Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.26 Pertarungan


__ADS_3

...Happy Reading...


...🦅...


"Anda yakin untuk bertarung secara langsung dengannya?" tanya Edo.


Saat ini mereka sedang berada di salah satu ruangan, tempat mempersiapkan diri untuk mengikuti pertarungan yang akan di laksanakan sore ini.


"Hem ... sepertinya aku sudah terlalu lama tidak berlatih!" jawab Agra, melirik sekilas asisten pribadinya.


Dia sudah mengenakan celana pendek khusus untuk bertarung.


'Berlatih, katanya!' umpat Edo dalam hati.


Yang benar saja, Agra menganggap bertarung dengan salah satu musuh mafia adalah latihan.


Edo menggelengkan kepalanya, miris.


Terserah sajalah, apa yang akan di lakukan oleh Tuannya itu. Asal jangan sampai Andrew tau saja.


Edo tidak bisa membayangkan apa yang akan di lakukan ayah angkat Agra itu, pada mereka berdua.


Pertandingan ini, akan di siarkan langsung di saluran internet khusus dunia bawah.


Sejak tadi, sudah banyak para organisasi yang bergabung, untuk menonton melalui live streaming yang di lakukan oleh salah satu anak buah Agra.


Beberapa saat kemudian, Agra sudah berada di atas area bertarung khusus, bersama dengan Lucas Peadel, dan wasit yang kan mengawasi jalannya pertandingan.


"Pertandingan ini ada di bawak kekuasaan Sang Leo!" wasit itu berkata lugas.


"Pertarungan ini tidak akan selesai sebelum Sang Leo memberikan perintah untuk berhenti." sambungnya lagi.


"Kalian bisa mengalahkan lawan dengan cara apa pun, asal tidak memakai senjata." wasit itu, beralih berbicara pada Agra dan Lucas.


Agra diam, memperhatikan. Sedangkan Lucas, sudah tidak bisa diam.


Dia berjalan kesana-kemari dengan sesekali mengibas-ngibaskan kedua tangannya, atau merenggangkan ototnya.


Ketua dari Balck Eagle tersenyum miring, melihat kegelisahan lawannya.


Beberapa saat kemudian, wasit sudah bersiap untuk memulai pertandingan.


Kedua pertarung memasang kuda-kuda masing-masing.


Bersiaga penuh, bersiap untuk menerima serangan dari lawan.


Wushhh ....


Bukhh ....


Agra menangis serangan dari Lukas sekaligus meemasukan tendangan pada perut lawan.


Lucas terhuyung beberapa langkah ke belakang.


Namun semua itu tak membuat dirinya gentar, dengan mengumpulkan tenaganya kembali, Lucas mencoba memasukan tinjunya ke perut Agra.


Dengan gerakan cepat tak terlihat, Agra memegang kedua tangan Lucas, lalu berputar dengan kaki menjegal kaki lawannya, dan membanting musuhnya dengan mudah.


Agra kembali berdiri tegak, mengangkat salah satu kakinya, untuk menginjak bagian perut lawan.


Namun, kaki dari Lucas lebih dulu terangkat, dan berhasil memasukan satu tendangan yang cukup keras pada perut bagian atas, hingga membuatnya sedikit bergeser ke belakang.


Rasa panas dan kebas langsung menjalar di bagian yang terkena serangan dari lawannya, bahkan dadanya terasa sedikit sesak.

__ADS_1


Kesempatan itu, di manfaatkan oleh Lucas untuk segera bangun kembali, dan memberikan serangan lanjutan.


Serangan itu, tak main-main. Ternyata Lucas mempunyai ilmu yang cukup tinggi dalam bela diri.


Pukulan, tendangan dan berbagai trik bela diri beradu di dalam ruangan itu.


Bugh...


Wush...


Bruk...


Agra menangkis semua serangan dari lawannya, mengamati semua gerakan, sambil mencari celah kelemahannya.


Segera memberi pukulan berunyun pada daerah-daerah sensitif yang ada di dalam tubuh Lucas.


Kepalan tangan Agra berhasil menjangkau perut dan jantung, kemudian salah satu tangannya menarik rambut Lucas hingga dia membungkuk ke arahnya.


Bukh...


Sikutnya berhasil memberikan pukulan yang cukup keras di area belakang telinga.


Ukhuk...


Darah segar terlihat keluar dari mulut Lucas.


Tak sampai di sana, kini lututnya ikut memberikan serangan di perut bagian depan.


Brakhhh....


Agra mendorong tubuh Lucas dengan keras hingga, terlempar cukup jauh dari tempatnya berdiri.


Berbagai komentar pujian pada Agra dan hujatan untuk Lukas, membanjiri siaran langsung itu.


Pertarungan itu terus berlanjut sampai Lucas sudah tidak sadarkan diri, dengan berbagai luka di sekujur tubuhnya.


Agra mengangkat salah satu tangannya tanda mengakhiri pertarungan itu.


Berjalan meninggalkan ruangan yang sudah berbau amis itu, menuju ruangan pribadinya.


Edo dengan setia mengikuti Agra, dengan menatap cemas tuannya itu.


Melihat luka lebam di wajah dan perut bagian atasnya yang cukup parah, membuat Edo kalangan kabut.


"Tuan, Anda harus segera memeriksakan diri anda di rumah sakit," ucapan berada cemas itu keluar dari mulut sang asisten.


"Kau tau, aku tak suka rumah sakit?!" tajam Agra menolak saran dari asistennya itu.


"Tapi, Tuan-"


"Kau panggilkan saja Nick ke apartemen!" putus Agra, tak mau di bantah.


Edo mengangguk pasrah.


"Baiklah," ucapnya.


Nick adalah dokter yang merupakan anggota dalam organisasi mafianya.


Namun dia juga bekerja di rumah sakit swasta, di negara ini.


Berjalan mengambil handuk untuk tuannya.


Agra langsung masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Malam sudah larut, saat Agra dan Edo keluar dari markas.


"Kenapa kau diam di sini?" Agra bertanya pada Nick yang berada di luar apartemennya.


"Maaf Tuan, saya tidak di perbolehkan masuk oleh Nona di dalam," jawab lelaki yang berada di depan Agra.


Agra langsung maju untuk membuka kunci pintu menggunakan sidik jarinya.


Walcome Sang Lion


Terdengar suara sapaan dari sistem pengunci pintu.


"Tuan," sapa Alisya, menyambut kedatangan Agra.


"Kenapa kamu tidak mengijinkannya masuk?" tanya Agra dingin.


"Eh, em ... bu-bukannya aku tidak boleh menerima tamu tanpa seijin, Tuan?" gugup Alisya, menundukkan kepalanya, dalam.


"Dia adalah salah satu anak buahku!" Agra menggeram dengan penuh amarah.


'Astaga, kenapa gadis ini bodoh sekali?!' umpat Agra dalam hati.


"Ma-mana aku tau kalau dia itu anak buah, Tuan," kalah Alisya, berusaha menghindar dari tatalan tajam Tuannya itu.


"Dasar Bodoh!" gumam Agra, dengan suara yang tertahan.


Memilih berjalan pergi, menuju kamarnya, di ikuti Edo dan Nick di belakangnya.


Alisya langsung memandang Agra dengan mata melotot tidak terima.


"A-apa kamu bilang? Hei, enak saja kamu bilang aku bodoh!" teriak Alisya.


Gadis itu menghentak-hentakkan kakinya dengan tangan terkepal kuat.


"Dasar ... manusia es!" sambungnya dengan napas memburu.


Agra tidak perduli sama sekali, dirinya hanya fokus melangkah menaiki anak tangga.


Hanya Edo dan Nick yang tampak mencuri pandang pada Alisya.


"Udah buat orang nungguin dia pulang, eh sekarang malah marah-marah!" gerutu Alisya, memajukan bibirnya.


Kriiiuukkkk...


"Astaga, aku batu ingat, kalau sejak tadi aku menunggjnya pulang untuk makan malam!" Alisya menepuk keningnya.


Duduk di kursi meja makan, menelan ludahnya sendiri melihat deretan masakan yang ia buat sejak tadi sore.


Mengusap perutnya perlahan, wajahnya di buat seperti ingin menangis.


"Begini ya, nasib orang hidup numpang. Padahal udah masak sendiri, tapi belum bisa makan sebelum dapet ijin dari yang punya rumah," ucapnya lemah.


Hiks ... hiks ....


Berlagak seperti seorang yang sedang menangis. Alisya melipat kedua tangannya di atas meja, lalu menaruh kepalanya di atas lengannya.


"Sabar ya perut, kamu harus menunggu lagi untuk di isi," ucapnya dramatis.


...🦅...


...🦅...


...TBC...

__ADS_1


Terima kasih kepada kakak-kakak yang udah mendoakan aku🙏 Alhamdulilah sekarang aku sudah merasa lebih baik😊.


Semoga kalian juga di berikan kesehatan ya🤲 Sukses dan semangat terus untuk kita semu💪🥰🥰


__ADS_2