
...Happy Reading...
...❤...
Suara sepatu yang bertebaran dengan lantai marmer terdengar begitu tegas dan berirama, Agra dan Edo baru saja sampai di markas setelah menerima laporan dari Max, tentang hasil interogasinya tadi malam, dari ketua para penguntit yang kemarin mengikuti Agra dan Edo.
Ternyata cukup mudah mendapatkan informasi dari orang itu, tekanan yang diberikan Agra sewaktu menembak para anak buahnya, membuatnya berpikir dua kali untuk melawan saat di sekap.
Max langsung menyalakan sebuah layar di depan mereka setelah ketiganya berada di ruang rapat, menunjukkan potongan-potongan cuplikan penyiksaan dan pengakuan lelaki itu.
Agra menyeringai melihat semua video itu, entah apa yang dipikirkan oleh lelaki itu, tidak ada yang tahu.
Edo dan Max yang berada di sana sempat bergidik melihat semua itu, seringai yang ditampilkan oleh Agra seperti menjadi tanda bahaya untuk para musuh mereka.
“Ternyata mereka sudah cukup berani untuk bertindak lebih lanjut?” gumamnya. Satu tangannya bertengger di dagu, dengan ujung jari mengusap bibir bagian bawahnya.
“Baiklah, kita nikmati dulu, sampai di mana mereka berusaha untuk melawanku,” sambungnya lagi. Menegakkan badan dan kembali berdiri diiringi oleh kedua kepercayaannya.
Tak ada yang berani menjawab perkataan Agra, mereka berdua bungkam tak berani mengeluarkan suara.
“Perketat penjagaan di sekitar rumah besar, dan apartemen, tambahkan juga pengawal untuk Alisya, Mama dan Kak Andini. Jangan sampai mereka menyentuh keluargaku!” tekan Agra, memberi perintah kepada kedua orang di belakangnya.
“Baik, Tuan!” jawab mereka bersamaan.
“Aku tunggu laporan selanjutnya,” ucap Agra, sebelum lelaki itu kembali melangkah keluar.
Edo mengikuti Agra menuju taman bagian belakang, sedangkan Max langsung berpisah untuk memberi instruksi kepada anak buahnya, sesuai perintah sang ketua.
“Lion,” panggil Agra, setelah dia berada di sebuah kandang singa.
Sudah lama dia tak mengunjungi peliharaannya itu, ternyata cukup memberikan rasa rindu untuknya.
Mendengar suara sang tuan, singa bertubuh besar itu langsung terbangun dari posisi berbaring, berjalan menghampiri Agra dan Edo, seperti seekor kucing manis.
Agra tersenyum tipis, hingga bibirnya tertarik lurus, mengusap puncak kepala hewan di sampingnya, yang sedang menggesek-gesekkan tubuhnya pada kaki Agra.
“Kau rindu padaku, hem?” tanya Agra, bagikan pada seorang bocah kecil.
Cukup lama Agra menghabiskan waktu bermain bersama Lion, hingga dering ponsel mengalihkan perhatiannya.
Mendengus samar saat melihat nomor Andrew di layar ponselnya.
“Ada apa, Dad?” tanpa ada sapaan terlebih dahulu, Agra langsung menodong ayah angkatnya itu dengan pertanyaan.
“Kau di mana? Aku ada di kantor, cepatlah datang!” Agra sedikit menjauhkan telinganya, mendengar ocehan dari Andrew.
Baiklah, dia memang tak akan menghubungi Agra jika bukan soal pekerjaan bukan. Jadi, iyakan saja.
“Baik, Dad!” ucapnya, lalu mematikan sambungan telepon begitu saja.
Membersihkan diri dan mengganti baju dengan yang baru, sebelum pergi ke kantor. Ia tidak mungkin menggunakan baju lama, karena sudah terlanjur bau amis darah.
__ADS_1
Ya, tadi dia sempat memberikan makanan berupa daging segar kepada Lion. Tentunya bukan daging hewan, melainkan tawanan yang sudah memberikannya informasi.
Cukup terhibur juga ternyata, bermain kejar tangkap bersama dengan Lion.
Flash back
“Bawa dia ke mari, biarkan dia bermain dengan Lion!” titahnya pada Max yang baru saja menyusulnya.
Beberapa saat kemudian, Max datang dengan seseorang yang kemarin sore menguntit tuannya.
Agra meneliti kondisi lelaki itu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tidak buruk, hanya beberapa bekas sayatan dan cambukan, tetapi, masih bisa berjalan.
“Masukkan dia,” perintahnya lagi.
Lelaki itu tampak menatap Agra dengan wajah pucat dan mata yang membola tak percaya. Pasalnya sekarang ini dirinya sedang berada di pintu kandang singa, sedangkan Agra berada di dalam bersama singa itu sendiri.
“A–aku ti–tidak mau! Tolong ampunilah aku, aku sudah mengatakan semua yang aku tahu pada kalian!” ucap panik lelaki itu, tubuhnya menggeliat, meronta dan memberontak sekuat tenaga agar terlepas dari cekalan dua orang lelaki di sampingnya.
Namun, ternyata efek dari penyiksaan kemarin cukup besar bagi tubuhnya, tenaganya seakan habis tak bersisa.
Bruk
Lelaki itu terjatuh tepat di depan Agra dan Lion. Singa itu langsung menggeram saat bau mangsanya tercium.
Tubuh penuh luka itu menggigil, wajahnya semakin pias, saat melihat muka Lion tepat di depannya.
Lion mengendus aroma darah yang keluar dari mangsa di depannya, taring dan kakunya langsung keluar dan bersiap untuk mencabik tubuh lemah itu.
Lion langsung mengalihkan pandangannya pada sang tuan, ekornya bergoyang cepat, seolah begitu bersemangat.
“Kau suka dengan rencanaku? Baiklah mari kita mulai,” ucap Agra lagi, bagaikan sedang mengajak seorang anak bermain.
“Larilah sekuat apa yang kamu bisa, coba selamatkan dirimu, dan lawan Lion semampumu. Bila kau berhasil mengalahkannya aku akan melepaskanmu!” ucap Agra, pada lelaki yang kini bersimpuh di depannya.
Deg
Menggeleng cepat, bagaimana dirinya bisa berlari dengan kondisi tubuh seperti ini, sedangkan berjalan pun rasanya sangat berat.
“A–ampunilah aku, Tuan. Jangan lakukan itu!” raungnya, menangis memohon ampun kepada orang yang kemarin dia ikuti.
“Bersiaplah Lion, aku akan mulai menghitung,” tak menghiraukan perkataan korbannya, Agra memilih berbicara dengan Lion.
“Satu.”
Lelaki itu mulai waspada, dia bangkit dan berjalan menjauh.
“Dua.”
Terus menjauh, sambil mencari senjata untuk melawan.
Agra menyeringai, mata tajamnya tak pernah lepas dari tubuh korbannya. Begitu juga Lion, singa itu sudah bersiap mengejar dengan air libur yang menetes.
__ADS_1
“Go!” seru Agra, menandakan Lion sudah bisa mengejar mangsanya.
Agra duduk di salah satu batang kayu besar, menikmati pertunjukan yang baru saja dimulai.
Kandang yang teramat besar itu, membuat aksi kejar-kejaran cukup menegangkan, ternyata seseorang bisa berubah menjadi lebih kuat, bila sedang dalam keadaan terancam.
Itulah yang sekarang Agra lihat dari lelaki penguntit itu.
Dia bagaikan seorang yang sehat tanpa ada luka, berusaha sekuat tenaga untuk berlari dan melawan Lion.
Sebuah tongkat yang dia patahkan dari pohon yang tumbuh di sana, dijadikan senjata untuk melawan.
Namun, tak semudah itu untuk melukai tubuh berbulu itu, gerakannya yang gesit dan badan yang cukup berat saat hewan itu menindihnya, cukup membuatnya kewalahan.
Agra tersenyum, menikmati setiap jeritan kata ampun dan permohonan, agar diberikan kehidupan.
Lion pun seperti tau apa yang tuannya itu inginkan, dia terus bermain, membiarkan mangsanya ketakutan dan kesakitan tanpa benar-benar membunuhnya.
'Astaga, majikan dan peliharaan, sama sikopatnya,' gumam Edo dan Max dalam hati.
Hah, sungguh sangat menyenangkan melihat orang yang melawannya begitu sengsara sekarang. Mungkin begitulah perasaan Agra saat ini.
Darah dari goresan kuku Lion yang mengenai tubuh lelaki itu tercecer mengotori hampir seluruh kandang, hingga terkadang mengenai tubuh Agra.
Tak maslah, ini adalah suatu kesenangan sendiri untuknya. Berlumur darah, tentu sudah biasa baginya.
Para anggota Black Eagle yang menonton dari luar, bergidik ngeri, melihat betapa brutalnya Lion mengejar lelaki itu.
"Lion, sisakan kepalanya, itu akan aku jadikan hadiah untuk mereka!" titah Agra.
Setelah satu jam berlalu, kini Lion tengah menikmati makan besar yang dipersembahkan oleh tuannya.
Flash back off
Misi-misi aku mau promosi lagi ya, kali ini datang dari karya keren milik teman literasi aku. yuk pada mampir dan ramaikan, jangan lupa kasih dukungan juga😊
Judul: ~ BAD WIFE ~
Author: oktiyan_ghassani.
BLURB.
"Sudahlah, pergi! jangan sok suci kau. Seperti baru di pakai saja." ucap Pria itu yang baru saja melihat tubuh Hanum dengan balutan selimut berdiri, dengan mode kesakitan dan menahan sesuatu seperti mengejan. Ia menatap Hanum berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan.
Hanum masih menangis setelah ingin meraih tas, dan trolly kebersihannya. Menjadi pengganti house keeper di kamar 501 adalah awal kesengsaraan hidupnya, dan Hanum kembali bertemu dengan pria itu. Hanum bagai berada dalam roller coaster yang membuat ia tersanjung tinggi, namun dihempaskan paling terdalam.
'Jika jodoh itu adalah cerminan diri, dari pria baik aķan mendapatkan wanita baik. Mengapa aku tidak termasuk kategori seperti itu?'
...🦅...
...🦅...
__ADS_1
...TBC...