
"Gavin? Lo, Gavin kan?"
Siswa yang tadi bercanda dengan lelaki cantik itu berhasil mengalihkan perhatian Arsya ketika dia menyebutkan nama panggilannya di negara A. Arsya menatap wajah siswa di depannya dengan kening mengernyit, berusaha mengingat sesuatu. Namun, sekeras apa pun dia mencoba, Arsya tetap tidak menemukan ingatan tentang lelaki yang kini menatapnya dengan senyum miring di bibir.
"Kamu siapa ya?" Arsya terpaksa bertanya untuk menentukan sikap selanjutnya.
"Gue Cakra. Cakra Dikara," jawab siswa itu sambil menaikan alisnya. Senyum miring itu semakin terlihat tajam.
Arsya melebarkan matanya, dia menatap Cakra dari kaki hingga kepala lalu terhenti di wajahnya. Bayangan kenangan antara dirinya dan anak kecil bernama Cakra ketika mereka sama-sama sekolah di tingkat sekolah dasar, di negara A. Namun, keduanya harus terpisah setelah lulus karena Cakra kembali ke Indonesia dan meneruskan pendidikannya di sini, mulai berputar di kapala. Mata keduanya sempat bertemu beberapa saat sebelum Arsya lebih dulu mengalihkannya.
"Kamu, Cakra?" tanya Arsya masih dengan keterkejutannya.
"Yes. I do." Cakra mengangguk.
"Welcome to my school, Bro." Keduanya saling memeluk kilas sebagai tanda pertemuan kembali setelah lima tahun terpisah.
"Kenalin, ini teman gue. Fahri. Fahri, ini Arsya, kita temenan waktu sekolah di negara A." Cakra memperkenalkan Arsya pada temannya, mereka pun saling menyapa sebentar. Cakra mengantarkan Arsya ke ruang guru untuk melakukan konfirmasi sebagai murid baru sebelum masuk kelas.
"Hai semuanya. Perkenalkan, nama saya Arsya, saya pindahan dari negara A. Mohon bantuannya." Agra memperkenalkan diri begitu dia masuk dengan wali kelasnya.
"Kamu boleh duduk di samping Dikta," tunjuk guru wanita bernama Bu Luci pada murid yang hanya duduk sendiri. Dari pakaiannya yang cenderung terlalu rapih dan kacamata tebal yang bertengger di batang hidung. Arsya sudah bisa menebak jika Dikta adalah tipe siswa kutu buku dan juara kelas.
"Baik, Bu," angguk Arsya lalu mulai melangkahkan kakinya menuju meja di baris sisi jendela kelas.
...🦅...
"Kantin," ajak Cakra sambil menepuk pundak Arsya sekilas.
"Aku bawa bekal," jawab Arsya tanpa ragu memperlihatkan tas bekal yang sudah disiapkan oleh Alisya.
"Sama, gue juga bawa bekal. Makan kantin aja." Fahri memperlihatkan kotak tuupperware miliknya.
Arsya pun beranjak sambil membawa tas bekalnya, mengikuti Cakra dan Fahri.
Dalam waktu singkat, kedekatan antara Arsya, Cakra, dan Fahri semakin berkembang. Cakra yang juga dingin seperti Arsya, ternyata bisa cocok dengan Arsya walau karakter mereka hampir sama. Sementara Fahri berperan sebagai pemecah keheningan di antara mereka berdua.
Seperti saat ini, Arsya sedang dalam perjalanan menuju ke kafe, tempat mereka berjanji untuk bertemu sebelum pergi ke tempat latihan bela diri. Namun, perjalanannya harus terhenti ketika dia melihat teman sekelasnya tengah dipukuli oleh sekelompok orang hingga terlihat tak berdaya.
Arsya ke luar dari taksi yang dia tumpangi, lalu berjalan cepat menghampiri sekumpulan remaja yang tengah memukuli salah satu teman kelasnya. Sebuah tas ransel berwarna hitam tampak tergantung di salah satu bahunya.
"Cih, beraninya keroyokan," gumam Arsya sambil tersenyum miring. Tatapannya, tampak menyorot tajam satu per satu remaja yang kini ada di depannya.
Suara dingin yang mengandung ejekan itu, tentu saja mampu membuat semua lelaki yang tengah sibuk mengeroyok satu orang itu mengalihkan perhatian mereka.
__ADS_1
"Ini bukan urusan lo. gak usah ikut campur kalau gak mau nasib lo sama kayak dia," ancam remaja dengan potongan rambut ala korea tapi memiliki kulit yang terlihat coklat dan kusam.
"Ohya? Kalau gitu, gimana kalau kita buktikan sekarang? Siapa yang akan kalah?" tantang Arsya dengan penuh percaya diri. Kedua lengannya tampak bersidekap dada, menunjukkan keangkuhan.
"Apa kamu bilang? heh! Berani-beraninya dia sok kuat di depan kita!" lelaki itu malah tertawa bersama kawan-kawannya karena meremehkan Arsya yang hanya seorang diri.
Sementara itu, teman sekelas yang Arsya tolong sudah terkapar di pinggir jalan dengan luka yang cukup parah di sekujur tuhunya, bahkan pelipis, sudut bibir, dan hidungnya tampak berdarah. Lelaki itu menatap Agra dengan raut khawatir.
"Heh!" Agra tersenyum miring sambil menghembuskan napas kasar, menelisik gerak-gerik tubuh para lawannya.
Iris matanya langsung berpindah pandang ketika dia merasakan ada gerakan cepat dari arah sisi sebalah kananya. Sigap, tangannya menangkis lalu memukul tepat di tulang hidung sang lawan menggunakan kepalan tangan kirinya.
Bugh!
Tepat sasaran. Lelaki dengan rambut gondrong itu mundur beberapa langkah sambil menunduk kesakitan. Darah langsung mengucur dari lubang hidungnya.
"Sialan!" Melihat salah satu temannya terluka, lima laki-laki lainnya terpancing emosi. Mereka menyerang Arsya secara bersamaan. Namun, serangan yang tak teratur dan berantakan, malah memudahkan Arsya untuk mematahkan setiap tinju yang datang padanya.
Namun ....
Bugh!
Satu tinju yang cukup keras berhasil menyentuh pipi sebelah kirinya hingga kepala Arsya menoleh paksa ke kanan. Rasa asin bercampur amis langsung mendominasi mulut beserta luka memar di ujung bibir.
Arysa meludahkan saliva yang sudah berwarna merah pekat karena bercampur darah. Dia usap ujung bibirnya yang terasa basah dengan ujung ibu jari. Cukup sakit, walau tak membuat mental petarung Arsya berkurang sedikit pun. Itu malah membuatnya tambah bersemangat.
"Ah, sial. Aku bisa dapat ceramah kalau sampai Mommy tau."
Arsya malah membayangkan bagaimana jika sang ibu yang sangat protektive itu akan mengoceh panjang karena melihat luka kecilnya ini. Itu adalah petaka besar.
"Oke, kali ini aku tidak akan lagi bermain dengan kalian," ujar Arsya sambil kembali memasang kuda-kuda dan menerima serangan dari lawan.
Pertarungan tak seimbang itu pun terjadi di sebuah jalan alternatif yang notabene sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang melintas, itu pun tak ada yang berani untuk melerai pertarungan antara Arsya dan para lelaki tidak jelas itu.
Tak sampai lima menit, pertarungan pun selesai dengan kelima lelaki itu terkapar berserakan di jalanan. Berbagai luka tampak memenuhi tubuh mereka. Bahkan, ada yang tak sadarkan diri dibuatnya.
Lalu, apa yang terjadi pada Arsya?
Dia masih berdiri tegak bahkan dengan senyum penuh semangat di bibirnya. Tampaknya, pertarungan beberapa saat lalu bukanlah hal yang menakutkan untuknya. Sebaliknya, itu adalah hal yang menyenangkan.
"Huh! Ini seru. Akhirnya aku bisa berlatih dengan benar setelah sebulan kembali ke sini," ujarnya sambil membenarkan bajunya yang berantakan dan kotor. Tangannya sibuk menepuk debu yang sudah tersebar di hampir seluruh tubuhnya.
"Pergi lo pada, kalau gak mau gue buat lebih parah lagi!" usir Arsya dengan gaya angkuhnya. Mereka pun memaksakan diri untuk bangun dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, saling menopang lalu naik ke motor masing-masing.
__ADS_1
"Awas lo! Urusan kita belum selesai. Liat aja pembalasan kita!" ujar salah satu di antara mereka sambil menunjuk Arsya dan menatapanya penuh permusuhan.
"Ya, gue tunggu!" angguk Arsya penuh percaya diri. Dia menatap kepergian para lawannya dengan sorot mata yang rumit. Entah apa yang tengah dia pikirkan? Mungkin hanya dia yang tahu.
"Makasih ya. Gue gak tau bakal gimana kalau lo gak nolongin gue."
Perhatian Agra kini teralih pada lelaki yang dia tolong, dia tampak berdiri sedikit membungkuk di sampingnya. Salah satu lengannya berada di perut, mungkin menahan sakit.
"Lo mau gue anter ke klinik atau rumah sakit?" Enggan menanggapi ucapan terima kasih dari teman sekelasnya itu, Arsya memilih mengalihkan pembicaraan.
"Oh, kalau lo gak sibuk, boleh tolong cariin gue taksi aja gak?" tanya Vareen sambil meringis menahan malu.
"Lo Arsya, kan? Murid baru di kelas? Sebaiknya mulai sekarang lo hati-hati sama mereka, mungkin mereka bakal balik lagi buat balas dendam untuk kejadian hari ini," sambung Vareen lagi.
Arsya tampak mengernyit ketika mendengar ucapan dari Vareen. "Memang siapa mereka? Gue gak pernah takut pada siapa pun."
"Mereka adalah anggota Venus, geng motor yang terkenal brutal di kota ini. Mereka gak segan-segan buat bunuh lawannya," jelas Vareen.
"Lo ada urusan apa sama mereka sampe begini?" Kini Arsya malah berbalik penasaran dengan Vareen. Seminggu sekolah di kelas yang sama, Vareen terlihat seperti remaja yang santai, humoris, ceriwis, hingga terlihat ceria. Hidupnya seperti tanpa beban.
"Gue gak sengaja ngelukain salah satu anggota mereka pas balapan liar," jawab Vareen lemah.
"Dia mati?" tanya Arsya langsung.
"Enggak sih. Tapi, kakinya patah."
"Ck!" Arsya menggeleng lemah. Dia membawa kakinya satu langkah ke depan ketika melihat ada taksi yang lewat.
"Tuh udah dapet. Lain kali lebih hati-hati, atau lo bisa hubungin gue," ujar Arsya setelah menyetop taksi untuk Vareen.
"Makasih, Sya--"
"Panggil gue, Ar." Arsya langsung meralat panggilan dari Vareen. Dia tidak suka ada yang memanggil nama itu selaian keluarganya.
"Ah, iya. Makasih ya, Ar." Vareen langsung meralat ucapannya.
Arsya menghembuskan napas pelan, lalu mengambil tasnya yang tadi terlempar sembarang waktu berkelahi, dan memilih meneruskan perjalanannya dengan berjalan kaki.
Namun, baru sekitar lima ratus meter Arsya berjalan, sebuah mobil hitam tampak berhenti di depannya, hingga membuat Arsya terpaksa menghentikan langkahnya.
"Ck!" Arsya berdecak lirih sambil membuang muka. Walau begitu tubuhnya bergerak menghadap pintu mobil yang mulai terbuka.
...🦅Siapa ya🤔 komen yuk...
__ADS_1