
...Happy Reading...
...🦅...
Dalam perjalanan pulang Alisya memandang Agra dengan alis bertaut, gadis itu merasa aneh dengan perubahan sikap Agra yang terlalu mendadak.
''Ada apa, kenapa kamu melihatku seperti itu?'' tanya Agra, pada gadis yang sejak keluar dari kantor terus memandangnya.
''Enggak, aku cuman bingung aja,'' jawab Alisya.
Lelaki yang sedang fokus menyetir itu tampak melirik Alisya dengan satu alis terangkat, sebagai tanda bertanya.
''Kenapa?'' tanya Agra lagi, saat gadis di sampingnya hanya diam tanpa terdengar suara sedikitpun.
''Ya, aku bingung aja sama sikap kamu, yang tiba-tiba jadi baik sama aku.'' Alisya tampak berkata sambil memandang lekat lelaki di sampingnya.
Agra menghentikan mobilnya di pinggir jalan, memiringkan tubuhnya agar dapat melihat penuh gadis di sampingnya.
''Maksud kamu, selama ini aku gak baik. Begitu?'' tajam Agra tidak terima dengan apa yang di katakan oleh Alisya.
''Ya, enggak juga sih. Kalau kamu jahat, kamu kan gak akan mau menampung aku di apartemen dan menyelamatkan aku dari Om Bima.'' ALisya tampak menautkan alisnya seperti sedang berfikir keras.
Tatapannya mengarah ke depan, dengan pemandangan jalannan yang mulai kembali padat.
''Nah itu kamu tau,'' ucap Agra menghembuskan napas kasar. Berbalik kembali, untuk menjalankan mobilnya.
'''Eh, aku belum selesai ya, bukan berarti semua itu membuat kamu jadi baik di mataku! Sebenarnya kamu hanya memanfaatkan aku untuk membersihkan rumah dan menyiapkan kalian makan, bukan?'' ucap Alisya, dengan raut wajah kesal.
''Eh, mana ada? Aku tidak pernah menyuruhmu memasak dan membersihkan apartemen. Itu semua bukankah kemauan kamu sendiri?'' ucap Agra tajam.
''Ya, mana mungkin aku tinggal di apartemenmu tapi tidak melakukan apa pun, aku bukan orang yang tidak tau malu seperti-'' Alisya tampak menghentikan perkataannya.
''Seperti keluarga pamanmu itu 'kan?''' sambung Agra cepat,.
Alisya reflek langsung memalingkan wajahnya, menatap Agra dengan tatapan sendu, mengingat perbuatan jahat pamannya, setelah kedua orang tuanya tiada.
''Eh, jangan nangis dong, maaf kalau aku ada salah bicara ya,'' ucap Agra, panik. Saat melihat, wajah memerah milik gadis di sampingnya.
Alisya menggeleng, lelaki itu tidaklah salah, dia hanya rindu dengan kehangatan sebuh keluarga.
Pelukan hangat seorang ibu, kasih sayang seorang Ayah dan keceriaan sebuah keluarga.
Semua itu sudah terasa sangat lama, tak dapat ia rasakan lagi, bahkan mungkin sekarang dia sendiri mungkin lupa, akan rasanya mempunyai keluarga.
''Aku hanya rindu ayah dan ibuku,'' jawab Alisya, sendu.
Agra melepas sabuk pengaman miliknya, lalu membawa tubuh mungil gadisnya ke dalam pelukan hangat dirinya. Berusaha untuk memberikan ketenangan dan menghilangkan kegundahan hati Alisya.
Agra bisa merasakan kaos yang dirinya pakai mulai lengket, karena basah oleh air mata. Alisya menangis tanpa suara, di dalam pelukan lelaki berparas sempurna itu.
Perlahan, tangannya terulur membalas pelukan Agra, meremas baju bagian belakang milik lelaki itu, mencoba untuk melepas semua beban di dalam hatinya.
Beberapa menit mereka berada di dalam posisi yang sama, hingga akhirnya Alisya sendiri yang melepas peluknnya pada Agra. Setelah ia merasakan lebih tenang dari sebelumnya.
__ADS_1
''Sudah lebih tenang?'' tanya Agra lembut, salah satu tangannya menghapus air mata yang masih tersisa di wajah cantik itu, dengan sangat lembut.
Dalam hati, Agra berjanji untuk selalu memberikan kebahagiaan bagi gadis malang itu
Alisya memejamkan matanya, menikmati sensasi hangat yang tersalurkan melalui jari besar, milik lelaki pelindungnya itu.
Agra tersenyum melihat tak ada reaksi penolakan dari gadis itu.
''Sepertinya kamu lelah, lebih baik kamu istirahat saja, untuk malam ini, tak usah memasak. Biar nanti aku suruh Edo untuk memesan makanan di resto.''
Agra berucap, saat mereka sudah turun dari mobil, dan berjalan menuju lift khusus.
Hari memang sudah mulai gelap, mengingat tadi Agra sempat mengerjakan berkas yang harus di tanda tangani secepatnya, jadi Alisyaa menunggunya sampai selesai bekerja.
Beberapa kali dia meminta ijin untuk pulang terlebuh dulu. Tetapi, lelaki itu tidak mengijinkannya.
Sampai di aprtemen, Agra dan Alisya langsung berpisah, menuju kamar mereka masing-masing.
Ternyat menahan amarah dan sakit hati itu cukup banyak memakan energi, sampai Alisya langsung terlelap begitu saja di atas tempat tidur, saat ia baru saja merebahkan tubuhnya.
............
Malam hari apartemen mewah Agra terlihat lebih ramai, di bandingkan dengan biasanya.
Beberapa orang lelaki tampak sedang berbincang hangat di atas sofa. Sedangkan dua orang perempuan tampak sibuk di dapur, untuk menyiapkan, makan malam.
Mereka adalah seluruh keluarga besar Ainsley. Orang tua, dan semua saudara Agra baru saja sampai sekitar tiga puluh menit yang lalu bersama Edo.
Ya, mereka bertemu dengan asisten pribadi dari Agra itu, di lobby apartemen.
Agra memang tidak pernah suka menjadi perhatian banyak orang, maka dari itu dia lebih suka melalui lift khusus.
Hanya sesekali saja dia mau berjalan melewati lobby, itu saja bila sedang ada tamu penting yang menunggunya atau terpaksa dan ada kejadian mendesak lalinnya.
Agra yang tidak tau tentang kedatangan mereka hanya bersikap biasa saja, dia sudah mengira kalau mereka pasti akan datang ke apartemennya kapan saja, karena kemarin ibunya sudah bilang ingin main ke tempat tinggalnya.
Namun, dia tidak menyangka kalau mereka akan datang secepat ini. Bahkan dengan pelengkapan lengkap untuk memasak yang di bawa oleh Viana.
Ibunya itu, masih ingin memasak langsung untuk diriya, wanita paruh baya itu merasa belum puas, melihat wajah sumringah sang anak, saat dia memasak makanan kesukaannya.
Welcome King
Suara sistem pengunci pintu, yang mendeteksi sidik jari seseorang yang akan masuk, mengalihkan perhatian semua lelaki yang berada di ruangan itu.
Andrew
Ya, lelaki paruh baya itu, tampak berjalan tenang menuju empat orang yang tengah duduk di sofa ruang keluarga.
Agra menatap malas kedatangan ayah angkatnya itu.
''Tuan Andrew,'' gumam Gerald dan Fandy, bersamaan.
Sedangkan Edo sudah beranjak berdiri di belakang Agra.
__ADS_1
''Ada tamu rupanya, selamat malam semuanya ... maaf saya masuk tanpa permisi,'' ucap Andrew ramah.
''Ah, tidak apa-apa, selamat malam, Tuan Andrew. Apa kabar.'' Gerald dan Fandy langsung berdiri untuk menyambut Andrew.
''Dad, tak ada drama aneh-aneh lagi," peringat Agra pada ayah angkatnya itu.
Terdengar suara kekehan kecil dari mulut lelaki peruh baya itu, menanggapi perkataan Agra.
Duduk santai di samping Agra yang sedang menggendong keponaannya.
''Tenang, Boy. Kali ini aku tidak akan macam-macam,''
Andrew memang berkata kepada Agra. Namun mataya terus tertuju pada anak lelaki manis yang tengah duduk di pangkuan Agra.
''Hai, siapa namamu, gateng?'' tanya Andrew.
''Aku, Rega, anaknya Papa Fandy dan Mama Andini,'' ucap berani, anak berusia sekitar empat tahun itu.
''Waah, nama yang bagus. Perkenalkan aku Opa Andrew, Daddy dari Om Agra.''
''Opa Andew, bukan Om .... Tapi, Papi,'' jelas anak itu dengan suara cadel khas anak kecil, yang membuatnya tampak lucu di mata Andrew.
''Baiklah, Papi Agra,'' ucap pasrah lelaki paru baya itu.
Perlakuan Andrew kepada Rega membuat Gerald dan Fandy mentap terkejut, dengan apa yang terjadi di depan mereka.
Seorang Andrew yang terkenal dingin dan arogan, kini berlaku sangat hangat kepada seorang anak kecil. Sungguh tidak bisa di percaya.
Keterkejutan Keluarga Ainsley belum selesai, karena setelah kedatangan Andrew.
Kini di dapur, Viana dan Andini juga tengah menatap bingung seorang gadis yang baru saja keluar dari sebuah kamar.
Begitu juga dengan Alisya, gadis itu menatap bingung kepada dua orang wanita yang berada di dapur.
Dia baru saja bangun tidur, dan berniat mau memasak untuk makan malam. Tetapi, apa yang ia lihat malah membuatnya malu setengah mati.
"Astaga, kamu bukannya gadis yang di bawa Sagara ke pesta waktu itu?!" tanya Viana, setelah dia bisa mengendalikan keterkejutannya.
Alisya hanya mengangguk bodoh,walau dalam hati ia masih bertanya-tanya, siap orang yang di sebut dengan nama Sagara.
Menatap ling-lung dengan tangan meremas ujung kaos longgar yang ia pakai. Sungguh, gadis itu kini dilanda rasa gugup.
"Ya ampun, ini Ica, anaknya Kinanti yang dulu suka ngikutin Sagara?! Kamu cantik banget sayang, Tante sampe gak ngenalin kamu!" cerocos Viana heboh.
Lengan dan pandangannya, memeriksa setiap lekuk tubuh gadis yang kini berdiri tepat di hadapannya.
Alisya hanya terdiam menerima setiap Perlakuan yang di perbuat oleh Viana.
Fikirannya tiba-tiba saja terasa kosong, kepalanya berusah mengingat siapa wanita paruh baya yang kini tampak sangat heboh. Apakah dirinya pernah mengenal wanita itu sebelumnya?
...🦅...
...🦅...
__ADS_1
...TBC...
...🙏😊🥰...