Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.35 Masa kecil


__ADS_3

...Happy Reading...


...🦅...


"Hai, Boy! Kenalin aku uncle-" Agra menjeda kalimatnya, dengan alis bertaut, merasa panggilan itu tidak terlalu bagus.


"Tidak-tidak, jangan panggil itu. Panggil aku Papa aja, ia... itu lebih bagus. Mulai sekarang panggil aku Papa. Oke, Boy?!" ucapnya lagi, dengan senyum tipis, namun terlihat tulus.


Tangannya terulur hendak bersalaman kepada keponakannya itu.


"Hai, Papa. Nama aku Rega!" celoteh anak kecil itu, dengan mimik wajah lucu.


Setelah drama lucu perkenalan antara Agra dan Rega. Saat ini semua keluarga sudah berada di meja makan, untuk melakukan santap siang, yang sudah sangat terlambat.


"Waah, ini semua Mama yang masak? Aku benar-benar rindu dengan semua masakan Mama!" ucap Agra dengan wajah penuh semangat.


Setelah acara makan siang, sekarang mereka sedang berbincang bersama di ruang keluarga.


"Kemana gadis yang kemarin bersamamu, kenapa tidak sekalian di bawa ke sini?" tanya Viana.


"Gadis! siapa?" Agra malah bertanya balik.


"Astaga anak ini, gadis yang kemarin datang ke pesta bersamamu! Sepertinya dia sangat spesial bagimu, sampai kau tidak mau mempercayakan keselamatannya pada siapapun, kecuali pada Papah?" goda Fandy.


Agra mengusap tengkuknya, tidak menyangka mereka akan bertanya tentang Alisya.


"Oh, dia-,"


"Dia, siapa?" belum sempat Agra menuntaskan perkataannya Viana langsung bertanya kembali.


"Dia hanya gadis malang yang kebetulan aku tolong dari keserakahan pamannya," ucap Agra.


"Kok bisa? Memangnya siapa dia?" tanya Gerald dengan alis bertaut.


Ya, semua orang kini fokus memandang Agra dengan penuh tanya di kepalanya.


"Kalian tahu, Prananta Jewelry bukan? Dia adalah pewaris utama dari perusahaan itu," jelas Agra.


"Jadi dia adalah anak dari pasangan Adrian Pranata dan Kinanti?" tanya Viana dengan wajah yang terlihat sangat terkejut.


"Pantas saja, sepertinya aku pernah melihat wajahnya," gumam Fandy.


"Kalian mengenal mereka?" kini giliran Agra yang bertanya.


Gerald, Viana dan Fandy mengangguk secara bersamaan.

__ADS_1


"Kinanti adalah sahabat Mama dari saat kami masih sekolah SMA. Mungkin kamu lupa karena dulu kamu masih terlalu kecil, waktu itu kita pernah tinggal berdekatan dan Kalian juga sering main bersama."


"Namun, mereka harus pindah ke rumah besar keluarga Pranata, karena orang tua Adrian kecelakaan dan butuh perawatan, sejak saat itu kalian jadi jarang bertemu."


Agra menautkan alisya mengingat masa kecilnya, yang sudah lama ia lupakan.


"Oh aku ingat! Jadi dia Ica? Yang suka ngikutin aku dan cengeng itu ya?" ucap Agra ketika ingatannya menampakkan sosok pengganggu kecil yang suka mengikutinya kemanapun.


"Nah, iya benar. Dia yang suka membuat kamu marah-marah tapi dia sendiri yang nangis dan akhirnya kamu harus menenangkannya! Hahaha ...." ucap Fandy dengan tawa mengiringi perkataannya.


Agra mendengus kesal mendengar ejekan dari kakaknya.


"Dulu kami pernah berencana untuk menjodohkan salah satu diantara kalian berdua dengan Ica. Tapi semua itu terputus begitu saja saat mereka berdua meninggal di dalam kecelakaan itu." ucap sendu Viana.


"Masih bisa, Mah! Bahkan mungkin sekarang tidak perlu ada permohonan karena kalian sudah ada hubungan, hah?" tanya Fandy menaikkan salah satu alisnya, menggoda sang adik.


"Hubungan apa? Aku tidak memiliki hubungan dengan siapapun." Agra tampak gelagapan.


Keempat orang di sekitarnya saling pandang dengan senyum penuh arti.


'Jadi kau gadis menyebalkan itu? Mataku memang tidak pernah salah mengenali seseorang,' gumam Agra dalam hati dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.


Agra baru kembali ke apartemen saat langit sudah berwarna jingga, pertanda senja telah tiba.


Dia langsung di sambut oleh seorang wanita yang sudah hampir dua minggu ini menjadi penunggu apartemen mewah miliknya.


Agra berjalan acuh tanpa memperdulikan sapaan dari Alisya.


Gadis itu tak menyerah, dia terus mengikuti langkah lelaki itu kemana pun dia melangkah.


Agra berjalan menuju dapur, untuk mengambil air minum lebih dulu sebelum masuk ke kamar.


"Ada apa?" tanya Agra di saat ia sudah ada di depan pintu kamar, tetapi Alisya masih saja mengikutinya di belakang.


"A-aku i-itu emm," gugup Alisya, karena kaget dan sedikit takut mengungkapkan keinginannya.


"Apa? Cepat katakan!" tekan Agra.


"Emm, A-apa boleh be-besok a-aku keluar sebentar?" tanya Alisya terbata, kepalanya menunduk dalam dengan tangan meremas ujung bajunya.


"Mau kemana?" bukannya menjawab, Agra malah bertanya kembali, dengan pandangan menyelidik pada gadis di hadapannya.


"Em, i-itu ... besok adalah hari ulang tahun pernikahan kedua orang tuaku. Aku ingin mengunjungi mereka," jelas Alisya.


Agra tampak terdiam, menatap terpaku dengan pandangan yang tak bisa di artikan.

__ADS_1


"Baiklah, kau boleh pergi setelah semua tugasmu selesai," ucap Agra sebelum berbalik untuk membuka pintu kamarnya dan masuk begitu saja, tanpa mau menunggu reaksi dari Alisya.


Alisya memandang nanar pintu yang sudah tertutup rapat, dengan pikiran bercabang.


'Apa dia marah, karena aku meminta ijin keluar? Apa aku batalkan saja rencana besok ?' gumam Alisya dalam hati.


Berjalan menuruni tangga dengan wajah sendu, ia sudah sangat lama tidak berziarah ke makam kedua orang tuanya.


Rasa rindu akan pelukan hangat sebuah keluarga, kini sedikit mengguncang perasaannya. Ingatan akan masa kecil yang bahagia bersama orang tua yang sangat menyayanginya semakin menambah sakit luka di hatinya.


Flash back


"Kak Aga, uggu Ica!" teriak gadis kecil dengan suara cadel khas anak berusia tiga tahun.


"Apaan sih, kamu bisa gak sih gak ikutin aku terus!" suara kesal anak laki-laki yang di panggil Aga membuat raut wajah gadis kecil itu langsung berubah murung, dengan hidung yang sudah memerah.


Anak lelaki itu menepuk keningnya kesal.


"Astaga, nangis lagi deh," gumamnya pasrah.


"Udah ya, kamu mau apa sih? Kenapa ikutin aku terus?" tanya anak lelaki yang kira-kira selisih empat tahun lebih besar darinya.


"Kamu apain lagi Ica, Dek!" terdengar suara anak lelaki lainnya yang baru saja datang.


"Aku gak apa-apain dia, Kak. Ica aja yang ikutin aku terus," gerutu bocah lelaki yang berdiri di depan gadis kecil itu.


"Adek, kamu nakalin Ica lagi ya?" seorang wanita yang baru saja datang, langsung menuduh anak lelaki itu.


"Enggak, Mah! Aku gak nakalin Ica!" geleng anak lelaki itu, meminta bantuan kepada gadis kecil di hadapnnya dengan isyarat mata.


Namun, sayang, gadis kecil itu tampak tak mengerti dengan maksud dari anak lelaki di depannya.


Flash back off


Alisya tersenyum mengingat kenangannya bersama pangeran pelindungnya, di waktu kecil. Walaupun, air mata pun jatuh membasahi pipinya.


Walaupun sikapnya judes dan sedikit galak, tapi dia adalah orang yang pertama kali akan maju kedepan dan melindunginya sekuat tenaga.


"Ada di mana sekarang Kak Aga? Semoga kakak gak lupa sama aku," gumamnya dengan bibir bergetar.


Perlahan matanya terpejam dengan ingatan masih tertuju pada masa lalunya, berharap bisa bertemu walaupun hanya dalam mimpi.


...🦅...


...🦅...

__ADS_1


...TBC...


...🙏😊🥰...


__ADS_2