Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.68 Pergi Ke Vila


__ADS_3

 


...Happy Reading...


...🦅...


“Kakak, gak pergi ke kantor?” tanya Alisya, sambil mengeringkan rambut di depan meja rias. Saat ini keduanya masih berada di kamar hotel.


Agra yang masih berbaring santai di tempat tidur, memiringkan tubuhnya, kepalanya di tahan oleh salah satu tangannya. Karena pergerakannya, tubuh polos bagian atas sebatas pinggang terbuka, sebab selimutnya tertarik.


Mereka baru saja bangun, setelah matahari hampir berada tepat di atas kepala. Semalam Agra benar-benar membuktikan perkataannya, lelaki itu sama sekali tak mau melepaskan Alisya, dia hanya memberikan waktu untuk beristirahat dan mengatur napas sebentar, kemudian kembali mengulang aktivitasnya.


“Aku sedang ingin menikmati waktuku bersamamu, sayang. Bukannya nanti sore kamu kan meninggalkanku?” Agra menaikkan salah satu alisnya.


Alisya melihat wajah suaminya. “Aku kan pergi cuma dua hari, Kak. Itu juga karena kakak izinkan,” jawab Alisya.


“Ya, untuk kali ini aku akan mempercayakanmu pada dua sahabatmu dan para anak buahku, terutama Livia. Ingat jangan berbuat yang aneh-aneh, turuti peraturan dariku, atau saat itu juga aku akan langsung datang dan menyeretmu dari sana,” ancam Agra.


Sebenarnya dia berat melepaskan Alisya, tanpa pengawasan darinya, hanya saja Andrew juga butuh bantuannya.


Namun, menurutnya Alisya akan lebih aman bila jauh dari tempatnya dan keluarganya saat ini, untuk menghindari penyerangan ketika kepergiannya nanti.


Ya, nanti Alisya akan dibawa menuju vila rahasia milik dirinya, tempat itu belum ada yang tahu, kecuali anggota utama Black Eagle.


“Ck, memang aku ini apa?” cebik Alisya.


“Kamu, milikku, istriku, wanitaku, cintaku, hidupku, dan kelemahanku. Jadi jangan pernah berpikir untuk pergi dariku, atau terluka sedikit pun. Karena aku tidak suka itu! Paham?” ucap tegas Agra.


“Iya, aku paham,” jawab Alisya, dia selalu saja luluh bila sudah dikatakan sebagai kelemahannya.


Alisya sadar, kalau dirinya tak mempunyai bekal ilmu bela diri, maka dari itu, dia lebih memilih dijaga ketat oleh semua anak buah Agra, mengingat bahaya yang sudah dijelaskan oleh suaminya itu beberapa waktu lalu.


Setelah menikmati sarapan dan makan siang yang di satukan itu, keduanya baru saja keluar hotel, saat waktu sudah menunjukkan pukul dua siang.


“Aku bahkan belum mempersiapkan baju untuk pergi nanti sore, bagaimana coba?” gerutu Alisya, pada Agra.


Kini sepasang suami istri itu sedang dalam perjalanan pulang. Agra melirik istrinya sebentar, lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.


“Tenang saja, sayang. Aku sudah menyuruh Bi Ani dan Livia untuk mempersiapkan segala keperluan untukmu, jadi nanti kamu tinggal berangkat saja,” jawab Agra santai, salah satu tangannya, mengambil lengan Alisya, lalu mengecupnya dengan pandangan masih lurus ke depan.


“Benarkah?” Alisya memiringkan tubuhnya, menghadap Agra, dengan wajah berseri.


“Hem.” Agra hanya bergumam sebagai jawaban, ditambah senyum tipis di wajahnya.


“Terima kasih, Kak! I love you!” Alisya memeluk tubuh suaminya dan memberikan kecupan singkat di pipinya.

__ADS_1


“I love you so much,” jawab Agra, ia memberikan sedikit kecupan di bibir istrinya.


Waktu berlalu begitu cepat, Alisya baru saja berangkat bersama kedua sahabat dan juga Bi Ani.


Ya, wanita paruh baya itu juga diberikan tugas menjaga Alisya oleh Agra.


Agra langsung menuju ke kantor bersama dengan Edo, mereka harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum berangkat menyusul Andrew nanti malam. Agra juga ada satu pertemuan lagi dengan seorang klien yang dijadwalkan pada saat makan malam.


Di saat para karyawan sudah mulai pulang, Agra dan Edo baru saja sampai ke kantor, mereka memilih mengerjakannya langsung di sana, agar lebih mudah.


“Ed, bagaimana perkembangan situasi di sana saat ini?” tanya Agra, di sela memeriksa berkas di tangannya.


“Tuan Andrew, sudah memecat semua karyawan yang bersekongkol dengan mereka, hanya saja sekarang mereka berbalik menyerang kita secara terang-terangan. Bahkan ada yang menyerang pabrik dan membuat beberapa pekerja terluka, kita juga merugi cukup besar karena semua itu, karena banyak mesin yang dihancurkan,” jelas Edo, panjang lebar.


“Kenapa mereka bisa masuk begitu saja kedalaman pabrik, apa penjaga di sana begitu bodoh?!” desis Agra, tangannya sudah meremas map yang ia pegang, hingga terlihat kusut.


“Mereka kewalahan karena penyerang terlalu banyak, ditambah ada beberapa penyerang yang pernah bekerja dengan kita di perusahaan maupun di pabrik. Mereka berhasil menghasut hampir setengah karyawan kita untuk berpihak padanya.”


Agra mengeraskan rahangnya, ternyata ini bukan hanya penyerangan tetapi juga pemberontakan.


“Pantas saja di sini mereka tidak ada pergerakan sama sekali, lebih hanya mengawasi saja, ternyata mereka menyerang dari sisi yang lain!” ujar Agra, dengan wajah menahan amarah.


“Betul, Tuan. Maafkan kami karena lengah dalam mengawasi pergerakan mereka.” Edo menundukkan sedikit kepalanya, merasa bersalah atas semua ini.


Mereka pun, melanjutkan pekerjaannya, sampai waktu makan malam tiba.


“Tuan, Nona Alisya sudah sampai di vila,” lapor Edo, saat mereka sedang dalam perjalanan menuju salah satu restoran mewah, untuk bertemu dengan klien.


“Baguslah, biar nanti aku telepon saja dia, sebelum kita berangkat,” jawab Agra.


.


Di tempat lain, Alisya menikmati perjalanannya dengan kedua sahabat dan juga Bi Ani, mereka berada di dalam satu mobil yang dikendarai oleh Livia, sedangkan di depan dan di belakangnya ada mobil para anak buah Agra yang menjaga mereka.


“Wah, kita berasa pejabat ya, dikawal depan, belakang begini!” ujar Delina penuh semangat.


“Iya, berasa orang penting!” imbuh Rima, membuat semua orang di dalam mobil itu tertawa, kecuali Livia yang hanya menyunggingkan senyum tipis, sambil menggeleng geli.


Perjalanan sore itu tampak sangat menyenangkan dengan berbagai canda tawa dan obrolan antara perempuan yang berasa tidak akan pernah ada habisnya.


Hingga tanpa terasa mereka sudah memasuki pegunungan dengan banyaknya pohon besar dan rindang di sisi jalan.


Keempat perempuan itu kini teralihkah oleh suasana pemandangan sekitar yang mereka lewati, mulai dari pedesaan dan perkebunan yang begitu indah dan memanjakan mata.


Untuk mereka yang terbiasa hidup di kota besar, pemandangan hijau dan asri seperti itu adalah sesuatu yang langka dan dirindukan, untuk mengistirahatkan mata dan juga pikiran dari berbagai pekerjaan dan kepenatan hirup pikuk suasana kota.

__ADS_1


“Livia, apa kita masih jauh?” tanya Alisya, setelah ia merasa sudah masuk ke dalam pedesaan cukup jauh, dan kini bahkan ia tak melihat lagi ada rumah yang mereka lewati.


“Sekitar lima menit lagi, Nona,” jawab Livia.


Benar saja, lima menit berikutnya, mereka dibuat terperangah, saat melihat sebuah bangunan mewah yang berada di tengah hutan pinus dan ketinggian yang sangat pas, hingga mereka bahkan bisa melihat ke arah tempat yang mereka lalui beberapa waktu lalu.


“Ini indah sekali, Del!” ucap Alisya, menatap takjub suasana bangunan itu yang begitu indah dan asri dengan penampakan taman dari berbagai jenis bunga.


“Hem, ini memang sangat indah, Sya,” jawab Delina.


Walaupun ini sudah malam, tetapi lampu taman yang menyala temaram malah semakin menambah indah pemandangan taman kala itu.


“Selamat datang, Nona Alisya, Nona Delina, Nona Rima, Bi Ani dan Nona Livia,” ujar seorang lelaki paruh baya yang bertugas sebagai kepala pelayan dan juga penjaga di vila ini. Menunduk hormat tepat di depan istri dari tuannya itu.


“Perkenalkan, saya Hery, kepala pelayan di sini,” imbuhnya lagi.


“Selamat malam Pak,” Hery, ucap keempat wanita itu kecuali Livia yang hanya mengangguk samar dan tersenyum tipis pada lelaki paruh baya di depannya.


Mereka berdua sudah saling mengenal, walau hanya beberapa saat ketika mereka ada pertemuan para anggota Black Eagle yang diselenggarakan rutin setahun sekali.


“Mari masuk, Nona. Saya akan mengantarkan Anda pada kamar masing-masing,” ujar Pak Hery, mengulurkan salah satu tangannya ke depan, untuk mempersilahkan mereka masuk ke rumah mewah itu.


“Del, sodara kamu sekaya apa, sampe punya vila segini gedenya?” bisik Alisya.


Delina hanya mampu menggaruk kepala yang tidak gatal, sambil menyenggol lengan Rima, karena bingung mau menjawab apa.


Mereka berdua tahu, masalah sodara Delina yang dari luar negeri itu hanya karangan mereka berdua agar bisa mengajak Alisya pergi. Keduanya tahu, kalau ini semua adalah milik Agra, bos besar mereka yang juga suami Alisya sendiri.


“Ini kamar Nona Alisya, di sebelahnya kamar Nona Livia, di depan Kamar Nona Rima dan Nona Delina, lalu di sana Kamar Bi Ani,” ujar Pak Hary, menunjuk letak kamar kelima perempuan itu.


“Baik, Pak. Terima kasih,” ucap Alisya diikuti yang lainnya.


“Kalau begitu saya permisi, selamat beristirahat,” pamit Pak Hary,  membungkuk sekilas pada Alisya, lalu pergi menuju lantai satu lagi.


Setelah menyantap makan malam bersama, semuanya bercengkrama sebentar di ruang depan sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk masuk ke kamar masing-masing dan beristirahat.


Terima kasih atas semua dukungannya, jangan lupa masukan ke rak buku ya, biar bisa dapat notifikasi up setiap harinya🙏😊❤


...🦅...


...🦅...


...TBC...


 

__ADS_1


__ADS_2