
...Happy Reading...
...🦅...
Malam ini Agra tidak pulang ke rumah, dia sudah menyadari Alisya sebelum masuk ke dalam ruang bawah tanah beberapa jam yang lalu.
Kini dia sedang berada di ruang beristirahat, setelah membersihkan diri yang berlumur darah, setelah melakukan penyiksaan beberapa saat yang lalu.
Merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah, di atas ranjang berukuran besar itu. Mata terpejam rapat, satu tangan ia gunakan untuk bantal dan satu tangan lagi dia taruh di atas kening, menutupi wajahnya dari cahaya lampu tidur yang masih menyala.
Waktu sudah menunjukan dini hari, bahkan mungkin hanya menunggu waktu sebentar lagi, fajar menyingsing. Akan tetapi, belum sedetik pun Agra terlelap di malam ini.
Walaupun matanya terpejam sejak beberapa waktu lalu, akan tetapi, pikirannya masih melanglang buana menjelajah setiap detik waktu yang telah dilewatinya.
Merasakan kepuasan berbalut rasa sakit di dalam sana. Ya, entah kenapa, masih da rasa sakit saat melihat pandangan penuh kebencian dari mata mantan sahabatnya yang kini hanya tinggal nama saja.
Beberapa kali dia menghembuskan napas kasar, mencoba mencari kenyamanan yang tak dapat dia rasakan, hatinya resah, pikirannya gelisah. Mungkinkah dia menyesal telah melakukan semua itu?
Tidak ... dia tidak menyesal, hanya saja ada sedikit rasa yang masih tertinggal, walau tak menampik rasa itu mungkin kini sudah tak ada gunanya lagi.
Dia lelaki yang lebih banyak menggunakan logika tanpa terlalu memperdulikan emosi di dalam hatinya saat mengambil sebuah keputusan, itu juga yang membuatnya melakukan pembalasan ini.
Namun, dia juga masih manusia biasa yang memiliki hati, dia masih bisa merasakan sakit dikhianati. Merasakan cinta juga kasih sayang kepada keluarganya, termasuk kepada teman dan sahabatnya.
Mengingat tentang kasih sayang, bayangan sang istri kini terlintas di kepala. Agra terbangun, menyambar sebuah jaket yang tergantung di lemari, lalu berjalan sambil terus memakainya.
"Mau ke mana kamu, Gra?" Andrew yang baru saja terbangun, bertanya pada sang anak.
"Pulang, Dad," ujar Agra, menghentikan sekilas langkahnya untuk menatap penuh wajah sang ayah angkat, lalu kembali berjalan setelah mendapat anggukan dan temukan halus berulang dia pundaknya.
Di luar, udara dingin menyambut, menerpa tubuh tegap sang ketua Black Eagle. Suasana yang masih gelap, dengan bulir embun menghias daun-daun di halaman, menjadi pemandangan yang tertangkap sekilas oleh matanya.
Masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh anak buahnya, Agra mulai menginjak pedal gas, melajukan mobil keluar dari gerbang tinggi pembatas markas berkedok rumah mewah itu.
Satpam penjaga di ujung pintu komplek perumahan itu, menganggukkan kepala saat Agra menekan klakson mobilnya sebagai tanda terima kasih karena sudah membukakan portal, yang masih tertutup rapat itu.
Jalan yang masih lengan, membuat Agra leluasa untuk menjalankan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Hatinya butuh sang istri, dia butuh belaian lembut atau bahkan tubuh mungil Alisya untuk menenangkan perasaannya.
Beberapa saat kemudian, mobil milik Agra sudah memasuki pelataran rumah besar keluarga Ainsley. Turun dari mobil, dia langsung memasuki rumah dengan langkah lebar, menuju ke lantai dua di mana kamar miliknya dan Alisya berada.
__ADS_1
Keadaan rumah masih sangat sepi, hanya ada beberapa orang pelayan yang sudah mulai mengerjakan pekerjaannya masing-masing. Sedangkan anggota keluarga masih berada di dalam kamar, atau mungkin masih tertidur di atas ranjang mereka masing-masing.
Cklek.
Agra membuka pintu kamarnya dengan sangat perlahan, dia melihat istrinya masih bergelung dengan selimut di atas ranjang mereka berdua.
Perlahan ia berjalan hingga tak ada suara jejak kaki terdengar, berdiri di samping ranjang tempat istrinya tertidur, Agra menatap wajah terlelap itu dengan begitu dalam.
Kedua ujung bibirnya tertarik hingga membentuk lengkungan tipis ke atas, perlahan tangannya terulur menyentuh pipi mulus Alisya, mengelusnya berulang dengan gerakan halus.
"Cantik," gumamnya.
Beranjak menuju sisi yang terlihat kosong, Agra naik ke atas ranjang, berbaring di samping istrinya dengan posisi memeluk tubuh Alisya.
Kepalanya ia susupkan pada ceruk leher Alisya, menghirup wangi tubuh khas istrinya yang sudah menjadi candu, matanya tertutup hingga hatinya perlahan ikut merasa tenang.
Alisya yang mulai merasa terganggu oleh Agra, menggeliatkan tubuhnya, dengan mata yang mulai mengerjap pelan.
"Kak?" Alisya bergumam pelan, saat baru menyadari keberadaan suaminya.
"Hem," tanpa membuka matanya, Agra bergumam sebagai jawaban. Tangannya kini sudah berada di tempat ternyaman, dengan sesekali mer*mas bagian tubuh istrinya yang ia sukai itu.
"Aku baru sampai," guamam malas Agra, membuka sedikit matanya dengan senyum tipis menghias wajah yang begitu lelah.
Alisya mengerutkan keningnya melihat wajah Agra yang begitu lelah dengan warna hitam samar di sekitar mata.
"Biarkan aku peluk kamu dulu, sampai aku terlelap ya, kamu jangan kemana-mana dulu," ujar Agra kembali menyusupkan wajahnya pada leher Alisya.
Alisya mengangguk samar, kemudian balas memeluk sang suami yang kini tengah membutuhkan kehadirannya. Mengelus punggung lebar itu, mencoba membuat suaminya tenang, hingga akhirnya dia bisa merasakan hembusan napas teratur menerpa lehernya.
Agra tertidur lelap, Keberadaan istrinya memang ampuh untuk menenangkan segala emosi yang ada di dalam dirinya. Itulah yang tidak bisa Agra dapatkan dari perempuan lain di luar sana, ketenangan yang tidak bisa ia dapatkan kecuali bila sedang bersama istri kecilnya itu.
Bagi Agra, Alisya adalah sosok malaikat yang diturunkan Tuhan untuk memberikannya ketenangan di tengah segala masalah dan situasi yang menuntutnya untuk selalu waspada.
Bersama Alisya ia menemukan kehidupan yang berbeda, juga berbagai rasa yang berbeda pula. Rasa yang tak bisa ia dapatkan dari orang lain di luar sana, bahkan mungkin keluarganya sendiri.
Alisya mencoba melepaskan pelukan erat Agra, saat matahari sudah memancarkan sinarnya, memberikan rasa hangat pada semua yang terkena terpaan sinar berwarna kuning keemasan itu.
Walaupun terasa begitu sulit karena Agra yang malah semakin erat memeluk Alisya, akan tetapi, semua usaha Alisya akhirnya terbayar juga, saat Agra menyerah dan melepaskan tubuh mungil istrinya itu.
__ADS_1
Fyuhhh!
Alisya menghela napas berat, begitu dia bisa berdiri di lantai dan terlepas dari kungkungan tubuh besar sang suami.
"Akhirnya bisa lepas juga," gumamnya dengan gerakan mengusap kening, seakan ada keringat di sana.
Berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa saat kemudian Alisya sudah keluar dari kamarnya, berjalan menuju dapur untuk melihat mertua dan kakak iparnya yang biasanya sudah berkumpul di sana.
"Pagi, Mah, Kak Andini," sapanya, begitu melihat kedua orang itu yang sedang menyiapkan sarapan.
"Pagi, Ca. Sini gabung, kita buat sarapan bareng-bareng," ajak Andini.
"Sagara sudah pulang ya, Ca?" tanya Viana,sebab tadi dia melihat mobil anak keduanya itu di garasi.
"Iya, Mah. Baru pulang sekitar dua jam lalu," jawab Aisya.
"Baguslah, kalau dia pulang. Biarkan saja dia istirahat dulu, nanti kalau sudah kenyang tidur pasti keluar sendiri," ujar Viana.
Seluruh keluarga akhirnya menikmati sarapan tanpa kehadiran Agra dan Alisya yang memilih membawa serta sarapannya ke kamar bersama dengan Agra.
"Kakak, sarapan dulu yuk," ajak Alisya, membangunkan Agra dengan cara mengelus pipi lelaki itu.
Agra mengernyit dengan kening berkerut dalam, saat ia mulai bisa menghirup wangi di sekitarnya. Ada aroma yang mengganggu penciumannya, hingga kini dia merasa sedikit pusing dengan perut yang bergejolak serasa ada yang mendesak ingin ke luar.
"Kamu dari mana, sayang?" tanya Agra dengan suara parau khas bangun tidur.
"Aku dari dapur, Kak. Bantuin mama buat sarapan ... aku juga bawa sarapan kita berda ke sini," jawab Alisya, dengan tatapan bingung, saat melihat Agra tampak tidak nyaman.
"Bisa gak, kamu bawa lagi sarapannya ke luar, aku gak kuat?" Agra langsung beranjak dan berjalan cepat menuju kamar mandi.
Alisya bertambah khawatir saat melihat suaminya itu berusaha mengeluarkan isi perutnya di wastafel, walau akhirnya tak ada yang keluar dari mulutnya, karena memang Agra belum makan apa pun dari semalam.
"Kamu kenapa sih, Kak? Kok bisa gini?" tanya Alisya, sambil memijit tengkuk suaminya yang kembali bertarung dengan rasa mual di dam perutnya.
...🦅...
...🦅...
...TBC...
__ADS_1