
...Happy Reading...
...🦅...
Agra mengikuti setiap langkah gadis kecilnya itu, di tangannya terdapat sebuah bunga dan air mawar yang tadi sempat ia beli dari pedagang di pintu masuk makam.
beberapa waktu kemudian, keduanya sudah berdiri di samping sebuah makam bertuliskan nama kedua orang tua Alisya.
Lelaki itu tampak memperhatikan wajah sendu gadis kecilnya.
Alisya berjongkok di antara kedua makam, tangannya terulur mengusap nama yang tertulis di atas batu nisan tersebut.
''Mah, Pah, aku datang. Maaf, sudah lama sekali aku tidak mengunjungi kalian berdua.''
Satu tetes air mata sudah jatuh membasahi pipi merah gadis itu.
Agra ikut berjongkok di samping Alisya, tangannya mengusap punggung bergetar gadis itu.
Dalam hati ia berjanji untuk menjaga Alisya dan membantu merebut kembali harta warisan yang sudah seharusnya menjadi milik gadis kecilnya.
Melihat Alisya dalam keadaan terpuruk seperti itu, membuat darah lelaki itu berdesir, haus akan korban.
''Om, Tante, perkenalkan nama saya Agra Leonardo Grissham-,'' Agra menjeda kalimatnya.
Alisya menatap Agra dengan kening berkerut.
'Mau apa dia?' tanya gadis itu dalam hati'
'Sagara Ainsley, anak dari Gerald dan Viana Ainsley,' lanjut lelaki itu dalam hati.
''Mulai sekarang aku berjanji akan selalu menjaga Alisya dengan segenap jiwa dan ragaku, aku juga akan mencoba mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hak anak kalian.''
Agra berucap mantap penuh keyakianan. Tatapannya terlihat teduh dan lembut, itu semua membuat Alisya mematung melihat perubahan yang lelaki di sampingnya itu tunjukan.
'Ada apa dengannya? Kenapa dia terliha berbeda sekali?' gumam Alisya dalam hati.
Beberapa menit mereka berdiam diri di tempat yang sama, memanjatkan doa untuk orang yang keduanya kujungi dalam hati masing-masing.
Awan hitam terlihat sudah berkumpul, menandakan hujan sebentar lagi akan segera turun.
''Sebaiknya kita segera kembali, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan,'' ucap Agra, wajahnya menengadah melihat langit yang mulai menghitam.
Alisya mengalihkan perhatiannya kepada lelaki yang kini sudah berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu dirinya.
menyambut tangan Agra, lalu berdiri di samping lelaki itu. Pandangannya mengedar melihat sekitar makam yang sudah terasa sepi, dengan awan mendung menghiasi langit kala itu.
Terpaan angin yang terasa dingin kini menyentuh tubuh, membuat ia sedikit merapatkan kardigannya, untuk menutupi kaos pendek yang gadis itu pakai.
Berjalan beriringan dengan Agra, untuk keluar dari area parkir menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari pintu masuk.
Tak seperti tadi, sekarang lelaki itu tampak memperlambat jalannya, untuk mensejajarkan langkah mereka berdua.
Rintik gerimis yang mulai turun, mengiringi langkah dua sejoli itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu bilang kayak gitu tadi?" tanya Alisya saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
"Bilang apa?" Agra mengerutkan kening , melihat Alisya penuh tanya.
"Janji yang kamu katakan di depan makam kedua orang tuaku," jawab Alisya, dia memberanikan diri untuk melihat mata lelaki di sampingnya.
"Oh itu, aku memang akan menjagamu, sama seperti selama ini." Agra menjawab sambil melirik sekilas pada Alisya, karena dirinya sudah dalam keadaan menyetir kembali.
Gadis itu mengangguk-aggukan kepalanya. Tetapi, di dalam hatinya ada sesuatu yang terasa perih seperti tersayat.
Entah di bagian mana dari perkataan Agra yang membuat hatinya terasa sakit, Alisya juga tidak tau, atau mungkin tidak ingin tau.
Sepanjang perjalanan pulang Alisya menyandarkan tubuhnya pada kaca mobil, menatap ke luar dengan tangan bersidekap dada.
'Ada apa dengan diriku, kenapa aku berharap jawaban lain darinya?' gumam Alisya dalam hati.
Suasana kota yang mulai lengang membuat Agra dengan leluasa menyetir.
Drrtt ... drrtt ....
Getar ponsel milik Agra yang tergeletak di antara mereka mengalihkan perhatian keduanya.
Lelaki itu tampak memasangkan earphone lalu menggeser ikon hijau di layar benda pipih itu.
"Ada apa?" tanyanya, tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
Alisya bisa melihat perubahan di wajah tampan lelaki itu, ia tau yang di kabarin pasti sangat penting, karena itu telepon dari Edo.
Alisya hanya mengangguk, tanpa bertanya apapun.
Beberapa saat kemudian, mobil yang di kendarai oleh Agra, sudah berhenti di area parkir khusus kantor tersebut.
Edo sudah terlihat berjalan dari pintu lift untuk menyambut kedatangan tuannya.
"Sejak kapan mereka datang ke sini?" tanya Agra di sela langkah mereka.
"Sejak beberapa jam yang lalu, Tuan. Kami sudah memberi tahu kalau Anda tidak ada di kantor. Tapi, mereka tetap bersikukuh untuk menunggu kedatangan, Anda." jelas Edo.
Alisya hanya terdiam, mendengarkan setiap perkataan dari kedua lelaki itu, tanpa mengerti siapa orang yang sedang mereka bicarakan.
"Berani juga mereka datang ke kantorku!" geram Agra dengan seringai tipis di ujung bibirnya.
Ting ...
Lift terbuka tepat di lantai paling atas gedung, Agra dan Edo langsung melangkah ke luar, sedangkan Alisya terdiam, menatap bingung ruangan yang belum pernah ia datangi sebelumnya. Padahal sudah cukup lama ia bekerja di kantor ini.
Agra mengerinyit ketika merasa ada yang kurang.
"Kenapa kamu masih berdiri di sana?" tanya Agra, berbalik melihat Alisya, tangannya menahan pintu lift agar tidak tertutup.
"A-aku tidak pantas menginjakan kaki di sini, apa kata orang nanti kalau tau aku datang ke kantor dengan kamu?" ucap Alisya.
Gadis itu baru terpikir, bahwa bisa saja kedatangannya ke tempat ini bersama dengan Agra, mampu menimbulkan berita tidak baik, baginya ataupun lelaki itu.
__ADS_1
Walau bagaimana pun, dirinya sudah pernah bekerja di kantor ini, bahkan sampai sekarang ia belum mengundurkan diri secara resmi.
Namun, sekarang setelah dua minggu ini dirinya menghilang, tiba-tiba datang bersama dengan wakil presdir. Apakah itu tidak akan menjadi pertanyaan bagi karyawan di perusahaan itu.
"Lebih baik aku kembali ke parkiran saja, aku tunggu di sana saja, ya?" usul Alisya.
"Tidak! Yang bisa mengatakan pantas atau tidak pantasnya seseorang datang ke sini, hanya aku. Kamu tidak perlu mendengarkan perkataan yang lain. Bila aku bilang ikut, maka kamu juga harus ikut denganku!" ucap Tegas Agra, tanpa ingin menerima bantahan.
Alisya menundukan kepala, lalu mengangguk samar, mata indahnya tampak mengedar melihat ke sekitarnya, memastikan tidak ada orang yang ia kenal.
Sebelum melangkah ia melihat kembali baju yang ia pakai. Saat ini dirinya hanya memakai kaos pendek dengan balutan kardigan rajut, dan celana jeans panjang.
Meringis merasa sangat malu dengan penampilannya saat ini.
"Ayo, jangan lihat sekitarmu, cukup lihat saja aku," ucap Agra meraih tangan gadis itu dan membawanya berjalan bersama.
Alisya berusaha melepaskan genggaman tangan Agra. Tetapi, genggaman tangan lelaki itu malah semakin mengencang.
Edo menyunggingkan senyum tipis, melihat Agra yang sudah semakin menunjukan kepemilikannya atas gadis itu.
Alisya semakin menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya, dari tatapan penuh tanya para karyawan yang bertugas di lantai tersebut.
Edo yang berjalan di belakang keduanya, langsung memberikan kode pada semua yang melihat Agra saat ini, untuk diam dan menundukan kepala.
Para karyawan yang melihat tatapan tajam asisten pribadi Agra itu, langsung menutup mulut dan menundukan kepala, takut.
Mereka semua tau, bahwa Edo adalah pemilik tahta kekuasaan ketiga setelah Andrew dan Agra di perusahaan itu.
Lelaki itu juga lebih tegas dan menyeramkan di bandingkan bos mereka sendiri.
"Kamu bisa menyuruh mereka kemari," ucap Agra setelah dia duduk di kursi kebesarannya.
"Lebih baik aku pergi saja ya, tidak enak nanti sama tamu kamu."
Alisya tampak gelisah, ia takut akan mempermalukan Agra di hadapan para tamunya.
"Tidak usah, mereka juga pasti mau bertemu denganmu. Jadi, lebih baik kamu tetap duduk di sana."
Agra tampak meraih berkas yang berada di atas meja kerjanya, membacanya tanpa melihat Alisya kembali.
Gadis itu hanya duduk terdiam, bingung mau mengerjakan apa. Dalam hati ia bertanya siapa tamu yang mau bertemu juga dengannya.
Dia menganggap perkataan Agra barusan hanyalah sebuah omong kosong saja. Hingga beberapa saat kemudian, dirinya dibuat terkejut dengan kedatangan seseorang yang sangat ia kenal.
"Om Bima?"
...🦅...
...🦅...
...TBC...
...🙏😊🥰...
__ADS_1