Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.22 Kesibukan


__ADS_3

...Happy Reading...


...πŸ¦…...


Setelah drama pagi hari, kali ini Agra sudah ada di kantor Leopard Corporate cabang Indonesia.


Harinya kembali di sibukan dengan berbagai pekerjaan di perusahaan.


"Apa dia sudah menemuaimu?" Tanya agra di sela langkahnya menuju ruang kerja, setelah memimpin rapat dengan dewan direksi.


"Sudah, Tuan," seperti biasa, Edo selalu menjawab singkat dan padat.


"Berikan laporannya kepada aku," perintah Agra lagi.


"Baik Tuan. Akan segera saya siapkan," Edo memisahkan diri menuju ruangannya.


Sedangkan Agra, melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja presdir.


Para sekretaris yang sedang sibuk, langsung menghentikan pekerjaan mereka, berdiri serempak, untuk menyambut kedatangan sang wakil presdir.


Seperti biasa, Agra hanya menganggukan kepala samar, tanpa menoleh, atau membalas sapaan dari para karyawan lain.


Terkesan Arogan memang, tetapi itulah Agra sekarang.


Lelaki bertubuh sempurna itu, duduk di kursi kebesarannya, kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan kantornya.


"Ini laporan dan bukti yang telah dia berikan, Tuan," ujar Edo yang baru saja sampai di ruangan sang Tuan.


Agra mengalihkan perhatiannya pada teman sekaligus asistennya itu.


Mengambil sebuah amplop coklat yang Edo letakan di atas meja kerja Agra.


Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas laporan tentang seseorang dan sebuah flash disk.


Agra membaca setiap laporan yang ada di sana, hingga senyum mengerikan itu terbit kembali, dari bibir se*si miliknya.


Sebuah bukti penyelewengan dana dan kejahatan pencucian uang.


Setelah membaca setiap baris kata, Agra langsung melihat isi dari flash disk itu.


Sebuah video panas seorang pejabat tinggi pemerintahan bersama seorang wanita penghibur tampak nyata dan terlihat jelas.


Agra tampak tersenyum puas, setelah melihat semua bukti yang telah anak buahnya kumpulkan.


"Berikan bonus kepadanya," perintah Agra pada sang asisten.


"Siap, laksanakan, Tuan!" jawab Agra.


Lelaki yang sudah menemani Agra sejak pelatihan itu, memilih pamit, dan kembali ke dalam ruangannya.


Bersamaan dengan itu, ponsel di atas meja kerja Agra berdering.


Lelaki es itu, langsung menggeser layar ponselnya setelah melihat nama pemanggil yang tertera.


Max ....


Ya, orang yang telah lama mengabdi kepada sang ayah dan sekarang menjadi kepercayaan untuk mengurus Black Eagle yang berada di Indonesia.


"Max," ujar Agra menempelkan benda pipih itu, di telinga.

__ADS_1


Berjalan menuju salah satu sisi ruangan yang terdapat dinding kaca yang sangat besar.


Berdiri menghadap keluar, dengan memasukan salah satu tangannya ke dalam saku.


Tatapannya lurus ke depan, melihat hiruk - pikuk kesibukan di luar sana.


Telinganya mendengarkan semua penjelasan yang di katakan oleh sang penelepon.


"Baiklah, aku ke markas sekarang juga,"


Agra langsung mematikan teleponnya, lalu melangkah ke luar dari ruangannya.


"Ed, aku harus pergi ke markas, ada sedikit kendala di sana," ucapnya setelah masuk ke dalam ruangan sang asisten.


"Kamu, handle di sini saja," cegah Agra saat melihat Edo akan bersiap ikut dengannya.


"Baik, Tuan."


.


Beberapa saat kemudian, Agra sudah sampai di sebuah bangunan yang terdapat di perumahan elit, di kota itu.


Di sana, jarak antar rumah cukup jauh, sehingga semua aktifitas di setiap rumah, tidak terlalu mengganggu para penghuni lain.


Di tambah pasilitas kedap suara di setiap sudut sisi ruangan, membuat kagaduahan dan semua kesibukan yang terjadi di dalam rumah, tak terdengar sampai ke luar.


"Selamat datang, Ketua!" sapaan yang ia dengar, setiap kali dia berpapasan dengan para anak buah di sana.


"Tuan," Max menyambut Agra di depan pintu masuk.


"Kenapa bisa tertahan di sana?" Agra langsung bertanya sambil berjalan menuju ruangannya.


"Bukankan ada orang kita di sana? Kemana dia?"


"Dia sedang di pindah tugaskan, Tuan"


"Apa, masalah seperti ini saja, harus aku yang turun tangan?!"


"Apa gunanya kalian di sini, hah!" tekan Agra, dengan tatapan tajam.


"Masalahnya, petugas itu adalah anak dari salah satu petinggi di negri ini," jelas Max.


"Kau sudah dapatkan semua informasi tentangnya?" tanya Agra, kini dia duduk di kursi kerjanya.


"Sudah, Tuan," Edo menyerahkan map yang sudah ada di atas meja.


"Baiklah, kita ke sana sekarang,"


Agra langsung berdiri di ikuti oleh Max di belakangnya, setelah membaca isi map tersebut.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah ada di salah satu kantor polisi di kota itu.


Agra langsung mencari petugas yang mengurus semua masalahnya.


Ya, senjata yang harusnya ia terima malam tadi, ternyata tertahan di sana, akibat ulah dari salah satu petugas baru, yang belum tau tentang kekuasaan Black Eagle.


"Selamat siang Mr.Leonard," Agra langsung di sambut oleh petinggi kepolisian yang sudah lama bekerja sama dengan organisasi Balck Eagle, untuk menangkap buronan berbahaya, ataupun keamanan wilayah.


"Selamat siang, Tuan Wijaya," Agra menyambut uluran tangan dari lelaki paruh baya di hadapnnya.

__ADS_1


"Silahkan duduk, Mr,"


Agra langsung duduk di kursi tamu, dengan Max berdiri tegap di belakangnya.


"Apa yang bisa saya bantu, Mr?" tanya lelaki berpangkat tinggi itu, begitu ramah.


"Aku ada sedikit masalah dengan salah satu anak buahmu,"


Waijaya langsung menegakkan tubuhnya, dengan tatapan penuh waspada, kepada orang di hadapnnya.


Bekerja sama dengan organisasi mafia besar sekelas Black Eagle, memang sangat membantu pekerjaannya.


Namun, bila sedang berhadapan dengan sang ketua, yang terkenal kejam tak berperasaan itu, membuat siapa saja di landa ketakutan yang amat sangat.


'Si*lan, auranya sangat dominan, sampai aku tak bisa melawannya sama sekali,' batin lelaki paruh baya itu, mengumpat.


Agra menarik bibirnya lurus, melihat lawan biacaranya yang sudah kalah sebelum dia mengeluarkan serangannya.


"Aku mau, sekarang juga kembalikan senjata yang kalian tahan," tajam Agra, tanpa berbasa-basi.


"Se-senjata?" gugup Wijaya.


"Aku beri waktu satu jam untuk mengembalikan semua yang kalian tahan, secara utuh. Tanpa ada yang cacat sedikit pun." tajam Agra, beranjak berdiri.


"Satu jam lagi anak buahku akan datang, kau tau bukan jika kalian mencari masalah denganku, apa yang akan kalian dapatkan?" ucapnya, sambil membenarkan jasnya yang terasa sedikit kusut.


"Selamat siang," sambungnya, sebelum berbalik dan melangkah pergi, tanpa mendengar jawaban dari sang lawan bicara.


Max mengangguk sekilas pada Wijaya, lalu kembali mengikuti langkah sang ketua.


Sepeninggal dua orang tamu tak diundang itu, Wijaya langsung bergegas mengumpulkan semua anak buahnya.


Lelaki paruh baya itu tak dapat membayangkan apa yang akan di lakukan oleh pemuda kejam yang merupakan ketua mafia itu, jika sampai ia terlambat mengabulkan kemauannya.


Bisa-bisa kariernya berhenti sampai di sini. bahkan mungkin seluruh anak buahnya pun akan ikut menjadi korban dari kemarahan sang Leo itu.


Di lain tempat, Agra sudah berada di parkiran kantor polisi itu.


"Bila mereka tak bisa tepat waktu, maka putuskan kerja sama kita,dan buat semua orang yang bekerja di sini, di pecat dari pekerjaannya," perintah Agra, sebelum memasuki mobil sport miliknya.


Max mengangguk, lalu membukakan pintu mobil untuk sang ketua.


Dua unit mobil mewah itu, beriringan melaju meninggalkan tempat itu.


Tempat yang seharusnya di takuti oleh kalangan penjahat dan mafia, namun itu semua tak berpengaruh pada organisasi besar yang di pimpin oleh sang Leo, atau Agra Leonardo Grissham.


...πŸ¦…...


...πŸ¦…...


...TBC...


Maaf sudah membuat kalian lama menunggu, aku masih berada di kampung, jadi cukup sulit untuk menyesuaikan waktu di sini, di tambah kesulitan jaringan yang sangat mengganggu.


Terima kasih yang sudah sabar menunggu up cerita receh saya, semoga cerita ini menghibur kalian semua.


Saya juga mau mengucapkan selamat tahun baru ... semoga di tahun ini kita bisa lebih baik dan lebih sukses lagi dari tahun sebelumnya...🀲


...πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰Happy New YearπŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...

__ADS_1


__ADS_2