
...Happy Reading...
...๐ฆ ...
Sampai malam hari, Agra tidak keluar lagi dari kamarnya. Alisya yang baru saja selesai menyiapkan makan malam, bingung harus bagaimana.
Mau di panggil ke kamarnya untuk makan malam, tapi takut terkena omongan pedas lagi dari lelaki es itu.
Kalau tidak di panggil, takutnya nanti dia juga yang di salahkan.
Dia berjalan bolak-balik di ujung tangga, sesekali menoleh ke atas, melihat apa sang Tuan keluar atau tidak.
"Astaga, betah sekali dia di kamarnya," umpat Alisya, menggaruk bagian kepala yang di rasa tidak gatal sama sekali.
"Aduh, bagaimana ini?!" gumam Alisya lagi, melihat ke lantai dua, namun tak jua menemukan Agra di sana.
Dia melihat jam besar yang tergantung di dinding.
Waktu sudah jam delapan malam. Tapi tak ada tanda-tanda lelaki itu akan keluar, di tambah Edo juga belum pulang.
"Ya ampun, kenapa aku bisa terjebak dengan lelaki es seperti dia," Alisya menggeram kesal, dengan posisi membelakangi tangga.
"Ish, aku sudah lapar," ucap Alisya memegang perutnya yang sudah terasa perih.
"Baiklah, aku panggil saja!" sambungnya lagi berbalik hendak melangkah menaiki tangga.
"Astaga! Sejak kapan kamu di sini, manusia es?!" kata Alisya reflek, dengan muka yang sangat kesal.
Menutup mulut dengan mata yang melotot kaget, saat dia sadar dengan ucapannya.
Agra...
Lelaki itu sudah berdiri tepat di belakang Alisya, entah sejak kapan.
'Mati aku!" umpat Alisya menutup matanya, merutuki ucapnnya sendiri.
'Sejak kapan dia berdiri di belakngku? Apa dia mendengar semua perkataanku tadi?' tanya Alisya di dalam hati.
Agra hanya berdiri dengan dua tangannya di masukan ke dalam saku.
Saat ini, lelaki es itu hanya memakai celana jeans rumahan dengan kaos tipis berwarna hitam, yang terlihat paas di badannya.
Mengangkat salah satu alisnya seakan bertanya pada Alisya, tanpa melakukan gerakan apa pun.
Mata tajamnya melihat keseluruhan tubuh gadis kecil di depannya.
"I-itu, ma-makan malam sudah siap, Tuan," ujar gugup Alisya.
Tanpa bersuara, Agra pergi menuju ke ruang makan di dekat pantry.
__ADS_1
Hufth ....
Alisya menghembuskan napas lega, melihat punggung sang Tuan yang perlahan menjauh.
"Kau mau terus berdiri di sana?"
Alisya berjingkat kaget mendengar suara perat khas seorang Agra.
"Ti-tidak, Tuan!" geleng Alisya, melihat wajah lelaki yang selalu membuatnya gugup tak karuan.
"Lalu?" tajam Agra.
"Ah, iya." Alisya langsung berjalan menuju sang Tuan untuk melayaninya dan ikut makan bersama.
'Kenapa aku selalu bersikap bodoh, jika ada di dekat lelaki es ini?" umpat Alisya dalam hati.
Berjalan mengikuti Agra sambil sedikit menunduk dan menggelengkan kepalanya.
Dalam hati, wanita itu merutuki segala sikap yang ia lakukan bila sedang berada di dekat Agra.
Malam itu, keduanya makan malam bersama tanpa adanya Edo di antara mereka.
Walau terasa sangat canggung, namun Alisya masih tetap bisa menahan rasa malu dan jengkelnya sekaligus.
Selama hidupnya, gadis yatim piatu itu belum pernah sekalipun duduk berdua bersama seorang lelaki, selain sang ayah tentunya.
Namun, sekarang yang terjadi padanya malah lebih parah. Dirinya harus tinggal bersama dua orang lelaki dan makan malam berdua.
Alisya mendengus kesal di antara suapan yang ia masukan ke dalam mulutnya, pikirannya terus saja menjelajah entah kemana, hingga sebuah suara menganggetkannya.
"Aku sudah selesai, terima kasih," ucap Agra, beranjak berdiri lalu melangkah kembali menuju ke lantai atas.
Alisya mematung melihat sang Tuan yang tidak seperti biasanya.
.
.
Di sisi lain, lebih tepatnya di kediaman besar keluarga Pranata, Bima sedang menghadapi kemarahan dari Tuan Arnold yang sedang menanyakan keberadaan Alisya.
Ini sudah dua hari sejak rencana pernikahan sang anak dan pewaris utama Prananta Jewelry itu akan di langsungkan.
Namun, semua itu harus berantakan karena sang calon pengantin wanita melarikan diri, beberapa saat sebelum acara akad akan di langsungkan.
"Kamu ini bagaimana?! Mencari satu anak gadis saja tidak bisa!" teriak Tuan Arnold pada Bima.
Lelaki paruh baya itu, merasa sudah tidak bisa bersabar lagi, menghadapi kelakuan Bima.
"Ma-maafkan saya, Tuan. Saya masih belum menemukan keponakan saya," jelas Bima, dengan wajah tertunduk dalam.
__ADS_1
Kedua tangannya mengepal kuat, hingga tanpa sadar kuku dari setiap jarinya melukai telapak tangannya sendiri.
Itu semua ia lakukan untuk meredam emosi yang ada di dalam dirinya.
Bila bukan karena takut, kepada kekuasaan lelaki kaya di depannya, Bima pasti sudah membalas semua caci maki yang di lontarkan oleh mulut Arnold.
"Dasar bod*h! Ini sudah dua hari, dan kamu belum sama sekali menemukan petunjuk tentang keberadaannya?!"
"Ma-maafkan saya, Tuan,"
"Baiklah, aku beri kamu waktu seminggu lagi, sampai pesta ulang tahun pernikahanku di langsungkan,"
"Bila sampai waktu itu kamu tetap tidak bisa menemukan keponakanmu, maka siapkan uang untuk membayar semua hutang-hutangmu!" ucap Arnold, dengan penuh ancaman di setiap katanya.
Bima mengangguk ribut.
"Ba-baik Tuan, saya pasti akan menemukannya sebelum pesta ulang tahun pernikahan, Tuan," ucap Bima.
Setelah itu, Arnold langsung pergi dari kediaman keluarga Prananta, bersama beberapa orang pengawal di belakangnya.
"Brengsek, dasar tua bangka!" umpat Bima menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, setelah mengantarkan tamunya ke depan rumah.
"Kemana sih, perginya anak si*lan itu?!"
"Gara-gara dia, kita jadi susah gini!" umpat istri dari Bima, ikut duduk di samping sang suami.
"Iyah, bikin kita repot aja, coba aja kalau semua aset keluarga Alisya bisa di cairkan, pasti kita gak perlu susah-susah mencarinya kayak gini!"
Anak dari Bima ikut mengumpat, kesal.
"Iya, aku tidak menyangka, ternyata Adrian pintar juga menjaga hartanya," ucap kesal Bima.
"Iya, sebenarnya di mana dia sembunyikan semua surat-surat aset yang mereka punya, kenapa sampai sekarang, kita tidak bisa menemukannya sama sekali?" sang istri ikut menimpali.
"Sekarang anaknya juga ikut berulah dan membuat kita pusing?" sambung sang anak.
Mereka bertiga duduk diam di satu ruangan dengan pikiran mereka masing-masing.
Di dapur, Bi Ani mengelus dadanya, lega. Dia sangat bersyukur karena sampai sekarang sang nona masih belum di temukan oleh keluarga gila harta seperti mereka.
Walaupun di dalam hati ia juga merasa khawatir, karena sampai sekarang belum ada kabar lagi Alisya.
'Semoga saja Non Alisya bersama orang baik, sekarang,' ucap Bi Ani dalam hati.
...๐ฆ ...
...๐ฆ ...
...TBC...
__ADS_1
Maaf kembali, karena saya telat up, karena ada urusan yang harus saya selesaikan, dan sedikit masalah di r**iel life membuat saya sulit meluangkan waktu menulis๐๐๐คง