatap horor sebuah katana panjang di tangan Agra.
Agra membolak-balik benda yang cukup membuat korban di hadapannya menggigil ketakutan.
“Sepertinya cukup tajam untuk membuat kepalamu terpisah dari tubuhnya dalam sekali gerakan," ucap jenaka Agra, sambil mengusap pelan ujung sebelah bagian katana itu.
Tidak lama kemudian dia menarik bila katana itu dan mulai menempelkan ujungnya pada pundak korban.
“Satu ... dua ... ti ....” Agra langsung mengangkat cepat katananya dengan posisi siap untuk menebaskan lnya.
“Iya ....iya, aku akan memberikan informasi pada kalian!” teriakan orang itu langsung menghentikan gerakan Agra.
Napas memburu dengan mata yang sudah terpejam, cukup membuat Agra tersenyum sinis, menatap wajah takut korban pertamanya itu.
Agra tersenyum miring, ia mendekat dan siap mendengarkan apa yang akan korbannya katakan.
Dia mulai mengorek informasi dengan sesekali memberikan ancaman, agar orang itu tak berbohong dan memberikan informasi palsu.
Setelah di rasa cukup, Agra melirik Andrew, dan ketika dia melihat anggukan samar dari tuannya, dia langsung menyambar sebuah senjata api dari atas meja, dan dengan gerakan cepat tak terlihat, Agra langsung melesatkan peluru itu menembus kepala orang tadi.
“Bagus ... aku suka gayamu!" ucap bangga Andrew, menepuk bahu Agra di iringi dengan tawa.
Agra hanya mengangguk lalu kembali mengikuti tuannya keluar dari ruangan yang sangat mengerikan itu.
Agra pikir lebih baik orang itu langsung menemui ajalnya, daripada harus lama tersiksa seperti orang-orang yang dia lihat sebelumnya.
...🦅...
...🦅...
...TBC...
__ADS_1
...🙏😊😘...