Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Bab.63 Penguntit


__ADS_3

...Happy Reading ...


...🦅...


Agra masih berkutat dengan berkas pekerjaannya yang lumayan menumpuk, getar ponsel yang ada di atas meja mengalihkan perhatian lelaki itu.


“Ezra?” gumamnya, dengan kening yang berkerut.


“Halo, ada apa, Zra?” Agra langsung pada intinya, ia tahu kalau teman lamanya itu tidak akan menghubungi jika tidak ada maslah serius.


“Aku mau minta bantuanmu, untuk menyelidiki seseorang,” jawab Ezra di seberang sana.


“Baiklah, kirimkan saja bahan penyelidikannya.”


“Oke, aku tunggu hasilnya. Terima kasih!”


Sambungan telepon pun terputus begitu saja, Agra langsung mengecek email yang datang dan langsung mengirimkannya pada salah satu anak buahnya, untuk diselidiki.


Hari sudah beranjak sore, Agra sedang dalam perjalanan menuju apartemen, saat ia bisa melihat dua mobil mengikutinya di belakang.


“Tuan, sepertinya ada yang mengikuti kita,” ucap Edo, mirik Agra dari kaca spion dalam.


“Biarkan saja, mau sampai di mana mereka bertahan mengikutiku? Kita arahkan saja mereka ke jalan yang sepi,” jawab Agra, tenang. Tak ada riak khawatir atau waspada di dalam nada suaranya.


“Baik, Tuan.” Edo mengangguk, lalu kembali fokus dengan menyetir.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di pinggiran kota dengan jalanan yang terlihat lengang juga sepi.


Edo menghentikan mobilnya di dekat sebuah bekas pembangunan terbengkalai.


Terlihat dua mobil di belakang mereka juga berhenti dengan jarak yang tidak terlalu jauh, Agra dan Edo menyeringai.


Agra dan Edo keluar setelah menunggu lama, tetapi tidak ada pergerakan dari musuh yang mengikutinya. Mereka berdua berjalan bersama menuju sebuah bangunan yang belum jadi sepenuhnya.


Di tempat musuh, mereka saling memandang bingung, sedikit ragu untuk ke luar, karena tugas mereka sebenarnya hanya untuk mengikuti Agra dan menemukan tempat tinggalnya saat ini, kemudian mengawasinya.


Setelah berembuk sebentar, akhirnya mereka memutuskan keluar juga dan mulai mengikuti Agra.


Namun, ternyata mereka terlambat, karena saat mereka keluar sudah tidak ada lagi jejak Agra maupun Edo di sana.


“Ke mana mereka?” ucap salah satu musuh Agra, yang merupakan ketua mereka di dalam misi ini. Pandangannya mengedar ke setiap penjuru kawasan itu, tetapi, tetap saja tak menemukan keberadaan targetnya.


“Berpencar, kita harus segera menemukan mereka!” titahnya lagi.


Semua anak buahnya yang berjumlah delapan orang, langsung berpencar untuk mencari keberadaan Agra dan Edo.


Di tempat Agra dan Edo, keduanya sedang bersembunyi di tempat yang berbeda, untuk memancing para musuh keluar.


Keduanya bersiap untuk menyerang para musuh yang mendekat kepada tempat persembunyiannya secara senyap.


Bugh


Kreekh


Agra menyerang lawannya dengan sekali gerakan tak terlihat, memukul setiap area sensitif lawan, hingga dalam sekejap tanpa bisa melawan nyawa mereka sudah berpisah dari raga.


Kini hanya tinggal empat orang lagi yang masih hidup, mereka sama sekali tak menyadari kalau rekannya sudah tidak ada.


Agra memberi kode pada Edo, untuk keluar dari tempat persembunyian.


Hingga sekarang mereka sudah keluar dan berdiri waspada, di belakang mobil dengan empat orang musuh di depan keduanya yang bersiap untuk menyerang.


“Apa yang kalian inginkan?!” tanya Edo, dengan sikap kuda-kuda.


“Itu bukan urusanmu!” teriak ketua mereka,  menggebu.


“Oh, begitu? Tapi, aku pikir ... ini menjadi urusanku karena kalian mengikuti kami,” dengan santai dan pandangan mengejek Edo terus berbicara, mengejek, seolah meremehkan mereka semua.

__ADS_1


Sedangkan Agra, lelaki itu malah berdiri santai dengan kedua tangan berada dalam saku. Dia sekarang tidak terganggu dengan ketegangan yang sedang terjadi di sekitarnya.


“Brengsek, aku tidak ada urusan denganmu!” teriak lelaki itu.


Dukh


Dengan brutal Ketua itu langsung menyerang Edo, tetapi, tak semudah itu untuk melukai asisten pribadi Agra itu. Dengan sigap Edo menangis dan berbalik menyerangnya.


Melihat semua itu, Agra langsung mengambil senjatanya dan menembak ketiga orang yang sudah tersisa.


Fyuh


Meniup ujung senjata santai, setelah membuat tiga orang di hadapannya tergeletak tak berdaya.


Lelaki yang sedang bertarung dengan Edo, langsung berhenti menyerang saat melihat para anak buahnya sudah tergeletak dengan bersimbah darah.


Grep


Krakh


Edo yang melihat celah, langsung menangkap tangan musuhnya lalu memutarnya dan mencekalnya di belakang.


Agra menyeringai, melirik Edo sekilas, lalu meninggalkannya masuk ke dalam mobil.


Edo hanya mengangguk lalu dengan satu tangannya ia memberikan pukulan di tengkuk lelaki di depannya.


Dukh


Brukh


“Hah, akhirnya.” Edo menghembuskan napasnya saat ia telah melepas musuhnya itu dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Tergeletak begitu saja, saat ia mendorongnya. Sudut matanya melihat mobil Agra yang sudah pergi menjauh.


Hufth


“Menyusahkan saja,” gerutunya.


Mengambil ponsel di saku untuk menghubungi anak buahnya.


Di tempat lain, Agra mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, dirinya harus segera sampai di rumah dan bertemu dengan istrinya, untuk meredam emosi yang masih terbakar.


Hingga tak berapa lama, ia berada di dalam lift menuju unit apartemennya.


“Selamat datang, Tuan,” Bi Ani yang kebetulan sedang berada di depan menyambut kedatangan Agra.


Mengangguk samar sebagai jawaban. “Di mana Alisya?” tanyanya kemudian.


“Di kamar, Tuan. Baru saja masuk,” jawab Bi Ani.


“Hem, terima kasih,” ucapnya dingin. Lalu melanjutkan langkahnya menuju lantai dua.


Bi Ani melihat kepergian masukan barunya itu, dalam hati ia bahagia Alisya bisa mendapatkan suami seperti Agra. Walaupun sikapnya dingin dan terlihat arogan, tetapi, dia selalu melihat cinta yang begitu besar dari matanya, setiap kali sedang berada di dekat anak asuhnya itu.


Dia juga sudah tidak peduli dengan sikap Agra yang jarang bicara, bahkan hampir tidak pernah menyapa dirinya. Setidaknya di sini dia tidak mendapat perlakuan kasar atau tidak sopan dan semena-mena seperti di rumah Bima.


Ditambah di sini dia bisa berada dekat dengan Alisya, perempuan yang ia rawat dari masih bayi dan sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.


Agra membuka pintu kamarnya dengan perlahan, pandangannya mengedar mencari keberadaan istrinya.


“Sayang!” panggilnya, mata tajamnya mengedar mencari keberadaan Alisya.


Namun, ia sama sekali tak melihat keberadaan istrinya. Berjalan menuju pintu kamar mandi dan membukanya, tetapi tak ada juga di sana.


“Kakak, sudah pulang?” suara halus dari belakang tubuhnya membuat Agra langsung berbalik.


Senyumnya langsung mengembang saat ia dapat melihat keberadaan istrinya, berjalan menghampiri dan langsung memeluk tubuh mungil kesukaannya itu.

__ADS_1


Alisya tersenyum, tangannya langsung membalas pelukan suaminya, menyelusupkan wajah pada dada bidang Agra, menikmati detak jantung yang selalu membuatnya merasa nyaman.


Menghirup wangi tubuh istrinya yang perlahan mulai menghilangkan rasa lelah juga emosi di dalam dirinya. Memejamkan mata menikmati ketenangan yang menyelimuti hatinya.


Beberapa saat mereka tetap terdiam dengan posisi yang sama, menyalurkan rasa cinta dan kerinduan setelah seharian ini tidak bertemu. Hingga Alisya akhirnya mengurai pelukan mereka, berjinjit sedikit dan memberikan kecupan sekilas di bibir suaminya.


“Mandi dulu, Kak. Bau ih!” Alisya menutup hidungnya seolah ia merasa terganggu dengan wangi tubuh suaminya sendiri.


Agra langsung mengendus tubuhnya sendiri, memastikan kalau tubuhnya tidak bau, seperti apa yang dikatakan oleh Alisya. Walaupun tadi dirinya sempat bertarung, tetapi tubuhnya tidak pernah mengeluarkan bau yang mengganggu, karena dia sudah menjalankan hidup sehat sejak lama.


“Tidak ada yang bau, sayang. Ayolah aku masih mau memelukmu, aku sangat merindukanmu, sayang.” Agra berusaha meraih tubuh istrinya, tetapi dengan cepat Alisya menghindar.


Alisya tertawa, melihat Agra yang masuk perangkapnya. Agra yang baru sadar kalau dirinya sedang menjadi ajang jail istrinya, langsung menangkap tubuh mungil itu dan membawanya ke kamar mandi, dengan menggendongnya seperti anak koala.


“Kamu bilang aku bau kan? Baiklah kalau begitu temani aku mandi,” ucapnya, dengan senyum misterius.


Mendengar perkataan suaminya, Alisya langsung menatap wajah suaminya yang sedang menatapnya dengan berbagai rencana di dalamnya.


“Gak mau, aku udah mandi, Kak. Turunan aku ... turunan aku, Kak!” teriak Alisya.


Dirinya tahu, kalau Agra bukan hanya mengajaknya mandi bersama, tetapi akan ada kegiatan lain selain mandi di dalam sana.


“Katanya tadi aku bau, jadi kita mandi bareng-bareng,” ucap Agra, diselingi kekehan kecil dari mulutnya.


Alisya kembali menatap Agra tajam dengan bibir mengerucut, saat ini dirinya dalam mode merajuk.


Agra tak terpengaruh dia malah menyeringai dan mengecup bibir yang sangat menggiurkan itu, memberikan sedikit lum atan halus dan membuai, membawa istri kecilnya dalam hasrat bercinta.


Brak


Agra menutup pintu kamar mandi dengan dorongan keras di kakinya, ia menghampiri tubuh Alisya di belakang pintu, Alisya langsung melingkarkan kakinya ke pinggang kokoh Agra, begitu juga tangannya, ia lingkaran di tengkuk suaminya.


Agra mengakhiri penyatuan bibir mereka setelah merasakan Alisya hampir saja kehabisan napas. Menempelkan kening dan hidungnya, mata keduanya tampak terpaut, dengan gairah yang mulai naik.


Keduanya sama-sama terengah-engah, berlomba meraih oksigen sebanyak-banyaknya untuk kembali mengisi ruang paru-paru yang kosong.


Adegan selanjutnya bayangkan sendiri aja ya, aku gak mau ngintip ah, malu🙈🙈


Promo lagi ya, jangan bosen plis, ini cerita keren dari mak aku, jangan lupa mampir ya😊


Judul: MASA LALU SANG PRESDIR (21+)


Author: Enis Sudrajat


"Aaaaaah ... kamu bikin aku cemas aja sayang!" Richard memeluk Annet dan menyelusupkan wajahnya ke dada Annet yang terbuka.


"Rich sakit! pelan dong bulu di muka kamu baru tumbuh itu." Annet membuka kancing kaos berkerah yang dikenakan Richard.


Richard malah terkekeh, menarik tali pita baju Annet yang tak bertangan lalu membuka melempar pakaiannya sendiri.


"Aku nggak tahan sayang, aku ingat kamu sejak di tempat gym tadi, entah kenapa jagoan ku ini nggak bisa kompromi sama sekali!" Richard menunjuk ke bawah perutnya.


"Memang kenapa?" Annet berlaga pilon.


"Coba lihat buka sendiri!"


Annet turun dari pangkuan Richard dan membuka celana panjang Rich, membuka pelindung terakhirnya yang sudah kelihatan mengembung karena terdorong sesuatu dari dalam.


"Wow ... maksimal banget Rich!" Annet mengelusnya perlahan.


"Habis ikut nge-gym begitu kelakuannya, kamu harus bertanggungjawab, pakaikan sarung pelindungnya, sudah nggak tahan jagoan ku mencari tempat berendam." Annet tersenyum mengambilkan balon pembungkus senjata kesayangan Richard


...🦅...


...🦅...


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2