
...Happy Reading...
...🦅...
"Ed, obati dia,aku belum mau dia mati sekarang, karena kehilangan darah," desis Agra.
Suseno belumlah meninggal, dia hanya pingsan karena tubuhnya sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit, ditambah dengan kekurangan banyak darah.
Perkataan Agra sontak membuat Roman kembali menatap Agra dengan penuh amarah. Bukannya dia mengharapkan Suseno untuk meninggal, hanya saja dia tahu kemana maksud dari pertolongan sesungguhnya yang diucapkan oleh Agra.
Ketua Black Eagle itu, mengobati hanya untuk kembali memberikan siksaan kepada mereka berdua.
Bila itu yang dimaksud oleh Agra, Roman lebih memilih agar Suseno mati saja, dari pada harus melihat ayahnya tersiksa kembali.
Agra kembali duduk di kursinya, setelah tangan berlumur darah itu di bersihkan menggunakan kain lap yang disiapkan di sana. Menatap Roman dengan seringai lebar berbalut kepuasan di raut wajahnya.
"Puas kamu, hah?! Sudah puas kamu menyiksa ayahku?!" teriak Roman. Mata merah dengan urat-urat wajah yang menonjol, menunjukan betapa murkanya Roman saat ini.
Agra terkekeh pelan, gayanya begitu santai, setelah memberikan sikasaan hingga mengakibatkan satu orang jatuh tak sadarkan diri.
Melihat Edo yang kini sudah memulai tugasnya untuk mengobati Suseno agar tak meregang nyawa terlebih dahulu. Menjahit semua luka sobekan yang dibuat oleh Agra, lalu menghentikan pendarahannya.
"Kata siapa aku puas? Aku bahkan belum mencicipi tubuhmu itu. Ini hanya sedikit syok terapi untukmu, karena di sini hidangan utamanya adalah dirimu sendiri," desis Agra begitu tajam.
Roman mematung, tubuhnya sedikit bergetar mendapati perkataan Agra yang begitu kejam itu, sebenarnya siapa yang sedang dia hadapi sekarang ini, lelaki di hadapannya seperti bukan Sagara yang dia kenal dulu. Dia tak pernah menemui sosok yang begitu kejam seperti ini, di balik seorang Sagara.
Matanya melebar, dengan rasa takut yang semakin menjadi. Meenggeleng keras menolak perkataan yang keluar dari mulut Agra.
Edo sudah selesai dengan tugasnya, lelaki itu kembali berdiri tegap di belakang Agra, setelah membersihkan diri dan membereskan peralatan medis di tempatnya lagi.
Ya, walaupun Edo bukanlah seseorang dengan lulusan sekolah kedokteran. Akan tetapi, kalau hanya memberikan jahitan dan pengobatan luka pada korban bosnya itu, dia cukup ahli.
Sebagai seorang kaki tangan ketua dari pemimpin organisasi mafia, tentu saja dia harus menguasai setidaknya ilmu pertolongan pertama pada luka sayat atau tembak, agar bisa menolong para anggota ataupun dirinya sendiri saat terluka di dalam sebuah kejadian yang tak terduga, seperti pengyerangan.
Agra tersenyum puas, atas kerja keras asistennya itu. Matanya melihat sekilas pada tubuh Suseno, lalu kembali menatap Roman dengan kilat menyeramkan.
"Kira-kira dari mana dulu aku harus memulai, tubuhmu terlihat begitu lemah membuat aku bingung ingin melukis di mana dulu," ujar Agra dengan nada jenaka.
"Ah, tidak-tidak ... jangan melukis lagi, bukankah itu akan membosankan?" ujar Agra lagi, meralat omongannya sendiri.
"A–apa maksudmu? apa yang akan kamu lakukan padaku lagi, brengsek?!" tanya Roman dengan tergagap.
Walau suaranya tinggi, tetapi, rasa takut tak bisa disembunyikan. Suaranya terdengar jelas terdengar bergetar dan gugup.
Agra mengambil sebuah katana, membukanya dari tempatnya hingga terlihat bagian tajam mengkilap, membuat siapa saja bergetar melihat kilatan cahaya di ruang temaram itu.
Roman semakin bergetar wajahnya pucat pasi melihat Agra menyusuri bagian tajam senjata khas jepang itu menggunakan ujung ibu jarinya.
"Sepertinya ini akan lebih seru, daripada senjata kecil itu, iya kan, Ed?" tanya Agra main-main, ujung matanya melihat ke arah sang asisten.
Edo hanya mengangguk, tanpa mau menanggapi pertanyaan tak penting dari tuannya itu, mau dia merespon ataupun tidak, itu tak akan merubah niat Agra.
"Akh, tolong panggilkan Leon juga, kali ini aku mau bermain dengannya, dan hubungi Nick untuk bersiap. Dia harus memberikan Lion vaksin setelah bermain, nanti," perintah Agra.
Edo mengangguk, membungkukkan tubuhnya sekilas, lalu berjalan meninggalkan tempat itu untuk menjemput hewan kesayangan tuannya, sekaligus menelepon Nick.
Agra berputar mengelilingi mantan sahabatnya itu, suara nyaring ujung katana yang beradu dengan tembok cor itu terdengar begitu mengerikan.
Agra sengaja menyertetnya, memberikan efek tekanan yang lumayan berat bagi psikis Roman.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, raungan keras dari Lion terdengar menyapa begitu dia msuk ke dalam ruangan penyiksaan itu. Agra mengangkat kepalnya, senyumnya mengembang saat melihat hewan buas itu.
Lion langsung menghampiri tuannya, menggesekkan tubuhnya pada kaki jenjang Agra,seperti seekor kucing yang sedang ingin bermanja.
"Kamu lapar, bagaimana kalau kau cicipi salah satu anggota tubuh dia?" tanya Agra pada sang peliharaan.
Seakan mengerti, Lion langsung mengendus bagian kaki dari Roman, membuat lelaki yang menjadi sasaran Agra sekarang, refleks menjauhkan kakinya dari kepala singa tersebut.
"Ah, kau mau itu rupanya, tak mau yang lain? yang lebih empuk dan enak tentunya?" tawar Agra.
Lion menatap wajah sang tuan, pandangannya tertuju pada sesuatu yang menggantung di antara kedua kaki korbannya.
"Bagaimana? Apa kau suka tawaranku?" tanya Agra lagi.
Mereka berdua layaknya sedang berklmunikasi lewat bahasa yang mungkin hanya Agra dan Lion yang tahu artinya.
Grep!
AAAA!
Tanpa melakukan ancang-ancang, Lion langsung menggigit benda berharga bagi kaum lelaki itu, mengoyaknya hingga terlepas.
Seluruh anggota Black Eagle yang berada di sana, langsung memegangi milik mereka sendiri, meringis seperti merasakan penderitaan yang dialami oleh Roman.
Rasa ngilu, kini mereka rasakan juga, saat dengan mudahnya singa itu mengunyah benda berbentuk mirip seperti teripang itu di dalam mulutnya.
Sedangkan Roman, sudah berteriak kesakitan, matanya bahkan sampai membelalak hampir keluar, saat Lion mengambil simbol dari kejantanannya dari tempatnya.
"Biadab, kau iblis terkutuk, Sagara!" raungan Roman membuat Lion tidak suka, dia langsung mengangkat kepalanya dengan raungan mengelegar tepat di depan wajah Roman.
Taring tajam berlumur darah yang keluar dari miliknya, membuat Roman refleks memundurkan kepalanya, bau amis yang keluar dari napas hewan itu membuat dirinya mual.
"Kalau kalian berdua tidak ada di hidupku, aku mungkin masih hidup normal bersama keluargaku." Agra mengangkat bahu acuh.
"Apa lagi berikutnya, Lion?" tanya Agra, beralih lagi pada sang peliharaan setianya.
Singa yang barusan aja selesai menelan semua daging berotot itu, kemudian berjalan pelan, mengelilingi Roman, dengan mata meneliti satu per satu anggota tubuhnya.
Tubuh Roman bergetar, berbagai pikiran buruk mulai menjalar di dalam kepalanya.
Srreet!
Gerakannya begitu cepat, sampai orang yang berada di sana menatap linglung, sebuah daging tebal yang kini berada di atas lantai.
Agra menyayat daging bagian dada Roman, lalu menjatuhkannya tepat di depan mulut Lion.
Tubuh Roman mengejang, merasakan sakit yang tak terkira, kepalnya mendongak ke atas, dengan mulut terbuka lebar. Suara raungan dari mulutnya terdengar merdu di telinga Agra.
"Kau suka itu?" tanya Agra.
Crrassh!
Bukh!
"Setan! Brengsek! Manusia keji!" Romanterus meraung, mengeluarkan kata-kata upatan untuk Agra, begitu melihat tangannya sudah tergeletak di atas lantai.
Crrassh!
Bukh!
__ADS_1
Kembali tangan Roman tergeletak di bawah, kemudian di susul dengan kedua kakinya.
"Manusia sepertimu tak pantas mendapatkan cinta, kamu terlalu buruk untuk semua itu!" teriakan Roman kali ini berhasil membuat amarah Agra meluap.
Dia menggenggam katana itu dengan begitu erat, untuk meredam emosinya.
"Mulut berbisamu itu memang harus segera dibungkam, agar tak mengotori telinga yang mendengarnya!" ujar Agra dengan wajah yang sudah memerah.
"Keluarkan lidahnya!" titah Agra kemudian.
Tiga anggota Black Eagle langsung berjalan mendekat, mendongakkan kepala Roman, lalu menarik lidahnya hingga keluar dari mulut.
Roman memberontak, berusaha terlepas dari para anggota Black Eagle yang memegangnya.
Agra mengayunkan kembali katana di tangan, hingga akhirnya lidah itu terputus, dan dengan teganya langsung diberikan pada Lion.
Darah keluar dari mulut Roman, kedua orang yang memegangnya sudah kembali pada posisinya masing-masing. Akhirnya air mata keluar tak bisa tertahan, mendapati satu per satu anggota tubuhnya, terlepas dan dijadikan makanan hewan peliharaan oleh Agra.
"Siram dia, biar ayah kesayangannya tahu bagaimana kondisi anaknya sekarang!" titah Agra.
Byur!
Suseno langsung membuka matanya dengan lebar saat air es kembali mengenai tubuhnya, napasnya terengah, berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Agra menyeringai, melihat sekarang Suseno tengah menatap Roman dengan wajah terkejut, bahkan air mata kedua lelaki itu jatuh dalam diam.
Hancur hati Suseno melihat anak pertama yang sangat dibanggakannya kini dalam kondisi begitu menyedihkan. Di sini mungkin dia lebih beruntung, karena setidaknya anggota tubuhnya masih utuh, sedangkan Roman, dia bahkan sudah tak bisa apa-apa.
Begitupun Roman, dia tak bisa berkata ataupun melakukan sesuatu untuk mengungkapkan isi hatinya, dia hanya menunggu ajal menjemput, dengan harapan Agra mau memberikannya secepat mungkin.
Agra membiarkan keduanya mengungkapkan perasaan, menikmati kesedihan di antara anak dan ayah di depannya.
Hingga akhirnya dengan gerakan cepat tak terduga, Agra mengayunkan Katananya sebagai akhir dari hukuman dan pembahasan dendam yang telah ia simpan sejak lama.
Crassh!
Crrassh!
Duk ... duk ... duk ....
Kedua kepala itu langsung terpisah dari tubuh masing-masing, jatuh ke lantai dan menggelinding ke sembarang arah, dengan mata membelalak.
Agra menarik napasnya dalam lalu membuangnya kasar, berakhir sudah ambisinya selama ini. Pembalasan dendam pada dalang yang telah menghancurkan hidup dan keluarganya.
Prang!
Katana di tangannya dilemparkan, kemudian berbalik untuk segera keluar, meninggalkan para anggota Black Eagle yang akan membersihkan bekas perbuatannya dan juga Lion yang masih asyik menyantap tubuh kedua pria itu.
Berjalan dengan langkah lebar, kepalanya berusaha menghilangkan semua kenangan buruk di masa lalu, selesai sudah. Kini dia tak akan lagi memikirkan semua yang sudah berlalu. Cukup hanya memikirkan rencananya dan Alisya untuk hidup bersama sampai maut memisahkan.
Ketua Black Eagle ia gunakan untuk melindungi keselamatan keluarga dan perusahaannya. Dia tahu, sebagai seorang mafia, dia tidak akan pernah bisa hidup normal, tidak bisa juga mundur, karena itu hanya akan menambah banyak bahaya di dalam hidupnya.
...🦅...
Huh! Akhirnya acara balas dendam berakhir juga. Masih mau nambah atau selesai aja nih?
Jangan di unvaf dulu ya, akan ada extra part–nya ðŸ¤
...🦅...
__ADS_1
...END...