
Enam belas tahun berlalu setelah kelahiran anak pertama pasangan Agra dan Alisya. Kini anak laki-laki itu sudah berada di kelas dua belas, sekolah menengah akhir. Sementara adik perempuannya yang berusia dua tahun lebih muda dari Arsya, baru saja akan masuk kelas sepuluh.
Kehidupan keluarga ketua mafia black eagle itu masih penuh kehangatan, walau di luar sana kondisi mereka masih seperti berada di sisi jurang, mengingat banyak musuh yang mengincar posisi kejayaan black eagle, sebagai organisasi mafia nomor satu di beberapa negara.
Alisya pun sudah mengetahui jati diri sebenarnya sang suami, awalnya ada perdebatan hebat diantara keduanya, tetapi perlahan Alisya bisa menerima Agra dengan segala embel-embel di belakanganya, juga risiko untuk menghabiskan hidup dengan seorang pemimpin mafia.
"Aku mau kamu bubarkan organisasi berbahaya itu sekarang! Atau kamu ke luar saja dari sana!" Deras hujan dan guntur menyambar seolah mendukung kemarahan Alisya malam itu.
Wanita itu murka karena mengetahui alasan Arsya diculik dan hilang selama tiga hari. Ternyata itu adalah ulah salah satu kelompok mafia, musuh dari Agra.
Andai dia tidak mendengar percakapan Edo dan Agra, juga mendesak kedua lelaki itu untuk membuka mulut, mungkin sampai saat ini dia tidak akan pernah tahu kebenaran tentang identitas Agra sebagai ketua mafia balck eagle.
"Sayang, tenang dulu, kita bicarakan ini baik-baik." Agra berusaha melerai sang istri yang tengah diselimuti amarah. Bagaimana tidak, jika sekarang kondisi Arsya sangat memperihatinkan.
Anak berumur tujuh tahun itu, disiksa dan tidak diberi makan selama dua hari. Agra menemukannya disekap di gudang bawah tanah yang pengap dan gelap. Tangan dan kakinya diikat dengan rantai besi hingga kulitnya terkelupas dan mengeluarkan darah.
"Kamu masih mau membicarakan ini baik-baik? Apa kamu tidak lihat kondisi anak kita? Dia yang menjadi korbanya." Alisya kembali menenteskan airmatanya, ketika mengingat kondisi sang anak yang begitu memperihatinkan.
"Tidak ada yang akan berubah walau aku ke luar atau membubarkan black eagle, Sayang. Sebaliknya, mereka malah akan lebih brutal mengincar kita seperti hewan buruan. Dunia bawah itu sangat kejam, kita tidak akan bisa ke luar jika sudah terlanjur masuk ke sana. Itu malah akan lebih membahayakan kalian dibandingkan sekarang."
Agra mencoba menjelaskan setelah emosi wanita itu sedikit mereda. Dia berharap, Alisya bisa mengerti posisinya saat ini. Bukan hanya karena uang dan kejayaan yang sekarang sudah dia raih, tetapi dia juga bergantung pada black eagle untuk menjaga orang-orang yang dia sayangi.
Tidak ada pilihan untuk berhenti. Mau tidak mau, dia harus terus melangkah ke depan dan menerjang segala penghalang, demi menciptakan jalan yang aman untuk anak istrinya, juga keluarganya yang lain.
"Jadi kamu lebih memilih kelompok mafia kamu, dibandingkan dengan aku dan anak-anak?" Alisya menatap tajam Agra. Dia kecewa pada suaminya.
Agra menghembuskan napas pelan sebelum menjawab pertanyaan Alisya. Saat ini istrinya tengah diliputi emosi, dirinya tidak boleh ikut terpancing, agar maslaah ini bisa segera selesai. Masih ada urusan yang harus dia bereskan. Apa lagi kalau bukan memberikan hukuman pada orang-orang yang menjadi alasan pertengkarannya dengan Alisya sekarang ini.
"Nanti kita bicara lagi ya, sayang. Sekarang lebih baik kamu tenangkan diri dulu." Agra memeluk tubuh mungil Alisya dari belakang lalu mengecup lembut puncak kepalanya. Dia melanjutkan di saat dagunya masih bertumpu di pucak kepala sang istri. "Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa besok pagi."
Perlahan Agra melepas lengannya lalu berjalan ke luar dari area kamar pribadinya. Sungguh, dia tidak tahan lagi untuk memberikan pelajaran pada para panggota musuh yang telah menyiksa anak sulungnya.
Bersiaplah, sebentar lagi kalian akan mendapatkan buah dari perbuatan kalian pada anakku, batin Agra dengan tangan terkepal dan mata menajam, seiring langkah lebarnya yang terus terayun ke luar dari rumah besarnya.
...🦅...
__ADS_1
"Sya, hari ini kamu berangkat bareng sama Isha saja, ya. Ini kan hari pertama kalian sekolah dia SMA Bakti Yuda," ujar Agra sambil menatap anak lelakinya yang baru saja duduk di depannya.
Lelaki jangkung dengan seragam SMA itu tampak menatap sang ayah lalu mengangguk. Di tangannya sudah ada roti lapis buatan Alisya sebagai menu sarapan pagi itu.
"Enggak mau ah, Dad." Suara bernada protes langsung terdengar dari arah ujung tangga, hingga mengalihkan atensi dua lelaki yang sudah mulai menyantap menu sarapannya pagi itu.
"Kenapa?" Alisya yang baru saja datang dengan membawa dua kotak bekal di tangannya tampak mengernyit.
"Gak mau ah. Aku gak mau ada yang tau kalau es batu ini adalah abang aku," jawab Isha santai. Dia duduk di samping Arsya lalu mengambil roti lapis dan langsung melahapnya hingga pipinya tampak menggembung karena mulutnya yang penuh.
Arsya melirik tajam sang adik, walau itu tak mampu membuatnya membuka suara, untuk mendebat sikap kurang ajar Isha yang langsung memanggilnya dengan es batu
Lelaki remaja dengan badan tegap, kulit putih dan rambut hitam selaras dengan iris matanya yang tajam. Garis wajahnya tampak tegas dengan postur tubuh sempurna. Tingginya sudah mencapai 178cm, hingga membuat dia tampak menonjol dibandingkan dengan remaja seusianya.
Arsya memang tipe yang irit berbicara, hingga membuatnya tampak dingin. Dia bagaikan Agra versi remaja. Setiap sikap bahkan wajahnya begitu mirip, dengan sang ayah. Berbeda dengan Isha yang terlihat lebih periang dan cerewet, walau dia juga sedikit bandel dan tidak suka jika teman-temannya tahu kekayaan keluarganya. Isha suka terlihat biasa saja dan berteman dengan para remaja dari kalangan sederhana.
"Terus, kamu maunya gimana? Mommy anterin?" tanya Alisya.
"No, Mommy. Aku udah janjian sama temenku buat berangkat bareng." Isha berdiri lalu memakai tas ransel dengan gambar kucing di bagian depan. Gadis bertubuh ramping, dengan kulit putih dan rambut kecoklatan yang diikat ekor kuda. Kacamata bening tampal bertengger di batang hidungnya, berjalan menghampiri Agra dan Alisya. Lalu, mencium pipi keduanya sebagai tanda berpamitan. Tangannya kembali menyambar satu potong roti lapis sebelum akhirnya berjalan menjauh.
"Aku berangkat sekarang, temanku udah nunggu di halte depan," ujarnya sambil berjalan setengah berlari menuju ke luar rumah.
"Ck! Anak itu kenapa lebih suka naik kendaraan umum sih? Aku kan jadi khawatir." Alisya menggeleng kepala pelan. Matanya menatap kepergian anak perempuannya yang sudah semakin menjauh.
"Biarkan saja, mungkin dia merasa lebih nyaman seperti itu," jawab Agra seolah tak perduli. Namun, jangan ragukan penjagaan di belakang gadis cantik itu. Agra mengerahkan beberapa anak buahnya yang bertugas khusus untuk mengawal Isha secara diam-diam.
"Aku juga berangkat dulu," ujar Arsya setelah meneguk air putihnya. Dia segera bangkit dan melakukan fist bump pada Agra juga mencium pipi Alisya.
"Hati-hati di jalan," ujar Alisya yang hanya diangguki oleh Arsya.
Dia pergi ke sekolah dengan diantarkan oleh sopir. Walau sudah mahir mengendarai motor, tetapi Agra melarangnya berkendara di jalan raya sebelum mendapatkan SIM beberapa bulan lagi.
...🦅...
Hari ini di SMA Bakti Yudha tampak gempar, karena kedatangan murid baru yang begitu menyita perhatian. Sejak turun dari mobil yang mengantarkannya, siswa lelaki dengan paras tampan itu sudah menyita perhatian banyak murid yang melihatnya.
__ADS_1
Arsya Gavin Ainsley Grisham. Ya, dia baru saja pindah sekolah, setelah menghabiskan masa kecilnya di negara A bersama dengan sang kakek –Andrew Grisham– sejak kejadian penculikan beberapa tahun lalu.
Ini alasan gue gak mau berangkat sama dia. Gue enggak mau kerepotan gara-gara cewek-cewek centil yang mau ngedeketin batu es itu, batin Isha sambil menatap sekitar yang dipenuhi oleh berbagai tatapan yang sedang menyoroti sang kakak.
"Sha, liat tuh ada cowok ganteng banget. Emang gak salah gue masuk sekolah ini. Ternyata sekolah elit banyak cogannya." Seorang teman Isha tampak menggoyangkan tangan Isha walau pandangannya tampak terus tertuju pada Arsya.
Rumi. Dia adalah sahabat Isha dari SMP. Sikapnya yang cerewet, kutu buku, dan pekerja keras, membuat Isha nyaman dengan kesederhanaan Rumi. Dia lahir di keluarga sederhana. Ayahnya sudah meninggal ketika dia masih kecil, sementara ibunya seorang karyawan di salah satu kantor Agra. Rumi bisa masuk ke sekolah itu, lewat jalur beasiswa yang diadakan oleh perusahaan bagi anak-anak karyawan yang berprestasi.
Entah itu kebetulan Asha bisa berteman dengan Rumi, atau ada sesuatu di belakangnya. Isha tidak pernah peduli. Yang penting dia sudah nyaman dengan Rumi. Itu saja cukup membuatnya bertahan dengan segala kecerobohan gadis sederhana itu.
"Ck! Ganteng dari mana sih? Gue liat dia biasa aja tuh." Isha mencebik kesal sambil mulai melangkahkan kakinya menuju kelasnya, meningalkan Rumi yang masih asik memandangi wajah rupawan Arsya dari kejauhan.
"Buset dah, beruntung banget ya yang bisa jadi pacarnya. Bisa deket sama cogan saban waktu," gumam Rumi. Kepalanya menggeleng lemah, seolah sedang meratapi nasibnya yang tidak akan pernah bisa meraih lelaki sempurna seperti Arsya.
"Astaga! Dia masih diem di sana aja. Rumi-Rumi.... " Isha terpaksa kembali lalu menarik paksa tangan sahabatnya agar tidak lagi larut dalam pesona kakaknya.
"Lo mau kita dihukum di hari pertama sekolah cuma gara-gara cowok gak jelas kayak dia?" gerutu Isha sambil terus menyeret Rumi.
"Liat cogan di pagi hari itu baik tau, bisa buat kita semangat. Lo gak tau aja," Rumi mencebik malas, walau dia juga tak menolak ajakan Isha untuk segera masuk ke kelas.
"Terserah lo aja deh. Lo kan emang gak bisa liat cowok mendingan dikit," pasrah Isha.
"Gue itu lagi menikmati hidup, Sha. Salah satunya ya, menikmati keindahan para cogan, hahaha!" Tawa Rubi terdengar renyah.
"Iya-iya, terserah lo aja deh." Percakapan keduanya baru terhenti ketika mereka sudah berada di depan kelas.
...🦅...
Arsya tak perduli dengan teriakan centil para siswi SMA Bakti Yudha yang terpesona oleh ketampanannya. Dia bahkan merasa risih dan menganggap para siswi di sini terlalu berlebihan. Padahal selama dirinya di negara A, tidak ada yang pernah mendekatinya apa lagI memuji ketampanannya. Mereka lebih acuh.
Dia melangkah meyusuri koridor sekolah dengan tenang dan acuh. Namun, langkahnya tiba-tiba harus terhenti ketika seseorang tak sengaja menabrak pundaknya saat sedang bercanda dengan temannya.
"Maaf-maaf, gue gak sengaja," ujar siswa lelaki itu sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.
Agra menatap wajah siswa yang menabraknya. Wajahnya terlihat cantik dan lembut walau dia adalah laki-laki. Inilah yang disebut lelaki cantik yang sesungguhnya. Bentuk tubuh yang kecil dengan bahu sempit, membuatnya akan sangat sempurna jika menjadi seorang gadis.
__ADS_1
"Gavin? Lo, Gavin kan?"
...🦅Hai, masih ada yang setia sama cerita Agra dan Black Eagle? Yuk komen, nanti aku lanjut lagi😊...