
"Ngapain lo pada?!" Arsya bertanya sambil menatap geram pada beberapa siswa yang kini menghentikan kegiatannya.
"Wah, ternyata ini anak baru yang udah bikin gempar sekolah kita, bos!" lapor salah satu di antara mereka dengan ujung baju seragam di lipat. Tubuhnya sedikit kurus dengan kulit sawo matang. Sepertinya dia tahu apa yang terjadi di hari pertama Arsya masuk sekolah.
"Oh, jadi ini anak baru itu?" Seorang siswa dengan ujung seragam sengaja tidak dimasukan ke celana dan dua kancing paling atasnya terbuka pun menoleh lalu berjalan mendekati Arsya dengan gaya angkuhnya.
"Ngapain lo? Mau jadi sok pahlawan?" Telunjuk cowok itu tampak menekan dada Arsya sambil menatap dengan senyum menghina di wajahnya.
"Siapa yang mau jadi sok pahlawan? Gue cuma nanya," jawab Arsya santai, dia singkirkan telunjuk cowok itu dari dadanya, lalu menepuk baju seragamnya pelan, seolah ada kotoran di sana.
"Silahkan lanjutkan," sambung Arsya lagi. Dia langkahkan kakinya menuju tempat buang air kecil dan mulai melakukan hajatnya.
Sementara itu, Dikta malah terdiam dengan napas membury, tatapannya sempat melirik Arsya dengan tatapan datar, walau sepertinya dia membutuhkan bantuan. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh cowok itu?
"Cih!" Cowok itu membuang ludah ke samping sepatu Arsya. Sepertinya dia cukup terganggu oleh kedatangan Arsya.
"Terusin. Dia harus tahu akibat berani ngelawan kita," titah siswa yang dipanggil bos oleh yang lainnya.
Arsya masih fokus pada kegiatan membuang hajatnya, dia biarkan Dikta menerima beberapa pukulan terlebih dulu. Untuk saat ini, mengeluarkan tumpukan urin di kandung kemih, lebih penting dibandingkan menolong teman satu mejanya, yang bahkan tak meminta pertolongannya.
Setelah selesai dengan hajatnya dan membenarkan kembali resleting, dia mulai melangkah mendekati tiga siswa brandal yang tengah merundung Dikta. Tanpa rasa bersalah sama sekali, dia letakan tangan yang belum dia cuci di pundak cowok yang dipanggil bos, seolah sedang menjadikan baju cowok itu sebagai lap tangannya.
"Heh! Jijik banget sih, lo!" Jelas saja, cowok itu langsung menepis tangan Arsya sambil meringis geli.
"Santai aja, Bro. Gue cuma mau nitip dikit air kencing gue di baju lo," ujar santai Arsya, dia tersenyum tanpa dosa.
"Anj*ng! Jorok banget lo!" Tak menunggu lama, emosi bos cowok brandal itu tersulut emosi. Dia melayangkan kepalan tangannya ke arah wajah Arsya. Namun, Arsya langsung menangkapnya dengan sigap.
"Jangan harap lo bisa menyentuh wajah berharaga gua!" desis Arsya sambil mencengkram pergelangan tangan lawannya dan mulai memutarnya. Mulai sekarang dia harus benar-benar menjaga keselamat wajahnya, karena luka disana lebih membahayakan dibandingkan dengan di tubuhnya yang lain. Setidaknya itu bisa dia tutupi, tidak seperti wajahnya.
"Cih! Berharga? Emang lo siapa? Anak presiden?" geram lawan Arsya sambil berusaha untuk kembali memukul Arsya dengan tangan satunya.
Bugh!
Suara pukulan itu terdengar bukan dari tinju lawan yang berhasil menyentuh Arsya. Tidak! Itu salah besar. Sebaliknya, justru malah tangan Arsya yang bergerak lebih cepat menangkis pukulan lawannya. Dan, di saat bersamaan, kakinya juga bergerak untuk melumpuhkan kaki lawannya, hingga cowok yang disebut bos itu langsung ambruk dan berlutut di depan Arsa dengan tangan terkunci. Dia sudah tidak bisa berkutik lagi.
"Lo berdua masih mau nerusin bully dia? Gue juga bakal lakuin hak yang sama, pada bos lo ini," ujar Arsya santai.
__ADS_1
Kedua cowok itu pun tampak saling memandang bingung, mereka kehilangan kendali karena bosnya sudah dilumpuhkan duluan. Sementara itu, lawan Arsya masih mengatur napas dan rasa malunya, karena dikalahkan oleh Arsya hanya dengan beberapa gerakan saja.
"Nagapain kalian masih diam! Lepasin dia sekarang!" titah sang bos setelah menenangkan diri dan menahan rasa malunya.
"I--iya, bos." Keduanya menjawab serentak sambil melepasakan Dikta kemudian menghampiri Arsya dengan wajah ketakutan.
Arsya pun melepaskan lawannya dengan gerakan sedikit mendorong, hingga tubuh cowok itu menubruk tubuh dua cowok lainnya.
"Awas kalau kalian berani merundung temen gue lagi," gumam Arsya lengkap dengan tatapan tajamnya.
Ketiga cowok itu tak lagi mampu menjawab, mereka langsung berjalan tertatih ke luar dari toilet cowok secepat mungkin.
Setelah memastikan ketiga perundung itu pergi, Arsya kembali mengalihkan perhatiannya pada Dikta yang mulai bangkit dengan bertumpu pada washtafel.
"Mau gue anter ke UKS?" tanya Arsya ketika melihat Dikta kesulitan berjalan.
"Gak usah sok baik lo."
Arsya menaikan salah satu alisnya, dia cukup heran ketika menerima penolakan kasar dari Dikta. Padahal, notabene dialah orang yang baru saja dia tolong dari perundungan.
"Gue tau, lo nolongin gue, karena ada maunya kan?" sambung Dikta lagi sambil mulai menegakkan tubuhnya dan mengambil kaca matanya yang retak karena terjatuh.
"Nuduh," gumam Arsya masih dengan senyum miring di wajahnya.
"Lo jujur aja. Lo nolongin gue juga karena mau nyuruh gue ngerjain tugas-tugas lo, kan?" Dikta masih bersikap judes pada Arsya.
"Terserah lo aja, lah." Arsya malas menjelaskan. Dia memilih segera berlalu dari ruang toilet pria itu. Meninggalakn Dikta yang hanya enatao kepergiannya dengan sorot mata penuh curiga.
🦅
"Kamu jadi melakukan rencanamu itu?" tanya Agra saat dirinya tengah duduk berdua dengan Arsya di ruang kerjanya.
"Eum. Aku sudah memilih beberapa anggota intinya," angguk Arsya penuh percaya diri.
Agra mengangguk samar, ternyata anak sulungnya itu bergerak lebih cepat juga untuk merealisasikan keinginanya yang sudah diungkapakan sejak satu tahun lalu. Alasan sekaligus syarat agar Arsya mau kembali dan menetap di negara ini.
"Aku mau kembali ke Indonesia, tapi Daddy harus mengizinkan aku membangun geng motorku." Itulah syarat yang diucapkan Arsya ketika mereka berdiskusi berdua, seminggu setelah acara pemakaman Andrew.
__ADS_1
Ya. Laki-laki yang sudah berumur itu, ternyata menyerah dan memilih menyusul istrinya setelah berjuang melawan penyakit mematikan sendirian. Selama ini, dia sembunyikan sakitnya dari semua orang, termasuk Arsya yang tinggal bersamanya sekali pun.
Arsya, baru mengetahui kondisi sang kakek setelah penyakit Andrew sudah tidak tertolong dan hanya dengan jangka waktu beberapa hari, lelaki yang telah mendampunginya sejak berumur tujuh tahun itu, mengalami koma dan akhirnya pergi untuk selamanya di hari ke tiga dia tak sadarkan diri.
Bagi Arsya, memang tidak mudah kembali ke Indonesia, di saat masa kecilnya dia habiskan di negara itu bersama sang kakek. Meninggalkan semua kenangan tentang kebersamaannya, membuat dia enggan untuk ikut pulang bersama kedua orang tuanya dan sang adik.
"Berikan aku waktu, Dad. Aku akan menyusul jika sudah waktunya masuk sekolah." Itulah ucapan Arsya ketika Agra, Alisya, dan Isha membujuknya untuk pulang bersama.
"Baiklah. Kami akan menunggumu di sana." Mengerti dengan kondisi mental Arsya setelah kepergian Andrew. Agra, Alisya, dan Isha pun memilih mengalah dan memberikan Arsya waktu untuk tinggal lebih lama di negara A.
"Boleh Daddy tahu, siapa saja calon anggota yang sudah kamu pilih?" tanya Agra. Dia seruput secangkir kopi pahit sebagai teman ngobrol keduanya di malam yang semakin larut itu.
"Besok aku kirim rinciannya pada Daddy. Yang pasti, mereka bukan orang sembarangan dan sangat pantas untuk bergabung dengan geng motorku," jelas Arsya, meyakinkan sang ayah dengan pilihannya.
"Kamu sudah berbicara dengan mereka?" Agra tampak menatap wajah sang anak.
"Belum," jawan Arsya santai. Dia ambil gelas kristal berisi jus kiwi kesukaannya. Lalu, meminumnya.
"Bagaimana kalau mereka menolak?" tanya Agra sambil mengernyit. Entah apa yang akan dilakukan anaknya, hingga dia dengan mudahnya memilih anggota tanpa bertanya pada yang bersangkutan lebih dulu.
"Entah. Aku belum memikirkannya." Arsya mengedikkan bahunya, tak acuh.
"Astaga, anak ini ...." Agra mendesah pelan sambil menatap terkejut anak sulungnya.
"Pokoknya , Deddy gak usah ikut campur urusan ini. Biar aku sendiri yang menanganinya," ujar Arsya santai, tanpa tahu Agra yang masih setengah hati dengan keinginan Arsya.
Obrolan dua lelaki berbeda usia itu berlanjut hingga hampir tengah malam. Arsya baru beranjak setelah Alisya memperingatkannya untuk segera tidur, mengingat besok harus kembali bersekolah.
"Gimana? Apa dia mau melupakan keinginanya untuk membuat geng motor?" tanya Alisya, setelah Arsya pamit dan pergi ke kamarnya. Kini di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Raut wajahnya tampak khawatir.
Arga menggeleng pelan, sebelum menjawab pertanyaan dari sang istri. "Sepertinya ucapannya serius. Dia bahkan sudah mulai merancang rencana perekrutan anggota."
"Apa? Kenapa Kakak gak mencegahnya?" Alisya mengajukan protes. ibirnya tampak manyun dengan alis berkerut.
"Ini sudah janji kita, sayang. Dia tidak akan suka jika kita menarik kembali ucapan kita," jelas Arga lembut. Dia peluk sang istri yang tengah membelakingnya.
"Tapi, aku khawatir, Kak," rajuk Alisya.
__ADS_1
"Aku juga, sayang. Bersabarkah sebentar lagi, ya. Aku yakin, ini tidak akan lama. Aku juga tidak akan membiarkan dia terjun ke dunia bawah sendiri."
Alisya menghembuskan napas kasar. Sebagai ibu, dia masih saja tidak rela jika sang anak akan terjun ke jalan yang sama seperti Agra. Namun, dia juga tidak bisa memaksa kehendak sang anak untuk mengikuti keinginannya. Fakta yang terjadi kini adalah ... Agra adalah pewaris sekaligus memupuk perasaan itu.