
...Happy Reading...
...🦅...
Di dalam apartemen Alisya memutuskan untuk berbincang bersama dengan Livia di ruang tengah, sambil menunggu Bi Ani datang.
Semua bekas sarapan sudah Alisya bereskan dengan dibantu oleh Livia, umur yang tidak terpaut cukup jauh membuat mereka cepat akrab. Walaupun Livia lebih sering hanya menjawab pertanyaan Alisya, dengan kata yang singkat.
Sebenarnya Alisya penasaran dengan alasan Livia menjadi salah satu anak buah Agra, apa lagi dengan gaya yang cukup nyentrik. Gadis unik yang terlihat misterius itu, sedikit menyita perhatiannya.
“Jangan terlalu sungkan, anggap saja aku ini temanmu, sepertinya umur kita tidak terpaut cukup jauh?” Alisya akhirnya berbicara seperti itu, setelah melihat sikap kaku Livia padanya.
“Baik, Nona,” ucapnya, mengangguk hormat, dengan senyum tipis, di bibirnya.
‘Astaga, apa gadis ini tidak bisa berlaku seperti gadis pada umumnya?’ Alisya menggeleng miris, melihat sikap Livia.
Berdiam cukup lama, karena rasanya sudah kehabisan bahan obrolan. Alisya kembali menegakkan tubuhnya, setelah menemukan ide yang patut ia coba.
Sedikit menaikkan rahangnya agar terlihat lebih angkuh, Alisya menatap tajam gadis di depannya.
“Karena sekarang kamu sudah menjadi Asisten sekaligus bodyguardku, jadi bersikaplah lebih santai. Aku tidak suka orang yang kaku,” ucapnya dengan sedikit penekanan di setiap perkataannya.
‘Kamu bahkan lebih kaku dari kanebo kering,’ lanjutnya dalam hati.
Livia tampak sedikit mengangkat wajahnya, melihat Alisya yang bergaya seperti Agra membuatnya merasa sedikit lucu. Wajah yang terlihat lembut itu benar-benar tak pantas berbicara tegas.
Kembali menunduk, menyembunyikan senyum yang tidak bisa ia tahan. Cukup lama ia tidak berinteraksi dengan gadis biasa, membuat hatinya terasa menghangat saat Alisya bersikap ramah padanya.
‘Ya ampun, ternyata gadis pilihan tuan Agra begitu ramah, polos dan berhati bersih,’ guamam Livia dalam hati.
Umur Livia yang lebih tua dari Alisya juga pengalaman pahitnya di masa lalu, membuatnya lebih berpikir waspada dan memilih orang yang dekat dengannya.
“Ekhm,” berdehem sebentar untuk menetralkan kembali wajah dan suaranya sebelum menjawab.
“Baik, Nona.”
Alisya mendengus pasrah, ketika melihat sikap Livia yang masih saja kaku.
Awalnya ia berpikir kalau mereka bisa berinteraksi seperti sahabatnya. Tetapi, ternyata semua itu mungkin hanya kan menjadi angan untuknya.
Ya, walaupun Livia bisa saja bersikap seperti seorang perempuan muda pada umumnya. Tetapi, ia belum berani sebelum ada perintah dari Agra maupun Andrew.
Ia takut hanya untuk bersikap terlalu dekat dengan istri pemimpinnya itu, menurutnya itu semua terlalu lancang, biala tanpa perintah dari kedua orang berkuasa.
Beberapa saat kemudian, Bi Ani sudah datang dengan di antar oleh Max.
“Bibi, akhirnya datang juga, aku kangen banget sama, Bibi!” ucap Alisya, memberikan sambutan pada pengasuhnya.
Memeluk erat tubuh paruh baya yang telah menemaninya dari kecil. menikmati kehangatan seorang ibu yang telah lama tak ia rasakan.
Begitu menenagkan hangat dan terasa nyaman.
Melihat semua itu, mata Livia sedikit bergoyang, rasa rindu yang telah lama ia kubur, terasa muncul kembali, mengusik relung hati.
Tangan yang menggantung di keda sisi tubuhnya, mengepal begitu erat. Dengan sekuat tenaga, Livia menahan desakan rasa aneh yang selama ini telah hilang.
Ini tidak benar, dia sudah berusaha keras untuk menghilangkan sisi feminin yang ada di dalam dirinya, menggantinya dengan sikap dingin juga angkuh.
Namun, apa ini ... hanya dengan melihat kedua wanita di depannya mencurahkan kasih sayang tulus yang terpancar begitu jelas di mata mereka, membuatnya sedikit goyah.
“Bibi juga kangen banget sama, Non. Bagaimana kabar, Non Alisya, apa semuanya baik-baik saja?”
Mengurai pelukannya, lalu melihat tubuh anak asuhnya, meneliti, seakan takut ada luka di kulit mulusnya.
“Ohya, Bi. Kenalkan, ini Livia, dia adalah asistenku.” Aliaya beralih memperkenalkan Viana pada Bi Ani.
Wanita paruh baya itu tampak mengangguk sambil tersenyum ramah pada Livia, di sambut anggukan samar juga dari gadis itu, tentunya dengan senyum kaku.
“Aku baik, Bi. Ayo aku antar Bibi ke kamar.” Semangatnya, menggandeng lengan wanita paruh baya itu, manja.
__ADS_1
“Ayo, Non.” Bi Ani mengambil tas ransel berisi beberapa barangnya, untuk dibawa menuju kamar yang akan ia tempati.
Livia pun ikut melangkah di belakang kedua orang itu, ia sama sekali tak membiarkan Alisya tanpa pengawasan darinya.
Siang hari, Alisya memutuskan untuk berkunjung ke kantor Agra, untuk membawakan makan siang sekalian berjalan-jalan.
Seminggu ini, Agra telang mengurungnya di apartemen, menghabiskan setiap waktu mereka dengan suasana romantis pengantin baru.
Setelah beberapa saat, sebelumnya. Alisya merasakan tubuhnya lebih segar. Saat ini dirinya bahkan sedang memasak makan siang untuk Agra, dengan dibantu oleh Bi Ani dan Livia tentunya.
Sekitar jam setengah sebelas siang Alisya baru saja meninggalkan Apartemen dengan Livia sebagai sopir.
Di tempat lain, Agra baru saja sampai di kantor, setelah melakukan peninjauan proyek yang sedang berjalan.
Untung saja Livia memberi kabar, kalau Alisya akan datang ke kantor, jadi dirinya bisa bergegas untuk kembali.
Padahal jadwalnya, hari ini adalah mengunjungi beberapa proyek, tetapi, sepertinya semua itu harus di undur sementara waktu.
Berjalan cukup tergesa, saat Edo melaporkan kalau mobil yang ditumpangi istrinya sudah cukup dekat.
Sampai di ruangannya, ia langsung membuka kancing jasnya dan duduk di kursi kebesarannya, menyalakan laptop dan mengaturnya agar ia terlihat sedang bekerja di kantor cukup lama.
Bukan berniat unuk berpura-pura seperti itu pada Alisya, hanya saja ia ingin menyambut Alisya terlebih dulu. Apa lagi istrinya itu tidak ada mengabarinya terlebih dulu.
Livia menghentikan mobilnya di parkir khusus, tepat berada di samping mobil tuannya.
Keluar terlebih dahulu dengan gayanya yang angkuh, memutari mobil lalu membukakan pintu depan untuk Alisya.
Di tangannya tampak sebuah paper bag berisi bekal makanan untuk Agra dan Edo.
Ya, Alisya lebih memilih duduk di depan bersama dengan Livia, dari pada harus duduk di kursi penumpang belakang.
Awalnya gadis Bodyguard itu menolak dan merasa keberatan, tetapi, karena Alisya terus memaksa, akhirnya dia mengizinkannya juga.
“Terima kasih,” ucap Alisya, yang langsung diangguki oleh Livia.
“Sudah tugas saya, Nona.”
Istri dari Agra itu tampak meringis dengan pertanyaan itu, dia tidak mau menjadi pusat perhatian bila memalui lobi, apa lagi kalau sampai bertemu dua sahabatnya.
“Lewat lift saja deh,” jawabnya.
Livia mengangguk, lalu mengarahkan Alisya menuju lift khusus, yang langsung membawanya menuju lantai paling atas, tempat di mana ruangan Agra berada.
Ting
Pintu lift terbuka, Alisya melangkah anggun, menapaki lantai marmer berwarna putih bersih itu, para jajaran sekretaris Agra langsung berdiri dan menyambut kedatangannya.
“Selamat datang, Nona Alisya,” ucap mereka serempak, sambil menundukkan kepalanya.
Alisya menghentikan langkahnya sejenak, walaupun sedikit canggung karena dulu mereka adalah atasannya, tetapi ia tetap menampilkan senyum ramah.
“Terima kasih,” jawabnya.
“Apa suami saya ada di dalam?” tanyanya lagi.
“Ada, Nona,” jawab seorang sekretaris yang berada di posisi paling depan.
“Hem, baiklah.”
Livia mendahului Alisya, lalu mengetuk pintu dan membukakannya setelah mendengar sahutan dari dalam.
Membiarkan Alisya masuk terlebih dulu, lalu di susul ia di belakangnya.
“Hai, sayang. Uh, apa kamu merindukanku sampai datang ke mari, hem?” Agra langsung beranjak dari kursi kebesarannya, saat melihat kemunculan Alisya.
“Ck,” Alisya mencebik kesal, dengan perkataan Agra yang terdengar terlalu percaya diri.
Memeluk istrinya itu dengan sangat lembut dan memberikan kecupan di puncak kepalanya secara bertubi-tubi.
__ADS_1
Livia menunduk dalam, menghindari pemandangan yang menurutnya tidak pantas untuk ia lihat.
Menaruh paper bag di tangannya di atas meja, lalu memilih keluar.
“Tuan, Nona, saya permisi ke luar sebentar,” pamitnya.
“Tunggu, kamu sekalian bawakan makan siang untuk Edo ya,” ucap Alisya, berjalan menuju paper bag itu dan mengeluarkan satu kotak bekal untuk asisten suaminya.
Livia langsung menerimanya, lalu membungkuk hormat sebelum keluar dari ruangan kerja ketuanya.
“Ya ampu, sayang. Aku kangen banget sama kamu,” ucap Agra sambil mengecup seluruh wajah Alisya.
“Benarkah ... Bukannya tadi kakak bilang aku yang rindu sampai datang ke sini?” tanya Alisya, mengulang perkataan Agra yang menuduhnya tadi.
Walaupun dalam hati ia juga tak menyangkal dalam dirinya memang merindukan suaminya, seminggu tak pernah berpisah, membuatnya merasa kehilangan saat tidak ada Agra di apartemen.
“Apa kamu tidak merindukanku, hem?” Agra malah balik bertanya, tangannya ia lingkaran di pinggang Alisya.
Tubuh Alisya menegang, berada dengan posisi yang lumayan intim seperti ini, selalu membuat jantungnya bertalu.
“Aku membawakan makan siang untuk, Kakak. Biar aku siapkan dulu ya.” Alisya mencoba mengalihkan topik pembicaraan juga perhatian Agra, saat melihat mata suaminya yang mulai berkabut.
Tangannya mencoba melepas rengkuhan Agra, agar dapat meloloskan diri. Tetapi, sepertinya itu sama sekali sia-sia, kekuatannya Agra jauh lebih besar darinya.
Ia juga bisa merasakan sesuatu di bawah sana yang mulai menegang.
‘Astaga, jangan sampai ia kembali menerkamku, tubuhku baru saja terasa lebih baik,’ gumamnya dalam hati, ia mulai merasakan tanda bahaya dari suaminya.
Permisi ada promo lagi ya, dari karya keren milik teman author aku, jangan lupa mampir ya😊
Author: Emy
Judul" It's Me
Alice pernah mengalami kecelakaan, hingha membuat sebagian wajahnya terluka.
Semenjak itu, dia harus menerima cacian dan hinaan dari semua orang. Bahkan samg kekasih pun akhirnya memutuskan hubungan secara sepihak karena wajah buruknya.
Namun, diam-diam ada pria yang selalu membantu Alice.
Bagaimanakah percintaan Alice selanjutnya?
Apakah pria itu akan menampakan diri dan membantu Alice mengubah takdirnya?
... 🦅...
...🦅...
...TBC...
__ADS_1