
...Happy Reading...
...π¦ ...
"Tuan, ada undangan pesta ulang tahun pernikahan dari Tuan Arnold, untuk Anda." Edo menyerahkan undangan berwarna biru dengan dihiasi pita berwarna siver di tengahnya.
Agra mengalihkan Pandangannya dari berkas yang sedang ia baca, pada sang asisten.
Sunggingan senyum tipis terlihat menghiasi wajah tampan itu.
"Sesuai prediksi," ucapnya menatap kartu undangan yang berada di tangannya.
Tak...
Agra kembali melempar undangan itu ke atas meja.
"Bagaimana persiapan kejutannya?" Agra menatap kembali sang asisten, dengan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kebesarannya.
"Sudah, Tuan," jawab Edo, mantap.
Agra mengangguk puas, dengan semua yang telah ia rencanakan.
Setelah selesai dengan laporannya, Edo permisi untuk kembali ke ruangannya.
Agra beranjak dari kursi, berjalan menuju salah satu dinding kaca, tatapannya menajam, melihat kesibukan di luar sana.
Ingatannya kembali pada waktu dia, masih berada di tengah-tengah keluarganya.
Saat itu, adalah hari pesta ulang tahun sang Fandy Ainsley -kakak kandungnya, yang ke tujuh belas tahun. Sehingga semua keluarga berkumpul di rumahnya.
Flash back ....
"Eh, ada anak bodoh di sini," ujar salah satu orang pamannya.
Agra saat itu sedang berjalan menuju pada sang kakak yang berada di ruang keluarga, bersama saudara yang lain.
Tak ada jawaban dari mulut Agra, tetapi, tatapan tajamnya, terarah pada sang paman.
Beranjak pergi, tanpa perduli umpatan dan ejekan yang keluar dari mulut para keluarganya sendiri.
"Dasar, tidak tau sopan santun!"
"Selain bodoh, dia juga kurang ajar!"
"Jangan-jangan dulu waktu di rumah sakit, di tertukar dengan anak bayi orang miskin, makannya seperti itu."
"Berbeda sekali dengan Fandy yang pintar dan ramah, ya?"
"Emang dasar, anak tak tau diri!"
Semua umpatan itu, terdengar jelas di telinganya.
Walaupun saat itu Agra terlihat tak perduli. Tetapi, dalam hatinya, ia merasakan sakit yang perlahan berubah menjadi kebencian.
Tak ada yang membela nya, tak ada yang menganggapnya.
Agra hanya berdiri di atas kaki kecilnya seorang diri, persis seperti seorang anak pungut yang tak di anggap.
Flash back off
Menghela napas berat, dengan kepalan tangan semakin erat.
__ADS_1
Bayangan yang sangat ia benci itu, selalu saja menghantuinya.
"Tunggu sebentar lagi, akan ku hancurkan kau, sampai mulut busukmu itu, tak bisa lagi berkata-kata," gumam Agra.
Drrttt ... drrttt ....
Suara dering ponsel, membuat Agra menoleh ke atas meja.
Maju beberapa langkah, untuk meraih ponselnya di atas meja.
Beberapa saat kemudian, Agra sudah berada di dalam mobil bersama Edo. Mengendarai dengan kecepatan maksimal yang ia bisa, menyatu dengan keramaian kendaraan di jalan.
Dalam hati, Edo mengumpat sang Tuan, yang tak tau tempat.
'Dia kira ini di luar negri, semuanya saja berkendara seperti orang kesetanan!' umpatnya.
Kalau saja ini adalah di negara asalnya, dirinya tidak akan takut seperti ini. Karena di sana, suasana jalan lengang, dengan warga yang sudah tau kedudukan keluarga Grissham.
Hingga, tidak ada yang berani melawan atau pun mencari masalah dengan mafia terbesar di negara itu.
Namun, keadaan sekarang, di negara ini sangat berbeda dengan di sana.
Di sini, jalanan sangat ramai dengan warga yang tidak pernah tau tentang Black Eagle.
Belum lagi, hukum yang jauh berbeda. Bila terus seperti ini, bisa-bisa mereka menjadi buruan polisi lalu lintas.
Namun, semua itu, hanya bisa ia ungkapkan dalam hati saja.
Melihat raut wajah kelam Agra saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri, apa Lagi kalau harus menghadapi kemarahan ketua dari Balck Eagle.
Suara klakson dari beberapa pengendara menghiasi perjalanannya saat ini.
Di tambah dengan berbagai teriakan yang penuh dengan sumpah serapah, akibat kekesalan para pengendara yang merasa terganggu, oleh laju kendaraan sang Tuan.
Ingatannya kembali pada beberapa saat yang lalu.
Flash back
Brak...
Suara pintu yang terbuka dengan sangat keras, membuat Edo mengalihkan perhatiannya dari berbagai berkas di mejanya.
"Ikut aku sekarang!" ucap Agra dengan wajah yang sudah memerah, menahan amarah.
Secepat kilat, Edo bangkit dari kursi kerjanya dan menyusul Agra yang sudah berjalan lebih dulu.
Langkah lebar keduanya, meninggalkan kantor, menjadi perhatian para karyawan.
Dalam setiap langkahnya, Edo sibuk mencari informasi tentang kemarahan sang Tuan yang tiba-tiba.
Hingga, ketika mereka masuk ke dalam mobil, ia baru saja mendapat info, kalau saat ini markas sedang di serang, kelompok mafia saingan mereka.
Flash back off
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di markas rahasia Black Eagle.
Dari luar gerbang, suasana terlihat hening, seperti tidak ada aktivitas menegangkan di dalamnya.
Agra memarkirkan mobil yang ia kendarai di luar.
Edo melempar senjata api dengan peredam, kepada sang Tuan. Setelah mereka keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Berjalan mengendap-endap, penuh waspada. Hingga sampai di jalan rahasia, yang terdapat di sisi sebelah timur rumah besar itu.
Melalui sebuah lorong kecil di belakang pohon besar, hingga akhirnya mereka keluar dari pintu rahasia di daerah belakang rumah.
Suara gaduh mulai terdengar jelas, menyapu telinga kedua lelaki tampan itu.
Agra dan Edo saling melihat, seakan berbicara hanya dengan kontak mata saja. Hingga akhirnya keduanya mengangguk, lalu perlahan keluar dari sana, secara bersamaan.
Suasana di dalam markas, sudah sangat berantakan, dengan banyak anak buah Agra maupun penyerang tergeletak penuh luka.
Mereka berdua berjalan menuju ruang utama, di mana pertarungan itu sedang berlangsung.
Tak ada yang menggunakan senjata, apa karena mereka tau, kalau di sini adalah sebuah perumahan.
Tapi semua itu, tidak berlaku untuk Agra dan Edo, mereka membawa senjata api yang sangat canggih, hasil dari ciptaan Agra sendiri.
Kedua senjata itu, sudah di lengkapi dengan peredam tingkat tinggi, hingga tak akan ada suara yang keluar.
"Siap?" bisik Agra.
Edo mengangguk, detik berikutnya, kedua lelaki itu, sudah menembak sebagian besar dari anak buah musuh.
Salah satu lelaki yang di ketahui sebagai ketua dari para penyerang, nampak bingung melihat para anak buahnya, yang sudah tergeltak tak berdaya, dengan luka tambak di bagian tubuhnya.
Mungkin dia lupa, kalau yang saat ini sedang dirinya serang, adalah markas dari mafia Black Eagle, yang memproduksi senjata api, dan mengedarkannya pada hampir seluruh dunia.
Prok ... prok ... prok ....
Agra keluar dengan temukan tangan lambat dari tangannya.
Di belakangnya, Edo berjalan dengan tangan menggenggam senjata di depan wajahnya.
"Kau sungguh berani, menyerang markas Black Eagle, Lucas Peadel!" tajam Agra.
Aura mencekam, menguar tajam dari tubuh lelaki berwajah sempurna itu.
Lucas menoleh gugup, saat mendengar suara berat penuh ancaman dari ketua Black Eagle itu.
Dia tidak pernah menyangka, akan berhadapan dengan sang ketua, yang terkenal kejam dan tanpa ampun.
"Sang Leo," gumamnya dengan mata terbuka lebar.
"Ya, akulah Sang Leo!" suara itu tak terlalu kencang, tetapi sukses membuat orang yang mendengarnya bergetar ketakutan.
"Bertarung denganku satu lawan satu, atau ... menyerah sajalah!" ucapan yang harusnya terdengar jenaka itu, membuat Lucas lemas seketika.
'Brengs*k! Mengapa tak ada kabar tentang kedatangannya ke negara ini?!' umpat Lucas dalam hati.
Agra memang sengaja merahasiakan kedatangannya, agar tak memancing para musuh dari negara tetangga untuk datang.
"Bagaimana?" tanya Agra, tidak sabar.
Lucas menelan salivanya dengan susah payah, kini dirinya sudah terjebak, dengan permainan yang sendiri.
...π¦ ...
...π¦ ...
...TBC...
Maafkan karena saya telat up, dari kemarin saya gak enak badan, jadi agak sulit untuk konsen menulis.
__ADS_1
Terima kasih yang masih menungguπππ