Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.55 Penyerangan


__ADS_3

 


...Happy Reading...


...🦅...


Satu hari menuju pesta pernikahan, semua orang tampak sibuk untuk menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan acara.


Edo dan Max terlihat bekerja sama untuk menjamin keamanan di hotel tempat acara akan berlangsung.


Hampir semua anggota Black Eagle dikerahkan, untuk menjamin semuanya akan berjalan lancar dan aman tanpa ada satu pun hambatan.


Andrew dan Agra bekerja sama untuk merancang berlapis keamanan di sekitar hotel dan juga Alisya.


Semua CCTV hotel sudah di sabotase sejak pagi hari tadi, hingga semua laporannya bisa di lihat langsung oleh anggota Black Eagle yang bertugas di dalam bidang IT.


Alisya dan seluruh keluarga Agra akan sampai siang hari, dengan penjagaan ketat dari para pengawal yang selama ini ditugaskan di rumah, dengan dijemput langsung oleh Edo.


Agra dan Andrew tampak mengawasi semua yang terjadi dari salah satu kamar hotel yang telah mereka sulap menjadi ruangan khusus IT. Dilengkapi dengan berbagai macam komputer berteknologi tinggi untuk menunjang keperluan memantau seluruh gedung dari segala sisi.


“Tuan, saya pamit untuk menjemput Nona Alisya,” ucap Edo yang sejak tadi ikut mengawasi di belakang Agra.


Agra mengangguk samar dengan liriknya tajam. “ Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu di jalan!” desisnya.


“Baik, Tuan.” Edo membungkukkan sedikit tubuhnya di belakang kedua tuannya itu, sebelum berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.


Tatapan tajam Agra memang lumayan membuat lelaki itu merinding, tetapi, ia tahu kalau itu hanya bentuk peringatan untuknya dan juga rasa iri karena ia bisa bertemu dengan Alisya lebih dulu.


Pukul satu siang, iring-iringan mobil yang membawa seluruh keluarga Ainsley dan juga Alisya, baru saja meninggalkan kediaman.


Edo menjadi sopir Alisya dan kedua orang tua Agra, sedangkan Fandy bersama keluarga kecilnya berada di belakang merek dengan salah satu anak buah Agra yang juga mahir dalam mengendarai mobil.


Mobil mereka diapit oleh dua mobil di belakang dan di depan, juga beberapa motor di samping, untuk menjaga keselamatan keluarga dan juga calon pengantin.


Masih banyaknya musuh yang berkeliaran dan menjadi ancaman nyata bagi keluarganya, terlebih mereka sudah tahu kelemahan yang ia miliki saat ini. Semua itu menjadi alasan Agra untuk berlaku posesif kepada setiap anggota keluarga dan menempatkan pengawasan ketat.


Di tengah perjalanan Edo mendapatkan informasi dari pengawal yang terdapat di urutan paling belakang.


“Sepertinya ada beberapa mobil yang mengikuti.”


“Hadang mereka, jangan sampai mereka mendekat pada mobil inti!” desis Edo dengan tatapan siap siaga.


Cengkeraman di setir mobilnya  tampak mengerat, menahan emosi yang serasa mulai merasuk ke dalam tubuhnya.

__ADS_1


Ternyata perkiraan Agra dan Andrew benar terjadi, mereka akan mencoba menyerang di dalam perjalanan menuju hotel.


“Kita lakukan sesuai rencana!” perintah Edo lagi, setelah melihat mobil belakang tertinggal cukup jauh.


Mereka berbelok menuju jalan tikus yang terlihat lebih sempit dan sepi.


“Kita mau ke mana?” Viana bertanya saat sadar mereka tidak menuju hotel.


Sementara itu, di mobil pengawal paling belakang, sudah terjadi baku tembak antar beberapa pengendara, ternyata yang menyerang lumayan banyak dan itu semua cukup membuat para anak buah Agra kewalahan.


Setidaknya ada lima mobil yang muncul dan menyerang dua mobil anggota Black Eagle yang berjaga di belakang.


Hingga dua mobil lawan berhasil meloloskan diri dan melesat mengejar mobil yang dikendarai Edo.


Hingga beberapa saat kemudian mereka berhasil mengejar mobil yang dikendarai oleh Edo.


Baku tembak pun kembali terjadi, membuat para pengendara yang berada di antara mereka memilih minggu dan menghentikan mobilnya, demi melindungi keselamatan mereka.


Edo mengerinyai buas, tersenyum misterius dengan tatapan fokus ke depan. Jalanan yang masih ramai, membuatnya lebih berhati-hati berkendara, agar tidak menimbulkan korban tak bersalah.


Suara tembakan bersahutan menggegerkan para pengendara lainnya, apa lagi kendaraan mereka terus melaju  dengan kecepatan penuh, menyalip banyak kendaraan biasa, hingga menimbulkan suara gesekan antara ban yang beradu dengan aspal.


Ditambah dengan bunyi klakson yang saling bersahutan, membuat suasana tegang di sepanjang jalan itu semakin mencekam.


“Bersiaplah untuk menghadapi ajal kalian!” desisinya, menyiapkan senjata api di tangannya.


Kaca di sampingnya terbuka, Edo mengulurkan satu tangannya yang memegang senjata, bersiap untuk menembak mobil lawan yang mulai mendekat.


Dor! Dor! Dor!


Tembakan beruntun berhasil mengenai dua ban mobil bagian bagian depan, hingga mengakibatkan mobil tersebut terungkap dan berguling hingga menabrak pembatas jalan di bagian tengah.


Dor!


Satu tembakan lagi berhasil mengenai tangki bensin, dan membuat mobil itu meledak seketika.


Dua mobil di belakangnya tampak tersendat karena terhalang kobaran api yang membesar.


Edo meniup ujung senjata apinya, merasa puas dengan apa yang ia lakukan.


“Kalian urus sisanya!” ucapnya, sebelum menancap gas lebih dalam lagi.


Tak ada lagi penumpang di mobilnya semuanya sudah aman terkendali, berkat rencana matang Agra dan Andrew.

__ADS_1


Di lobi hotel, Alisya dan semua keluarga Agra baru saja sampai, mereka datang dengan di jemput langsung oleh Andrew dan juga Max. Untuk mengelabuhi para penyerang, mereka harus berganti mobil saat melewati jalan tikus, dan ikut dengan Andrew dan Max yang ternyata telah menunggu di sana.


Di dalam ruangan pengawas, Agra menghembuskan napas lega, saat melihat kedatangan Alisya dan keluarga kandungnya. Setelah beberapa saat tadi ia dibuat ketar-ketir akibat laporan dari Edo.


Andai saja Andrew tak melarangnya untuk terjun langsung, sudah pasti ia akan memusnahkan para penyerang itu tanpa ada kata ampun.


“Done!” satu kata terdengar dari earphone yang tersambung pada Edo, membuat senyum tipis di bibirnya terbit.


“Good job!” balas Agra.


Memilih untuk bersandar di kursinya, meregangkan otot yang terasa kaku karena melihat pertarungan antara Edo dan para penyerang, dari CCTV yang diretas oleh para anak buahnya.


Ternyata melihat orang di dalam pertempuran lebih menegangkan dari pada mengalaminya sendiri. Apa lagi di sini yang dipertaruhkan adalah orang-orang yang ia cintai.


Jantungnya bahkan berdetak dua kali lebih cepat, sebelum ia bisa melihat sendiri mereka semua selamat. Walaupun Edo dan Andrew terus memberi kabar kalau semuanya baik-baik saja.


Di depannya, para ahli IT yang bertugas, masih tampak sibuk untuk menghapus semua CCTV jalan yang merekam semua aksi Edo, agar tak menjadi bukti untuk para polisi.


Begitulah tim Black Eagle bekerja, mereka sudah tahu bagiannya masing-masing, hingga tak perlu lagi cape untuk memerintahkan.


Agra hanya perlu mengawasi pekerjaan mereka sesekali, dan memperingatkan tentang kewajibannya, agar mereka tak terlena.


Sambil nunggu aku up lagi kalian bisa mampir ke novel keren milik temen litersi aku. *J*angan lupa mampir ya🥰


Judul: Tentang Bintang Dan Galaksi


Author: Chika Ssi


Blurb:


“Kamu itu nggak pantas ikut lomba! Berkacalah! Lihat wajahmu yang buruk itu! Dipenuhi bercak putih nggak jelas! Aku rasa itu adalah alasan, kenapa kamu dicampakkan sama keluargamu sendiri!" ~ Bulan Purnama


"Jika bisa memilih, aku juga ingin memiliki wajah cantik sepertimu, Bulan. Mengenai lomba ini aku hanya mengikuti lomba baca puisi! Bukan lomba kecantikan! Apa orang sepertiku tidak pantas memiliki prestasi walau hanya secuil?" ~ Bintang Bellatrix


"Kamu itu tidak aneh, tapi unik! Nggak usah dengerin apa kata orang. Pura-pura tuli dan buta, terkadang bisa menjadi alternatif terbaik untuk menjaga hatimu sendiri. Setiap orang dilahirkan spesial, dan kamu adalah salah satunya!" ~ Galaksi Milkyway


(Kisah ini berdasarkan pengalaman pribadi author yang didramatisir)


...🦅...


...🦅...


...TBC...

__ADS_1


 


__ADS_2