
...Happy Reading ...
...🦅...
Hari terus berganti, pagi ini Agra sudah kembali berada di kantornya, ia kembali mengambil alih perkerjaan Andrew yang harus kembali ke negaranya, malam tadi karena ada sesuatu yang mendesak.
Setelah mengungkapkan jati dirinya malam itu, Agra memutuskan untuk membiarkan semuanya tetap seperti ini di mata para perempuan, ketiganya sepakat tidak akan memberi tahu ataupun menutupi, semua yang terjadi pada Agra selama keluar dari rumah.
Kini waktu pernikahan Agra dan Alisya sudah di tetapkan, keduanya akan menikah setelah Agra berhasil, merebut semua aset keluarga Prananta dan membuat Bima menerima hukuman yang setimpal, untuk apa yang telah mereka lakukan pada Alisya.
Lelaki itu meminta waktu satu minggu untuk melakukan itu semua, dan satu minggu untuk persiapan acara pernikahan nanti.
Semua itu tentu saja langsung di setujui oleh semua orang, terkecuali Alisya yang tidak tahu apa-apa yang direncanakan oleh Agra.
Gadis itu hanya tahu kalau tanggal pernikahannya akan berlangsung dua minggu lagi, tanpa tahu ada rencana apa di balik waktu yang diminta Agra.
Hari ini Agra benar-benar disibukkan dengan pekerjaan kantor yang menumpuk, hingga menyita semua waktunya. Ditambah lagi dengan laporan dari para anak buahnya yang bekerja untuk rencana perebutan perusahaan Prananta Jewelry.
Hingga menjelang malam haru, Edo tiba-tiba masuk ke dalam ruangan kerjanya, dengan membawa beberapa dokumen di tangannya.
Ya, keduanya memutuskan untuk bekerja lembur, karena besok Agra ada jadwal berkunjung ke beberapa lokasi proyek di luar kantor.
“Tuan, anak buah kita berhasil mengajukan kerja sama kepada perusahaan Prananta Jewelry. Ini semua berkas atas apa yang telah kita akuisisi dari mereka,” lapor Edo, meletakan beberapa berkas di meja kerja Agra.
Agra mengangguk puas, tangannya meraih salah satu berkas yang paling atas.
“Bagus, tinggal sebentar lagi, kita bisa mengambil alih perusahaan Prananta. Berikan bonus kepada mereka semua untuk menghargai kerja kerasnya!” perintah Agra.
Edo mengangguk patuh, itu sudah menjadi kebiasaan Agra setiap kali merasa puas akan kinerja anak buahnya.
“Ohya, untukmu, aku sudah menyiapkan satu unit apartemen di sebelah, aku tidak mau terus tinggal bersama denganmu, di saat aku sudah menikah!” Agra menaruh kartu akses sebuah unit apartemen kelas satu di atas meja.
“Tuan, ini terlalu berlebihan, lagi pula, aku sudah memiliki apartemenku sendiri,” tolak Edo. Sebenarnya ia sudah membeli satu unit apartemen di tempat yang sama, tetapi tower berbeda dengan Agra.
“Itu tidak peduli, aku hanya mengizinkanmu untuk tinggal di apartemen pemberianku, tidak untuk yang lain!” tegas Agra, tanpa mau di bantah.
“Baiklah, terima kasih, Tuan!” Edo membungkukkan badannya beberapa kali, sebagai tanda terima kasih kepada tuannya.
“Sudahlah, tidak usah seperti itu, ini memang sudah menjadi hakmu, terima kasih karena selama ini telah mendampingiku Agra menepuk pundak asisten pribadinya itu beberapa kali.
“Itu memang sudah tugas saya, Tuan!” tegas Edo, tanpa ragu.
Semua itu membuat Agra tersenyum samar, melihat kesetiaan Edo kepadanya.
__ADS_1
.................................
Hampir satu minggu ini Agra tampak sangat sibuk dengan semua jadwal dan rencananya, ia bahkan tidak sempat untuk sekedar memberi kabar pada Alisya ataupun berkunjung pada ruah kedua orang tuanya.
Semua itu membuat Alisya gelisah, karena calon suaminya sangat sulit dihubungi.
Seperti pagi ini, bangun tidur Alisya hanya menerima notifikasi pesan singkat dari lelaki itu.
‘Aku kangen, maaf aku sibuk seharian ini, jadi gak bisa hubungin kamu. Selamat tidur, sayang. Jangan lupa mimpiin aku ya!’
Alisya mendengus, melihat waktu pada pesan itu yang menunjukkan pukul satu dini hari.
Pantas saja dia tidak mendengar suara ponselnya, dia pasti baru saja tidur, setelah sebelumnya terus menunggu balasan pesan dari Agra.
‘Pagi, Kak Aga. Bisa telepon gak, aku kangen?’ balasnya berharap Agra segera melihat pesan yang ia kirimkan.
Namun, sepertinya dia harus kembali kecewa karena pesannya hanya centang satu, sepertinya ponsel Agra tidak aktif.
Menghembuskan napas kasar, melempar benda pipih itu ke sembarang arah. Beranjak menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri, ia harus membantu Viana dan Andini untuk membuat sarapan pagi.
Beberapa saat kemudian dia sudah kembali dengan balutan jubah mandi dan tangan yang sibuk mengeringkan rambutnya.
Grep ....
Aaaaa ....
Alisya berteriak sambil memberontak sekuat tenaga, saat ia merasakan lengan kokoh yang tiba-tiba saja memeluknya dari belakang.
“Ssstt, ini aku,”
Hembusan napas hangat menyapu telinganya, dengan suara yang sangat ia kenal, membuat tubuhnya mematung, pikirannya tiba-tiba kosong, tak bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Jantungnya berdetak begitu cepat, sampai ia takut kalau lelaki yang kini berada di belakangnya akan ikut mendengar.
“K—kak Aga?” lirihnya hampir tak terdengar.
“Aku kangen banget sama kamu.” Agra sedikit membungkuk menaruh dagunya di pundak gadis kecilnya, menghirup aroma tubuh Alisya, yang terasa menenangkan.
Alisya memutar tubuhnya, menatap wajah yang selama hampir seminggu ini, membuat hatinya resah dan gelisah karena menahan rindu.
Agra tersenyum hangat, melihat wajah terkejut gadisnya, ditambah mata yang sudah berkaca-kaca, memandangnya penuh kerinduan.
__ADS_1
Alisya langsung melingkarkan lengannya pada tubuh kekar calon suaminya, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam pelukan posesif lelaki pelindungnya.
Menghirup wangi khas tubuh Agra yang sudah terasa sangat lama tak ia rasakan, membiarkan semua itu memenuhi rongga paru-parunya.
Menikmati kehangatan dan kenyamanan yang selalu membuat hatinya tenang.
Agra menghujani ciuman di puncak kepala Alisya yang masih terasa lembap, menumpahkan kerinduan yang sudah menumpuk.
“Kakak ke mana aja, kenapa gak ada kabar?” tanya Alisya, masih dalam pelukan Agra.
“Maaf, aku sibuk sekali sampai tak menemukan waktu untuk memberi kabar padamu. Aku rindu, rindu banget! Makannya begitu aku ada waktu, aku langsung menemuimu.” Agra mengurai pelukannya, menangkup wajah kecil gadisnya agar ia bisa melihat kecantikan alami Alisya.
Mata mereka bertaut dalam, sama-sama menyelami manik penuh kerinduan dan kasih sayang pasangannya.
“Aku juga, aku kangen banget sama, Kakak!” kembali, Alisya masuk dalam pelukan hangat Agra.
Beberapa saat mereka berada dalam posisi yang sama, hingga keduanya merasa puas melepas rindu.
“Ganti baju dulu, aku tunggu kamu di luar ya,” ucap Agra, menyingkirkan anak rambut yang tampak menghalangi wajah cantik Alisya.
Alisya melebarkan matanya, saat menyadari kalau dirinya hanya memakai jubah mandi saja.
“Kakaaak! Dasar mesum!” teriak Alisya, mengambil bantal kecil secepat kilat, lalu melemparkannya pada Agra.
“Hei, apa yang salah, aku kan tidak mengintipmu sedang mandi,” bantah Agra, sambil terus menghindar dari lemparan membabi buta dari Alisya.
“Keluaar! Dasar kurang ajar!” Alisya terus melempari Agra dengan apa saja yang ia temukan, sambil memegangi jubah mandi bagian dadanya.
“Iya-iya, ini aku keluar.”
Brak ....
Agra berjingkat kaget, saat mendengar pintu kamar tertutup begitu keras.
Menghembuskan napas kasar, saat ia tal mengerti dengan apa yang di pikirkan gadisnya.
Baru saja ia di terima dengan baik, bahkan mereka berpelukan begitu lama. Tetapi, sekarang ia diusir dan dicampakkan begitu saja setelah semua yang terjadi sebelumnya.
“Habis manis sepah dibuang.” menggeleng miris, meratapi nasibnya.
Di luar sana, para perempuan bahkan rela memberikan segalanya hanya untuk mendapat satu pelukan darinya, tetapi, di sini dia malah di usir begitu saja, oleh gadis pemilik hatinya.
...🦅...
__ADS_1
...🦅...
...TBC...