
"Sya, tolong sekalian bawain bekal buat Isha ya," ujar Alisya sambil menaruh dua tas bekal di atas meja makan.
"Emang dia ke mana, Mom?" tanya Arsya yang memang tidak melihat adiknya pagi ini.
"Dia berangkat pagi banget, tadi. Katanya ada tugas yang lupa dia kerjain, makanya mau janjian sama temennya buat ngerjain bareng," jawab Alisya santai. Dia duduk di depan Arsya lalu mulai sarapan bersama.
"Oh...." Arsya mengangguk samar.
"Mommy udah bilang kok sama Isha, nanti dia tungguin di depan gerbang sekolah," sambung Alisya lagi.
"Iya, Mommy," angguk Arsya.
...🦅...
"Rum...." Alisya langsung memeluk sahabatnya itu ketika baru sampai di sebuah kedai bubur ayam langganan keduanya.
"Sha, gue harus gimana biar mami gue sadar dan jauhin orang itu?" adu Rumi masih dalam keadaan memeluk Isha.
"Sabar ya, Rum. Gue yakin, lambat laun mami lo juga bakal tahu kelakuan cowok dia." Isha menepuk punggung Rumi pelan, berusaha menenangkan perasaan sahabatnya.
Pelukan keduanya pun lepas begitu bubur pesanan mereka sudah datang. Isha menyiapkan mengambilkan sate usus dan ati ampela kesukaan Rumi sambil berujar pelan. "Mending lo sarapan dulu, gak ada gunanya lo gak makan. Gak ngaruh juga sama cowok brengsek itu."
Rumi mengangguk, dia mulai meracik bubur untuknya. Isha tersenyum. Walau hidup Rumi tidaklah sempurna, setidaknya sahabatnya selalu menghadapinya dengan pikiran yang terbuka.
Ada tugas? Tidak sama sekali. Itu hanya alasan karena dini hari tadi, Rumi meneleponnya dan mengadukan jika ibunya kembali pulang dengan kekasihnya dalam keadaan mabuk. Bila sedang begitu, Rumi memilih mengunci diri di kamar dan akan segera pergi dari rumah di pagi buta.
Jijik rasanya melihat ibu sendiri harus bermesraan dengan lelaki asing yang bahkan umurnya jauh lebih muda dari ibunya Rumi.
Apakah Rumi yang mengagumi lelaki tampan juga sama seperti ibunya? Tentu tidak. Sebenarnya ucapannya dan sikapnya hanya sebagai cara untuk menghibur segala masalah yang terjadi di rumahnya.
...🦅...
"Bang, lo bawa bekel dari Mommy, kan?" tanya Isha dalam sambungan telepon.
"Iya. Mau ketemu di mana?" tanya Arsya yang sudah terbiasa tidak diakui sebagai kakak oleh Isha.
"Lo titip bekal gue di warung sebrang sekolah aja, gue udah bilang sama dia kok," jawab Isha.
"Eum," gumam Arsya, tanpa ada protes sedikit pun.
"Lo di mana sekarang? Udah ngerjain tugasnya?" tanya Arsya.
__ADS_1
"Udah, ini gue bentar lagi jalan," jawab Isha.
"Hati-hati." Arsya langsung menutup teleponnya begitu mengucapkan perkataan itu. Pandangannya tampak lurus ke depan, di mana ada dua orang gadis sedang berdiri di pinggir jalan.
Isha dan Rumi. Ya, memang siapa lagi gadis yang Arsya perhatiakan selain adik satu-satunya itu. Walau dia tahu jika anak buah bayangan ayahnya pasti berada di sekitar adiknya, tetapi tetap saja, rasanya belum tenang jika dia tidak lihat sendiri keadaan Isha.
"Jalan, pak," ujar Arsya begitu dia melihat Isha dan Rumi masuk ke dalam kendaraan umum.
"Ikutin saja dulu, kayak biasa," titah Arsya lagi.
"Baik, young master," angguk sang sopir yang setiap hari bertugas untuk menjemput dan mengantar Arsya sekolah.
Mobil melaju mengikuti angkutan umum yang ditumpangi oleh Isha. Arsya akan menyuruh sopir untuk menyalipnya setelah mendekati sekolah.
...🦅...
"Kita ke warung depan sekolah dulu ya," pinta Isha pada Rumi ketika mereka berdua tengah berdiri berdesakan di dalam bis.
"Emang mau ngapain?" tanya Rumi yang tampak bingung.
"Mommy gue nitipin bekal di sana," jawab Isha.
"Ribet." Satu kata itu sudah membuat Rumi mengangguk menyetujui, walau masih banyak pertanyaan di dalam benaknya.
"Oke deh," angguk Rumi.
Beberapa saat kemudian, kedua remaja perempuan itu tampak turun di halte bis yang ada dekat sekolah, lalu berjalan beberapa meter menuju warung seberang sekolah untuk mengambil bekal.
Namun, langkah mereka terpaksa berhenti ketika Rumi melihat Arsya ke luar dari warung tujuan mereka.
"Ya ampun, Sha ... apa gue gak salah lihat? Sekelas cowok tajir melintir kayak Arsya ada di warung itu?" tanya Rumi antusias. Cewek itu tampak menutup mulutnya dengan mata melebar. Tampaknya dia sangat terkejut dengan pemandangan baru itu.
"Ck! Gak usah nora gitu deh, Rum. Mungkin dia ada keperluan makanya ke sini." Isha yang sudah jengah dengan sikap Rumi, tampak memutar bola matanya lalu melangkah lebih dulu, meningalkan Rumi yang masih terpaku, menatap Agra yang tengah berjalan seolah menghampirinya.
"Sya, gue gak mimpi kan? Dia nyamperin gue, Sya," gumam Rumi yang bahkan sudah tidak bisa di dengan oleh Isha.
"Sya?" Rumi baru sadar kalau sahabatnya sudah berjalan meninggalkannya, bahkan kini dia sudah berada di depan warung.
"Astaga, tuh anak tega benget sih sama gue. Kaki gue kaku nih," gerutu Rumi yang melihat jika Arsya semakin dekat dengannya. Tubuhnya tiba-tiba terasa kamu karena terlalu gugup.
Hingga, ketika Arsya hanya berjarak beberapa langkah darinya, tiba-tiba sebuah motor yang melaju kencang membunyikan kelakson dengan sangat kencang karena kehilangan keseimbangan.
__ADS_1
"Akh!" jerit Rumi yang terkejut ketika matanya sekilas melihat motor itu hampir menabrak dirinya. Dia memejamkan mata sambil menutup telinga dengan kedua tangannya. Namun setelah lama berlalu, dia tak merasakan sakit akibat terjatuh sama sekali.
"Kok gak kerasa sakit, ya? Kayaknya gue langsung mati deh." Rumi bergumam masih dengan matanya yang tertutup rapat.
"Lo gak mati."
Deg!
Jantung Rumi yang awalnya seolah terhenti karena terkejut dan rasa takut sepontan, tiba-tiba berdebar kembali dengan ritme yang sangat kencang.
Suara siapa itu? Malaikat maut? batin Rumi masih mengira jika dirinya mati tertabrak.
"Lo gak mati, jadi buka mata lo sekarang!" Suara cowok itu terdengar kembali.
Rumi mengernyitkan alisnya, dia baru sadar jika suara berat itu terasa asing. Perlahan dia buka matanya hingga kini dirinya melihat dengan jelas wajah lelaki yang sangat dekat dengan wajahnya. Dia juga baru menyadari jika kini posisinya tengah berada dalam pelukan sang lelaki.
"Ck!" Cowok itu berdecak lemah lalu mulai menurunkan tubuh Rumi dari pangkuannya.
"A--astaga?" Rumi bergumam pelan dengan tubuh yang kembali goyah. Untung saja, Isha yang meninggalkannya kini sudah kembali.
"Lo ngapain sih? Ayo buruan balik ke sekolah. Bentar lagi bel masuk." Isha langsung menarik tubuh Rumi agar berdiri di belakangnya.
"Makasih udah nolongin temen gue," lanjutnya lalu segera pergi dari sana.
Sementara itu, dari jembatan penyerbrangan seorang cowok lainnya tampak bersidekap dada sambil memperhatikan dua gadis yang mulai menginjakkan kakinya di tangga pertama. Sesaat kemudian, pandangannya teralih pada cowok yang tadi menolong Rumi.
Mata tajam mereka sempat bertemu ketika sang penolong itu juga menatap ke arahnya. Senyum miring tampak terpatri di bibir sang penolong itu.
"Ngapain dah lo pake jatuh ke pelukan cowok kayak gitu," gerutu Isha.
"Emang dia siapa sih? Gue gak pernah liat dia di sekitar sekolah." Rumi tampak bingung. Lelaki yang tadi menolongnya tampak asing di matanya.
"Gak tau gue, tapi dari penampilannya ... kayaknya dia bukan cowok baik deh." Isha terus berjalan cepat melewati jembatan penyebrangan.
Sementara itu, Arsya yang juga memilih untuk segera pergi sebelum Isha menyadari keberadaannya. Namun, sebelum itu, dia menerima satu pesan dari nomor tak dikenal.
[Ini baru permulaan. Urusan kita belum selesai!]
Arsya tak tahu dari mana pesa itu berasal. Namun, mungkin itu diantara geng motor kejam yang berurusan dengan Vareen, atau brandal sekolah yang kemarin merundung Dikta. Untuk kali ini, hanya kemungkinan itu yang dapat dia pikirkan. Mengingat dirinya juga belum banyak mengenal orang.
Kenapa harus menargetkan sahabatnya Isha? Apa dia tahu hubungan gue sama Isha? batin Arsya yang merasa ini cukup berbahaya, jika sampa musuhnya tahu Isha adalah adik kandungnya.
__ADS_1