Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.73 Dimulai


__ADS_3

 


... Happy Reading...


...🦅...


“Kenapa kalian bisa sampai kecolongan begini, hah?!” teriak Suseno pada semua anak buahnya, saat ia dan anaknya baru saja sampai di sebuah rumah.


“Ma–maafkan kami, Tuan. Kami sudah berusaha sebaik mungkin, tetapi ternyata mereka lebih jeli,” gugup salah satu anak buah Suseno yang di tugaskan sebagai ketua di sana.


“Akh, sialan. Terus bagaimana dengan para warga dan karyawan yang sudah memihak pada kita?” tanya Suseno lagi.


“M–mereka semua kembali berpihak pada perusahaan, Tuan. Karena kedatangan Andrew dan anaknya ke kampung dan menjelaskan bahkan membawa bukti yang sangat kuat,” jawab lelaki itu lagi, dengan tubuh bergetar menahan takut.


“Anaknya?” tanya pria yang lebih muda di samping Suseno.


“I–iya, Tuan.”


“Pah, apa itu Agra? Bagaimana mungkin kita tidak tahu tentang keberangkatannya ke sini?” tanya anak Suseno itu.


Suseno tampak terdiam dengan kening berkerut dalam.


“Sejak kapan dia ada di sini?” tanya Suseno lagi.


“Mungkin sudah dua hari ini, Tuan,” jawab anak buah itu, gugup.


“Sialan! Dia pintar sekali memanipulasi keadaan.” Kedua ayah dan anak itu mengepalkan tangan, menahan emosi.


Rencana yang mereka susun untuk menghancurkan kejayaan Agra dengan susah payah, kini terasa sia-sia. Tak ada Satu pun hasil yang bisa mereka dapatkan, semunya telah berakhir karena kelalaian mereka sendiri.


.


Malam menyambut dengan langit gelap tertutup awan hitam.


Di dalam sebuah mobil, dua orang lelaki dengan aura gelap sedang berpacu dengan waktu, mereka baru saja mendapat kabar kalau ada pergerakan mencurigakan di sekitar perumahan penduduk.


Sedangkan Ruhan dan Edo, sedang bertarung dengan para penyerang di tempat yang berbeda.


Agra dan Andrew dua orang ayah dan anak itu memutuskan, untuk langsung menangani penyerang di perkampungan penduduk.


“Sial, ternyata mereka membagi regu dan menyerang kita dari segala sisi!” geram Agra, dia memacu mobilnya lebih kencang lagi. Untung saja suasana jalanan di sana sedang lengang, hingga Agra bisa leluasa dalam mengemudi.


Sebelumnya Andrew sudah memperingatkan para warga, hingga mereka pasti sudah lebih waspada. Hanya saja yang mereka khawatirkan saat ini adalah, sedikitnya anggota Black Eagle yang berjaga di sana.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai Agra sudah terparkir di pinggir jalan besar, mereka memutuskan untuk berjalan dari sana, supaya tidak terlalu mencolok.


Andrew dengan cekatan membuka kursi mobil bagian belakang, yang merupakan tempat berbagai senjata tersimpan, memberikan dua buah senjata api kecil dan beberapa belati untuk berjaga-jaga. Sekaligus mempersiapkan dirinya sendiri.


Keduanya keluar dari mobil dengan dengan begitu waspada, Andrew menekan aerphone di telinganya, menghubungi salah satu anak buahnya.


“Baiklah, kita akan segera ke sana,” ujar Andrew begitu sudah mengetahui lokasi mereka saat ini.


Tanpa berkata, kedua ayah dan anak itu langsung mempercepat langkahnya dengan penuh waspada, suasana di sana sekarang bagaikan sebuah kampung mati, tanpa ada orang yang terlihat.


Semuanya sudah di evakuasi dari sana sejak siang tadi, hingga kampung itu kini kosong.


Langit yang semakin gelap dengan gerimis yang mulai turun semakin menambah suasana mencekam.


Agra menajamkan pendengaran saat merasakan ada yang mengikutinya, ia menahan langkah Andrew dan bersembunyi di salah satu tembok rumah warga.


Andrew pun ikut waspada saat telinganya mendengar sesuatu yang mencurigakan mendekat ke arah mereka.


Agra sedikit membungkukkan tubuhnya, melihat dari sisi tembok, sesuatu yang sedang terjadi.


Ternyata ada beberapa orang yang terlihat, seperti sedang memeriksa rumah-rumah warga. Mereka mengintip ke dalam melalui celah-celah pintu dan kaca jendela.


Agra langsung mengarahkan senjata api dengan peredam suar ciptaannya, kepada sekitar tiga orang di sana.


Dalam sekejap ketiga orang tersebut sudah dapat dilumpuhkan walaupun tak sampai mati.


Ya, peluru yang dia gunakan hanyalah obat bius yang sudah di desain khusus, dengan dosis tinggi hingga membuat korban langsung tak sadarkan diri, bahkan seperti orang mati.


Andrew langsung menghubungi anak buahnya untuk membereskan korban yang ada.


Wusshh


Dorr


Agra memiringkan tubuhnya, sambil menarik satu lagi senjata api di balik jaketnya, dan mengarahkan pada seseorang di balik salah satu tembok rumah warga.


Sebuah belati melayang dan mengarah pada dadanya, hingga  sempat menggores sedikit lengan atasnya.


“Ck, pancingan ternyata!” desis Agra dengan seringai di wajahnya.


Andrew dengan sigap kembali mengarahkan senjata apinya, saat pergerakan kembali muncul di arah berlawanan.


Ternyata saat ini mereka tengah di kepung oleh sekitar sepuluh orang lelaki bersenjata.

__ADS_1


“Heh, hanya mainan ternyata,” desis Andrew, kini posisi mereka saling membelakangi dengan punggung menempel.


“Senjata mereka mengandung racun, kau harus hati-hati,” ujar Andrew memperingati.


Agra melihat semua senjata yang dipegang oleh Para pria itu, warna yang tidak biasa, menjadi indikasi kalau semua senjata itu,  sudah direndam di dalam cairan berbagai macam racun berbahaya. Menarik sebelah ujung bibirnya, ternyata cepat juga mereka mempersiapkan diri.


“Siap bermain, Dad?” tanya Agra, satu tangan memegang senjata api, dan satu lagi dengan sebuah belati yang lumayan besar.


Sedangkan Andrew membawa dua buah senjata api di tangannya.


“Tentu saja, sepertinya ini akan sangat menyenangkan,” jawab Andrew, mereka malah asyik berbincang, sambil menunggu serangan dari para pria di sekelilingnya.


“Kita mulai sekarang?” tanya Agra, begitu santai.


Tiga!


Hitungan tanpa awal itu langsung menjadi pertanda untuk keduanya.


Dor ... Dor ... Dor....


Tembakan beruntun mereka lakukan sambil  menghindari lemparan senjata kecil seperti belati, kunai dan berbagai senjata seperti jarum dengan ujung runcing dan tajam di depannya.


Pertarungan itu berlanjut begitu mencekam, dua lawan sepuluh dengan senjata lengkap di tangan masing-masing. Tak cukup untuk menumbangkan sepasang ayah dan anak itu.


Setelah lima belas menit, bertarung dengan berbagai jurus, Agra dan Andrew sudah berdiri tegak kembali, membetulkan jaket mereka yang sedikit berantakan, dengan tubuh bergelimpangan di sekitarnya.


Bau amis darah yang bercampur, dengan tanah, juga tembok cor yang menutupi tempat itu, terasa semakin menyengat menusuk hidung, ketika rintik gerimis turun semakin lebat.


Agra mengibaskan sedikit kepalanya, membuat rambutnya yang basah bergoyang hingga memberikan efek cipratan air di sekitarnya.


Andrew berdecak jengah, melihat sikap Agra yang masih bisa memperhatikan ketampanannya.


Agra hanya mengangkat bahu acuh, kemudian melangkah beriringan, menapaki kembali jalanan perumahan padat penduduk itu, menuju pertarungan anak buahnya yang lain di depan rumah Pak Rahmat. Andrew baru saja mendapat kabar dari salah satu anak buahnya.


“Ah, sialan! Karena semua ini aku harus kembali ke tempat ini,” gerutu Agra di sela langkahnya.


Ingatan tentang gadis murahan yang merupakan anak dari pak Rahmat, membuatnya merasa jijik.


“Sudahlah, memang kenapa kalau kau harus kembali lagi ke sini? Bukannya sekarang gadis itu juga sedang tidak ada?” ejek Andrew.


Agra berdecak kesal, sambil terus berjalan. Walau keduanya tampak santai, sesungguhnya setiap indra yang ada di dalam tubuh mereka, bergerak waspada, meneliti keadaan sekitar, dan akan bereaksi bila ada sesuatu yang janggal.


...🦅...

__ADS_1


...🦅...


...TBC...


__ADS_2