Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
MS2-Bab7 Adu domba


__ADS_3

Setelah resmi berdirinya Atropos geng, kini Arsya tidak lagi ke sekolah dengan diantarkan oleh sopir. Dia akan datang menggunakan motor yang memang sudah dimilikinya selama ini.


Pagi ini, adalah pertama kalinya seluruh pentolan atropos geng datang bersama dengan menggunakan motor masing-masing ke sekolah.


Tentu saja, kedatangan mereka merebut hampir semua perhatian dari para siswa dan siswi sekolah SMA Bakti Yudha. Bahkan, beberapa guru yang baru datang pun ikut melempar pandang pada kedatangan lima murid mereka.


"Keren, gue berasa jadi artis sekarang." Vareen berseru senang, sambil melepas helemnya. Dia edarkan pandangan pada para cewek yang kini tampak menatap mereka dengan berbagai sorot mata.


"Ngapain sih mereka ngeliatin kita? Aneh." Cakra malah berdecak malas. Dia yang tidak suka mendapat perhatian tampak kesal.


"Satai, Bro. Mereka cuma penasaran aja, soalnya ini kan pertama kali kita datang bareng ke sekolah." Fahri yang melihat raut wajah masam sahabatnya mencoba untuk melerai emosi Cakra.


"Iya, apa lagi ada yang baru pertama kali paka motor ke sekolah. Gimana gak nyuri perhatian para ciwi-ciwi, coba?" Dikta melirik Arsya yang baru saja membuka helem full face-nya.


Namun, tak ada reaksi dari sang leader. Dia tampak acuh tanpa memedulikan teriakan pada murid cewek di sekitarnya.


"Bukan cuma orangnya yang nyuri perhatian. Tuh, motor yang dia bawa juga pasti bikin cewek kelepek-klepek," Vareen kembali berujar penuh semangat.


"Biarin aja mereka. Yuk masuk." Arsya memilih menaruh helmnya dan segera turun dari motor berwarna hitam yang tampak gagah, mengingat sebentar lagi bel masuk sekolah akan berbunyi.


Para anggota Atropos geng pun mengangguk sambil ikut turun dari motornya masing-masing. Namun, ketika mereka hendak meninggalkan tempat parkir, tiba-tiba ada beberapa motor yang datang dan berhenti tepat di depan mereka.


"Pindahin motor kalian! Ini tuh tempat parkir kita!" sentak seorang siswa masih dari atas motornya.


"Ini termpat parkir siswa. Siapa aja bebas nempatin. Siapa lo, ngatur-ngatur?" tanya Vareen.


Sementara itu, Arsya malah melirik tipis pada Dikta yang tampak terdiam. Ya, itu karena tiga dari mereka adalah orang yang merundungnya beberapa minggu lalu.


"Kalian gak tau siapa kita? Cih, dasar cupu!" Siswa berambut cepak dan memiliki kulit lebih gelap dibandingkan yang lainnya itu terlihat tersenyum sinis.


"Kalian pasti tahu geng motor Venus? Kita adalah anggotanya," ujar siswa berperawakan tinggi yang diketahui oleh Arsya adalah bos mereka.


Mendengar nama geng Venus, Vareen pun turut menciut. Dia yang pernah bermasalah dengan geng itu, tampak langsung mengatupkan bibirnya.

__ADS_1


"Hahaha, takut kan lo? Makanya, gak usah nyari masalah sama kita!" Siswa berambut cepak itu tertawa puas melihat mental Vareen dan Dikta yang langsung menciut.


"Wih, ada si cupu juga di sini!" Siswa tinggi yang ternyata bernama Dero itu tampak mengalihkan perhatiannya pada Dikta sambil tersenyum devil.


"Wah, mana kaca mata lo?" sambungnya lagi dengan tatapan hina.


"Cih, lo pikir dengan melepas kacamata, image cupu itu bakalan lepas gitu aja? Ck! Dasar kutu buku!" Mereka terus menjadikan Dikta sebagai sasaran.


"Ngomong apa lo? Berani lo ngehina temen gue?!" Cakra yang sejak tadi sudah menahan emosinya karena mengingat ini masih di lingkungan sekolah, kini mulai terpancing emosi.


"Udah, gak usah dipeduliin." Fahri sigap menahan tangan Cakra yang sudah hendak melemparkan tinjunya.


"Mulut lemes kayak mereka tuh harus diberi pelajaran!" Cakra tempat tak terima.


Namun, Arsya langsung mengeluarkan tanda untuk tidak menyerang. Dia yang sejak tadi hanya memperhatikan sambil bersidekap dada, kini membawa kakinya dua langkah ke depan, mendekati Dero kemudian menepuk pundaknya beberapa kali.


"Lo masih inget gue kan?" ujar Arsya sambil tersenyum tipis, yang malah membuat wajahnya terlihat kejam. Itu bukanlah senyum ramah, tetapi senyum yang terlihat mengerikan.


Tubuh Dero menegang. Dia lupa akan keberadaan Arsya di sana. Cowok yang sudah membuatnya malu karena dapat mengalahkanya hanya dalam satu gerakan.


"Gak usah sok jagoan. Kalau kalian emang bener mau adu kekuatan, gimana kalau kita tanding di atas ring? Atau ... lo mau kita tanding di lintasan?" tanyanya, dengan salah satu alis yang terangkat.


Arsya langsung menegakkan tubuhnya ketika bunyi bel tanda waktunya masuk kelas terdengar.


"Yuk, masuk. Udah bel tuh." Arsya beralih pada teman-temannya.


"Sampai ketemu di ring!" ujar Cakra yang masih geram pada Dero dan kawan-kawannya.


Mereka pun pergi begitu saja, meninggalkan Dero dan yang lainnya. Mereka terdiam mematung ketika ditantang sparing dan balapan langsung oleh Arsya. Dia sudah mengetahui bagaiamana kekuatan Arsya, lalu dia juga pernah mendengar bagaimana Vareen sering menang di balapan liar.


"Sialan! Gara-gara cowok sok itu, si cupu jadi berani sama kita," runtuk si cepak. Mereka terancam kehilangan orang untuk ditindas yang suka rela mengerjakan semua tugas sekolah.


"Kita pikirin itu nanti aja, sekarang mending cari parkiran. Bisa-bisa kita dihukum kalau gak masuk tepat waktu." Dero tampak menghembuskan napas berat dengan wajah yang frustasi. Tatapannya masih melirik Arsya dan yang lainnya.

__ADS_1


...🦅...


"Bos, ada geng baru yang berulah! Mereka menantang kita untuk tanding di ring dan di lintasan." Diro ternyata langsung melapor pada pimpinan geng Venus.


Dia tentu saja tidak mau melawan Arsya sendiri. Sudah pasti Diro akan kalah telak, menggingat keterampilan Arsya dalam bertarung. Itu sebabnya, dia memilih mengadu domba Arsya dan bosnya, agar dia bisa melihat kekalahan Arsya dan Atropos geng.


"Apa maksud lo? Ada yang berani nantang kita?" tanya lelaki dengan usia yang lebih dewasa dan memiliki bekas luka di wajahnya.


"I--iya, Bos. Mereka sudah mengibarkan bendera perang untuk kita. Sepertinya, mereka meremehkan kemampuan geng Venus." Dion masih mencoba menghasut bosnya.


"Sialan! Berani-beraninya mereka nyari masalah sama kita!" Bos Venus itu terlihat geram, dia kepalkan tangan erat.


"Siapa mereka?!" sentaknya.


"I-itu, Bos. Mereka adalah Atropos geng," jawab Diro.


"Atropos? Gue gak pernah denger nama geng itu?" Bos Diro tampak mengernyitkan kening, hingga matanya menyipit. Menatap curiga pada Diro.


"Me-mereka geng motor baru, Bos. Baru beberapa bulan terbentuk. Sepertinya, mereka memang sedang berusaha menguasai daerah kita," ujar Diro, semakin melebarkan masalah yang dibuat-buat.


"Berani banget dia cari masalah sama gue." Bos tampak semakin geram.


"Kayaknya mereka menganggap kita adalah geng motor paling lemah, makanya menjadikan kita lawan pertamanya." Diro makin menjadi.


Brak!


"Sialan! Ayo kita terima tantangan dari mereka. Gue mau, lo habisi mereka dan bawa anak-anak kurang ajar itu ke sini! Gue mau liat muka para cunguk jalanan itu!" titah sang bos.


Diro tersenyum tipis ketika melihat emosi sang bos. Dia merasa senang karena sudah berhasil mengadu domba Arsya dan bosnya.


"Baik, Bos!" jawab Diro dengan penuh semangat.


Lo udah berani cari masalah sama gue, Arsya. Jangan salahin gue kalau sebentar lagi, geng motor lo yang baru aja jadi bakal bubar dan hancur!

__ADS_1


__ADS_2