Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.28 Merayu


__ADS_3

...Happy Reading...


...πŸ¦…...


Bruk ....


Alisya terpental ke belakang, karena Agra melepaskan tangannya secara tiba-tiba.


"Aduh," gumam Alisya mengusap bagian bok*ngnya yang terasa sakit.


Melirik Agra dengan tatapan tajamnya.


"Apa?" tanya Agra memajukan dagunya.


"Tega banget sih, masa aku di biarin jatoh!" umpat Alisya.


"Oh!" Agra kembali membalikan badannya untuk membuka kulkas kembali.


Air dan buah apel yang tadi ada di tangannya sudah jatuh entah kemana, akibat dari ulah gadis aneh itu.


Alisya langsung bangun, dengan wajah yang di buat segalak mungkin.


"Oh? Cuma Oh aja?!" tanya Alisya berjalan ke depan Agra.


"Trus apa lagi?" bukannya menjawab, Agra malah bertanya kembali dengan acuh.


Mengambil air mineral dalam botol lalu meminumnya di depan Alisya.


"Ya, tolongin lah! Masa kamu liat ada cewe jatuh terus gak di tolongin!" debat Alisya.


Agra bersikap tak peduli, duduk di kursi pantry dan mulai menggigit apel di tangannya.


Alisya mendengus kasar, karena Agra tidak merespon ucapannya.


''Dasar, es batu!'' gumam Alisya, yang ternyata masih dapat di dengar dengan baik oleh Agra.


Agra langsung menoleh cepat, pada gadis yang tengah berdiri di sampingnya itu.


''Apa kamu bilang?!'' tanya Agra, tajam.


Gadis berwajah imut itu, menggeleng ribut saat menyadari apa yang sudah dia gumamkan barusan.


''Jangan banyak gaya kamu di sini, sebelum aku kehilangan kesabaran. Kamu tidak akan menyangka apa Yang bisa aku lakukan, kepada seorang gadis sepertimu!''


Alisya bergidik ngeri, mendengar suara khas lelaki tampan di depannya.


''i-iya, Tuan. Aku tau,'' Alisya memanyunkan bibirnya, kesal.


Alisya tau diri, kalau dirinya hanya tinggal menumpang di apartemen mewah itu.


Hanya saja, memang terkadang dirinya hilang kendali, saat menghadapi makhluk dingin yang sayangnya teramat tampan itu.


Bagaimana dia bisa tahan kalau tinggal dengan dua orang lelaki yang dingin. akut, seperti mereka.


''Lagian ... tumben malem-malem keluar, mana pke gelap-gelapan lagi'' sungut Alisya.

__ADS_1


''Ini rumahku, lalu apa masalahmu?'' dingin Agra.


''Ish, tidak ada yang salah sih. Tapi, karena itu aku jadi mengira kamu maling.'' sanggah Alisya.


''Jadi itu sebabnya kamu memukuliku, hah?!"


Alisya merutuki mulutnya yang sangat tidak bisa di kontrol. Kenapa juga dia selalu jadi bodoh, bila sedang berbicara dengan Agra.


''Dasar bodoh!'' geleng Agra.


Alisya hanya bisa mengelus dada mendengar umpatan, dari lelaki yang tak lain adalah penolongnya.


''Lalu kamu sendiri, sedang apa berkeliaran malam-malam begini?" tanya Agra, tajam.


"A-aku ... aku mau ambil minum," jawab Alisya.


"Terus, kenapa masih di sini?" tanya Agra, acuh.


"Ti-tidak, ini aku mau ambil minum."


Alisya gelagapan di tanya seperti itu oleh Agra. Dia langsung berjalan menuju ke tempat dispenser, untuk menuangkan air ke dalam gelas.


Setelah menyelesaikan memakan buah apelnya, Agra beranjak kembali, untuk pergi ke lantai atas. Meninggalkan Alisya yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


.


.


Waktu terus berputar tanpa terasa. Hari demi hari di lalui dengan kesibukan yang membuat kita lupa, akan panjangnya waktu yang telah kita sia-siakan.


Memberikan kejutan pada orang yang telah membuat dirinya terusir, dari rumah dan keluarganya sendiri, beberapa tahun yang lalu.


Saat ini dirinya sedang berada di kantor, setelah memberikan perintah kepada Edo untuk mengawasi Alisya di apartemen.


"Kau tau apa yang harus kamu lakukan padanya?" tanya Ezra pada asistennya, pagi tadi.


Edo mengangguk.


"Bagus, buat dia jadi secantik mungkin. Jangan sampai ada yang terlewat." pesan Agra.


"Baik, Tuan." Edo menjawab dengan mantap.


Setelah itu dirinya langsung pergi ke kantor, meninggalkan dua orang itu berdua, di apartemen miliknya.


.


"Eh, Kamu kok gak ikut pergi sama dia?" tanya Alisya, saat melihat Edo masih berada di rumah.


"Hari ini aku bertugas untuk menanimu, Nona," jawab Edo.


"Hah ... menemani aku?! Untuk apa? Biasanya ku juga sendiri, jadi tidak perlu kamu temani!"


Alisya kaget, mendengar perkataan dari asisten Agra itu.


Untuk apa dirinya di temani, bukanya dari awal, dia sudah langsung di tinggalkan sendiri di apartemen ini.

__ADS_1


Kedua lelaki itu, hanya pulang ketika waktu sudah malam dan akan pergi lagi saat waktu masih pagi.


"Aku akan mempersiapkan Nona, untuk acara nanti malam," jawab Edo.


"Acara ... nanti malam?!" Alisya mengerutkan keninggnya mendengar jawaban Edo.


"Memang ada acara apa nanti malam? Kenapa aku harus bersiap-siap?" tanya Alisya lagi.


"Nanti malam, Tuan akan menghadiri acara aniversary pernikahan salah satu kolega bisnisnya, dan Nona akan menemani Tuan untuk datang ke pesta tersebut." Edo menerangkan dengan panjang lebar, kepada gadis yang sudah tinggal di apartemen, selama lebih dari dua minggu.


"Apa?! Kenapa aku harus menemaninya?!" tanya Alisya, dengan melebarkan kedua matanya, karena terkejut.


"Karena, Anda adalah satu-satunya perempuan yang kami kenal di negara ini, dan Tuan menginginkannya."


"Aku tidak mau, buat apa aku datang ke pesta seperti itu! Lagi pula aku belum pernah menghadiri acara resmi seperti itu, sebelumnya," tolak Alisya.


"Tenang saja, Nona. Tidak akan terjadi apa-apa di sana."


"Tapi-"


"Nona, akan di lindungi langsung oleh Tuan Agra, selama berada di luar apartemen ini. Nona, hanya perlu mengikuti apa yang di perintahkan oleh Tuan."


Edo menjelaskan sekaligus merayu Alisya dengan caranya sendiri.


Bila gadis itu masih tidak mau juga, maka siap-siap saja menghadapi Agra sendiri nanti, yang akan turun tangan untuk memaksanya supaya mau ikut.


"Apa, Nona tidak kasihan melihat Tuan, datang ke pesta seperti itu sendiri, dia akan di remehkan oleh para tamu yang lain."


Lelaki itu mengilum senyumnya ketika melihat Alisya mulai simpati pada perkataannya.


Ternyata tidak sia-sia dia semalaman membaca buku tentang wanita, dia jadi bisa tau apa saja kelemahan makhluk lembut seperti Alisya.


'Bagus Edo, kamu memang cerdas,' pujinya pada diri sendiri, di dalam hati.


"Bagaiman? Kita mulai sekarang?" tanya Edo, memastikan.


Alisya akhirnya mengangguk ragu.


"Pilihan yang sangat bagus! Aku akan segera mengatur semua kebutuhan, Nona," ucap Edo.


Lelaki itu langsung meninggalkan ruang Alisya dan pergi ke kamarnya.


"Bagaimana ini? Apa merea sudah tidak mencariku lagi?" Alisya tampak berjalan tidak tenang.


Dia masih takut akan tertangkap oleh paman atau orang lelaki yang berniat menikahinya.


Padahal tidak ada yang harus dia khawatirkn, bila di sampingnya ada seorang pria yang bernama Agra.


...πŸ¦…...


...πŸ¦…...


...TBC...


Terima kasih untuk semua dukungan yang kalian berikan, itu sangat berarti untuk menyemangatiku untuk menulis kembaliπŸ™πŸ˜ŠπŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2