
"Ngapain mereka ada di sini?" gumama Cakra sambil melirik sekilas pada Arsya.
Namun, cowok itu hanya mebalas dengan mengedikkan bahu. Walau, matanya tak sama sekali teralih dari kedua cewek yang kini tengah berjalan menghampiri. Bahkan, Isha pun tak dapat menghindari tatapan tajam Arsya kali ini.
"Kalian?" tanya Cakra sambil menatap bergantian dua cewek yang baru saja berdiri di depannya. Sorot nata menyelidik terlihat menghiasi wajahnya.
"Kita diundang sama Shania," jawab Rumi, sambil melirik Isha. Tangannya tampak saling meremas gelisah.
Bertemu langsung dengan Arsya setelah kajadian malam itu, membuatnya merasakan gugup. Rumi bahkan bisa merasakan, tangannya mulai basah oleh keringat. Segala prasangka berputar di kelapa, seolah sebuah rangkain kata yang tidak ada habisnya. Apa sih, Rum? Malam itu Arsya pasti hanya merasa kasihan sama lo. Cowok sempurna kayak Arsya mana mau berdekatan sama cewek miskin dan gak jelas macam lo, Rum ... kalau bukan karena kasihan.
Rumi menghembuskan napas pelan. Sepertinya dia harus sadar diri akan keadaan. Namun, apakah ini memang sebuah perasaan yang spesial? Bukankah selama ini dia memang menyukai cowok tampan untuk menghibur diri? Tapi, kenapa dengan Arsya teras berbeda? Dia tidak bisa lagi memalingkan tatapannya pada wajah cowok tampan yang lain, setelah dia menjadikan Arsya sebagai vitamin hariannya. Apa sekarang aku yang terjebak?
Arsya dan Cakra hanya mengangguk sebagai tanggapan dari jawaban Rumi. Keduanya tampak duduk di tempat semula, tanpa mempersilahkan Rumi dan Isha. Cuek. Tampaknya itu yang sekarang terlihat dari leader dan wakilnya itu.
Tadi pagi, Rumi menemui Shania untuk berterima kasih atas pertolongannya di hari itu. Namun, disanalah, Shania mengajak Rumi dan Isha untuk ikut menemani dia balapan dengan Atropos.
"Kakak mau masuk geng motor?" Rumi bertanya dengan mata melebar. Selama ini, dia melihat sosok Shania yang ceria dan sedikit tomboy, tetapi untuk masuk geng motor ... Rumi sama sekali tidak bisa menyangkanya.
"Iya. Itu adalah cita-cita gue selama ini, hehe." Shania nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
"Tapi, itu kan geng motor. Mereka itu terkenal anak-anak nakal yang sering membuat masalah dan tauran," ujar Isha, seolah tidak mengetahui tentang Arsya yang nyatanya kakaknya sendiri.
"Tapi mereka berbeda, Sha. Gue kenal beberapa orang yang jadi anggota mereka. Mereka bukan tipe cowok yang kayak gitu," jelas Shania. Matanya tampak berbinar dan penuh semangat ketika menceritakan tentang Atropos geng.
"Kalian ikut, ya. Masa gue gak bawa pendukung sih. Gak adil dong," sambung Shania lagi, sambil menatap bergantian Rumi dan Isha penuh permohonan.
"Kenapa gak ngajak temen-teman Kakak aja? Masa mereka gak mau ikut sih?" tanya Isha. Tidak mungkin jika Shania tak memiliki teman, mengingat dia adalah senior di sekolah itu.
"Gak bisa. Mereka gak bakaln suka kalau tau gue main motor apa lagi berniat buat masuk Atropos." Shania tampak menghembuskan napas pelan, seolah ada bebean yang menimpanya.
Rumi dan Isha tampak terdiam sambil saling melirik. Mereka tidak mau lagi bertanya hal yang sepertinya sensitif bagi Shania. Keduanya cukup lama dalam posisi bimbang, sebelum kemudian mengangguk, menyetujui permintaan Shania.
"Shania! Semangat!" teriak Isha sambil melambaikan tangannya pasa sirkuit, seolah Shania bisa mendengar terikannya yang ccukup melengking itu.
"Go Shania, go!" Kedua cewek itu terus berteriak sambil melambaikan tangannya, memberi semangat pada Shania, yang tengah berjuang mengalahkan Dikta.
__ADS_1
Arsya melirik kedua Isha dan Rumi. Keningnya tampak sedikit mengkerut ketika melihat wajah ceria dan tawa riang Rumi, setelah kejadian kemarin.
'Sepertinya, dia baik-baik saja. batin Arsya. Tanpa sadar dia hembuskan napas perlahan bersama dengan perasaan lega di dalam dada.
Sementara itu, Cakra pun menatap dua cewek itu bergantian. Entah apa yang kini dia pikirkan, hanya saja cowok itu tertangkap basah cukup sering melakukan hal yang sama.
Kembali ke sirkuit, di mana Shania dan DIkta kini hanya tingga berjarak beberapa meter saja dari garis finis. Sorak sorai Vareen dan Fahri pun semakin heboh, begitu juga dengan Isha dan Rumi. Mereka seolah salih bersahutan mendukung temannya masing-masing.
"Dikta! Lo harus menang, jangan sampai kalah sama cewek!" teriak Vareen. Keduanya membentuk toa di depan mulutnya.
Rumi mendengus pelan ketika mendengar teriakan Varee. Ada rasa tersinggung dengan ucapan Vareen yang menyiratkan kelemahan seorang perempuan.
"Shania, jangan mau kalah sama cowok!" balas Rumi.
Vareen menoleh kilas pada Rumi, dia berdecak lirih ketika mendengar balasan dari cewek itu.
Tak menghiraukan teriakan penyemangat dari para teman-temannya, Dikta dan Shania malah tampak bertahan dalam posisi yang saling bersisian.
"Jangan lupa hadiah taruhan kita," ujar Dikta sambil tersenyum penuh arti pada Shania.
"Pede banget lo! Gue gak yakin lo bisa ngalahian gue," cibir Shania.
"Gue pasti bakal dapetin hadiahnya," tantang DIkta sambil menyeringai.
"Kalahin gue dulu!" jawab Shania sambil menambah kecepatan laju motornya, dan melesat cepat medahului Dikta, hingga saat sedikit lagi mencapai garis finis....
"Yeee!" Isha dan Rumi melonca girang sambil berteriak. Lalu, mereka berlari menuruni anak tangga kursi penonton demi menghampiri Shania.
"Selamat ya, Kak. Aku yakin, Kakak pasti bisa mennag dari mereka," ujar Rumi pada Shania.
"Kakak hebat! Selamat ya, Kak." Isha pun ikut mengulurkan tangan ke depan kakak kelasnya itu.
"Makaih, ya. Gue gak nyangka kalian beneran datang." Shania menerima uluran tangan Isha lalu memeluk kilas keduanya.
"Maaf, tadi kami ada sedikit kendala di jalan, makannya telat." Rumi berujar sambil meringis, merasa bersalah.
__ADS_1
"Kenapa? Ada ayang ganggu lo lagi?" tanya Shania dengan wajah terkejutnya.
"Enggak kok. Tadi, taksi yang kami tumpangi ban-nya bocor, jadi kita harus nyari taksi lainnya deh," jelas Isha.
"Ya ampun, sorry ya. Gara-gara gue, kalian berdua jadi kesusahan," sesal Shania.
Sementara itu, Dikta tampak bersungut kesal. Dia sudah yakin akan kemenanganya hingga di saat terakhir tiba-tiba dia kehilangan fokus karena mengobrol dengan Shania. Dan semuanya berakhir dengan kekalahan yang diperolehnya.
"Maaf, Ar. Gue kalah dari Shania," gumam DIkta ketika Arsya dan Cakra sampai di hadapannya.
"Gak papa. Santai aja, namanya juga permainan, pasti ada kalah dan menang," jawab Arsya sambil tersenyum kecil.
"Tapi, gara-gara gue, kita jadi harus nerima Shania masuk jadi anggota Atropos geng." Sesal di wajah DIkta masih belum terurai,
"Emang seharusnya, lo nyesel. Masa, sama cewek aja kalah. Ck!" Cakra menyahut dengan raut wajah menahan kesal.
"Apa lo? Gue yang kalah, ngapain lo yang repot?" DIkta yang sebenarnya juga sudah merasa kesal akan kekalahannya, kini semakin dibuat meradang karena ucapan Ckara yang menyinggungnya.
"Lo sendiri yang nawarin diri buat jadi perwakilan kita. Tapi, apa sekarang? Buat malu," cibir Cakra sambil membuang muka.
"Cak...." Fahri tampak mencoba untuk menenangkan Cakra yang masih tampak kesal akan kekalahan mereka dari Shania.
"Lo--" Dikta sudah memgang kerah baju Cakra dan bersiap untuk memberikan pukulan pada wajah menyebalkannya, ketika suara Arsya menghentikan gerakan mereka.
"Kendalikan diri lo, Dik," ujar Arsya sambil menatap DIkta dengan tatapan yang masih terlihat teduh.
"Lo juga, Cak...." Arsya beralih menatap Cakra. "Ini hanya permainan. Menang kalah udah biasa, gak saling menyalahkan."
"Cewek itu gak buruk juga, lagian kita butuh seseorang yang punya tangan terampil dalam menggunakan peralatan kesehatan. Gimana?" tanya Arsya. Tentu saja itu hanya pendapatnya, sementara untuk keputusan final akan ditentukan oleh semua inti Atropos.
"Gak tau. Gue pergi dulu!" Cakra langsung pergi dari sana dengan wajah yang masih tampak tegang dan dipenuhi amarah.
"Cak!" Fahri berusaha menyusul sahabatnya itu, sementara Arsya hanya menggeleng samar, melihat sikap keras dan tempramen dari sahabat lamanya itu.
"Ar...." Vareen yang tadi hanya memperhatikan tampak mulai bereaksi ketika suara motor Cakra terdengar begitu nyaring dan dipenuhi emosi.
__ADS_1
Sementra itu, Dikta juga tampak menahna emosinya. Itu terlihat dari rahangnya yang masih tampak mengetat. Lirikan tajam Dikta bahkan masih bertahan pada tempat Cakra pergi.
🦅Belom apa-apa masa udah mau bubar sih? Komen dong