Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.50 Rencana


__ADS_3

...🦅...


...Happy Reading ...


Sore ini, Agra dan Edo baru saja keluar dari kantor, mereka berdua berjalan beriringan menuju sebuah mobil sport yang sudah terparkir tidak jauh dari area lift pribadi.


Edo baru saja duduk di kursi kemudi saat ponsel di saku terasa bergetar.


“Maaf, Tuan,” ucapnya pada Agra, sebelum kembali ke luar, untuk mengangkat telepon.


Agra tampak acuh, pikiran lelaki itu kini sedang kacau karena desakan dari Viana, sore kemarin.


Ya, ibunya itu menginginkan dirinya untuk segera menikahi Alisya, sedangkan dirinya sendiri masih belum memikirkan bagaimana cara mengungkap kebenaran tentang dirinya sendiri.


Ditambah lagi dengan masalah yang masih menumpuk, yang harus ia selesaikan satu per satu.


“Tuan!” Agra tampak melirik tajam asisten pribadinya itu.


“Maaf, Tuan,” kikuk Edo, merasa tidak sopan dengan apa yang ia lakukan.


“Katakan!” desis Agra.


“Perusahaan Prananta Jewelry akan segera melelang sebagian sahamnya.”


Sebelah bibirnya Agra tampak tertarik ke atas, saat mendengar laporan dari Edo. Selama ini, informasi itulah yang ia tunggu.


“Bagus, kita bisa langsung melakukan rencana.”


Edo mengangguk, sambil melirik sekilas wajah tuannya dari kaca spion dalam.


‘Sebentar lagi, tunggu sebentar lagi, aku akan mendapatkan semua yang telah mereka rapat darimu,’ gumam Agra dalam hati.


...........................


Di kediaman rumah besar Prananta, Bima tampak uring-uringan, karena asetnya yang semakin menipis, dan perusahaan yang terus menurun, hingga mengakibatkan banyak kerugian besar.


“Pah, aku minta uang lagi dong, mau jalan sama temen, nih!”


Mona—anak dari Bima, tampak sudah siap dengan pakaian seksinya, menengadah tangan di hadapan sang ayah.


“Bukannya baru minggu kemarin, Papah transfer kamu uang lima ratus juta, sekarang kamu sudah minta lagi?!” Bima memijit pelipisnya, merasa pusing dengan gaya hidup anak dan istrinya.


“Udah abis, Pah. Makannya sekarang aku minta lagi,” ucapnya mudah saja, tanpa mau tahu keadaan ayahnya.


“Apa? Buat apa uang sebanyak itu kamu habiskan selama seminggu?!” nada suara Bima sudah naik beberapa oktaf.


“Papah kayak gak tahu aja. Belanja, jalan-jalan, perawatan, dan yang lain lagi!” acuh Mona, tanpa rasa bersalah sedikit pun.


“Sudahlah, Mas, gak usah di bikin pusing, tinggal kasih aja uangnya sama Mona. Lagian, uang kita kan banyak, gak bakalan abis sampai tujuh turunan!”

__ADS_1


Bima mengalihkan pandangannya pada sosok wanita yang berjalan ke arahnya, Jenny—Istri dari Bima. Berjalan dengan begitu anggun, dengan lenggok bak model internasional, di balut dengan pakaian super mewah, dan perhiasan yang bernilai ratusan juta rupiah.


“Mau ke mana, kamu?!” Bima bertanya dengan tatapan mengelilingi tubuh sang istri.


“Aku ada pertemuan dengan teman sesama sosialita, oh iya, nanti tolong transfer ke rekening aku dong, buat traktir mereka.”


Bima langsung menatap tajam wanita yang kini sedang bergelayut manja di lengannya.


Menghembuskan napas berat, tangannya mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.


Beberapa saat, lelaki itu tampak sibuk mengetikkan sesuatu di atas layar benda pipih itu.


“Mulai sekarang, aku harap kalian bisa berhemat. Perusahaan sedang kacau, dan aku sedang mencari investor baru, jadi selama aku belum mendapatkan bantuan, kalian jangan sampai bikin ulah!” jelas Bima.


“Apa? Memangnya ada apa dengan perusahaan, bukannya selama ini baik-baik aja, Mas? Lagi pula buat apa kamu cari investor, jual aja beberapa aset peninggalan si Adrian buat nutupin kerugian!” ucap acuh, Jenny.


“Aku sudah menjual aset yang bisa dijual, sekarang uang kita sudah habis, makannya aku meminta kalian untuk sedikit berhemat!” jelas Bima, memandang kedua perempuan yang berada di sekitarnya.


 “Kok bisa sih, Pah? Bukannya dulu Papa bilang, kalau kekayaan om Ardian tidak akan pernah habis?”


Edo menatap anak perempuannya, prustasi.


“Kamu pikir, semua barang dan kemewahan yang kalian pakai di beli pake apa, hah? Daun? Perusahaan gak akan sampai bangkrut seperti ini kalau bukan karena kalian yang terus saja meminta uang untuk berfoya-foya!” teriak Edo, mulai hilang kendali.


“Sudahlah, percuma saja bicara dengan kalian! Yang ada di dalam otak kalian hanya uang dan kesenangan saja!” Bima memilih melangkah menuju kamarnya, meninggalkan istri dan juga anaknya.


Dua perempuan berbeda usia itu, mengedikkan bahunya acuh, memilih untuk segera pergi dari rumah, meninggalkan Bima seorang diri.


 


..................


 


Malam sudah hampir larut, tetapi, tiga orang lelaki itu, masih tampak duduk berdiam diri di suatu ruangan.


Agra, Gerald dan Fandy, ketiganya tengah berada di ruang kerja Agra yang berada di markas.


Sore tadi, Agra mengundang ayah dan kakak kandungnya untuk, berkunjung ke markas Black Eagle yang berada di negara ini.


Agra sudah memantapkan dirinya untuk membuka jati dirinya, di hadapan Gerald dan Fandy setelah mendapatkan persetujuan dari Andrew.


Kini, dia sedang menunggu reaksi dari kedua keluarganya itu, atas semua pengakuan yang telah ia lakukan.


“Sagara ....”


Suara panggilan dari Gerald membuat Agra mengalihkan pandangannya pada ayah kandungnya.


Mata keduanya tampak saling bertaut, Agra dapat melihat ada sedikit binar kecewa di dalam mata sayu itu.

__ADS_1


“Mungkin hatiku sedikit terkejut dengan apa yang sudah kamu katakan, tapi, semuanya sudah terjadi, dan mau tidak mau aku harus menerima keputusan yang kamu ambil.”


Agra mematung, mendengar apa yang di katakan oleh Gerald.


“Mau sebagai apa pun kamu saat ini, kami akan tetap menjadi keluargamu!”


Mendengar imbuhan dari Fandy, senyum Agra terbit begitu saja, ia tahu kalau keluarganya pasti bisa menerima dirinya apa adanya.


“Benarkah? Kalian tidak apa-apa walaupun aku adalah seorang ketua dari sebuah organisasi terlarang?” tanya Agra.


Keduanya mengangguk pasti, tanpa ada gurat keraguan sedikit pun di dalam sorot mata mereka.


“Terima kasih! Aku tau, kalian pasti mau menerima aku yang seperti ini!”


Menghembuskan napas lega, menyandarkan tubuhnya pada sofa.


Ketiganya baru saja meninggalkan markas, saat waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.


Sampai di rumah, tentu saja mereka langsung disambut oleh ketiga perempuan pemilik hati mereka masing-masing.


Ternyata ketiga perempuan itu, kompak untuk menunggu kedatangan Agra para lelaki dewasa itu.


“Dari mana saja kalian?!” suara tegas penuh dengan amarah itu, terdengar sedikit menakutkan untuk ketiga lelaki itu.


Apa lagi saat melihat dua orang perempuan yang ada di samping wanita paruh baya itu.


Tentu saja, sambutan sepesial itu, mampu membuat Agra dan Fandy menggaruk tengkuk masing-masing.


Sebenarnya Alisya tidak bermaksud untuk ikut menunggu, lagi pula ia tak berharap kalau Agra juga akan pulang ke rumah itu.


Namun, Viana dan Andini selalu menahannya untuk ikut menunggu kedatangan para suami mereka.


Dan di sinilah, sekarang dirinya, duduk di hadapan Agra setelah kedua perempuan lain menyeret suami mereka masing-masing.


“Kamu gak seret aku ke kamar juga, kayak Mama dan Kak Andini?” tanya Agra.


“Enak aja, memang aku cewek apaan?!” cebik Alisya.


“Aku kira kamu nungguin aku?” Agra tampak menyunggingkan sebelah bibirnya.


“Idih, gak usah geer ya! Siapa juga yang nungguin Kak Aga?Udah ah, aku mau ke kamar, ngantuk!” Alisya tampak melengang begitu saja, meninggalkan Agra di ruang keluarga.


Menghembuskan napas kasar, dengan mata menatap kepergian gadisnya itu.


Malam itu, Agra memutuskan untuk menginap di rumah besar kediaman keluarga Ainsley.


...🦅...


...🦅...

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2