
...Happy Reading...
...🦅...
Agra menatap Andrew, setelah keduanya sama-sama terdiam cukup lama. "Biarkan aku melakukannya, Dad. Aku mau tahu alasan dibalik semua ini," ujar Agra, meyakinkan diri.
"Kamu yakin?" tanya Andrew meyakinkan.
"Ya, aku yakin, Dad." Agra berbicara dengan yakin, bahkan kedua tangannya terkepal erat, menahan perang batin di dalam dirinya.
Andrew terlihat menatap Agra cukup lama memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh anaknya. "Baiklah, aku percaya padamu," ujar Andrew, dia segera berlalu menuju kamarnya setelah berbincang sebentar bersama anak angkatnya.
Malam sudah semakin larut, Agra berjalan menuju ruang bawah tanah yang berada di markas utama Black Eagle, di belakang Edo mengikuti, seperti biasa.
Bau khas ruangan itu langsung menyapa dengan keadaan pengap dan lembap, menjadikan suasana begitu sempurna untuk sebuah penyiksaan.
Beberapa orang lainnya tampak menyusul dengan berbagai perlengkapan penyiksaan yang diminta oleh Agra, beberapa saat yang lalu.
Agra tampak berhenti di depan pintu ruangan yang masih terlihat tertutup itu, dia seperti meragu untuk masuk ke dalam.
Edo menatap punggung tegap di depannya, dia tahu hati tuannya masih memiliki rasa, hingga ini adalah sesuatu yang sangat berat untuk dia lakukan.
Sedangkan para anggota Black Eagle lainnya hanya saling melirik, dengan sesekali melihat punggung ketuanya itu. Mereka tak ada yang berani bertanya, bahkan hanya untuk mengeluarkan suara.
"Buka!" titahnya pada dua orang penjaga pintu. Setelah dia berhasil mengendalikan dirinya sendiri dari segala rasa di hatinya.
Kedua orang penjaga itu, langsung membuka pintu besi yang didalamnya berisi Roman dan Suseno.
Suasana gelap dengan bau tidak sedap langsung menyapa indra penglihatan dan penciuman Agra, suara rintihan kecil pun terdengar sayup di telinga.
__ADS_1
Agra bisa melihat dua orang yang kini tengah meringkuk di atas sebuah ranjang besi jaman dahulu, tangan dan kaki pun diikat dengan rantai.
Bisa terlihat kedua orang itu kini tengah menggigil menahan sakit, pakaiannya lusuh dengan bau tak sedap di sekitarnya, benar-benar terlihat menyedihkan. Tarikan napas terdengar begitu berat, mungkin bila bukan hari ini Agra tak akan bisa melihat mereka dalam keadaan hidup esok hari.
"Bawa mereka ke tempat penyiksaan, aku tunggu secepatnya!" perintah Agra.
Semua anggota Black Eagle yang mengira Agra akan melakukan hukuman di tempat itu, akhirnya hanya bisa mengangguk, setelah mendapat perintah dari sang ketua.
Tadi ketika Agra memerintahkan untuk menyiapkan peralatan, dia melarang memindahkan dan menyiapkan kedua orang itu dari tempat mereka selama ini.
Maka dari itu, mereka mengira Agra akan melakukannya di ruangan yang sama. Akan tetapi, apa yang mereka dengar kali ini, mematahkan asumsi semua orang itu sebelumnya.
Agra berjalan seorang diri menuju tempat penyiksaan, di setiap langkahnya pikirannya tertuju pada kondisi kedua orang itu. Pantas saja Andrew menyuruhnya, untuk melakukannya secepat mungkin. Kini dia sudah tahu alasannya.
Berdiri dengan salah satu tangan di pinggang, dan satu tangan lagi mengusap dagunya berulang. Kedua alisnya bertaut dalam, pandangannya tampak goyang dengan berbagai pikiran memenuhi kepalanya.
Roman menatap dirinya dengan senyum miring di wajah, berusaha menunjukan keangkuhan dan kekuatannya, walau tubuhnya saat ini sama sekali tak mencerminkan semua itu.
Sedangkan Suseno tampak menantapnya dengan penuh dendam dan kebencian, tubuh paruh baya itu terlihat lemah dengan kulit yang terlihat mulai membiru akibat dari reaksi racun yang mereka racik sendiri.
Agra duduk di hadapan keduanya, hanya menatap dia memperhatikan, tak ada kata yang terlontar, wajah datar cenderung keras mendominasi. Aura di sekitarnya pun terasa semakin mencekam, membuat para anggota yang berada di ruangan yang sama, semakin di buat waspada.
Edo berdiri dengan kedua tangan dibelakang, tubuh tegap dengan mata yang melihat awas dan sikap waspada. Walau kedua orang itu dalam keadaan lemah, tetapi keputusan untuk tak mengikat mereka tetap saja memunculkan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Berbagai senjata tajam sudah tertata rapi di atas meja kecil, dari mulai belati hingga sebuah katana dan senjata api sudah tersedia di sana.
Alat penyiksaan lainnya juga terlihat tersedia di salah atu sudut ruangan, juga beberapa ember air. Entah untuk apa? Mungkin hanya Agra dan para anggota Black Eagle yang tahu.
Walau begitu, bagaimana cara Agra memberikan siksaan untuk memenuhi rasa di hatinya, hanya dia sendirilah yang tahu. Tak ada yang bisa menebak pikiran sosok ketua Black Eagle itu, bahkan mungkin sang asisten sendiri.
__ADS_1
Mengabaikan dan membiarkan kedua orang itu dengan racun di tubuhnya selama dua hari, sudah cukup untuk membuktikan seberapa kejam seorang Agra. Kalau saat ini Roman dan Suseno diperiksa oleh seorang dokter, entah apa yang sudah terjadi pada setiap organ tubuh keduanya saat ini.
"Khem!" Suara deheman dari Agra terdengar menginterupsi semua orang yang ada di sana. Para anggota Black Eagle langsung menegakkan tubuhnya, bersiap melihat pertunjukan mengerikan yang akan dipertontonkan oleh sang ketua, setelah cukup lama mereka hanya terdiam, dan menerka-nerka.
Suseno dan Roman masih menatap tajam lelaki yang kini bukan lagi tandingan keduanya, tentu semua itu terlihat nyata, walah hanya melalui kasat mata. Agra begitu jauh dia atas mereka yang hanya berstatus sebagai tahanan yang akan segera di eksekusi.
"Bagaimana rasanya, menikmati hasil racikan sendiri? Apa itu sangat menyenangkan?" tanya Agra santai.
Sebuah sindiran dari mulut pedas itu, rasanya begitu menusuk bagi kedua orang itu, walau sama sekali tak terlihat. Ya, kini mereka seakan sedang disiksa oleh perbuatannya sendiri, rencana yang kini berbalik menyerang hingga mereka tak bisa melawan.
Senjata makan tuan. Ya, mungkin itulah yang sekarang pantas di sematkan pada keadaan mereka saat ini. Bagaimana tubuhnya telah rusak oleh racun yang mereka ciptakan untuk dijadikan senjata saat bertarung dengan Agra.
Namun, pada kenyataannya, sekarang mereka yang sedang berjuang melawan senjatanya sendiri. Sedangkan Agra, malah terlihat sehat dan bugar, tanpa ada cacat sedikit pun.
"Ah, apa yang harus aku lakukan lebih dulu, pada orang yang sudah terlihat menyedihkan seperti kalian ini?"
Pertanyaan penuh ejekan dengan nada jenaka itu, benar-benar tak cocok dengan wajah keras dan mata tajam menghunus tubuh kedua orang dihadapannya.
Tanpa sadar, tubuh Suseno dan Roman menegang, sadar kalau sebentar lagi mungkin hidup mereka akan segera berakhir, atau mungkin siksaan yang lebih kejam lagi menanti keduanya beberapa saat kemudian.
Walau, mungkin akan lebih baik jika mereka memang dibunuh saja, dari pada dibiarkan saja tanpa ada perawatan ataupun kejelasan seperti hari kemarin. Rasanya mereka berdua sudah tak bisa menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Bernapas saja terasa hanya menambah rasa sakit untuk keduanya saat ini.
...🦅...
...Ada yang punya ide, buat cara penyiksaannya?...
...🦅...
...TBC...
__ADS_1