Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.72 Kangen


__ADS_3

 


...Happy Reading...


...🦅...


Sore hari, semua petinggi Black Eagle sudah datang dan berkumpul lagi, kecuali Max yang sudah kembali ke markas pagi tadi.


Semuanya melaporkan hasil pekerjaannya hari ini dan membawa hasil memuaskan, Agra dan Andrew sangat bangga dengan kinerja para anak buah mereka.


Edo sudah menyelesaikan urusan dengan pihak keamanan, sedangkan Ruhan sudah memastikan, kalau daerah mereka saat ini siap menghadapi penyerangan.


Disusul dengan laporan dari Max melalui sambungan video yang mengatakan kalau orang yang mereka tunggu sekarang tengah kembali ke kota itu, sudah di pastikan kabar perlawanan dari mereka, sudah sampai pada telinga kedua musuhnya.


“Baguslah, setidaknya kalau mereka menyerang besok, kita sudah siap, juga para warga yang sudah bisa kita kendalikan, untuk menekan jumlah korban,” ucap Andrew, mengakhiri acara rapat sore itu.


Keempat orang itu langsung berpisah untuk mengerjakan tugas mereka masing-masing. Agra pun kembali ke ruangan kerja bersama Edo, untuk mengecek email tentang pekerjaan kantor, yang sudah dua hari ini mereka tinggalkan.


“Tuan, Livia menghubungi salah satu anggota Black Eagle dan menitipkan pesan untuk Anda,” ujar Edo, setelah mereka berdua berada di ruang kerja.


Agra mengerutkan keningnya, Livia tidak akan menghubungi jika tidak dalam suasana genting, karena memang sudah peraturan organisasi, yang melarang mereka saling menghubungi bila sedang dalam sebuah misi.


“Ada apa?” tanya Agra, menetap Edo dengan tatapan tajam.


“Nona Alisya, ingin Anda memberi kabar kepadanya, Tuan,” jawab Edo, dengan sedikit keraguan di nada suaranya.


Agra mengerutkan keningnya, ia baru sadar kalau selama di sini tak pernah sekalipun menghubungi istrinya.


“Astaga, kenapa aku bisa sampai lupa?” decak Agra, kesal dengan dirinya sendiri.


“Ed, kamu kerjakan ini, aku akan menghubungi Alisya dulu,” ujar Agra, sebelum keluar dari ruangan itu.


“Baik, Tuan.” Hanya itu yang menjadi jawaban Edo.


‘Terbiasa hidup tanpa wanita, dia sampai lupa kalau sudah punya istri.’ Mengejek sang bos, hanya bisa dilakukan di dalam hati, mana berani Edo keluarkan langsung.


Terkekeh geli, sambil mulai menyalakan laptop di atas meja dan membuka email yang menampilkan lumayan banyak pesan masuk.


Di tempat lain, Agra baru saja sampai di kamarnya, dia langsung mencoba menghubungi istrinya dengan menggunakan panggilan video. Akan tetapi, tak ada jawaban di seberang sana, entah apa yang sedang mereka lakukan, padahal ini sudah panggilan yang ketiga kalinya.


“Katanya minta dihubungi, tapi, kenapa sekarang gak diangkat,” gerutu Agra.


Dia kemudian mencoba menghubungi nomor Livia, tak menunggu lama panggilan teleponnya langsung di jawab oleh gadis itu.


“Ya, Tuan,” sapa Livia di seberang sana.


“Li, Alisya di mana? Kenapa dia tidak menjawab teleponku?” tanya Agra langsung.


“Oh, Nona Alisya sedang bermain game bersama dengan teman-temannya. Kami berusaha menghiburnya karena sejak tadi pagi, Nona terus melamun,” jelas Livia.


Ada rasa bersalah di sudut hati Agra, karena sudah melupakan istrinya itu.


“Berikan ponselmu padanya, aku mau bicara dengannya!” titah Agra.

__ADS_1


Livia yang sejak tadi hanya memperhatikan Alisya dari jarak lumayan jauh, beranjak menghampiri ketiganya perempuan yang sedang asyik memainkan stik game.


“Nona, ada telepon dari Tuan Agra,” ujar Livia, memberikan ponselnya pada Alisya.


Senyum sumringah dari wajah manis Alisya langsung mengembang, menaruh stik game di sampingnya, tanpa mendengar suara protes kedua temannya, yang merasa kesal ditinggalkan di saat permainan sedang seru.


“Terima kasih, Livia. Aku akan menelepon di kamar, kamu teruskan permainan, jangan sampai kalah!” ujar Alisya, mengambil ponsel Livia dan berlalu menuju ke kamarnya.


Livia mengangguk, melihat ke arah dua orang perempuan yang masih sibuk memainkan stik game di tangan.


‘Sepertinya tidak terlalu buruk, lagi pula aku juga tidak punya kegiatan lain di sini.’ gumamnya dalam hati, kemudian duduk di samping kedua sahabat Alisya, lalu mulai mengambil alih permainan nonanya itu.


Sedangkan Alisya sudah masuk ke dalam kamarnya dengan ponsel di telinga.


“Sayang, maaf. Aku sangat sibuk di sini sampai tidak sempat menghubungimu.”


Suara Agra langsung terdengar begitu panik, walau lirih juga penuh penyesalan.


Alisya tersenyum, membayangkan wajah tampan suaminya, saat ini.


“Sayang, jawab aku dong, jangan diamkan aku begini!” seru Agra lagi, suaranya terdengar sedikit meninggi, walau masih terasa halus tanpa bentakan sama sekali.


Alisya semakin melebarkan senyumnya,  dia sangat rindu suara ini, suara seorang lelaki yang kini sudah menjadi suaminya. Duduk di sisi tempat tidur, menikmati suara panik sang suami, tanpa berniat untuk menjawab.


“Sayang, kita video call, ya?” ujar Agra lagi.


Hufth


Alisya menghembuskan napas kasar untuk menahan tawanya, sebelum berbicara dengan Agra.


Agra kalangan kabut, ia menyugar rambutnya,  memikirkan alasan apa yang bisa meluluhkan kemarahan istrinya.


“Sayang, kan tadi aku sudah bilang, kalau aku sibuk sekali di sini. Maaf, aku baru sempat menghubungi kamu,” sesal Agra.


“Memang ada maslah apa sih di sana, sampe kamu lupa sama aku?” cebik Alisya, sengaja mengganti panggilannya menjadi kamu.


“Ada maslah serius di sini, sayang. Sebenarnya aku cuman punya waktu sebentar buat hubungi kamu,” sesal Agra.


“Sayang, aku kangen sama kamu. Bisa gak kita video call, biar aku bisa liat wajah kamu,” rayu Agra lagi.


“Apa sesibuk itu, Kak? Terus kapan Kakak pulang?” tanya Alisya, mendengar perkataan Agra yang hanya mempunyai waktu sebentar, membuatnya merasa ingin memanfaatkan waktu yang singkat itu.


“Iya, sayang. Maaf, karena di sini memang sangat sibuk, aku ingin semuanya selesai secepatnya agar bisa cepat pulang dan bertemu lagi denganmu, sayang,” rayu Agra.


Alisya tersenyum lebar, dengan semburat warna merah di pipinya.


‘Ah, kenapa kata-katanya manis sekali?’ gumam Alisya dalam hati.


“Sayang, kamu dengar aku kan?” tanya Agra di seberang sana.


“I–iya, aku dengar,” jawab Alisya lirih.


“Kita video call ya. Aku ingin lihat wajah kamu, biar lebih semangat lagi,” tawar Agra lagi.

__ADS_1


“Iya.” Alisya menekan tombol untuk melakukan panggilan video dengan sang suami.


Tak berselang lama, wajah tampan yang terlihat lelah itu muncul di layar ponselnya, Alisya bisa melihat jejak kusut dari wajah sang suami.


Namun, senyum merekah itu langsung membuat Alisya terpesona,  juga merasa bersalah karena sikapnya yang sempat merajuk, beberapa saat yang lalu.


‘Sepertinya dia tidak bohong, terlihat sekali kalau dia sekarang sedang lelah,’ gumam Alisya dalam hati.


“Hai sayang, aku kangen banget sama kamu,” ucap Agra, melihat wajah istrinya di layar.


“Aku juga kangen banget sama, Kakak,” jawab Alisya.


Agra tersenyum, matanya tak pernah lepas dari wajah cantik istrinya, dia seakan menikmati semua itu dan memasukkannya ke dalam memori sebagai bahan penyemangat, di dalam situasi apa pun yang akan segera dia hadapi cepat atau lambat.


“Kak?” panggil Alisya, saat melihat suaminya malah memperhatikannya tanpa berkata sepatah kata pun.


“Hem?” Agra menaikkan sebelah alisnya sebagai tanda bertanya. Senyum pun tak pernah pudar dari wajahnya. Senyum yang sangat langka, mungkin hanya Alisya, perempuan yang beruntung, hingga bisa menikmati senyum tulus dari sosok Agra.


“Ada apa? Kenapa Kakak melihatku seperti itu?” tanya Alisya.


“Aku sedang menikmati wajah cantik istriku,” jawabnya asal. Walau memang benar yang dia katakan.


“Kamu tahu? Rasanya ingin sekali aku pergi dari sini sekarang juga dan menjemputmu di sana sekarang juga,” ucap Agra dengan wajah memelas.


Hufth


Menghembuskan napas berat sebelum melanjutkan perkataannya.


“Sayangnya, aku tidak bisa menutup mata dengan masalah yang terjadi di sini, karena itu menyangkut keberlangsungan hidup banyak orang,” lanjutnya sendu.


Alisya terdiam, segenting itukah situasi di sana hingga menyangkut banyak orang, tetapi, kenapa? Ada apa? Bagaimana situasi di sana? Semua itu terasa berputar di otak Alisya saat ini.


“Sayang,” Panggil Agra.


Alisya tersenyum. “Selesaikan dulu masalah di sana, aku di sini akan terus menunggu. Cepatlah datang, dan jemput aku,” ucap Alisya dengan suara lirih di kalimat terakhirnya.


Ada rasa khawatir yang kini semakin kuat, dia takut terjadi apa-apa pada Agra, mengingat kejadian pertarungan sewaktu dirinya menghadiri pesta bersama Agra waktu itu, yang membuatnya masih sedikit takut sampai sekarang.


“Iya, sayang. Aku pasti akan menjemputmu, aku janji,” ucapnya.


Obrolan itu pun terus berlangsung sampai keduanya lupa waktu, mereka baru saja mengakhirinya setelah Andrew datang ke kamar Agra untuk kembali melakukan persiapan senjata untuk besok.


...🦅...


...🦅...


...TBC...


Ada yang mau tau kisah Livia? Sekarang udah aku buat ceritanya, ya. Yuk mampir di cerita peejuangan balas dendam Livia🥰



 

__ADS_1


 


 


__ADS_2