
...Happy Reading ...
...🦅...
Pernikahan hanya tinggal beberapa jam lagi, malam ini semua anggota Black Eagle yang bertugas di hotel, sudah lengkap dan bersiap siaga.
Mereka semua berjaga dengan menggunakan pakaian rapi serba hitam, dengan earphone yang setia menempel di telinga.
Agra memperketat lagi penjagaan, setelah kejadian penyerangan di jalanan tadi siang. Ia tahu sedikit saja dirinya lengah, itu bisa dimanfaatkan oleh para musuhnya.
Di dalam salah satu kamar president suite, Alisya tampak mumpung, gadis itu berdiri di balkon kamar dengan tatapan kosong.
Suasana malam yang dingin dengan diwarnai kerlip lampu kota, tak mengalihkan perhatiannya dari pikiran yang mengganggu ketenangannya. Memeluk tubuhnya sendiri, menghilangkan rasa dingin akibat terpaan angin malam, pikirannya melayang pada kedua mendiang kedua orang tuanya.
Beberapa hari yang lalu, dengan di antara oleh Viana, ia berkunjung ke makan kedua orang tuanya, untuk meminta izin atas pernikahan yang akan ia lakukan.
Di saat hari bahagianya, kini dia hanya sendiri, tak ada keluarga yang menemani di sisinya. Sang paman yang ia harapkan bisa menjadi pengganti orang tuanya, ternyata malah menusuknya dari belakang, memanfaatkan kekayaan keluarganya untuk kesenangan mereka sendiri.
Jangankan memberikan kasih sayang, keadilan pun tak ia rasakan, setelah kepergian kedua orang tuanya. Dia harus rela tinggal di kamar tidur belakang dengan baju bekas Mona–anak dari Bima. Sedangkan kamar dan segala isinya, harus ia serahkan pada gadis itu.
Hidup dengan serba kekurangan, ia tak tahu bagaimana bila tidak ada Bi Ani yang menemaninya, mungkin sejak lama ia sudah tidak bisa menanggung beban di pundaknya.
Bulir bening mulai mengalir membasahi pipinya, saat ia kembali mengingat kenangan pahit masa lalunya. Kerinduan kepada kedua orang tuanya kian menelusup memenuhi renungan hatinya. Rasa sepi itu, kini menjalar, membuat ia larut dalam kenangan.
Drrt ... drrt ....
Suara getar ponsel yang tergeletak di atas meja kecil, membuyarkan lamunannya, membalikkan badan untuk meraih beda pipih itu.
Senyumnya terbit, saat melihat nama sang calon suami di layar ponselnya, menghapus air matanya.
“Ekhm,” berdehem beberapa kali untuk mengamalkan kembali suaranya.
Tangannya menggeser ikon hijau lalu menempelkan benda itu di telinga.
“Kak Andini bilang kamu belum makan malam, kenapa hem?”
Belum sempat dirinya membuka mulut, ia sudah mendengar ocehan dari Agra. Tersenyum geli, saat mengingat betapa dinginnya lelaki itu saat pertama kali bertemu.
“Aku tidak apa-apa, hanya belum lapar saja,” jawab Alisya.
“Keluarlah, aku memunyai kejutan untukmu.”
__ADS_1
Alisya mengerutkan keningnya. “ Kejutan apa?” tanyanya.
“Keluar dulu, maka kamu akan tahu apa kehutanannya.”
“Kita sedang tidak boleh bertemu loh, jangan bilang kamu mau melanggar peraturan Mama?” tuduh Alisya.
Agra tersenyum tipis saat dapat melihat Kalau gadisnya itu masih belum beranjak dari balkon. Alisya malah duduk di kursi dengan wajah kesal.
Ya, saat ini ia sedang menikmati wajah gadisnya, dari layar monitor CCTV hotel yang diretas oleh anak buahnya.
Terkekeh kecil, hingga membuat para anggota Black Eagle merinding, mendapati sikap berbeda dari ketuanya.
“Kenapa? Apa kamu sangat merindukanku sampai berharap aku menemuimu sekarang?”
Alisya mendengus kesal, bukan itu maksudnya, hanya saja dia tahu Agra bisa melakukan semuanya.
“Siapa bilang, aku tidak berkata begitu!” cebik Alisya.
Senyum di bibir Agra semakin melebar, mendapati Alisya yang kini tampak berdiri di dekat pembatas besi, dengan sesekali menghentikan kakinya, menahan kesal. Persis seperti anak kecil.
“Baiklah, jangan marah oke. Sebaiknya sekarang kamu keluar, atau mungkin nanti kamu akan menyesal,” ucap Agra, sedikit mengancam, walau dengan nada santai.
“Iya-iya ini aku keluar!” Alisya berjalan menuju pintu masuk.
Belum sampai di pertengahan kamar, suara ketukan pintu terdengar.
“Baiklah, kalau begitu tutup dulu teleponnya ya, selamat malam.” Agra berucap di iringi tawa kecil.
Sambungan pun terputus, Alisya meneruskan langkahnya, untuk membuka pintu.
Cklek
Mata gadis itu melebar, dengan tangan menutup mulutnya, saat melihat tiga orang yang berdiri di depan pintu.
“Delina, Rima?!” dengan setengah tidak percaya, Alisya menyebutkan dua nama sahabatnya.
“Alisya, kami tega banget sih sama kita, masa mau nikah gak bilang-bilang!”
Alisya langsung memeluk kedua orang di depannya, dengan perasaan haru. Ia tak pernah menyangka kalau Agra mendatangkan kedua sahabatnya.
Mereka bertiga tampak berpelukan, Alisya meneteskan air matanya, saat maniknya melihat satu orang wanita paruh baya yang berdiri di belakang kedua sahabatnya.
“Bibi,” lirihnya. Mengurai pelukannya dan berjalan menghampiri pengasuhnya yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.
__ADS_1
“Apa kabar, Non?”
Alisya menghambur pada pelukan wanita paruh baya itu, saat dirinya sudah yakin kalau itu adalah Bi Ani.
“Bibi, aku kangen banget,” ucapnya, dalam pelukan Bi Ani.
“Bibi juga kangen banget sama, Non. Non ke mana aja, kenapa gak ngabarin Bibi?” tanya Bi Ani.
Tangannya mengusap lembut punggung anak asuhnya.
“Nah udah pada ketemu kan? Sekarang kita makan malam yuk.”
Perkataan lembut dari seorang wanita muda yang baru saja datang, mengalihkan perhatian keempat orang itu.
“Kak Andini.” Alisya tampak mengurai pelukannya, mengusap bekas air mata di pipinya.
“Sudah waktunya makan malam. Mama dan Papa juga sudah menunggu kalian di restoran,” ucap Andini lagi.
Akhirnya mereka semua turun menuju restoran bersama-sama.
“Kalian tahu dari mana aku di sini?” tanya Alisya, ketika mereka sedang berada di dalam lift.
“Aku dan Rima, di jemput sama pak Edo, ke rumah!” jawab Delina, karena tadi memang dirinya di jemput oleh Edo.
“Bibi di jemput sama juga, tapi gak tau itu siapa,” ucap Bi Ani.
“Itu pasti salah satu suruh Agra,” ucap Alisya menebak.
Senyumnya kembali merekah, rasa sepi yang tadi sempat mengganggu dirinya, kini sudah berganti dengan rasa bahagia, karena kedatangan para sahabat dan juga pengasuhnya.
Walaupun mereka bukan keluarga yang terikat oleh darah, tetapi, kehadiran mereka sangat berarti untuk Alisya.
Sampai di resto hotel, mereka langsung disambut oleh Viana, dan mengajaknya duduk bersama. Kini semuanya sedang menikmati makan malam bersama di satu meja besar, kecuali Agra tentunya.
Lelaki itu lebih memilih menghabiskan waktunya, di ruang pengawas untuk menikmati wajah gadisnya yang sudah sangat ia rindukan.
Malam itu, ia dapat merasakan kebahagiaan saat melihat wajah bersemangat gadisnya, walaupun hanya dari layar monitor. Senyum dan tawa riang Alisya, seakan bis ambruk menyelusup ke dalam renungan hatinya, membuat ia ikut merasakan apa yang gadis itu rasakan.
Hingga saat gadisnya tertidur, Agra baru saja beranjak untuk beristirahat juga. Menyiapkan diri untuk acara esok hari yang pasti akan lumayan melelahkan.
... 🦅...
__ADS_1
...🦅...
...TBC...