
...Happy Reading...
...🦅...
Satu buah pesawat pribadi sudah menunggu kedatangan Agra di bandara, untuk membawanya menuju tempat Andrew berada.
Lelaki yang merupakan ketua dari mafia Black Eagle itu, berjalan dengan langkah tegas dan lebarnya di area bandara, diikuti Edo yang berjaga di belakangnya.
Para anggota Black Eagle yang akan ikut serta, sudah menunggu di depan pintu masuk pesawat, mereka berbaris rapi, untuk menyambut kedatangan ketuanya.
Berpakaian santai seperti anak muda pada umumnya, dengan wajah tertutup oleh masker hitam, membuat mereka tak terlalu menjadi bahan perhatian para pengunjung. Walau masih ada beberapa orang yang mencuri pandang ke arah keduanya.
Tentu saja, semua itu karena tinggi dan postur tubuh yang terlihat sempurna, dan berbeda dari orang di negara itu pada umumnya.
“Kamu sudah pastikan, kalau mereka tidak akan tahu tentang kepergianku?” tanya Agra, setelah keduanya duduk di dalam pesawat pribadi tersebut.
“Sudah, Tuan. Kalaupun mereka sampai tahu, saya yakin persiapan kita sudah cukup untuk menghadapi mereka, bila tiba-tiba ada penyerangan,” jawab Edo.
“Hem, baiklah. Pantau terus keadaan keluargaku, mereka pasti akan menjadikan mereka sasaran, setelah mengetahui aku tidak berada di kota ini,” perintah Agra.
“Baik, Tuan!” jawab tegas Edo.
Keduanya menghabiskan penerbangan kali ini sebagai waktu istirahat, walaupun itu mungkin sangat singkat.
.
Di vila, Alisya tak bisa terlelap, walaupun ia sudah mencoba menutup matanya berkali-kali. Ingatannya kembali saat Agra meneleponnya, beberapa saat setelah dia makan malam.
“Halo, sayang. Apa kamu sudah sampai?” tanya Agra, begitu ia menggeser ikon berwarna hijau di ponsel miliknya.
Sebuah panggilan video, itu membuat Alisya bisa melihat Kalau Agra sedang berada di dalam mobil dengan pakaian yang berbeda dari biasanya.
Agra tampak memakai jaket hoodie hitam, khas anak muda yang ingin nongkrong bersama para temannya, itu sangat berbeda dengan gaya Agra yang ia tahu sebelumnya.
Suaminya itu hanya akan berpakaian santai bila berada di rumah, dan selebihnya dia akan memakan kemeja atau bahkan pakaian kantor.
“Kakak, mau ke mana? Kenapa pakai baju begitu?” bukannya menjawab pertanyaan Agra, Alisya malah balik bertanya.
“Aku dalam perjalanan menuju bandara, sayang. Ada masalah yang cukup serius di luar kota, hingga aku harus ke sana malam ini juga. Maaf aku tak memberitahumu sebelumnya, karena ini memang dadakan.”
“Aku memakai pakaian begini, agar tak ada yang mengenaliku di bandara. Kamu sudah sampai? Bagaimana suasana di sana, apa kamu suka?” tanya Agra, mengalihkan perhatian istrinya.
“Hem, sangat suka, di sini begitu indah dan tenang, vilanya juga nyaman. Kami semua senang berada di sini,” jelas Alisya.
“Baguslah, jaga dirimu baik-baik, selama aku tidak berada di sasisimu. Jangan sampai ada luka sedikit pun, aku tidak mau itu sampai terjadi!” pesan Agra, begitu posesif dan tak mau dibantah.
Alisya mengangguk, pipinya merona mendapat perhatian dari suaminya.
__ADS_1
“Sampai kapan, Kakak, berada di sana?” tanya Alisya.
“Entahlah, aku usahakan secepat mungkin. Tetapi, sebelum aku pulang, kamu harus tetap berada di sana. Bilang pada dua sahabatmu, aku sudah memberikan mereka cuti, sampai kedatanganku kembali.” Agra menjeda sebentar perkataannya.
Hufth ....
Agra menghembuskan napas berat, sebelum melanjutkan perkataannya.
“Sampai jumpa, sayang. Ingat semua pesanku tadi siang ... aku mencintaimu,” ucapnya.
Alisya mengangguk, matanya berkaca-kaca mengingat, entah sampai kapan Agra berada di sana.
“Kakak, jaga diri baik-baik. Ingat istirahat, jangan bekerja terus.” Alisya berkata dengan suara serak, menahan tangis.
“Iya, sayang. Aku tahu!”
Telepon video singkat itu, berakhir setelah mereka memberikan ciuman jarak jauh, sebagai tanda perpisahan. Alisya menangkupkan ponselnya di dada, ada rasa khawatir yang tiba-tiba saja muncul.
Mengingat ini adalah pertama kalinya mereka berpisah cukup jauh, setelah menikah. Dia juga belum tahu, bagaimana kegiatan kerja Agra sebenarnya.
“Kalian tahu sesuatu, tentang masalah di luar kota?” tanya Alisya, pada kedua sahabatnya dan Livia.
“Enggak, Sya. Memang kenapa?” tanya Rima.
“Enggak apa-apa. Tadi Agra pamit mau ke luar kota, katanya ada sesuatu yang terjadi di sana,” jawab Alisya.
Heuh ....
Menyibak gorden di sana, hingga tampilan halaman belakang vila terlihat jelas. Sebuah kolam renang berukuran besar, dengan pemandangan alam langsung. Alisya menatap gelapnya malam, langit yang bertabur begitu banyak bintang, cukup membuat pikirannya sedikit teralihkan. Walau bayangan wajah suaminya masih terlintas di kepala.
.
Pesawat yang ditumpangi Agra baru saja mendarat beberapa saat yang lalu, mereka semua langsung disambut oleh para anggota Black Eagle yang bertugas.
Agra dan Edo, langsung berangkat menuju rumah peristirahatan yang ada di kota ini. Di sana sudah ada Andrew yang menunggu kedatangan mereka, untuk membahas rencana selanjutnya.
“Akhirnya kau datang juga,” ucap Andrew, saat menyambut kedatangan anak angkatnya itu.
Mereka saling berpelukan sekilas, lalu kembali berjalan masuk. Tak harus berbicara panjang lebar, ketiganya kini sudah berada di ruang kerja. Mencari solusi dari masalah yang sudah semakin meluas.
“Jadi mereka bahkan sudah mulai menghasut para warga sekitar?” tanya Agra, meminta kepastian.
“Iya, Gra. Itulah kenapa aku meminta untuk datang ke sini. Kita terpaksa harus membagi tugas, untuk mengatasi satu per satu maslah ini,” jawab Andrew.
“Baiklah, di sini sekarang kita tidak tahu mana kawan dan mana lawan, jadi sebaiknya kita hanya percaya pada anggota yang kita bawa saja,” ujar Agra.
Andrew dan Edo langsung mengangguk menyetujui perkataan Agra.
__ADS_1
“Pah, bisa tarik Om Ruhan dan beberapa anggota di pusat untuk datang kemari, kita butuh bantuan mereka,” ujar Agra.
Ruhan adalah orang kepercayaan Andrew yang sekarang memegang kendali, di markas pusat Black Eagle, dia sudah mengikuti Andrew sejak ayah angkatnya itu baru mendirikan mafia tersebut.
“Bisa, paling lambat besok sore mereka akan sampai.” Andrew langsung memberikan waktu, agar Agra bisa berpikir cerdik.
Dia tak menyangkal kalau anak angkatnya itu lebih pandai darinya kalau maslah strategi, dalam menghadapi musuh.
Agra pun menjelaskan rencana awal untuk mengulur waktu, sekaligus mencari dukungan, dari warga yang berpengaruh. Dia tidak mau dalam kejadian ini akan banyak nyawa tak bersalah menjadi korban, hanya karena terkena hasutan pihak lawan.
“Brengsek kau, Suseno. Aku pastikan kali ini tak akan memberi ampun lagi padamu,” geram Agra.
.
Di mansion, tempat persembunyian Suseno dan anak lelakinya, mereka sedang tertawa karena hampir berhasil menguasai perusahaan cabang Leopard Corp.
“Seminggu yang lalu, dia mengirimkan satu buah kepala manusia pada kita, sekarang kita berikan hadiah balasan dengan merebut satu perusahaannya, hahaha!”
Tawa membahana terdengar dari kedua lelaki berbeda usia itu, di tangan mereka ada sebuah gelas minuman beralkohol, sedangkan di sampingnya ada dua orang wanita cantik berpakaian terbuka sedang merayu tubuh mereka.
“Ya, kau memang bisa diandalkan, Rom. Hahaha!” kedua lelaki stengah mabuk itu, terus meracau, dengan diselingi tegukan minuman beralkohol yang semakin membakar tenggorokannya.
“Aku yakin, sebentar lagi dia akan segera pergi ke sana. Dan begitu itu terjadi, aku akan segera melakukan rencana kedua,” ujar anak dari Suseno.
“Ya, aku sudah tidak sabar melihat kehancuran bocah ingusan itu. Beraninya dia menantangku dan menghancurkan nama baik yang sudah aku bangun selama ini, Hah!”
Mata merah, rambut kusut dan pakaian yang berantakan, juga wanita yang bersandar di tubuhnya, membuat penampilan kedua lelaki itu, begitu terlihat bagaikan hidung belang, yang rindu akan sentuhan wanita malam.
Keduanya sudah merasa puas, di saat mereka bahkan belum berhasil merebut perusahaan itu sepenuhnya.
Mereka begitu terlena dengan kebahagiaan sesaat, tanpa tahu bahaya apa yang mengancam di belakangnya.
Biarkanlah mereka senang malam ini, sebelum esok hari akan mendapat berita mengejutkan dari anak buahnya.
*Maaf nih, masih ada dua slot promo lagi, jadi untuk dua hari ini masih ada promo ya, setelahnya mungkin akan aku kurangi, terima kasih atas pengertiannya.
Yuk yang mampir di karya keren milik teman literasi aku, yang pasti ceritanya bagus dan menarik untuk dibaca*.
...🦅...
...🦅...
...TBC...
Â
__ADS_1
Â
Â