Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
MS2-Bab18 Canggung


__ADS_3

Shania diam-diam melirik Arsya yang tengah menenangkan Dikta. Ada perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba hinggap dalam hatinya. Apa lagi ketika dia melihat Cakra dan Fahri pergi lebih dulu, setelah berdebat dengan Dikta. Bayangan akan perbincangannya dengan Dikta di perpustakaan, kembali berputar diingatan.


Flashback


"Ngapain sih lo pake mau ikutan masuk Atropos? Lo itu, cewek ... tau gak?" cecar Dikta begitu cowok itu berdiri di depannya. Mereka memang sudah memiliki janji untuk bertemu di perpustakaan sekolah pada saat istirahat kedua.


"Lo kan udah tau, kalau itu emang keinginan gue dari lama. Cuma, selama ini gue belum dapet geng motor yang cocok aja," jawab Shania dengan wajah yakin. Walau, tak dapat dipungkiri, jika iris matanya sedikit goyah, saat melihat tatapan tajam Dikta yang terus menerus menyorotnya.


"Lo gak mikir, gimana nanti reaksi orang tua lo kalau tau anaknya masuk geng motor? Bisa-bisa lo langsung di kirim ke luar negeri-" Dikta mendesah prustasi. Keduanya memang teman sejak kecil, bahkan rumah mereka pun bertetangga.


Dikta jelas tahu watak Shania yang keras, berani, dan tomboy, sejak kecil cewek itu sudah tertarik dengan bela diri dan berbagai otomotif, khusunya motor. Namun, karena kedua orang tuanya yang selalu membatasi pergerakannya, membuat Shania tidak pernah benar-benar menekuni hobinya itu.


Semua itu, sangat berbeda darinya yang hanya fokus pada pelajaran, tanpa pernah perduli pada sekelilingnya. Kesehariannya hanya berteman dengan berbagai jenis buku dan setumpuk soal yang terus berulang dia pelajari.


Perundungan, sudah menjadi makanan sehari-harinya. Sering kali Shania lah yang menjadi penolongnya, ketika ada anak brandal yang mengganggunya. Itu lah saat di mana, Dikta dan Shani semakin akrab sekitar sepuluh tahun lalu, hingga sekarang.


"Ya, jangan sampai bokap sama nyokap gue tau lah. Gue yakin, kalau lo gak bilang, mereka juga gak bakalan tahu." Shania berdecak malas sambil membuang mukanya, seolah pembahasan tentang kedua orang tuanya adalah sesuatu yang tidak menyenangkan.


"Mereka hanya memperhatikan pekerjaan. Mana ada waktu buat ngawasin gue," sambung Shania, dengan suara yang lebih lirih. Ada gurat kekesalan dan kekecewaan yang kental di raut wajahnya.


Dikta hanya mengehembuskan napas pelan. Bimbang tiba-tiba menyelimuti hatinya. Satu sisi, dia tidak mau sampai Shania masuk Atropos geng dan bergelut dengan bahaya, ditambah dia juga tidak mau kalau sampai Shania akan menerima hukuman dari kedua orang tuanya, jika sampai ketahuan menjadi anggota geng motor. Namun, satu sisi hatinya malah dengan kurang ajar, mengharapkan kehadiran Shania di dalam Atropos. Dengan begitu, dia bisa lebih dekat dengan Shania dan memudahkannya untuk mengawasi sahabat kecilnya itu.


Ya, hanya sahabat. Cukup sahabat. Setidaknya sampai saat ini. Gue berharap gak akan ada perasaan spesial antara gue dan lo, yang akan membuat kita ccanggung dan menghancurkan persahabatan ini, batin Dikta.


"Untuk kali ini, biarin gue menang ya, Dik. Pliis...." Shania masih mencoba untuk merayu Dikta. Walau dirinya lebih lama bermain dengan motor, tetapi setelah bergabung dengan Atropos geng, Dikta bukan lagi sosok cowok yang bisa dia remehkan.


Cukup lama Dikta terdiam. Matanya menatap lekat wajah sang sahabat yang masih memohon padanya. Hingga akhirnya dia meringis sambil menjawab permohonan Shania. "Untuk kali ini kayaknya gue gak bisa. Sorry, Shan."


Shania mencebik kesal, dia hampir saja memukul Dikta untuk melampiaskan kekesalannya, ketika lebih dulu tangan cowok itu menceganghnya sambil berujar kembali.


"Gimana kalau kita bikin taruhan aja?" tanya Dikta, mencoba meredam kemarahan sang sahabat.

__ADS_1


"Taruhan?" Shania tampak mengerutkan keningnya.


"Heem. Jadi, kalau lo menang, lo bukan cuma memiliki peluang buat masuk jadi anggota Atropos, tapi gue juga bakalan kabulin satu permintaan lo. Tapi, kalau gue menang, lo juga harus kabulin satu permintaan gue. Gimana? Ini udah cukup buat lo lebih termotifasi buat menang 'kan?" Dikta menatap lurus iris mata Shania.


"Lo yakin banget ya bakalan menang dari gue? Lo lagi ngeremehin gue 'kan?" Shania menatap curiga Dikta. Matanya memicing, menelisik apa yang mungkin dipikirkan oleh cowok di depannya.


"Jadi sekarang lo yang gak yakin bakal menang dari gue?" tantang Dikta. Senyum tipis yang terlihat menyebalkan di mata Shania pun terlihat jelas di wajahnya.


"Enak aja ... gak ada kata kalah dalam kamus gue. Oke, kalau gitu ayo kita taruhan. Gue yakin gue bakalan menang dari lo." Shania mengangguk yakin. Dia bersikap congkak di depan Dikta, walau tak dapat dia pungkiri jika resah pun mulai menggelayuti hatinya.


Flashback off


"Jadi gue beneran udah resmi jadi anggota Atropos, sekarang?" tanya riang Shania saat Vareen memberi selamat padanya. Matanya tampak melirik Arsya dan Dikta yang berdiri di belakang Vareen dengan tatapan rumit.


"Ya. Atropos gak pernah melanggar janjinya. Karena lo udah menang dari Dikta, jadi sekarang lo udah resmi jadi bagian dari Atropos geng," angguk Vareen, sambil tersenyum hangat.


"Tapi, gimana sama Cakra? Kayaknya tadi dia gak suka kalau gue menang," bisik Shania pada Vareen. Masih ada rasa mengganjal di dalam hati, akan kejadian tadi.


"Itu udah beres kok. Lo santai aja." Dikta menyahut sambil berjalan hingga berdiri sejajar dengan Vareen. Senyum tipis terlihat menghiasi wajah cowok itu.


"Oohh...." Shania hanya mengangguk-anggukan kepalanya, ketika mendengar jawaban Dikta. Matanya kembali menatap Arsya yang masih tampak diam dengan wajah datarnya.


"Selamat ya, Shan." Beberapa saat kemudian, Shania teralihkan kembali katika Isha dan Rumi mengucapkan selamat untuknya. Ketiga itu tampak larut dalam obrolan para gadis.


"Udah gelap, mending lo bertiga pulang. Gak bagus buat cewek keliaran malem-malem begini," ujar Dikta sambil mengedarkan pandanganya, melihat langit yang sudah berubah warna menjadi kehitaman.


"Iya." Isha menyahut sambil mendongak, lalu kembali menegakkan kepanya dan menatap semua orang yang ada di sana bergantian, sambil berpamitan. "Kalau gitu kita berdua pulang duluan aja."


"Mau kita anterin dulu, gak? Ini udah malem lho, Sha," tawar Vareen.


"Gak usah. Gue sama Isha naik taksi aja. Iya kan, Sha?" Rumi langsung menolak. Tak sengaja matanya menatap iris hitam kelam milik Arsya yang sejak tadi tampak memperhatikannya. Tentu saja, semua itu membuat Rumi tidak nyaman dan salah tingkah.

__ADS_1


"Ya udah, kita temenin kalian nunggu taksi di depan," ujar Arsya setelah sejak tadi hanya terus memperhatikan para temannya berinteraksi.


Mereka pun bersama-sama menuju ke parkiran, lalu menemani Isha dan Rumi menunggu taksi. Namun, karena itu waktu sibuk, ternyata tidak ada taksi online yang bisa dipesan. Bahkan taksi biasa pun tak ada yang kosong.


"Mending kita anterin aja deh, susah kalau pesen taksi di jam sibuk begini," saran Vareen setelah hampir tiga puluh menit mereka menunggu, tetapi tidak ada satu pun taksi yang menerima pesanan dari Isha.


"Ya udah deh," putus Isha yang juga sudah mendapat notif pesan dari sang ibu, yang menayakan kapan dia akan pulang.


"Kakak bisa ngaterin gue, kan?" sambung Isha lagi pada Vareen. Matanya sedikit melirik Arsya yang tengah menatapanya tajam.


"Bisa dong. Ayo naik," jawab Vareen dengan senyum sumringahnya.


Isha tak menanggapi tatapan tajam Arsya. Dia malah langsung beranjak naik ke atas motor Vareen.


"Rum, gue duluan ya," ujar Isha yang juga mendapat tatapan protes dari sahabatnya.


"Gue pulang bareng Shania. Kebetulan rumah kita satu arah," ujar Dikta langsung, ketika Arsya tampak menatapnya. Cowok itu tampak memberikan isyarat pada Shania agar tak menolak ucapannya.


"I-iya. Gue bareng sama Dikta aja," angguk Shania. Keduanya tampak sudah bersiap di motor masing-masing.


"Lo bisa anterin Rumi sendiri kan, Ar? Bukannya lo juga udah tau rumahnya?" tanya Vareen yang sudah bersiap untuk segera pergi, dengan Isha di belakangnya.


Arsya mengangguk.


"Kalau gitu kita duluan ya," pamit Vareen.


Sementara itu, Isha dan Rumi masih saja beradu argumen melalui sorot mata keduanya. Sebelum akhirnya Rumi mengiyakan ucapan Vareen dan ikut berpamitan.


"Kita juga duluan ya, Ar. Sampai jumpa besok di sekolah," ujar Dikta dan Shania yang masih terlihat canggung, oleh status barunya.


Kini, tinggalah Arsya dan Rumi berdua yang bahkan enggan untuk saling bertatap mata. Arsya menghembuskan napas pelan. Situasi ini yang terasa begitu awkward. Entah karena alasan apa? Dia juga tidak tahu pastinya. Namun, satu yang pasti, ini adalah kali pertamnya Arsya tak tahu apa yang akan dilakukan di depan seorang cewek.

__ADS_1


Sialan!


...🦅Ramaikan dengan like, komen, dan minta update ya...


__ADS_2