
...Happy Reading...
...🦅...
Hari-hari terakhir menuju pesta pernikahan, Agra justru semakin sibuk, walaupun Andrew sudah kembali dan mengambil alih sebagian pekerjaan kantor. Tetapi, ia harus fokus pada rencananya untuk memberikan kejutan bagi Alisya, di hari pernikahannya.
Apa lagi pada saat menjalani ritual pingitan seperti sekarang ini, Agra yang frustrasi karena semua itu, mengalihkan pikirannya pada pekerjaan.
Lelaki itu jadi lebih sering lembur, atau membawa pekerjaan ke rumah. Untung saja, Andrew melarang Agra untuk ikut dalam misi berbahaya, jadi Agra tak melampiaskannya kekesalannya pada korbannya.
Bahkan, untuk sementara, setidaknya sampai pesta pernikahan Agra, Andrew mengambil alih kembali jabatan ketua Black Eagle.
Agra tak keberatan sama sekali, toh sebelumnya juga Andrew memang yang menjabat di sana. Lagi pula, dia masih bisa mendapatkan semua kegiatan yang terjadi dalam organisasi, dari para anak buahnya, termasuk Edo dan Max.
Agra hanya menghubungi Alisya pada saat mempunyai waktu senggang, kadang mereka berkabar melalui pesan atau telepon saat Agra sedang makan, atau dalam perjalanan saja.
Seperti pagi ini, Edo dan Agra sedang dalam perjalanan menuju kantor, dengan santainya Agra menelepon Alisya dan mengatakan kata-kata rayuan yang membuat Edo serasa panas telinga, mendengarnya.
“Sayang, aku kangen sekali sama kamu.”
Edo mendengus kesal, saat lagi-lagi ia mendengar kata itu untuk yang ke sekian kalinya dari mulut Agra.
“Ya ampun, aku sudah hampir gila rasanya, karena tidak bisa melihat wajah cantikmu. Kenapa juga, mama harus melakukan peraturan konyol seperti ini?!” gerutu Agra.
Edo serasa ingin muntah, mendengar perkataan berlebihan itu.
“Tuan, kita sudah sampai.” Edo berucap, saat ia sudah hampir lima menit menghentikan mobil di tempat parkir khusus.
Agra tampak melihat sekitarnya dari kaca jendela, tersenyum puas, saat melihat di mana dia berada sekarang.
“Sayang, aku sudah sampai. Sudah dulu ya ... kamu nanti hati-hati keluar rumah sama mama dan Kak Andini.” Agra berucap panjang lebar, sebelum menutup panggilannya.
Bersiaplah, aku akan memberikan kalian kejutan yang tak akan pernah bisa dilupakan.
Agra tersenyum, penuh makna. Melangkah menuju lobi, kantor perusahaan perhiasan mewah tersebut.
Ya, kali ini Agra sedang berada di kantor utama Prananta Jwelry.
Begitu ia menginjakkan kakinya di pintu utama, Agra langsung menjadi pusat perhatian. Seperti biasa, kehadiran dua lelaki itu, selalu membuat kehebohan.
__ADS_1
“Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?” seorang resepsionis bertanya dengan sangat ramah dan suara yang dilembutkan.
Edo maju, mewakili Agra yang memilih untuk mengedarkan pandangannya pada setiap interior kantor tersebut.
Terlihat sangat kuno dan ketinggalan jaman, sepertinya kantor ini sudah sangat lama tidak di perbaharui dalam interiornya.
Beberapa saat Edo berbicara dengan resepsionis tersebut, hingga akhirnya mereka diantarkan menuju lantai teratas gedung, untuk bertemu para petinggi perusahaan.
“Kantor ini mencerminkan orang tua itu, sangat kumuh dan ketinggalan jaman!” desis Agra saat sudah sampai di depan ruangan rapat khusus petinggi, di lantai tujuh gedung itu.
Resepsionis dan para sekretaris yang mendengar perkataan Agra, berjingkat kaget.
Saat masuk ke dalam, ternyata di sana sudah banyak orang yang menunggu, termasuk para pemegang saham.
Mereka semua tampak berdiri, dengan ekspresi wajah bingung, melihat kehadiran Agra di ruang rapat itu.
Sedangkan di ruang bawah, lebih tepatnya di lobi kantor, Bima baru saja sampai dengan tergesa-gesa, ia baru saja diberi tahu kalau ada rapat pemegang saham.
Dengan pakaian yang masih sedikit berantakkan karena berdandan di jalan, Bima berjalan tergesa-gesa, tak memedulikan bisik-bisik para karyawannya.
“Maaf semuanya saya sedikit ter—lam—bat.” Bima berkata lirih di akhir kalimatnya, saat melihat seseorang yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
“Ada apa ini, kenapa Ada duduk di kursi saya? Lagi pula, ada kepentingan apa Anda menghadiri rapat ini?” tanya Bima, menatap tajam kehadiran Agra di sana.
Lelaki paruh baya itu mulai merasakan tanda bahaya, saat melihat seringai tipis di wajah Agra dan juga asisten pribadinya itu, juga kehadiran pengacara keluarga Prananta.
“Mulai saat ini, tuan saya berhak untuk mengikuti setiap rapat yang ada di perusahaan ini, karena dialah pemegang saham terbesar di sini!” tegas Edo.
Bima, membelalakkan matanya, mendengar penuturan Edo, lelaki itu terlihat sangat terkejut, sampai badannya oleng dan hampir saja terjatuh bila tidak ada pengawal Agra yang menahannya.
“Hati-hati, Tuan!” ucap dingin Agra.
“Mana bisa begitu?! Aku tidak percaya!” suara Bima sudah naik beberapa oktaf.
“Duduk dulu, Tuan.” Edo tampak memundurkan salah satu kursi untuk tempat duduk Bima, sambil meletakkan beberapa berkas di depannya.
Bima tampak, menatap tidak suka pada Agra dan Edo, tetapi, tak ayal dia melakukan apa yang sang asisten itu katakan.
Matnya semakin membulat dengan wajah yang mulai memucat, saat ia membaca isi dari berkas yang diserahkan Edo padanya.
__ADS_1
Di sana tertulis jelas, kalau Agra adalah pemilik empat puluh lima persen saham perusahaan Prananta Jewelry yang sah, sedangkan saham dirinya kini hanya tersisa sepuluh persen saja.
“Mana mungkin bisa begini, saya tidak pernah menjual saham saya di perusahaan ini, dan saja juga masih wali dari Nona Alisya, jadi saya masih memiliki saham terbesar di perusahaan ini! Jadi saya masih berhak atas jabatan presdir di kantor ini!” debat Bima.
Bima seakan lupa dengan pelelangan saham beberapa waktu lalu, yang di beli oleh Agra melalui orang lain.
Alisya memang mewarisi tiga puluh persen saham di perusahaan itu, dari kedua orang tuanya, dan itu tidak bisa dijual ataupun diganggu sama sekali.
Edo kembali membagikan beberapa berkas kepada seluruh peserta rapat, lalu menyalakan monitor besar yang berada di belakang Agra.
Bima kembali dibuat terkejut melihat semua bukti penyelewengan dana, dan berbagai transaksi jual beli aset perusahaan atas kepentingan pribadi.
Para peserta rapat, mulai saling berbisik membicarakan kecurangan yang diperbuat olah Bima.
“Tidak, semua ini tidak benar, saya tidak pernah melakukannya, ini semua jebakan!” teriak murka Bima.
Suasana di ruang rapat mulai memanas, para pemegang saham mulai tersulut emosi, dan meminta penggantian jabatan kepemimpinan, sedangkan Bima terus menolak dan bersikeras tidak melakukan apa yang dituduhkan.
Hampir dua jam rapat berlangsung dengan perdebatan sengit antara para pemegang saham dan juga Bima, Agra dan Edo hanya menjadi penonton kekacauan yang telah mereka buat.
Hingga akhirnya semuanya menemukan titik temu, untuk menggantikan Bima dengan Agra.
Agra tersenyum puas dengan semua itu, sedangkan Bima mengamuk di ruang rapat, karena tidak bisa menerima keputusan itu.
Mulai hari ini, lelaki paruh baya itu telah diberhentikan dari jabatan, kini dia menjadi pemegang saham biasa, yang duduk di rumah, menunggu keuntungan yang datang dari perusahaan, tanpa bisa ikut berpartisipasi.
"Apa Anda suka dengan kejutan dari saya, Tuan Bima?" desis Agra, sebelum melangkah keluar dari ruang rapat.
"Akkh ... dasar brengsek, manusia biadab!" teriak Bima, meraung, sambil menghancurkan semua yang ada di dekatnya.
Lelaki paruh baya itu, baru saja merasakan kekejaman seorang Agra di dunia bisnis. Berbagai umpatan dan sumpah serapah menggema, hingga terdengar ke luar ruangan.
Agra berjalan keluar dengan santai, ia sama sekali tak peduli dengan apa yang terjadi di ruangan itu. Sedangkan Edo terlihat sedang berkomunikasi dengan para petugas keamanan untuk segera membereskan kekacauan yang dibuat oleh Bima.
...🦅...
...🦅...
...TBC...
__ADS_1